Crappuccino

April 26, 2009

!Crap: Sakuran

Diarsipkan di bawah: !crap, musik — Tag:, — crappuccino @ 4:16 am

Ignorance is not bliss…

Gilaaa… telat banget tau lagu ini! Satu lagi dari Tante Shiina Ringo, Sakuran dari album Heisei Fuzoku. Kalo gak salah sih, meskipun bukan official soundtrack, lagu ini diilhami dari film Sakuran, yang diangkat dari manga berjudul sama (Tante Shiina jadi Music Director di film ini taun 2007 kemaren). Berhubung saya gak baca manga-nya, dan sekilas ceritanya tentang oiran (mirip-mirip  geisha, tapi agak beda dikit) jadi males gitu liatnya. Baru-baru ini gak sengaja denger lagunya di youtube dan.. asyik! Jazz banget! Videonya juga bagus, cuma sayang yang versi youtube rada gak jelas. Anyone knows where to download the high quality version of this?

Owkeeeh.. buat yang suka jazz (especially Niken), this one’s for you! Hehe.. sekalian sebagai permintaan maap dari saya, setelah sekian lama menelantarkan blog ini *halah*
*note: She DOES sing in English*

SAKURAN

Don’t pray for it to rain, don’t look to the sky
Hold me with your lonesome eyes
You slipped into my room in a simple disguise
Take me with your furtive eyes

I want… I wait for time to come my way again

Stay here, your sorrow’s luring me in,
But does this sorrow ever end?
Sadness invites me, entices me to you
Don’t let me go

You first came to me with misery
But now you feel uninspiring
All the pain in your face has been replaced
I’m so tired of useless words and laughing

With you I felt time lift and carry me away

I want you with me but all you feel is cold
Is this getting old?
Your look of sorrow, it fills me with desire
My heart’s on fire

Come here, come near me, there is no one like you
Let’s burn up this room
Now that i’m with you, I see it day by day
Facades, they fade away

How will you get by?
You know, I just don’t care for foolish affairs
You cheat, you smile, you laugh at my desire
I’m crazy for…
what am I crazy for?

Desember 1, 2008

Review : Rescue Dawn

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , — crappuccino @ 12:44 pm

rescue-dawn

Judul : Rescue Dawn
Sutradara : Werner Herzog
Pemain : Christian Bale, Steve Zahn
Tahun rilis : 2007

Yak, saatnya niken mengupdate!!! :P
*lari dari sambitan haru karena sudah beribu-ribu tahun ga ngisi blog ini…*

Ketika saya diajak nonton film ini, saya menyetujui saja karena pilihan lainnya hanya film Indonesia tidak jelas dengan judul yang semakin vulgar. Eh, ternyata begitu film dibuka, layar menunjukkan potongan-potongan pesawat tempur dan situasi peperangan di Vietnam. Saat itu juga saya sempat cemas, apa saya bakal menyukai film ini. Maklum saja, saya bukan penggemar berat film perang (kecuali Saving Private Ryan kali ya…itu pun saya merasa film itu cukup sadis). Ternyata, saya lumayan suka juga dengan film tersebut.

Cerita dibuka dengan terbangnya satu tim penerbang dengan tugas rahasia menghancurkan markas-markas Vietkong di negara Vietnam melalui Laos. Dengan latar belakang perang Vietnam, kita segera disuguhi kemuraman yang terjadi pada sebuah perang. Dieter Dengler (Christian Bale), salah seorang penerbang, tidak beruntung karena pesawatnya terkena tembakan, dan dia terpaksa mendarat darurat (atau jatuh bebas yah tepatnya?) di pertengahan sawah di Laos. Segera saja dia menjadi tawanan para militan, dan sama seperti tawanan perang lainnya, tentu saja dia mendapat siksaan dari para penyanderanya.

Dieter kemudian dipenjarakan di sebuah gubuk yang terletak di tengah hutan belantara yang lebat (dan sedikit banyak mengingatkan saya pada hutan-hutan di Kalimantan). Di sana, dia bertemu dengan beberapa rekan senasib. Beberapa penerbang pesawat logistik ternyata juga tidak beruntung dan menjadi tawanan para militan di Laos selama kurang lebih 2 tahun (ada Gene, YC, Procet dan Phisit). Ada juga Duane, penerbang AU USA yang juga sudah ditahan sekitar 1.5 tahun.

Meski “teman-teman” barunya terus menyarankan agar Dieter tidak berbuat yang aneh-aneh, toh penderitaan menjadi seorang tawanan cukup mendorong Dieter untuk berencana kabur dari penjara di tengah hutan tersebut. Lalu berhasilkah Dieter kabur bersama yang lain? Mungkinkah mereka melarikan diri dari para militan bersenjata dan bebas dari hutan yang menyesatkan tersebut?

Ada beberapa poin yang terus berkelebat di pikiran saya selama menonton film ini. Pertama, penyandera tawanan perang akan selalu menyiksa para tawananannya (pernyataan yang cukup bodoh yah, karena itu kan sebenarnya sesuatu yang wajar terjadi, mengingat mereka menganggap diri mereka sebagai korban, dan siapapun yang menjadi musuh mereka harus menderita). Hal itu membawa saya ke pemikiran selanjutnya : Jika kita tidak mau diperlakukan demikian (dalam hal ini mereka sebagai tentara Amerika sih), maka seharusnya kita tidak memperlakukan orang lain seperti itu (dan ini kembali mengacu kepada Amerika Serikat yang hobi perang). Kesimpulannya : Perang itu nggak ada gunanya! Nggak pernah ada, dan nggak akan ada. Seharusnya dari film-film semacam ini, kita makin menyadari bahwa membunuh bangsa lain, ras lain, atau siapapun yang kita anggap “musuh”, tidak akan pernah berdampak baik bagi semua pihak.

Tentunya, selain pemikiran serius itu, saya juga memikirkan hal-hal yang lebih enteng, seperti, Christian Bale yang jadi kurus banget. Busyet dah, dia nurunin berapa kg ya? Saya sampe iri….program pengurusan badan saya masih jalan pelan-pelan sih, hehehe… :P

Secara karakter, tidak ada karakter yang sangat menonjol dalam film ini. Si tokoh utama, Dieter pun tidak terlalu masuk ke dalam hati saya, meski upayanya untuk survive dalam kondisi apapun patut diacungi jempol (katanya sih dari kisah nyata).

Overall, film ini lumayan untuk ditonton, khususnya buat para pecinta film perang. Buat yang tidak suka film perang, mungkin harus pikir-pikir dulu sebelum memutuskan menonton.

Btw, ternyata film ini bikinan tahun 2006 yah??? Kok baru muncul sekarang ya di sini? o_O;;

Nopember 24, 2008

Review: watashi no… megane-kun

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:21 am

Judul: watashi no… megane-kun
Manga-ka: Sumoto Amu
Volume: 7 [tamat] (scanlation: Ongoing)
Penerbit: Shogakukan
Tahun: 2002

Loving you… until everything has become a convoluted state.

Kalimat pertama yang terlontar selesai membaca manga ini: SAKIT JIWA.

Chouko dan Taichiro (Megane-kun) hidup bertetangga. Meski selalu satu sekolah, keduanya bukan sahabat karib. Chouko menyukai Megane-kun sejak kecil, namun apa dikata, terakhir kali berpapasan di sekolah, kalimat yang meluncur dari mulut Megane-kun adalah “Aku benci sekali padamu, sampai-sampai aku ingin membunuhmu.“. Tentu saja Chouko down. Sampai suatu hari, senior Chouko menyatakan cinta padanya. Di tengah kebingungan, Megane-kun tiba-tiba turut menyatakan cinta juga. Jelas, Chouko memilih Megane-kun. Happy ending? Tidak. Chouko dan Taichiro harus berkelut dengan masalah terbesar mereka: obsesi mereka terhadap satu sama lain.

Kisah tentang cinta obsesif sudah sering saya baca. Tipikalnya, sih, entah si cewek atau si cowok yang obsesif terhadap pasangannya. Nah, bagaimana kalau dua-duanya sama-sama obsesif? Inilah yang menjadi poin di manga ini. Bagaimana sebuah hubungan itu tak cukup hanya “cinta”. Setidaknya, itu berlaku untuk sebuah hubungan yang sehat, yang jelas tidak dimiliki Chouko dan Megane-kun. Sekilas, mungkin kelihatannya Megane-kun yang lebih berperan sebagai manipulator dalam hubungan ini dan Chouko “korban”-nya. Tetapi kalau ditelusuri, Chouko pun punya andil sebagai manipulator, dengan caranya sendiri. Jujur saja, saya gregetan membaca manga ini. Kalau ada yang mencari referensi praktis tentang istilah “jatuh cinta, dunia milik berdua” atau “cinta buta”, di sinilah tempatnya. Memang sih, tetap ada momen-momen manis khas orang pacaran, tapi tetap dalam frame obsesivitas.

Untunglah, aspek grafisnya tidak mengecewakan. Yah, mungkin tidak yang “wow” begitu, tetapi cukup bagus dan bisa dinikmati mata. Terutama buat pembaca cewek. Meski begitu, rating manga ini adalah mature, karena, seobsesif apapun, baik Chouko maupun Megane-kun adalah cewek dan cowok normal secara biologis. Namun sejauh ini, saya nilai scene-scene tertentu itu hanya sebagai pelengkap cerita.

Secara garis besar, manga ini membuat saya baik gregetan maupun penasaran. Gregetan melihat hubungan Chouko dan Megane-kun yang begitu siklikal (baca: muter-muter gak karuan), dan penasaran mengetahui akhir dari hubungan mereka yang begitu rapuh ini. Akankah mereka tetap seperti itu sampai akhir, ataukah akhirnya beralih ke hubungan yang lebih sehat?

Downloadable: Ochibiscan, Mangatraders

Oktober 21, 2008

Review: Killing Moon

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:49 am

Judul: Killing Moon
Manga-ka: Motoni Modoru
Volume: 1 [tamat] – oneshot (dari tankoubon “Prince of Monster”)
Penerbit: Biblos [Japan]
Tahun: 1998

He is wolf, he is the wolf that thirsts for love, that survives on devouring the love and adoration of humans on the night of full moon…

peringatan: full spoiler!

Cerita dimulai dari kematian seorang nyonya keluarga kaya. Karena keluarga itu tidak punya anak, Satoshi, adik nyonya itu, datang ke rumah kakaknya untuk mengurus kematian sang nyonya dan suaminya (sang suami tewas sebulan sebelumnya). Di sana, Satoshi menemui Fumio, seorang anak yatim piatu yang diasuh keluarga itu; dan Mariko, salah satu tetangga mereka. Namun, rupanya ada satu lagi penyusup di rumah itu. “Serigala”, begitu Fumio menyebutnya. Siapa dan apa peran “Serigala” di rumah itu, dan kenapa wujud “Serigala” tampak berbeda bagi setiap orang?

Secara garis besar, Killing Moon adalah cerita tragedi cinta segi-mbulet. Sang Tuan mencintai Sang Nyonya, Sang Nyonya mencintai Fumio, Fumio mencintai Mariko, Mariko mencintai sosok lelaki Fumio tapi malah terperangkap ke pelukan “Serigala”, dan “Serigala” mencintai Fumio. Satoshi yang mulanya hanya sebagai pengamat, pada akhirnya pun terlibat dan menambah keruwetan dengan jatuh cinta pada Fumio.

Meski ceritanya aneh, bagi saya karakter dalam cerita ini sangat menarik. Tokoh kunci di sini adalah Fumio, seorang gadis yang dibesarkan sebagai lelaki hanya demi memuaskan hasrat abnormal Sang Nyonya, dan pada akhirnya ia pun menjadi sasaran kekerasan Sang Tuan yang memendam cinta tak terbalas pada istrinya. Fumio yang akhirnya menjadi lesbian mencintai Mariko, seorang gadis biasa yang menyukai sosok lelaki Fumio namun segera menampik mentah-mentah ketika tahu Fumio adalah wanita.

Dan tentu saja, “Serigala”, tokoh antagonis yang menarik. Diceritakan, “Serigala” mengambil bentuk sosok orang yang dicintai, karena wujud “Serigala” berbeda-beda bagi setiap orang (Bagi Satoshi yang saat itu tidak punya kekasih, “Serigala” tampil sebagai seorang pria yang memakai topeng). Situasi inilah yang dimanfaatkan “Serigala” untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya sehingga dia bisa mendapatkan Fumio. Dengan kelicikannya, ia berjanji untuk menolong Fumio mendapatkan cinta (dalam hal ini, Mariko); dengan syarat selama Fumio belum menemukan cinta sejatinya, “Serigala” akan memakan semua orang yang menginginkan Fumio.

Keculasan “Serigala” yang paling berkesan buat saya adalah saat dia memberikan shock therapy untuk Fumio. Saat itu, Mariko sudah menolak Fumio dan ‘tertipu’ dengan “Serigala”. Di mata Mariko, “Serigala” tampak persis seperti Fumio, dengan perkecualian ia adalah ‘Fumio yang lelaki’. Dan “Serigala” melempar fakta kelelakiannya itu mentah-mentah di depan Fumio, membuat Fumio down karena menjadi lelaki adalah hal yang mustahil baginya. Bisa ditebak, Fumio melemparkan kemarahannya pada Mariko, dan menyuruh “Serigala” memakan Mariko. Meskipun begitu, seculas apapun “Serigala” , menurut saya sebenarnya kebencian Fumio pada dirinya sendirilah yang menyebabkan ia tak bisa menemukan cinta sejatinya.

Sebagai sebuah oneshot, cerita ini bisa memaksimalkan karakterisasi (terutama karakter Fumio yang kompleks) dan plot. Kalaupun ada karakter yang kurang ‘terasa’, mungkin itu Satoshi. Bagaimana ia yang mulanya memposisikan dirinya sebagai orang luar bisa tertarik dengan Fumio, rasanya penjelasan di situ kurang terasa. Tetapi hal ini masih bisa dimaklumi karena jatah halaman untuk oneshot terbatas.

Artwork-nya juga mendukung atmosfer cerita. Saya mengenal Motoni Modoru-sensei dari karyanya, Tantei Aoneko. Saya suka tarikan garisnya yang tegas dan ‘bersih’, dan tentu saja, inking-nya yang kontras hitam-putih, minus ‘dekorasi’. Mungkin karena mengambil setting waktu yang tak jauh beda dengan Tantei Aoneko, setting tempat dan suasananya terkesan ‘Aoneko banget’. Jujur, saya belum pernah *tepatnya tidak mau* membaca karya lain sensei yang berlatar di jaman modern (contoh: shikugakari rika, koi ga bokura o yurusu hani) jadi saya tidak bisa bilang apa itu memang ciri khas sensei. Tokoh “Serigala” menjadi tokoh favorit saya karena desain karakternya gothic banget *apalagi ditambah masker matanya itu*, selain karena pribadinya yang energik dan menghidupkan cerita. *meski bukan dalam artian baik* :D

*Killing Moon adalah oneshot dari tankoubon Prince of Monster bersama 3 oneshot lainnya: Sambika, Life of The Machine, dan Prince of Monster*

Downloadable: Free Manga LJ Community

Oktober 8, 2008

!Crap: Oh! The “Moe”-ness!

Diarsipkan di bawah: !crap — Tag: — crappuccino @ 10:52 am

Pertama-tama, marilah kita ucapkan…

MET IDUL FITRI SEMUANYAAA~!
Mohon maaf lahir batin atas segala salah kata, celetukan, dan entry yang telah dituliskan.

Yosh, benernya banyak seh yang mau ditulis, tapi… mengutip teman saya, masih post-holiday syndrome. Posting gambar aja yah.

ps: image diambil dari http://community.livejournal.com/4chan/2479966.html
pps: Oom Putin… nyuwun pangapuro… no offense, yah! ^^

X-posted everywhere

September 25, 2008

!Crap: Selalu ada yang pertama untuk segalanya

Diarsipkan di bawah: !crap — Tag:, — crappuccino @ 10:46 am

September 22, 2008

Review: Gankutsuou

Diarsipkan di bawah: anime — Tag:, , — crappuccino @ 3:00 am

Judul: Gankutsuou: The Count of Monte Cristo
Episode: 24
Tahun: 2004 [Japan], 2006 [US]
Studio: GONZO

Death is certain; its hour, uncertain.

Catatan: Saya tahu review ini telat 4 tahun, tapi setidaknya ijinkan saya fangirling okeh?

Seperti banyak novel terkenal lainnya, bukan pertama kalinya Count of Monte Cristo (Le Comte de Monte-Cristo) diadaptasi, utamanya ke format layar lebar atau layar kaca. Kali ini, GONZO mengangkat novel karya Alexandre Dumas ini ke bentuk anime dan saya bilang… keren abis! Di satu sisi, plot asli Count of Monte Cristo sudah menarik. Cerita balas dendam selalu menarik. Versi animenya mengambil paruh terakhir buku, di mana Edmond Dantes kembali sebagai Count of Monte Cristo untuk membalas dendam pada orang-orang yang mengkhianatinya. Bedanya, di sini Count diposisikan sebagai tokoh antagonis. Karakter utama dipegang oleh Albert de Morcerf, anak dari Ferdnand dan Mercedes. Untuk kepentingan balas dendam, Count bersahabat dengan Albert, sebagai pintu masuknya ke kalangan elit Paris.

Sampai sekarang, paling banter yang saya tahu tentang Count of Monte Cristo adalah versi layar lebarnya (diperankan oleh Jim Caviezel). Di situ yang menjadi sorotan utama adalah sang Count (Edmond Dantes); mulai dari dikhianati sahabatnya sampai aksi balas dendam. Di versi anime, sudut pandang cerita diganti dari kacamata Albert dan sahabat-sahabatnya: Franz, Eugenie, Beuschamp, Lucien, Maxmillien, Valentine, dan Renaud.

Mungkin awalnya terasa kurang adil ‘menandingkan’ Albert yang nyata-nyata masih cupu dengan Count yang sudah ditempa pengalaman hidup. Justru di sinilah menariknya, melihat perubahan karakter Albert yang semula ‘hanya’ seorang anak bangsawan yang naif dan tidak kenal susah menjadi seorang dewasa lewat tamparan-tamparan realita yang diterimanya; juga bagaimana Albert belajar makna cinta dan persahabatan, sementara hidup di dunia elit dimana cinta adalah perjodohan kepentingan dua keluarga. Saya yang semula mengacuhkan Albert kian lama semakin menyadari peran Albert dalam cerita. Sebaliknya, keluguan dan spontanitas remaja Albert sedikit banyak mempengaruhi Count, termasuk naluri kebapakan sang Count. Sekadar masukan subyektif, memang secara fisik penampilan tokoh Count lumayan aneh, kalau bukan sangar. Kulit biru, mata merah-biru, kuku panjang, bertaring, gila banget deh. Tapi entah kenapa, tokoh Count di anime terasa jaaaaauuuuuuuhhhh lebih keren daripada yang di layar lebar. *sori, mas Jim Caviezel, Anda kalah dengan tokoh anime*

Namanya adaptasi, wajar bila ada beberapa perubahan. Perubahan yang paling jelas di anime ini – tentu saja – adalah setting waktu. Kalau di buku cerita berlatar tahun 1800-an, di anime waktu sudah berjalan sampai tahun 5000-an. Cakupan geografisnya pun sudah bukan ukuran negara lagi, tapi planet (contoh: Setting karnaval yang aslinya di Roma diubah jadi di Luna/bulan). Yang paling bikin “h0h” (dan buat saya agak jayuz), adalah cara ‘duel’ di zaman itu. Kalau di abad 19 duel menggunakan pistol atau pedang, di sini duel menggunakan mobile suit mecha! Suer deh, serasa nonton Gundam/Evangelion nyasar! :D Menariknya, meski teknologi dan gadget high-tech betebaran, tren fashion dan gaya hidup justru berkiblat ke tahun 1920-an (pasca PD I). Menurut saya, setting yang bisa dibilang ‘tabrakan’ ini adalah daya tarik segar, mengingat dari segi plot kurang lebih sama dengan versi novel. Tetapi, kadang saya merasa ada technology gap, seperti saat Eugenie menerima surat dari New York Conservatoire, yang diposkan manual layaknya surat biasa; ataupun saat Franz pergi ke Marseille naik kereta yang ditarik lokomotif yang tampangnya gak jauh beda dengan lokomotif uap biasa.

Daya tarik segar lainnya datang dari segi visual grafis. Efek rendering layer photoshop yang digunakan untuk tekstur pakaian, motif wallpaper rumah, sofa, maupun warna rambut pasti langsung menyengat mata. Mulanya mungkin agak bikin sakit mata, terutama di scene karnaval, malam hari dengan konsep spotlight yang kontras (di episode-episode awal di Luna). Eits, jangan mutung dulu. Cobalah dinikmati, karena di episode-episode berikutnya efek itu lebih soft, karena kebanyakan scene siang hari. Selain masalah tekstur, animasi 3D yang dipakai untuk latar belakang juga oke punya. Bagian favorit saya adalah penggambaran rumah Count, lengkap dengan laut buatan dan rangkaian tata surya buatan.

Saya memang tidak update masalah anime, tapi Gankutsuou adalah sebuah karya yang patut menerima acungan jempol. Dua bahkan, dari saya. Salut buat GONZO! Perpaduan cerita yang penuh intrik dengan visualisasi grafis yang unik, apalagi yang kurang? Tinggal bagaimana kita menikmatinya saja.

Fuih, selesai sudah review semi fangirling ini :D

September 15, 2008

Review: Mock Turtle Soup

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:19 am

Judul: ikasama umigame no Soup (Mock Turtle Soup)
Manga-ka: Kusumoto Maki
Volume: 1 [tamat]
Penerbit: Shinsokan [Japan]
Tahun: 1998

recipe:
Turtle Tears……………………………………… 3 drops
Eye of Newt…………………. Shelled and sliced thin
Dead Man’s Toes…………………………….. 13 digits
Crushed Tiger Beetle powder… 33 1/3 teaspoons
Hemlock (fresh)………………………….. Just enough

(if the above are difficult to obtain, you may substitute in “hundred year poison”.)

Mengharap sesuatu yang biasa dari Kusumoto Maki-sensei tampaknya akan sia-sia. Dari 3 karyanya yang saya baca, tak satupun yang bisa disebut “wajar” *mungkinkah karya-karya awal sensei lebih normal??? -_-;;* Mock Turtle Soup berisi 8 cerita SANGAT pendek tentang cinta: Chocolate love, girls’ love, summer love, fairytale love, unrequited love, bread love, reincarnated love, dan finding true love. Kalau memandang tiap cerita sebagai fragmen-fragmen yang tidak berhubungan, kemungkinan besar kita akan kecewa. Karena – seperti yang sudah saya bilang – cerita-cerita di sini SANGAT pendek, beda dengan Dolis atau K no souretsu yang memang punya plot. Malah lebih tepat dibilang prosa daripada cerita. Mungkin kalau kita coba menikmatinya sebagai satu kesatuan, kita bisa merasakan keindahannya. *Kasarannya, mending gak usah dipikir deh. Baca dan terima aja. Dengan begitu lebih kerasa indahnya*

Beda lagi kalau bicara soal artwork. Buat saya pribadi, inilah alasan utama saya baca manga ini. Seperti biasa, kusumoto sensei tidak mengecewakan kalau menyangkut artwork. Lebih lagi, manga ini full-color! Penempatan panel yang tidak wajar, gaya minimalis, taburan warna-warni di background; hal ini makin menguatkan kesan pada diri saya bahwa Kusumoto-sensei “cuma” ingin bereksperimen seni daripada membuat manga dengan plot yang solid. Kalau boleh jujur, saya anggap gaya gambar sensei (dari segi character/style) tidak sedahsyat beberapa manga-ka lain, tetapi saya amat mengagumi bagaimana sensei menempatkan gambarnya ke cerita yang tepat. *kadang suka sensi juga sih. Masa satu halaman segede gitu cuma gambar ilustrasi orang satu-dua biji, satu-dua balon kata, sisanya maen blocking warna ato maen tekstur*

Secara umum, saya lebih merasa membaca sebuah buku kumpulan puisi dengan gambar ilustrasi yang sangat bagus daripada membaca sebuah manga dengan cerita tertentu. Saya sadar, manga ini bisa jadi terlalu aneh atau terlalu menarik. Kalau Anda tanya saya, sampai sekarang saya belum pernah merasa rugi telah membaca karya Kusumoto Maki. Yah, semuanya tergantung pada pembacanya. Take it or leave it.

nb: sekedar saran. Coba baca ini sambil dengerin Sakana-nya Shiina Ringo :D

Downloadble: Storm in Heaven

September 10, 2008

!Crap: Goethe dan musik Death Metal

Diarsipkan di bawah: !crap, buku — Tag:, , — crappuccino @ 4:48 am

Dikutip dan diterjemahkan mentah-mentah dari buku The End of The World Book karangan Alistair McCartney. (Diarsipkan di bawah huruf “D”.)

Catatan: mohon maklumi terjemahan yang seadanya ini. ^^

DEATH METAL

Kembali ke akhir abad ke-20, khususnya di dekade yang dikenal sebagai tahun 1980-an dan 1990-an, di mana sepertinya setiap harinya, para pemuda, lelah akan sturm and drang dari kedewasaan dan terinspirasi dari lirik-lirik berbau kematian dari band-band death-metal, melakukan aksi bunuh diri secara sangat brutal, yang mana, menurut para sosiolog, adalah tipikal remaja: sebuah pistol di mulut dan mobil terjun ke jurang adalah metode bunuh diri yang dipilih.

Kita bisa bilang para pemuda Amerika Utara yang terobsesi dengan kematian ini sebagai keturunan langsung dari pemuda-pemuda Eropa yang, pada akhir abad ke-18, membaca novel Johann Wolfgang von Goethe, The Sorrows of Young Werther, , yang berakhir dengan sang lakon yang putus cinta mengakhiri hidupnya dengan hati remuk. Seiring publikasinya di tahun 1774, buku ini menginspirasi dua tren di benua Eropa: satu adalah tren memakai jas biru, seperti yang dikenakan Werther; dan satu lagi adalah aksi bunuh diri. (lagi…)

Agustus 28, 2008

!Crap: Cerpen yang bikin pingsan

Diarsipkan di bawah: !crap, buku — Tag:, , , — crappuccino @ 3:15 am

Percayakah Anda, total sudah 67 orang pingsan mendengar cerita ini dibacakan?

Guts by Chuck Palahniuk

Catatan: Chuck Palahniuk adalah pengarang Fight Club (1996) yang dibuat versi filmnya tahun 1999 (diperankan oleh Edward Norton dan Brad Pitt).

Catatan#2: Lepas dari fakta bahwa Chuck Palahniuk berhasil membuat saya speechless, saya bersyukur di komputer ada tombol “page down”.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.