!Crap: nggeje

*Memandang tak percaya pada posting baru di Crappuccino*

Okeh… jadi akhirnya… setelah terjadi saling desak antara Niken, Pras, dan saya untuk mengupdate blog ini, marilah kita mencoba untuk memperbaiki tali silaturahmi dan ukhuwah islamiyah menghidupkan kembali blog ini seperti yang sudah sering didengungkan dengan cara… memposting sesuatu. Ayo temans, Crappuccino is not dead! Mari jadikan ini awal baru yihu yihu :D

- haru -

*dilempar sandal*

Review: Burlesque

Judul: Burlesque
Pemain: Cher, Christina Aguilera, Cam Gigandet, Eric Dane
Tahun: 2010
Sutradara: Steve Antin
Penata Musik: Linda Perry, Sia Furler, Samuel Dixon, Christina Aguilera, Diane Warren, C. “Tricky” Stewart, Claude Kelly

Another Cinderella story, itulah komentar saya meringkas cerita film ini. Gadis bersuara emas yang merantau ke kota, tanpa kerabat, “terdampar” di sebuah klub burlesque, bertemu rival sirik tapi berhasil jadi primadona, bingung diantara 2 pilihan cinta… dan tentu saja, berakhir dengan happy ending. Secara keseluruhan, ceritanya cukup gampang ditebak, belum lagi ditambah beberapa gap di detail cerita. Salah satu contoh, saat Marcus mengajak Ali makan malam seusai kerja di klub. Cukup membingungkan, karena bukankah jam kerja klub adalah malam sampai pagi? Ataukah kerjanya diatur per shift? Atau ini klub burlesque “baik-baik” yang buka sore tutup malam? Hell yeh!

Untung saja, film ini tidak bermaksud menonjolkan plot. Mengimbangi plot yang ringan, penonton disuguhi pertunjukan musikal yang mengesankan. Bisa ditebak dari deretan pemainnya yang bukan nama baru di dunia musik, seperti Christina Aguilera dan Cher. Christina sebagai Ali – gadis desa yang berambisi menjadi penyanyi sukses, beradu akting dengan Cher sebagai Tess – seorang pemilik klub burlesque yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Dari awal, Christina Aguilera mencuri mata dan telinga saya lewat nyanyian dan tariannya. Tidak mengherankan sih, karena mbak yang satu ini memang mengewali karirnya sebagai “idol”, yang menuntut kepiawaian menari selain suara yang bagus (dalam beberapa kasus, suara masih dinomorduakan. Tapi untuk kasus mbak Christina, sih, suaranya mantap jaya). Sedangkan untuk Cher, kalau di dunia nyata beliau sering dandan dengan baju yang lumayan unik, sepertinya film ini memang tempatnya berpakaian unik tanpa harus mengundang nyinyir para kritikus fashion. Tapi tentu saja, Cher tetap menunjukkan kualitasnya sebagai penyanyi senior lewat suara beratnya yang khas. Diane Warren makin memantapkan film ini sebagai penata musik dengan lagu ciptaannya, “You Haven’t Seen the Last of Me” dan menyabet Golden Globe untuk kategori Best Original Song.

Sayangnya, sepertinya selain Cher dan Christina, yang lain tidak dapat bagian unjuk vokal. Di awal memang dijelaskan bahwa klub burlesque tersebut memang lebih memfokuskan pada aksi panggung, sehingga para penari menyanyi dengan teknik lyp-sinc (kecuali Cher dan Christina). Burlesque memang menyuguhkan “pertunjukan” yang enak dinikmati, baik dari segi kostum maupun tarian, dan juga aspek humor pertunjukannya – sesuai dengan konsep burlesque. Sebagai film yang mengetengahkan “tarian”, mungkin tidak se-pro Step Up, tapi saya menyukai melihat para pemainnya menari dengan sepatu high-heels, belum lagi kostum yang lumayan terbuka tapi entah kenapa terlihat keren, karena adanya semangat burlesque yang menjungkirbalikkan norma dan menertawakan kehidupan. Kalau dibandingkan dengan film Moulin Rouge, mungkin bisa dibilang Burlesque adalah Moulin Rouge dengan lebih sedikit surealisme dan lebih banyak hiburan. Tidak salah kalau dikatakan bahwa kalau melihat film ini, anggaplah seperti melihat pertunjukan musik/video klip dengan jalan cerita, daripada sebagai film dengan pesan tertentu untuk disampaikan.

Akhirnya siuman….

Setelah hampir setahun blog malang ini terlupakan, akhirnya saya sebagai salah satu pendiri dan penelantar tersadar akan dosa yang saya lakukan. Maapkan saya wahai Crappuccino!! *elus2 komputer* *berharap nggak muncul sesosok wanita berambut panjang dan berbaju putih dari dalam laptop yang akan melotot mewakili si blog* *glek*.
Sungguh, bukan maksud hati untuk menelantarkan dikau! Tapi apa daya…kerjaan yang menumpuk…akhir pekan yang sibuk…acara TV cable yang menarik…Twitter yang membuat kecanduan…hal-hal itu membuatku melupakan dikau. Maappphh…maappphkan dakuuuu…. *gulung2 di lantai*.

*gulung-gulung*

*gulung-gulung*

*gulung-gulung-gulung-gulung-gulung…..*

Udah ah, capek. Nantikan episode baru di Crappuccino yah! *ngedip kaya bintang iklan* ;)

Halloooo…2010! Let’s wake up!

Halo semua!! Meski telat dan sudah memasuki bulan Februari, saya atas nama seluruh pengurus Crappuccino (halah, kaya ada berapa orang aja, hehee) mengucapkan :

SELAMAT TAHUN BARU 2010!

Semoga di tahun baru ini kita bisa menjadi lebih baik, dan tercapai semua yang kita inginkan, Amin….

Sedangkan untuk Crappuccino sendiri rencananya akan bangkit kembali, kali ini dengan formasi yang bertambah gendut, karena akan hadir satu orang lagi kontributor untuk blog ini (ALHAMDULILLAH…setidaknya jika dua otak mampet, masih ada satu otak yang berpikir untuk mengisi kekosongan blog, huahahahahahaha…).

Masukan, saran dan kritik terus ditunggu untuk perbaikan BLOG GA JELAS ini… :)

Salam!

Niken as Crappuccino :)

Review: Sherlock Holmes

Judul  : Sherlock Holmes
Pemain  : Robert Downey Jr, Jude Law, Rachel McAdams
Tahun  : 2009
Sutradara  : Guy Ritchie

Ketika saya melihat trailer film ini mulai beredar sekitar bulan Oktober 2009, saya sudah berjanji dalam hati bahwa saya harus menonton film itu, tidak peduli sesibuk apapun saya pada minggu film tersebut keluar. Wajar saja, mengingat minat saya yang cukup besar untuk film dan buku berbau detektif, dan juga mengingat film tersebut bercerita mengenai salah satu detektif favorit saya.
Film dibuka dengan penangkapan Lord Blackwood, salah satu tokoh masyarakat yang tertangkap basah melakukan upacara ritual yang berkaitan dengan kekuatan gelap. Lord Blackwood dituduh bersalah atas pembunuhan berseri terhadap beberapa orang sebelumnya, dan dijatuhi hukuman mati atas kesalahannya. Yang menangkap, tentu saja, Sherlock Holmes dan partner setianya, John Watson.
Tertangkapnya Lord Blackwood ternyata hanya merupakan pembuka dari serangkaian peristiwa aneh yang kemudian dihadapi Sherlock. Dimulai dari kemunculan mendadak Irene Adler, wanita luar biasa yang sudah mengecohnya beberapa kali, yang kini meminta bantuannya untuk mencari seseorang. Belum selesai menyelidiki apa tujuan Irene, Sherlock sudah dihadapkan dengan berita bangkitnya Lord Blackwood dari kubur, hanya berselang sehari setelah ia mendapatkan hukuman mati.
Sebagai seseorang yang percaya kepada logika, Sherlock mengalami kesulitan untuk dapat menjelaskan rentetan kejadian tersebut secara logis. Terlebih ketika selanjutnya, berturut-turut beberapa tokoh penting dalam parlemen Inggris mulai terbunuh, persis seperti pesan Lord Cornwell sebelum ia menghadapi hukuman matinya.
Lalu apakah sebenarnya yang terjadi? Benarkah Lord Cornwell berhasil bangkit dari kuburnya? Dan apakah memang kekuatan gelap telah menguasai kota London?
Saya rasa saya tidak perlu menyelesaikan ceritanya, karena saya yakin, hampir semua orang di Indonesia sudah menontonnya. Rasanya nggak seru menceritakan apa yang orang lain sudah ketahui :P
Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa saya puas dengan film ini. Sangat, sangat puas. Dan tentunya, rasa puas itu bisa timbul karena beberapa hal.
Pertama, saya suka plotnya. Plot yang teratur, menarik, mengejutkan dengan elemen-elemen humor yang tepat, membuat saya tidak bosan menonton film ini untuk kedua kalinya. Sesuatu yang saya harapkan dari sebuah film mengenai detektif.
Kedua, para pemeran karakter utama, dan karakter itu sendiri. Acungan jempol saya berikan ke Robert Downey Jr dan Jude Law. Buat saya, mereka adalah Sherlock Holmes dan John Watson yang sesungguhnya. Tentu, apa yang digambarkan di film tidak sama persis dengan apa yang saya tangkap di novel, namun justru itu yang membuatnya lebih hidup. Saya suka bagaimana Sherlock merasa sedih dan terancam dengan rencana kepergian Watson, namun tidak dengan gamblang mengakuinya, dan malah membuat strategi-strategi konyol untuk menggagalkan rencana tersebut. Sebaliknya, Watson terlihat sangat lucu ketika terus mengikuti Sherlock dalam penyelidikan, meski ia berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak akan membantu Sherlock lagi menyelesaikan kasusnya.
Ketiga, dan hal ini bahkan membuat saya sendiri kaget, karena Rachel McAdams berperan sebagai Irene Adler. Entah bagaimana, saya tersihir dengan kecantikan dan pesona yang dipancarkan Rachel sebagai seorang Irene Adler. Saya mengagumi kecerdasan dan rasa percaya diri yang ditampilkan oleh Irene, dan buat saya, Rachel McAdams sangat pas untuk memerankannya. Ini pertama kalinya saya bisa merasa terkesan pada seorang tokoh pembantu di sebuah film, dan saya menaruh hormat pada Rachel McAdams karena bisa membuat saya merasa seperti itu.
Sebagai sentuhan akhir, musik yang tepat dan background lokasi yang indah melengkapi film ini sebagai film terbaik tahun 2009 yang pernah saya tonton. Saya puas, dan harapan saya terpenuhi. Apalagi yang bisa diminta dari sebuah film jika penontonnya sudah puas akan semua aspek di dalamnya? :D

!Crap: Sakuran

Ignorance is not bliss…

Gilaaa… telat banget tau lagu ini! Satu lagi dari Tante Shiina Ringo, Sakuran dari album Heisei Fuzoku. Kalo gak salah sih, meskipun bukan official soundtrack, lagu ini diilhami dari film Sakuran, yang diangkat dari manga berjudul sama (Tante Shiina jadi Music Director di film ini taun 2007 kemaren). Berhubung saya gak baca manga-nya, dan sekilas ceritanya tentang oiran (mirip-mirip  geisha, tapi agak beda dikit) jadi males gitu liatnya. Baru-baru ini gak sengaja denger lagunya di youtube dan.. asyik! Jazz banget! Videonya juga bagus, cuma sayang yang versi youtube rada gak jelas. Anyone knows where to download the high quality version of this?

Owkeeeh.. buat yang suka jazz (especially Niken), this one’s for you! Hehe.. sekalian sebagai permintaan maap dari saya, setelah sekian lama menelantarkan blog ini *halah*
*note: She DOES sing in English*

SAKURAN

Don’t pray for it to rain, don’t look to the sky
Hold me with your lonesome eyes
You slipped into my room in a simple disguise
Take me with your furtive eyes

I want… I wait for time to come my way again

Stay here, your sorrow’s luring me in,
But does this sorrow ever end?
Sadness invites me, entices me to you
Don’t let me go

You first came to me with misery
But now you feel uninspiring
All the pain in your face has been replaced
I’m so tired of useless words and laughing

With you I felt time lift and carry me away

I want you with me but all you feel is cold
Is this getting old?
Your look of sorrow, it fills me with desire
My heart’s on fire

Come here, come near me, there is no one like you
Let’s burn up this room
Now that i’m with you, I see it day by day
Facades, they fade away

How will you get by?
You know, I just don’t care for foolish affairs
You cheat, you smile, you laugh at my desire
I’m crazy for…
what am I crazy for?

Review : Rescue Dawn

rescue-dawn

Judul : Rescue Dawn
Sutradara : Werner Herzog
Pemain : Christian Bale, Steve Zahn
Tahun rilis : 2007

Yak, saatnya niken mengupdate!!! :P
*lari dari sambitan haru karena sudah beribu-ribu tahun ga ngisi blog ini…*

Ketika saya diajak nonton film ini, saya menyetujui saja karena pilihan lainnya hanya film Indonesia tidak jelas dengan judul yang semakin vulgar. Eh, ternyata begitu film dibuka, layar menunjukkan potongan-potongan pesawat tempur dan situasi peperangan di Vietnam. Saat itu juga saya sempat cemas, apa saya bakal menyukai film ini. Maklum saja, saya bukan penggemar berat film perang (kecuali Saving Private Ryan kali ya…itu pun saya merasa film itu cukup sadis). Ternyata, saya lumayan suka juga dengan film tersebut.

Cerita dibuka dengan terbangnya satu tim penerbang dengan tugas rahasia menghancurkan markas-markas Vietkong di negara Vietnam melalui Laos. Dengan latar belakang perang Vietnam, kita segera disuguhi kemuraman yang terjadi pada sebuah perang. Dieter Dengler (Christian Bale), salah seorang penerbang, tidak beruntung karena pesawatnya terkena tembakan, dan dia terpaksa mendarat darurat (atau jatuh bebas yah tepatnya?) di pertengahan sawah di Laos. Segera saja dia menjadi tawanan para militan, dan sama seperti tawanan perang lainnya, tentu saja dia mendapat siksaan dari para penyanderanya.

Dieter kemudian dipenjarakan di sebuah gubuk yang terletak di tengah hutan belantara yang lebat (dan sedikit banyak mengingatkan saya pada hutan-hutan di Kalimantan). Di sana, dia bertemu dengan beberapa rekan senasib. Beberapa penerbang pesawat logistik ternyata juga tidak beruntung dan menjadi tawanan para militan di Laos selama kurang lebih 2 tahun (ada Gene, YC, Procet dan Phisit). Ada juga Duane, penerbang AU USA yang juga sudah ditahan sekitar 1.5 tahun.

Meski “teman-teman” barunya terus menyarankan agar Dieter tidak berbuat yang aneh-aneh, toh penderitaan menjadi seorang tawanan cukup mendorong Dieter untuk berencana kabur dari penjara di tengah hutan tersebut. Lalu berhasilkah Dieter kabur bersama yang lain? Mungkinkah mereka melarikan diri dari para militan bersenjata dan bebas dari hutan yang menyesatkan tersebut?

Ada beberapa poin yang terus berkelebat di pikiran saya selama menonton film ini. Pertama, penyandera tawanan perang akan selalu menyiksa para tawananannya (pernyataan yang cukup bodoh yah, karena itu kan sebenarnya sesuatu yang wajar terjadi, mengingat mereka menganggap diri mereka sebagai korban, dan siapapun yang menjadi musuh mereka harus menderita). Hal itu membawa saya ke pemikiran selanjutnya : Jika kita tidak mau diperlakukan demikian (dalam hal ini mereka sebagai tentara Amerika sih), maka seharusnya kita tidak memperlakukan orang lain seperti itu (dan ini kembali mengacu kepada Amerika Serikat yang hobi perang). Kesimpulannya : Perang itu nggak ada gunanya! Nggak pernah ada, dan nggak akan ada. Seharusnya dari film-film semacam ini, kita makin menyadari bahwa membunuh bangsa lain, ras lain, atau siapapun yang kita anggap “musuh”, tidak akan pernah berdampak baik bagi semua pihak.

Tentunya, selain pemikiran serius itu, saya juga memikirkan hal-hal yang lebih enteng, seperti, Christian Bale yang jadi kurus banget. Busyet dah, dia nurunin berapa kg ya? Saya sampe iri….program pengurusan badan saya masih jalan pelan-pelan sih, hehehe… :P

Secara karakter, tidak ada karakter yang sangat menonjol dalam film ini. Si tokoh utama, Dieter pun tidak terlalu masuk ke dalam hati saya, meski upayanya untuk survive dalam kondisi apapun patut diacungi jempol (katanya sih dari kisah nyata).

Overall, film ini lumayan untuk ditonton, khususnya buat para pecinta film perang. Buat yang tidak suka film perang, mungkin harus pikir-pikir dulu sebelum memutuskan menonton.

Btw, ternyata film ini bikinan tahun 2006 yah??? Kok baru muncul sekarang ya di sini? o_O;;

Review: watashi no… megane-kun

Judul: watashi no… megane-kun
Manga-ka: Sumoto Amu
Volume: 7 [tamat] (scanlation: Ongoing)
Penerbit: Shogakukan
Tahun: 2002

Loving you… until everything has become a convoluted state.

Kalimat pertama yang terlontar selesai membaca manga ini: SAKIT JIWA.

Chouko dan Taichiro (Megane-kun) hidup bertetangga. Meski selalu satu sekolah, keduanya bukan sahabat karib. Chouko menyukai Megane-kun sejak kecil, namun apa dikata, terakhir kali berpapasan di sekolah, kalimat yang meluncur dari mulut Megane-kun adalah “Aku benci sekali padamu, sampai-sampai aku ingin membunuhmu.“. Tentu saja Chouko down. Sampai suatu hari, senior Chouko menyatakan cinta padanya. Di tengah kebingungan, Megane-kun tiba-tiba turut menyatakan cinta juga. Jelas, Chouko memilih Megane-kun. Happy ending? Tidak. Chouko dan Taichiro harus berkelut dengan masalah terbesar mereka: obsesi mereka terhadap satu sama lain.

Kisah tentang cinta obsesif sudah sering saya baca. Tipikalnya, sih, entah si cewek atau si cowok yang obsesif terhadap pasangannya. Nah, bagaimana kalau dua-duanya sama-sama obsesif? Inilah yang menjadi poin di manga ini. Bagaimana sebuah hubungan itu tak cukup hanya “cinta”. Setidaknya, itu berlaku untuk sebuah hubungan yang sehat, yang jelas tidak dimiliki Chouko dan Megane-kun. Sekilas, mungkin kelihatannya Megane-kun yang lebih berperan sebagai manipulator dalam hubungan ini dan Chouko “korban”-nya. Tetapi kalau ditelusuri, Chouko pun punya andil sebagai manipulator, dengan caranya sendiri. Jujur saja, saya gregetan membaca manga ini. Kalau ada yang mencari referensi praktis tentang istilah “jatuh cinta, dunia milik berdua” atau “cinta buta”, di sinilah tempatnya. Memang sih, tetap ada momen-momen manis khas orang pacaran, tapi tetap dalam frame obsesivitas.

Untunglah, aspek grafisnya tidak mengecewakan. Yah, mungkin tidak yang “wow” begitu, tetapi cukup bagus dan bisa dinikmati mata. Terutama buat pembaca cewek. Meski begitu, rating manga ini adalah mature, karena, seobsesif apapun, baik Chouko maupun Megane-kun adalah cewek dan cowok normal secara biologis. Namun sejauh ini, saya nilai scene-scene tertentu itu hanya sebagai pelengkap cerita.

Secara garis besar, manga ini membuat saya baik gregetan maupun penasaran. Gregetan melihat hubungan Chouko dan Megane-kun yang begitu siklikal (baca: muter-muter gak karuan), dan penasaran mengetahui akhir dari hubungan mereka yang begitu rapuh ini. Akankah mereka tetap seperti itu sampai akhir, ataukah akhirnya beralih ke hubungan yang lebih sehat?

Downloadable: Ochibiscan, Mangatraders

Review: Killing Moon

Judul: Killing Moon
Manga-ka: Motoni Modoru
Volume: 1 [tamat] – oneshot (dari tankoubon “Prince of Monster”)
Penerbit: Biblos [Japan]
Tahun: 1998

He is wolf, he is the wolf that thirsts for love, that survives on devouring the love and adoration of humans on the night of full moon…

peringatan: full spoiler!

Cerita dimulai dari kematian seorang nyonya keluarga kaya. Karena keluarga itu tidak punya anak, Satoshi, adik nyonya itu, datang ke rumah kakaknya untuk mengurus kematian sang nyonya dan suaminya (sang suami tewas sebulan sebelumnya). Di sana, Satoshi menemui Fumio, seorang anak yatim piatu yang diasuh keluarga itu; dan Mariko, salah satu tetangga mereka. Namun, rupanya ada satu lagi penyusup di rumah itu. “Serigala”, begitu Fumio menyebutnya. Siapa dan apa peran “Serigala” di rumah itu, dan kenapa wujud “Serigala” tampak berbeda bagi setiap orang?

Secara garis besar, Killing Moon adalah cerita tragedi cinta segi-mbulet. Sang Tuan mencintai Sang Nyonya, Sang Nyonya mencintai Fumio, Fumio mencintai Mariko, Mariko mencintai sosok lelaki Fumio tapi malah terperangkap ke pelukan “Serigala”, dan “Serigala” mencintai Fumio. Satoshi yang mulanya hanya sebagai pengamat, pada akhirnya pun terlibat dan menambah keruwetan dengan jatuh cinta pada Fumio.

Meski ceritanya aneh, bagi saya karakter dalam cerita ini sangat menarik. Tokoh kunci di sini adalah Fumio, seorang gadis yang dibesarkan sebagai lelaki hanya demi memuaskan hasrat abnormal Sang Nyonya, dan pada akhirnya ia pun menjadi sasaran kekerasan Sang Tuan yang memendam cinta tak terbalas pada istrinya. Fumio yang akhirnya menjadi lesbian mencintai Mariko, seorang gadis biasa yang menyukai sosok lelaki Fumio namun segera menampik mentah-mentah ketika tahu Fumio adalah wanita.

Dan tentu saja, “Serigala”, tokoh antagonis yang menarik. Diceritakan, “Serigala” mengambil bentuk sosok orang yang dicintai, karena wujud “Serigala” berbeda-beda bagi setiap orang (Bagi Satoshi yang saat itu tidak punya kekasih, “Serigala” tampil sebagai seorang pria yang memakai topeng). Situasi inilah yang dimanfaatkan “Serigala” untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya sehingga dia bisa mendapatkan Fumio. Dengan kelicikannya, ia berjanji untuk menolong Fumio mendapatkan cinta (dalam hal ini, Mariko); dengan syarat selama Fumio belum menemukan cinta sejatinya, “Serigala” akan memakan semua orang yang menginginkan Fumio.

Keculasan “Serigala” yang paling berkesan buat saya adalah saat dia memberikan shock therapy untuk Fumio. Saat itu, Mariko sudah menolak Fumio dan ‘tertipu’ dengan “Serigala”. Di mata Mariko, “Serigala” tampak persis seperti Fumio, dengan perkecualian ia adalah ‘Fumio yang lelaki’. Dan “Serigala” melempar fakta kelelakiannya itu mentah-mentah di depan Fumio, membuat Fumio down karena menjadi lelaki adalah hal yang mustahil baginya. Bisa ditebak, Fumio melemparkan kemarahannya pada Mariko, dan menyuruh “Serigala” memakan Mariko. Meskipun begitu, seculas apapun “Serigala” , menurut saya sebenarnya kebencian Fumio pada dirinya sendirilah yang menyebabkan ia tak bisa menemukan cinta sejatinya.

Sebagai sebuah oneshot, cerita ini bisa memaksimalkan karakterisasi (terutama karakter Fumio yang kompleks) dan plot. Kalaupun ada karakter yang kurang ‘terasa’, mungkin itu Satoshi. Bagaimana ia yang mulanya memposisikan dirinya sebagai orang luar bisa tertarik dengan Fumio, rasanya penjelasan di situ kurang terasa. Tetapi hal ini masih bisa dimaklumi karena jatah halaman untuk oneshot terbatas.

Artwork-nya juga mendukung atmosfer cerita. Saya mengenal Motoni Modoru-sensei dari karyanya, Tantei Aoneko. Saya suka tarikan garisnya yang tegas dan ‘bersih’, dan tentu saja, inking-nya yang kontras hitam-putih, minus ‘dekorasi’. Mungkin karena mengambil setting waktu yang tak jauh beda dengan Tantei Aoneko, setting tempat dan suasananya terkesan ‘Aoneko banget’. Jujur, saya belum pernah *tepatnya tidak mau* membaca karya lain sensei yang berlatar di jaman modern (contoh: shikugakari rika, koi ga bokura o yurusu hani) jadi saya tidak bisa bilang apa itu memang ciri khas sensei. Tokoh “Serigala” menjadi tokoh favorit saya karena desain karakternya gothic banget *apalagi ditambah masker matanya itu*, selain karena pribadinya yang energik dan menghidupkan cerita. *meski bukan dalam artian baik* :D

*Killing Moon adalah oneshot dari tankoubon Prince of Monster bersama 3 oneshot lainnya: Sambika, Life of The Machine, dan Prince of Monster*

Downloadable: Free Manga LJ Community

!Crap: Oh! The “Moe”-ness!

Pertama-tama, marilah kita ucapkan…

MET IDUL FITRI SEMUANYAAA~!
Mohon maaf lahir batin atas segala salah kata, celetukan, dan entry yang telah dituliskan.

Yosh, benernya banyak seh yang mau ditulis, tapi… mengutip teman saya, masih post-holiday syndrome. Posting gambar aja yah.

ps: image diambil dari http://community.livejournal.com/4chan/2479966.html
pps: Oom Putin… nyuwun pangapuro… no offense, yah! ^^

X-posted everywhere

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.