Crappuccino

September 10, 2008

!Crap: Goethe dan musik Death Metal

Diarsipkan di bawah: !crap, buku — Tag:, , — crappuccino @ 4:48 am

Dikutip dan diterjemahkan mentah-mentah dari buku The End of The World Book karangan Alistair McCartney. (Diarsipkan di bawah huruf “D”.)

Catatan: mohon maklumi terjemahan yang seadanya ini. ^^

DEATH METAL

Kembali ke akhir abad ke-20, khususnya di dekade yang dikenal sebagai tahun 1980-an dan 1990-an, di mana sepertinya setiap harinya, para pemuda, lelah akan sturm and drang dari kedewasaan dan terinspirasi dari lirik-lirik berbau kematian dari band-band death-metal, melakukan aksi bunuh diri secara sangat brutal, yang mana, menurut para sosiolog, adalah tipikal remaja: sebuah pistol di mulut dan mobil terjun ke jurang adalah metode bunuh diri yang dipilih.

Kita bisa bilang para pemuda Amerika Utara yang terobsesi dengan kematian ini sebagai keturunan langsung dari pemuda-pemuda Eropa yang, pada akhir abad ke-18, membaca novel Johann Wolfgang von Goethe, The Sorrows of Young Werther, , yang berakhir dengan sang lakon yang putus cinta mengakhiri hidupnya dengan hati remuk. Seiring publikasinya di tahun 1774, buku ini menginspirasi dua tren di benua Eropa: satu adalah tren memakai jas biru, seperti yang dikenakan Werther; dan satu lagi adalah aksi bunuh diri. (lagi…)

Agustus 28, 2008

!Crap: Cerpen yang bikin pingsan

Diarsipkan di bawah: !crap, buku — Tag:, , , — crappuccino @ 3:15 am

Percayakah Anda, total sudah 67 orang pingsan mendengar cerita ini dibacakan?

Guts by Chuck Palahniuk

Catatan: Chuck Palahniuk adalah pengarang Fight Club (1996) yang dibuat versi filmnya tahun 1999 (diperankan oleh Edward Norton dan Brad Pitt).

Catatan#2: Lepas dari fakta bahwa Chuck Palahniuk berhasil membuat saya speechless, saya bersyukur di komputer ada tombol “page down”.

Juli 15, 2008

Review : The Janissery Tree

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 11:39 am

Judul : The Janissery Tree
Pengarang : Jason Goodwin
Tahun : 2006

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk membeli buku ini adalah istilah “novel detektif” yang nangkring dengan manisnya di sampul depan novel berwarna ungu terong tersebut. Meski sempat ragu karena latar belakang negara Turki yang digunakan (saya biasanya sering mumet kalau membaca sesuatu yang berhubungan dengan Timur Tengah dan sebagainya), toh buku itu tetap juga berpindah tangan ke tangan saya.
Dan, ALHAMDULILLAH, saya nggak menyesal membeli buku ini *senyum bahagia*

Cerita bersetting di Istanbul, Turki, sekitar tahun 1830-an. Sudah sepuluh tahun sejak pemberontakan pasukan militer Istanbul terjadi, dan Istanbul pun menjadi makin sibuk. Sebagai kota yang merupakan salah satu titik pusat perdagangan dunia, Istanbul menjadi magnet banyak negara untuk melakukan kerja sama dalam perdagangan.

Kisah dimulai ketika Yashim, seorang kasim, dipanggil untuk menangani dua kasus sekaligus : hilangnya 4 perwira pasukan militer kesultanan (Garda Baru) dan misteri matinya seorang calon selir dari harem istana. Sebagai seorang kasim yang telah memiliki banyak pengalaman, Yashim memiliki kelebihan yang diakui oleh pihak istana : pengetahuannya yang luas, dan kehadirannya yang tidak pernah mencolok, sehingga memudahkannya untuk bergerak mencari informasi.

Dengan kemampuan yang dimilikinya, Yashim pun bergerak perlahan untuk memecahkan kedua misteri tersebut. Apalagi satu demi satu perwira militer yang hilang itu ditemukan tewas mengenaskan.

Perjalanannya dalam menemukan jawaban mengantarnya pada suatu kemungkinan baru : bahwa semua pembunuhan perwira-perwira militer tersebut dilakukan oleh mantan pasukan militer kesultanan yang bernama Yenicheri. Pasukan Yenicheri diluluhlantakkan oleh kesultanan sekitar sepuluh tahun sebelumnya, ketika mereka melakukan pemberontakan kepada kesultanan.
Apakah benar Yenicheri berada di balik semua pembunuhan itu? Lalu apa pula penyebab kematian si calon selir yang telah disebutkan sebelumnya? Mungkinkah ada hubungan antara kematian empat perwira militer tersebut dengan kematian si calon selir?

Seperti sudah saya bilang, saya mengharapkan sebuah kisah detektif di buku ini, dan saya menemukannya. Cara buku ini bercerita mungkin tidak sama dengan novel detektif lain yang sering saya baca, tapi saya cukup menikmatinya. Di buku ini ada suatu proses mencari, mengumpulkan petunjuk, dan menganalisa : rincian kegiatan yang dilakukan seorang detektif.
Yashim, sebagai tokoh utama dalam buku ini, benar-benar mencuri hati saya. Sejak awal dia sendiri mengakui bahwa dia hanya setengah laki-laki : dia tidak sempurna. Toh, di perjalanannya mencari kebenaran, dia menyadari bahwa seorang kasim pun bisa berbahagia (dia bertemu dengan seorang Rusia yang memikat.. Hmm…nakal yah Yashim…). I love him!

Selain Yashim, dan juga alur ceritanya, yang saya suka dari novel ini adalah selipan kisah-kisah sejarah mengenai Istanbul dan pertempuran yang terjadi. Saya tidak begitu tahu tentang sejarah, tapi bisa saya bilang kalau saya cukup percaya dengan rentetan kisah yang dipaparkan oleh Goodwin.
Yang mungkin agak mengganggu bagi saya adalah terjemahan dari buku ini (ada beberapa istilah yang saya bingung artinya, dan kadang-kadang ada kalimat yang rasanya kurang pas). Selain itu, saya juga agak bingung membaca penggambaran daerah-daerah atau lokasi di dalam cerita. Tentu saja, bukan berarti Goodwin jelek dalam menggambarkannya. Mungkin saja saya yang kurang punya imajinasi dalam membayangkan lokasi di kota seperti Turki, hehehe…..

Oiya, satu lagi yang agak mengganggu buat saya : endingnya! Meski akhirnya dijelaskan bahwa si Mr. X lah dalang dari semuanya (rahasia ya, hehe…), tapi penjelasannya terlalu singkat!!! Masa cuma dijelaskan dalam satu scene antara si Yashim dan ibu suri (kalo di novel namanya valide sultan)? Kurang mantap deh menurut saya…. Mestinya dia bisa menggambarkan seberapa kompleks konspirasi kejahatan yang dilakukan.

But overall, saya puas terhadap novel ini. Tadinya saya mau nyicil novel ini selama beberapa hari (karena kepikiran team building), tapi ternyata 2 hari dah kelar, hehehe…. Buat mereka yang suka novel detektif, rasanya ini bisa jadi salah satu bacaan yang mengasyikkan.

Note :
Akhirnya…akhirnya bisa update juga di crappu, hehehe…

Februari 27, 2008

Review : Pembunuhan ABC

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 5:48 am

abc1.jpg

Judul : Pembunuhan ABC (The ABC Murders)
Penulis : Agatha Christie
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Para penggemar novel detektif pasti pernah mendengar judul buku ini. Ya, Pembunuhan ABC atau The ABC Murders merupakan salah satu hasil karya ibu Agatha Christie yang banyak dikenal karena keunikan kasusnya, serta (tentunya) kehebatan tokoh detektif Mr. Hercule Poirot dalam memecahkan kasus tersebut.

The ABC Murders dibuka dengan surat tantangan pada Mr. Hercule Poirot untuk mengambil sebuah tindakan terhadap suatu kejadian yang akan terjadi pada bulan yang sama. Meski Poirot awalnya setuju dengan rekannya, Mr. Hastings, bahwa surat itu dapat dikategorikan sebagai suatu lelucon yang konyol, tak urung sesuatu dalam pikirannya membuat pria berkumis tebal itu khawatir. Bagaimana jika ABC, si pengirim surat itu, tidak main-main? Bagaimana jika sesuatu memang benar-benar terjadi sesuatu? Bagaimana jika….

Kekhawatiran itu pun terbukti. Pada tanggal yang ditentukan, seseorang dengan inisial A ditemukan mati terbunuh pada kota yang berinisial sama. Petunjuk yang tertinggal hanyalah sebuah buku panduan kereta api yang sering juga disebut buku ABC. Sebelum Hercule Poirot mampu membuka tabir kasus pembunuhan pertama, surat tantangan kembali datang. Adanya pembunuhan selanjutnya pada korban berinisial B dan C memaksa pria itu berpikir keras. Apa sebenarnya tujuan dari pembunuhan yang dilakukan secara acak dan sesuai abjad ini? Siapa pula seseorang yang dilihat oleh kerabat korban (baik dari korban pertama hingga terakhir) berkeliaran pada saat terjadinya pembunuhan?

Novel ini adalah novel detektif pertama yang saya baca (kalau nggak salah waktu kelas 3 SMP), dan sampai sekarang, saya masih terkagum-kagum pada kehebatan Ms. Agatha Christie dalam menceritakan kasus ini. Ketiga pembunuhan yang terjadi benar-benar terkesan acak dan tidak ada dasarnya sama sekali. Siapa yang menduga, bahwa di balik semua itu ternyata hanya satu kejahatan yang memiliki motif, sementara pembunuhan lainnya hanyalah ‘tambahan’ untuk menyamarkan motif tersebut?

Menariknya ide cerita ini juga diakui oleh Aoyama Gosho sensei (mangaka dari Meitantei Conan a.k.a Detective Conan). Pada volume 39, Conan Edogawa dan Heiji Hattori menghadapi kasus yang mirip dengan The ABC Murders, hanya bedanya pada kasus ini yang terjadi secara berurutan adalah tragedi kebakaran secara acak, bukan pembunuhan. Korban baru muncul pada peristiwa kebakaran terakhir. Adanya seorang tokoh yang berkepribadian lemah menggiring Hattori dan Conan pada penyelesaian yang sama dengan The ABC Murders. (maaf, gambarnya jelek. Scanner saya rusak, jadi dalam keadaan darurat saya mengambil foto saja.. :P )

abc2.jpg

Anyway, bagi penggemar novel detektif, ini adalah satu judul menarik yang saya rekomendasikan untuk dibaca. Sedang bagi mereka yang belum mengenal Ms. Agatha Christie, The ABC MUrders bisa menjadi perkenalan yang luar biasa :)

Februari 22, 2008

Review: Gadis Jeruk

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 6:06 am

GADIS JERUK
Judul asli: Orange Girl
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
Tahun: 2005

Pernah membayangkan bagimana rasanya menerima surat dari orang yang sudah meninggal? Itulah yang dialami oleh Georg ketika menemukan surat yang ditulis ayahnya yang sudah meninggal di dalam jahitan di lapisan kereta bayinya. Georg yang ditinggal mati ayahnya ketika masih bayi tidak begitu mengenal ayahnya, sampai dia menemukan surat ini. Di dalam surat itu, ayahnya menceritakan tentang kisah cinta pertamanya dengan seorang cewek misterius yang disebutnya ”Gadis Jeruk”. Siapa ”Gadis Jeruk” itu? Kenapa dia mengetahui banyak hal tentang ayah Georg?

Sekilas, saya bilang ini termasuk karya Jostein Gaarder yang cukup ringan, namun tetap menyentuh. Pembaca yang diajak larut dalam kemisteriusan si ”Gadis Jeruk”, makin bersemangat membaca lembar demi lembar. Saya juga suka bagaimana Oom Jostein ini menggambarkan tahap demi tahap Georg mengenal sang ayah. Lewat sebuah surat, hubungan batin yang semula datar-datar saja seiring berjalannya cerita menjadi semakin kuat. Kalaupun ada yang mengganggu, kebanyakan gara-gara isi surat yang sering ngelantur ke mana-mana saking tingginya imajinasi ayah yang satu ini. Satu contoh, waktu si ayah penasaran menebak-nebak si ”gadis jeruk”, hanya dengan berbekal imej ”gadis”, ”mantel anorak tua”, dan ”jeruk”; imajinasinya bisa nyasar dari seorang ibu rumah tangga dengan banyak anak sampai ke organisasi perlindungan hewan dengan misi ke Kutub Utara *literally speaking!* dan deskripsinya itu cukup makan tempat. Fuih. Saya pribadi sebagai pembaca yang sudah penasaran jadi makin gemes sama tokoh ”ayah” ini.

”Gadis Jeruk” adalah buku kedua Jostein Gaarder yang saya baca, setelah ”Dunia Sophie”. Dari kedua buku ini, saya sangat mengagumi cara penulisan Oom Gaarder yang memancing rasa penasaran pembacanya. Dengan begitu, mau nggak mau pembaca pasti membaca sampai habis (atau setidaknya sampai ”misteri”nya terpecahkan), meskipun buntut-buntutnya ternyata njeketek, alias ”misteri” itu bukan sesuatu yang luar biasa, ajaib, apalagi yaoi. Justru di situ serunya :D Kalau temen-temen penasaran dengan Jostein Gaarder tapi mutung melihat tebalnya “Dunia Sophie” yang penuh dengan penjelasan dan sejarah filsafat, “Gadis Jeruk” bisa jadi perkenalan yang cukup manis.

Review dari saya ini masih terlalu “dangkal” untuk sebuah karya Jostein Gaarder. Ini link review lain tentang “Gadis Jeruk”, tentunya yang lebih cerdas dan bermanfaat :D

Februari 16, 2008

Review : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 4:30 am

Display Buku

Judul : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
Penerbit : Mizan

Yap, review buku pertama! Meski sudah banyak yang mereview buku luar biasa ini, rasanya nggak masalah untuk menambah satu lagi review dalam deretan review buku ini. Toh, buku ini pantas mendapatkannya :)

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken dibuka dengan buku-surat yang ditulis oleh Nils dan Berit. Nils Boyum Torgersen dan Berit Boyum adalah dua orang sepupu yang baru saja berlibur bersama dan memutuskan untuk saling bertukar cerita menggunakan sebuah buku surat.

Meski awalnya terlihat hanya sebagai proyek pribadi yang tidak berbahaya, rasa penasaran terhadap seorang perempuan bernama Bibbi Bokken tak urung membawa kedua sepupu itu ke dalam sebuah petualangan. Ya, topik buku-surat itu pun mengerucut, berfokus pada Bibbi Bokken dan mengenai sebuah perpustakaan rahasia, perpustakaan yang hanya diketahui oleh Bibbi Bokken sendiri, dan tentunya, Nils serta Berit yang terus mengumpulkan informasi mengenai wanita misterius itu.

Dalam perjalanannya, beberapa kejadian yang aneh mereka hadapi. Seperti Nils, yang bertemu seseorang berwajah penjahat dengan nama panggilan Mr. Smiley. Dan Berit, yang tinggal satu kota dengan Bibbi Bokken dan nyaris ketahuan saat menyelinap masuk ke rumah wanita itu!

Yang istimewa dari buku ini adalah beberapa pemikiran filosofis mengenai buku dan kegiatan menulis. Seperti apa yang dituliskan Nils :

Tak ada aturan bagi seseorang dalam menulis, demikian juga dalam berpikir (hal 135).

“Jadi, sama seperti atom dan molekul dapat menjadi seekor beruang, huruf-huruf tersebut pun dapat menjaid kisah Pooh si Beruang” (hal 227)

Buku ini juga memuat berbagai istilah seperti Klasifikasi Desimal Dewey, Buku Harian Anne Frank, puisi jan Erik Vold dan berbagai istilah lainnya. Jujur, aku sendiri bahkan baru tahu mengenai klasifikasi desimal Dewey! Kupikir pengklasifikasian buku sudah ada sejak dulu kala, dan muncul begitu saja tanpa ada tokoh di baliknya :P

Overall, buku ini salah satu yang sangat aku rekomendasikan untuk kalian baca. Sungguh mengasyikkan, dan ending-nya pun cukup memuaskan :)

Blog pada WordPress.com.