Crappuccino

Juli 15, 2008

Review : The Janissery Tree

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 11:39 am

Judul : The Janissery Tree
Pengarang : Jason Goodwin
Tahun : 2006

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk membeli buku ini adalah istilah “novel detektif” yang nangkring dengan manisnya di sampul depan novel berwarna ungu terong tersebut. Meski sempat ragu karena latar belakang negara Turki yang digunakan (saya biasanya sering mumet kalau membaca sesuatu yang berhubungan dengan Timur Tengah dan sebagainya), toh buku itu tetap juga berpindah tangan ke tangan saya.
Dan, ALHAMDULILLAH, saya nggak menyesal membeli buku ini *senyum bahagia*

Cerita bersetting di Istanbul, Turki, sekitar tahun 1830-an. Sudah sepuluh tahun sejak pemberontakan pasukan militer Istanbul terjadi, dan Istanbul pun menjadi makin sibuk. Sebagai kota yang merupakan salah satu titik pusat perdagangan dunia, Istanbul menjadi magnet banyak negara untuk melakukan kerja sama dalam perdagangan.

Kisah dimulai ketika Yashim, seorang kasim, dipanggil untuk menangani dua kasus sekaligus : hilangnya 4 perwira pasukan militer kesultanan (Garda Baru) dan misteri matinya seorang calon selir dari harem istana. Sebagai seorang kasim yang telah memiliki banyak pengalaman, Yashim memiliki kelebihan yang diakui oleh pihak istana : pengetahuannya yang luas, dan kehadirannya yang tidak pernah mencolok, sehingga memudahkannya untuk bergerak mencari informasi.

Dengan kemampuan yang dimilikinya, Yashim pun bergerak perlahan untuk memecahkan kedua misteri tersebut. Apalagi satu demi satu perwira militer yang hilang itu ditemukan tewas mengenaskan.

Perjalanannya dalam menemukan jawaban mengantarnya pada suatu kemungkinan baru : bahwa semua pembunuhan perwira-perwira militer tersebut dilakukan oleh mantan pasukan militer kesultanan yang bernama Yenicheri. Pasukan Yenicheri diluluhlantakkan oleh kesultanan sekitar sepuluh tahun sebelumnya, ketika mereka melakukan pemberontakan kepada kesultanan.
Apakah benar Yenicheri berada di balik semua pembunuhan itu? Lalu apa pula penyebab kematian si calon selir yang telah disebutkan sebelumnya? Mungkinkah ada hubungan antara kematian empat perwira militer tersebut dengan kematian si calon selir?

Seperti sudah saya bilang, saya mengharapkan sebuah kisah detektif di buku ini, dan saya menemukannya. Cara buku ini bercerita mungkin tidak sama dengan novel detektif lain yang sering saya baca, tapi saya cukup menikmatinya. Di buku ini ada suatu proses mencari, mengumpulkan petunjuk, dan menganalisa : rincian kegiatan yang dilakukan seorang detektif.
Yashim, sebagai tokoh utama dalam buku ini, benar-benar mencuri hati saya. Sejak awal dia sendiri mengakui bahwa dia hanya setengah laki-laki : dia tidak sempurna. Toh, di perjalanannya mencari kebenaran, dia menyadari bahwa seorang kasim pun bisa berbahagia (dia bertemu dengan seorang Rusia yang memikat.. Hmm…nakal yah Yashim…). I love him!

Selain Yashim, dan juga alur ceritanya, yang saya suka dari novel ini adalah selipan kisah-kisah sejarah mengenai Istanbul dan pertempuran yang terjadi. Saya tidak begitu tahu tentang sejarah, tapi bisa saya bilang kalau saya cukup percaya dengan rentetan kisah yang dipaparkan oleh Goodwin.
Yang mungkin agak mengganggu bagi saya adalah terjemahan dari buku ini (ada beberapa istilah yang saya bingung artinya, dan kadang-kadang ada kalimat yang rasanya kurang pas). Selain itu, saya juga agak bingung membaca penggambaran daerah-daerah atau lokasi di dalam cerita. Tentu saja, bukan berarti Goodwin jelek dalam menggambarkannya. Mungkin saja saya yang kurang punya imajinasi dalam membayangkan lokasi di kota seperti Turki, hehehe…..

Oiya, satu lagi yang agak mengganggu buat saya : endingnya! Meski akhirnya dijelaskan bahwa si Mr. X lah dalang dari semuanya (rahasia ya, hehe…), tapi penjelasannya terlalu singkat!!! Masa cuma dijelaskan dalam satu scene antara si Yashim dan ibu suri (kalo di novel namanya valide sultan)? Kurang mantap deh menurut saya…. Mestinya dia bisa menggambarkan seberapa kompleks konspirasi kejahatan yang dilakukan. 

But overall, saya puas terhadap novel ini. Tadinya saya mau nyicil novel ini selama beberapa hari (karena kepikiran team building), tapi ternyata 2 hari dah kelar, hehehe…. Buat mereka yang suka novel detektif, rasanya ini bisa jadi salah satu bacaan yang mengasyikkan.

Note :
Akhirnya…akhirnya bisa update juga di crappu, hehehe…

Juli 9, 2008

Puisi : Team Building

Diarsipkan di bawah: !crap — Tag:, , — crappuccino @ 11:57 am

Judul : Team Building (puisi)
By : niken
Comment : Puisi ini sangat diragukan kesastraannya, plus keniatan si pembuat. Yang jelas puisi ini dibuat jam 6:49 malem ketika si penulis sedang menunggu tebengan pulang di kantor

Team Building
Satu kegiatan yang aku tunggu
Apalagi sejak aku masuk
Belum ada yang namanya kumpul-kumpul

Team building
Rencananya bulan Agustus
Sebelum puasa datang
Dan proyek datang bagai air bah (Amin…)

Oh, Team Building
Ada yang ingin di Gunung Slamet
Ada pula yang ingin di Gunung Kidul
Tapi sepertinya, kita akan ke Gunung Salak

Team Buildiiing, oh, team building
Aku tak sabar menjalankanmu
Bersenang-senang dengan semua
Sebelum kembali ke rutinitas kerja

Team building
Kau sahabat setiaku kunanti-nanti!!!

-end of poem-

*niken tersenyum puas*
*ketawa-ketawa sendiri*

:D

Juli 4, 2008

!Crap: narsis (lagi)

Diarsipkan di bawah: !crap — Tag:, , — crappuccino @ 9:54 am

Lapar. Kelaparan ini sampai menembus rongga dada. Ratusan kupu-kupu kecil yang menempati perutku melesat pindah menghuni rongga dada. Aku lapar. Perut dan jiwaku.
Setitik air jatuh. Aku menangis?
Angkasa begitu tinggi terpijak, dan seseorang di sini mengais-ngais demi sebuah jawaban atas sejumput kerinduan yang tertinggal baginya. Tanya telah melahirkan seberkas prasangka, ibu bagi gaung dengungan lebah abadi di sepasang telinga.
Berpikir dirinya. Untuk mengundang angin membawa pergi air matanya. Untuk memanggil guntur biar menyambar dirinya.
Cantabile. Mulut ini tak bisa berhenti bernyanyi, menemani bibir yang terus mengucap kata-kata tanpa arti. Bagai kutukan sepatu merah. Nada-nada duniawi menguap dari ujung jemari. Aku mengejar solmisasi celestial yang menyusun rangka semesta.
Menutup mata. Menyesali sisa air mata yang tak sempat menghantui bumi. Ditutupi sepasang sayap hitam yang aus dimakan rayap. Tertidur dalam buaian dosa.

————————————————————————————

Karya lama. Iseng aja tulis-tulis.

Juni 20, 2008

!Crap: Yang didapat selama 2 minggu ini

Diarsipkan di bawah: !crap — Tag:, , — crappuccino @ 5:49 am

Pelajaran yang diperoleh selama UAT:

1. TOAD itu LAKNAT. Sebaiknya hati-hati kalau mau uninstall TOAD. Minggu lalu saya coba install TOAD 9.6.1 Trial version. Sebelumnya di kompie sudah ada TOAD 9.0. Berhubung katanya langsung tindih aja, oke deh saya install langsung. Instalasi oke, tapi tapi… kok sekelebat ada tulisan error? Hmm… coba dijalankan.. KOK ERROR?????? Belum juga masuk login kok udah keluar error 0000??? Apa pula ituh????? Okee.. saya uninstall dan reinstall TOAD 9.6.1. Sama saja. Saya reinstall semuanya. Sama saja. Oke saya nyerah. Biarlah database browser gak jalan, yang penting aplikasi tetep bisa jalan.
Saya beralih ke aplikasi, yang pake Visual Studio. Di-build, oke. Di-run.. KOK ERROR???? Error message bilang kalo komponen System.Web.Extension ndobel. WADUH! apa ini gara-gara TOAD? Butuh hampir 2 hari sampe akhirnya saya memutuskan (tanpa sengaja) untuk me-reinstall System.Web.Extension pakai punya teman saya. Fuih.. untung bisa.

2. Scope program kudu dijaga baik-baik. Gileee… baru tau neh, kan user requirement itu sebelumnya jelas-jelas udah diputusin oleh perwakilan user. Pas UAT, tau-tau.. ada user yang dari awal gak dimasukkan ke perwakilan user ituh.. tiba-tiba ngungkit-ngungkit masalah yang sebenernya udah diputusin di tahap user requirement. Kalo udah gitu, kudu tegas-tegas. Bapak dan Ibu perwakilan user, paling nggak sempetin lah kasih sosialisasi ke departemennya, tentang perencanaan software. Bisa susyah lah kalo udah sampe tahap-tahap implementasi begini, diminta ngubah flow aplikasi. Nyang bener aja.

Fuh… I think that’s all :D

Juni 4, 2008

!Crap: Ini nursery rhymes?? Serius????

Diarsipkan di bawah: !crap, manga — Tag:, , — crappuccino @ 6:09 am

Belakangan (sebenernya baru dari kemarin sih) saya suka browsing tentang nursery rhyme. Gara-garanya, saya sekarang lagi rajin ngikutin serial Count Cain-nya Yuki Kaori. Di sana, banyak berserakan lirik-lirik nursery rhymes (lagu anak-anak) macam mother goose atau puisi-puisi lain, yang dijadikan tema kasus-kasus pembunuhan/misteri nan gak mengenakkan. Memang, nursery rhymes tadi agak di-alter sedikit supaya sesuai dengan kasusnya atau lebih terkesan lebih serem, tapi kalo saya pikir-pikir, versi aslinya juga udah horor gitu.

There was a man, a very untidy man

There was a man, a very untidy man,
Whose fingers could nowhere be found to put in his tomb.
He had rolled his head far underneath the bed;
He had left his legs and arms lying all over the room.

Syair ini pertama kali saya baca di K no Souretsu (ada juga di Count Cain, cuma sekilas). Kirain itu semacem puisi gothic gitu, eh, taunya nursery rhyme. Serius neh ini syair buat anak-anak??? Apa maksudnya yah? Apa semacem wejangan gitu, supaya jangan jorok-jorok? Jadi kalo jorok-jorok ntar mayatnya gelimpangan di mana-mana gituh? Serem amat. Bingung saiyah. Saya coba browsing yang laen.

My mother has killed me

My mother has killed me,
My father is eating me,
My brothers and sisters sit under the table,
Picking up bury them under the cold marble stones.

Nah lo. Ini tebakan apa beneran seh? Makin tidak jelas.

Tom married a wife on Sunday

Tom married a wife on Sunday,
Beat her well on Monday,
Bad was she on Tuesday,
Middling was she on Wednesday,
Worse was she on Thursday,
Dead was she on Friday;
Glad was Tom on Saturday night,
To bury his wife on Sunday.

Okeh, katakanlah ini buat menghapal hari. Tapi perumpamaannya kok KDRT seh?

Ten little nigger boys went out to dine

Ten little nigger boys went out to dine;
One choked his little self, and then there were nine.
Nine little nigger boys sat up very late;
One overslept himself, and then there were eight.
Eight little nigger boys travelling in Devon;
One said he’d stay there, and then there were seven.
Seven little nigger boys chopping up sticks;
One chopped himself in half, and then there were six.
Six little nigger boys playing with a hive;
A bumble-bee stung one, and then there were five.
Five little nigger boys going in for law;
One got in chancery, and then there were four.
Four little nigger boys going out to sea;
A red herring swallowed one, and then there were three.
Three little nigger boys walking in the Zoo;
A big bear bugged one, and then there were two.
Two little nigger boys sitting in the sun;
One got frizzled up, and then there was one.
One little nigger boy living all alone;
He got married, and then there were none.

Syair ini yang mendasari cerita And Then There Were None karangan Agatha Christie (Indo: Sepuluh Anak Negro). Beliau juga memakai beberapa sayir lain seperti Three Blind Mice dan Sing a Song of Sixpence. Sejauh yang saya tangkap, nursery rhymes juga digunakan buat bantu anak-anak belajar hitungan, nama hari, dan lain-lain. Mungkin ini syair buat bantu belajar hitungan (seperti juga sayir sebelumnya buat menghapal hari). Sebetulnya banyak juga yang lucu-lucu. Cuma di entri ini khusus ngebahas yang aneh-aneh, jadi gak saya masukin :D Sehubungan dengan syair nan aneh-aneh ini, kira-kira temen-temen ada yang bisa kasih penjelasan gak kenapa kok syairnya serem gitu? Saya gak nyambung sama pemikirannya orang sana seh.

Hmm… bagaimana dengan lagu anak-anak (tradisional) di Indonesia? Inget gak lagu Anak ayam turun sepuluh (mati satu tinggal….)? Hihi, gimana ya misalnya ada yang bikin cerita misteri pembunuhan pake lagu Anak ayam turun sepuluh?

*berpikir*
*membayangkan*
*berusaha membayangkan*
Gak tega ah. Gak banget deh kayaknya. XDD~

Beberapa link tentang nursery rhyme:
- http://www.apples4theteacher.com/mother-goose-nursery-rhymes/
- http://nrg.mgjapan.net/

Juni 2, 2008

!Crap: Progresif

Diarsipkan di bawah: !crap, musik — Tag:, , — crappuccino @ 11:07 am

Ini gara-gara kemaren Jumat saya iseng ubek-ubek youtube, dan ketemu sama PV-nya tante Shiina Ringo yang Marunouchi Sadistic (ini lagu yang membuat saya keranjingan Tokyo Jihen). Hoo.. ternyata Marunouchi Sadistic itu aslinya lagu dari solo karir-nya si Tante toh. Maklum, soalnya saya dapetnya yang versinya Tokyo Jihen, dan aransemennya lumayan beda. Penasaran, saya ubek-ubek lah internet, nyari beberapa versi Marunouchi Sadistic. Lumayan, diitung-itung, udah ada 3 versi yang aku tau: versi solo-nya tante Shiina Ringo, versi Tokyo Jihen (ini pun ada 2, yaitu versi live yang lama - yang entah di mana - dan versi live “Just Can’t Help It” baru-baru ini).

Ah, jadi tambah kesengsem aja sama band ini. Mungkin ini bisa disebut efek positif karena mereka sempet gonta-ganti formasi (Kalo Tokyo Jihen-nya tepatnya baru sekali ganti sih, tapi coba kita itung juga pas tante Shiina solo karir). Tapi tapi.. mau ganti ato nggak, kibordisnya tetep bikin saya sakit hati. Sumprit, sakit hati abiz! Aku gak bisa maen kayak gituuuuuuu!!!!!! *hih, mentolo tak cipok*

Hihihi… tiba-tiba saya jadi teringat.. tentang sebuah band edan nan sinting.. yang menyatakan diri mereka beraliran “metal progresif” dengan definisi bahwa “progresif” itu berarti aransemen musik MUNGKIN SEKALI beda antara versi rekaman dan versi live (itu pun tergantung live di mana dan kapan. Masih bisa beda juga soalnya :D)

Ah… jadi kangen sama band ini. Genki Dome!!!!!

jadi.. inilah tujuan entri gak jelas ini.

Mei 30, 2008

Review: Camelot Garden

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, — crappuccino @ 5:56 am

Judul: Camelot Garden
Manga-ka: Yuki Kaori
Volume: 1 [tamat] - oneshot
Penerbit: Betsuhana Magazine [Japan]
Tahun: 2008 [Japan]

“She look’d down to Camelot.
Out flew the web and floated wide;
The mirror crack’d from side to side;
‘The curse is come upon me,’ cried
The Lady of Shalott.”

- “Lady of Shalott” by Alfred Tennyson -

Ketika membuka mata, Ryu terbangun di Camelot Garden. Di dunia yang merupakan personifikasi kartu remi itu, Ryu eksis sebagai pengganti kartu enam sekop yang mati terbunuh oleh Joker. Selain namanya, satu-satunya yang Ryu ingat adalah ia harus mencari seorang gadis bernama Claribel. Yah, di dunia itu memang ada Claribel, tapi Claribel adalah seorang cowok! Claribel di sana adalah “White Card”, satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan luka semua penghuni Camelot Garden. Bersama Claribel dan Gideon si Raja Sekop, Ryu bertekad memecahkan misteri Camelot Garden, dunia di mana mereka dilarang melihat wajah junjungan mereka, Lord Adonai.

Di karya terbarunya, Yuki Kaori-sensei kembali memukau saya.. lewat sebuah oneshot! Personal saja, biasanya tidak banyak oneshot karya Yuki Kaori-sensei yang saya suka (paling banter Bloodhound dan Boys Next Door), karena kok saya merasa sensei berusaha menjejalkan begitu banyak hal sedangkan jatah halamannya tidak banyak. Tampaknya hal ini tidak berlaku untuk Camelot Garden. Plotnya jelas, tidak terburu-buru, dan diakhiri dengan pas pula. Mungkin karena manga ini cukup panjang untuk ukuran oneshot (total 92 halaman)? Mungkin karena ceritanya juga tidak rumit-rumit banget? Entahlah. Yang jelas, manga ini cukup “kena” buat saya. Saya suka sekali ide menggabungkan antara dunia kartu dengan puisi Lady of Shalott-nya Tennyson. Hehe, kalau mau iseng sih, setting cerita ini lumayan bisa dikembangkan jadi game RPG, soalnya ada sistem “naik-turun tingkat”, healer, dan “job description“.

Masalah artwork, saya no comment. Mau ngomong apa lagi? Yuki Kaori gitu loh! :D

Downloadable: Mangatraders, Aerandria

Mei 28, 2008

Review: R.I.P

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, — crappuccino @ 3:37 am

Judul: R.I.P. (Requiem In Phonybrian)
Manga-ka: Mitsukazu Mihara
Volume: 1 [tamat]
Penerbit: Tokyopop [US]
Tahun: 2006 [US]

Apa yang kiranya dilakukan seorang malaikat yang bosan? Transylvanian Rose punya jawabnya. Saat menjalankan tugasnya menyucikan arwah, Rose bertemu dengan sesosok arwah yang mati bunuh diri. Rose memberikan satu sayapnya, membangkitkan arwah itu dan menjadikannya binatang peliharaan sekaligus partner tugasnya. Sebaliknya, si arwah - yang dinamai “Undertaker” oleh Rose - justru sangat ingin mati. Sampai kapan Rose tahan bersama partner barunya ini, yang terjebak diantara hidup dan mati?

Meski ide ceritanya cukup bagus, pada dasarnya sih klise. Pasangan kekasih; si cewek sakit lalu meninggal, si cowok putus asa kemudian bunuh diri. Sampai separuh buku pembaca pasti sudah bisa menebak arah cerita. Kisah-kisah seputar arwah lain yang disucikan diulas *halah* dalam chapter singkat dan tidak begitu ditekankan. Justru cerita berpusat antara Rose dan Undertaker; tentang siapa sebenarnya Undertaker, hubungan Rose dengan Undertaker, dan bagaimana reaksi teman-teman malaikat Rose. Satu yang saya suka, tidak ada romance yang berkembang antara Rose dan Undertaker. *kalo sampe iya, cerita bakal lebih klise lagi. Jangan sampe lah!*

Beda lagi kalo soal artworknya. Di sinilah letak kekuatan manga ini. Sebelumnya, saya pernah baca oneshot karangan Mitsukazu-sensei yang berjudul Kyuuketsuki to Boku (The Vampire and I), dan saya acungkan jempol untuk art-nya yang gothic abiz! Belakangan, baru saya tahu memang sensei satu ini ratunya gothic lolita. Memang, dibandingkan Kyuuketsuki to Boku, saya merasa di R.I.P. desain karakternya masih belum mantap gothic lolita-nya. Tapi style artwork-nya secara keseluruhan sudah TOP gothic lolita abiz. Terakhir dan yang paling mantap, adalah sense of fashion Mitsukazu-sensei. Dari desain baju, gaya rambut, sepatu, semuanya menyatakan alasan kenapa sensei disebut “Queen of Gothic Lolita“. Bahkan rasanya manga ini jadi ajang fashion show, dengan para karakter sebagai modelnya. Pokoknya, temen-temen yang nyari ide fashion atau cosplay gothic lolita bisa comot ide dari sini. Saya sendiri paling suka dengan baju-bajunya Rose (untuk baju cewek. Kebanyakan berupa baju terusan dengan garis pinggang tinggi, tidak lupa hiasan renda-renda) dan Quiet Noise (untuk baju cowok. Paling suka topinya). Contoh artwork bisa diliat di sini, sini, sini, dan sini.

Downloadable: Mangatraders

Mei 26, 2008

!Crap: Love Song & Tali Kutang

Diarsipkan di bawah: !crap, musik — Tag:, , — crappuccino @ 7:46 am

Dari kemarin, ada 2 lagu yang menghuni kalbu saya:

“Love Song” by Sara Bareilles
“Tragedi Tali Kutang” by Cak Qidin

“Love Song” : Malu nih, saya gak update blas ama dunia musik! Padahal udah keluar dari taun 2007, tapi baru tau sekaraaang! arrgh! Benernya beberapa waktu lalu pernah baca tentang lagu ini di blog-nya orang (saya lupa), tapi masih cuek-cuek aja gituh. Naaah… kemaren Sabtu, berkat teman saya, akhirnya saya tau juga lagu ini. Lagu yang unik! Syairnya lutuuuu! Kapan sih ada orang bikin lagu tentang “gak mau bikin lagu cinta” dan dikasih judul “Love Song”? :D She’s a genius! I luv this girl! Terus, terus… aransemennya itu. Sederhana banget. Kalo didenger2 sih, dia cuma ngulang-ngulang rythm-nya pake piano. Udah. Seringkali, saya menilai musikalitas sebuah lagu dari kerumitan dan kekayaan aransemen. Tapi toh, lagu ini aransemennya simpel banget. Tapi ya itu, tugas penyanyinya buat bikin lagu ini jadi lagu yang gak boring. Toh, mbak yang satu ini berhasil melakukannya. Anjreeet, suaranyaaa! Menjiwai banget!

“Tragedi Tali Kutang” : Sebetulnya.. ini lagu kenangan sih, waktu darmawisata RT ama sepupu. Lalu kenapa lagu najis ini terkecap begitu dalam di memori? Karena buat saya, ini adalah contoh pengaplikasian majas eufinisme totem protoparte (ato pars prototo yah? Ato malah analogi? Tau ah, lupa!) dalam sebuah lagu. Cobalah dengarkan, dan Anda akan menemukan bahwa ia mengandaikan hubungannya dengan si cewek lewat sebuah “tali kutang”. Lagu mana sih yang dengan teganya menghubungkan yayang-nya dengan TALI KUTANG???? Dan teman sayalah yang berbaik hati mempertemukan saya kembali dengan lagu ini. “Nang endi aku goleki.. tali kutang?”

*kabur secepatnya*

Ah, mau minta upload? Ntar yah. Susah nyolong benwit neh.

Mei 21, 2008

Review: Pheromomania Syndrome

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, — crappuccino @ 2:45 am

Judul: Pheromomania Syndrome
Manga-ka: Ichiha
Volume: 10 [tamat]
Penerbit: Hana to Yume [Japan]
Tahun: 2002

“All the while I was (I was watching Keishi’s ass, desperately trying to control my own desires of touching it, and that was when I saw your hand slide from the top to the bottom - it was obviously caressing it) watching it!!!!”

Yugi Hotori dan Kagari Keishi adalah pasangan sahabat yang unik. Hotori yang perempuan punya perawakan seperti cowok yang cool, sedangkan Keishi adalah seorang cowok cantik yang imut. Sebagai anak SMA yang sehat, Hotori menyukai Keishi. Masalahnya, setiap kali Hotori melihat Keishi yang muncul adalah khayalan-khayalan aneh yang makin lama makin tak terkendali (contoh: Keishi memakai bunny suit, Keishi *sensor*, me-*sensor* Keishi, dan *sensor*). Ketika curhat dengan kedua temannya, Yuna dan Sanaka, Hotori malah divonis mengidap Pheromomania Syndrome! Singkatnya, Hotori adalah pervert kelas kakap. Apakah jadian dengan Keishi adalah jalan keluar yang tepat untuk sembuh dari “penyakit” ini?

Dalam beberapa shounen manga, kita kerap mendapati bagaimana cowok berfantasi mengenai lawan jenisnya. Namun bagaimana kalau posisinya ditukar? Lewat cerita yang sinting nan kocak, Ichiha-sensei mengungkap sisi tergelap dunia fantasi seorang cewek. Atas dasar itu, saya mengklasifikan Pheromomania Syndrome sebagai “manga penuh darah”, karena banyaknya adegan mimisan di tiap chapter. Buat saya, bagian yang paling menarik adalah hubungan Hotori-Keishi itu sendiri. Mengimbangi Hotori yang setengah mati mengendalikan diri, Keishi di balik wajah imutnya justru menyimpan sejuta kelicikan untuk memprovokasi Hotori, sehingga makin lama makin tidak jelas siapa yang jadi “setan” di sini. Satu hal yang jelas adalah mereka saling menyayangi. Jujur, saya baru membaca satu volume saja karena minimnya sumber scanlation, tapi saya anggap cukup untuk men-judge manga ini sebagai manga yang oh-so-sweet manis.

Dari segi artwork, saya bilang lumayan. Tidak ada yang menonjol atau unik sekali, tapi sangat bisa dinikmati oleh pecinta shoujo manga. Manga sejenis yang pernah saya baca adalah Perfect Girl Evolution. Sama-sama tentang cowok cantik, sama-sama “penuh darah”, dan sama-sama membawa pesan “(Cowok) Cantik itu dosa”. Bedanya, kalau PGE bercerita tentang kehidupan sehari-hari Sunako dan empat sekawan bishounen (Kyohei, Ranmaru, Takenaga, dan Yukinojo), Pheromomania Syndrome lebih fokus ke perkembangan hubungan Hotori-Keishi (atau begitulah sejauh ini). Karena itu, saya bilang rating umur manga ini adalah 17+ (versi Indonesia), bukannya karena banyak adegan nyerempet, tapi lebih karena khayalan-khayalan berlebihan Hotori. Overall, saya menganjurkan manga ini buat pecinta komedi romantis (yang gila).

Downloadale: Free Manga, Shoujo Magic (mIRC)

Tulisan sebelumnya

Blog pada WordPress.com.