Semakin saya perhatikan, kayaknya udah beberapa tahun ini tren lagu Indonesia (khususnya pop) sedang marak di tema “perselingkuhan”. Kadang kalo WinAmp di kantor (lagi-lagi) memutar lagu seputar orang ketiga (entah sebagai subjek pelaku atau objek penderita), rasanya jari ini gatel pengen ganti track. Temanya sih tetap seputar cinta (yang katanya abadi), tapi kenapa sih kok selingkuh? Apakah karena selingkuh itu mengasyikkan? Dibilang asyik juga, rasanya itu lebih karena unsur “petualangan”-nya. Memang, sesuatu yang menyimpang itu kesannya lebih asyik daripada sesuatu yang “lurus-lurus” aja.
Tapi ya itu, kenapa kok “selingkuh”? Kalo mau yang menyimpang sih, kenapa gak bikin soal homo sekalian? (saya baru nemu satu lagu, If I were Gay-nya Steven Lynch)
- haru yang lagi butek ngerjain report -
–Memang, sesuatu yang menyimpang itu kesannya lebih asyik daripada sesuatu yang “lurus-lurus” aja.–
Komitmen, komitmen, komitmen. Semua kembali ke situ pada akhirnya.. -___-
Komentar oleh niken — Maret 12, 2008 @ 3:25 am