Crappuccino

September 22, 2008

Review: Gankutsuou

Diarsipkan di bawah: anime — Tag:, , — crappuccino @ 3:00 am

Judul: Gankutsuou: The Count of Monte Cristo
Episode: 24
Tahun: 2004 [Japan], 2006 [US]
Studio: GONZO

Death is certain; its hour, uncertain.

Catatan: Saya tahu review ini telat 4 tahun, tapi setidaknya ijinkan saya fangirling okeh?

Seperti banyak novel terkenal lainnya, bukan pertama kalinya Count of Monte Cristo (Le Comte de Monte-Cristo) diadaptasi, utamanya ke format layar lebar atau layar kaca. Kali ini, GONZO mengangkat novel karya Alexandre Dumas ini ke bentuk anime dan saya bilang… keren abis! Di satu sisi, plot asli Count of Monte Cristo sudah menarik. Cerita balas dendam selalu menarik. Versi animenya mengambil paruh terakhir buku, di mana Edmond Dantes kembali sebagai Count of Monte Cristo untuk membalas dendam pada orang-orang yang mengkhianatinya. Bedanya, di sini Count diposisikan sebagai tokoh antagonis. Karakter utama dipegang oleh Albert de Morcerf, anak dari Ferdnand dan Mercedes. Untuk kepentingan balas dendam, Count bersahabat dengan Albert, sebagai pintu masuknya ke kalangan elit Paris.

Sampai sekarang, paling banter yang saya tahu tentang Count of Monte Cristo adalah versi layar lebarnya (diperankan oleh Jim Caviezel). Di situ yang menjadi sorotan utama adalah sang Count (Edmond Dantes); mulai dari dikhianati sahabatnya sampai aksi balas dendam. Di versi anime, sudut pandang cerita diganti dari kacamata Albert dan sahabat-sahabatnya: Franz, Eugenie, Beuschamp, Lucien, Maxmillien, Valentine, dan Renaud.

Mungkin awalnya terasa kurang adil ‘menandingkan’ Albert yang nyata-nyata masih cupu dengan Count yang sudah ditempa pengalaman hidup. Justru di sinilah menariknya, melihat perubahan karakter Albert yang semula ‘hanya’ seorang anak bangsawan yang naif dan tidak kenal susah menjadi seorang dewasa lewat tamparan-tamparan realita yang diterimanya; juga bagaimana Albert belajar makna cinta dan persahabatan, sementara hidup di dunia elit dimana cinta adalah perjodohan kepentingan dua keluarga. Saya yang semula mengacuhkan Albert kian lama semakin menyadari peran Albert dalam cerita. Sebaliknya, keluguan dan spontanitas remaja Albert sedikit banyak mempengaruhi Count, termasuk naluri kebapakan sang Count. Sekadar masukan subyektif, memang secara fisik penampilan tokoh Count lumayan aneh, kalau bukan sangar. Kulit biru, mata merah-biru, kuku panjang, bertaring, gila banget deh. Tapi entah kenapa, tokoh Count di anime terasa jaaaaauuuuuuuhhhh lebih keren daripada yang di layar lebar. *sori, mas Jim Caviezel, Anda kalah dengan tokoh anime*

Namanya adaptasi, wajar bila ada beberapa perubahan. Perubahan yang paling jelas di anime ini – tentu saja – adalah setting waktu. Kalau di buku cerita berlatar tahun 1800-an, di anime waktu sudah berjalan sampai tahun 5000-an. Cakupan geografisnya pun sudah bukan ukuran negara lagi, tapi planet (contoh: Setting karnaval yang aslinya di Roma diubah jadi di Luna/bulan). Yang paling bikin “h0h” (dan buat saya agak jayuz), adalah cara ‘duel’ di zaman itu. Kalau di abad 19 duel menggunakan pistol atau pedang, di sini duel menggunakan mobile suit mecha! Suer deh, serasa nonton Gundam/Evangelion nyasar! :D Menariknya, meski teknologi dan gadget high-tech betebaran, tren fashion dan gaya hidup justru berkiblat ke tahun 1920-an (pasca PD I). Menurut saya, setting yang bisa dibilang ‘tabrakan’ ini adalah daya tarik segar, mengingat dari segi plot kurang lebih sama dengan versi novel. Tetapi, kadang saya merasa ada technology gap, seperti saat Eugenie menerima surat dari New York Conservatoire, yang diposkan manual layaknya surat biasa; ataupun saat Franz pergi ke Marseille naik kereta yang ditarik lokomotif yang tampangnya gak jauh beda dengan lokomotif uap biasa.

Daya tarik segar lainnya datang dari segi visual grafis. Efek rendering layer photoshop yang digunakan untuk tekstur pakaian, motif wallpaper rumah, sofa, maupun warna rambut pasti langsung menyengat mata. Mulanya mungkin agak bikin sakit mata, terutama di scene karnaval, malam hari dengan konsep spotlight yang kontras (di episode-episode awal di Luna). Eits, jangan mutung dulu. Cobalah dinikmati, karena di episode-episode berikutnya efek itu lebih soft, karena kebanyakan scene siang hari. Selain masalah tekstur, animasi 3D yang dipakai untuk latar belakang juga oke punya. Bagian favorit saya adalah penggambaran rumah Count, lengkap dengan laut buatan dan rangkaian tata surya buatan.

Saya memang tidak update masalah anime, tapi Gankutsuou adalah sebuah karya yang patut menerima acungan jempol. Dua bahkan, dari saya. Salut buat GONZO! Perpaduan cerita yang penuh intrik dengan visualisasi grafis yang unik, apalagi yang kurang? Tinggal bagaimana kita menikmatinya saja.

Fuih, selesai sudah review semi fangirling ini :D

Maret 24, 2008

Review: Bakumatsu Kikansetsu

Diarsipkan di bawah: anime — Tag:, , — crappuccino @ 4:33 am

Judul: Bakumatsu Kikansetsu Irohanihoheto (TV Series)
Episode: 26
Tahun: 2006

Berawal dari keisengan saya melihat gambar INI *tunjuk gambar di sebelah kiri* plus iming-iming bahwa anime ini dijual komplit-plit sampe tamat, saya putuskan membeli anime ini. Secara garis besar, anime ini bercerita tentang Akitsuki Youjiro – seorang Eternal Asassin – yang diutus untuk menyegel kembali Hasha no Kubi (Head of the Conqueror) oleh kepala desanya. Hasha no Kubi ini membawa semacam kutukan “gila perang” bagi orang-orang yang dirasukinya. Di perjalanannya ini, dia bertemu dengan Yuyama Kakunojo , seorang pemimpin grup teater keliling yang ingin membalas dendam kematian orang tuanya kepada Nakaiya Jubei (yang ternyata memiliki Hasha no Kubi). Youjiro pun memutuskan bergabung dengan grup teater milik Kakunojo, dengan harapan ia bisa menemukan jejak Hasha no Kubi. Tapi di grup ini pun dia bertemu dengan Ibaragi Soutetsu, seorang penulis naskah drama misterius, yang rupanya bukan cuma menulis naskah untuk drama, tapi juga menulis naskah sejarah Jepang. Kancah perebutan Hasha no Kubi turut diramaikan dengan kehadiran seorang utusan angkatan laut Inggris, Kanna Sakyounosuke (fyi: dia blasteran Inggris-Jepang).

Mulanya saya kira plot cerita bakal cenderung ke kejadian-kejadian supranatural yang terjadi sehubungan dengan Hasha no Kubi - macem Samurai Deeper Kyo gitu lah. Seakan perebutan Hasha no Kubi itu belum cukup ruwet, anime ini malah mengajak kita mengusut sejarah Jepang pra dan pasca Restorasi Meiji. Ini dikarenakan Hasha no Kubi mencari orang-orang buat dirasuki, dan orang-orang itu tak lain ada di belantara politik Jepang saat itu! Jadi, jangan heran kalau banyak tokoh-tokoh sejarah yang muncul di sini, seperti admiral Enomoto Takeaki, Matsudaira Katamori, Okita Souji, Hijikata Toshizo, sampe Ryoma Sakamoto :D yang bukan cuma sekedar lewat, tapi turut berperan dalam jalan cerita.

Artwork di Bakumatsu Kikansetsu cukup lumayan. Character design oke, kostum juga oke. Kalau ada yang mengganjal buat saya itu adalah… si tokoh utama! Sebenernya ini personal sih, tapi karakter Youjiro sedikit banyak mengingatkan saya pada mas Heero Yuy (Gundam Wing) yang gloomy, cuek, dan gak ada bahagia-bahagianya sama sekali. Di satu sisi emang keren sih, tapi gimana-gimana bikin dahi saya berkerut terus kalo liat anime ini. *Tega banget. Udah plotnya berat, tokoh utamanya gloomy lagi* Karakter heroine, Yuyama Kakunojo, cukup lumayan dan – tentu saja – agak mengingatkan saya sama Relena Peacecraft (Gundam Wing) *iya lah, lha wong tokoh utamanya aja kayak Heero* Tapi, tapi…. saya cukup terhibur dengan kehadiran abang Toshi (Hijikata Toshizo), hihi.

Sejauh ini, salah satu pesan yang saya tangkap dari anime ini gak jauh-jauh dari “anti perang”. Bisa kita rasakan korban-korban perang yang kehilangan tempat tinggal dan keluarga, tanpa suara memprotes “Apa sih gunanya perang? Mengapa harus perang?”. Kita bisa lihat bahkan orang-orang yang “di atas” pun berusaha menghindari terjadinya konflik terbuka, tapi tetap tak kuasa. Selain itu, karena muatan sejarah cukup kental, ada baiknya buka-buka buku tentang sejarah Jepang pasca Restorasi Meiji, karena saya sendiri suka bingung, ini siapa di pihaknya siapa.

Banyak yang bilang anime ini bagus, dan saya setuju. Tapi perlu saya tegaskan bahwa ini anime serius, jadi kalau mau nyantai mending jangan nonton ini. Tambah jutek ntar liat tokoh utamanya *meski keren* Di sisi lain, saya jadi kepikiran. Sudah banyak anime yang mengangkat tema sejarah namun dicampur dengan tokoh/kejadian fiksi sehingga cerita jadi nggak boring. Ada gak ya orang di Indonesia yang kepikiran untuk bikin kayak gitu juga. Katakanlah, temanya Proklamasi kek… G30S/PKI kek… tapi gak dibuat pure sejarah nan boring. I think it’s gonna be cool, right?

Blog pada WordPress.com.