Crappuccino

Desember 1, 2008

Review : Rescue Dawn

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , — crappuccino @ 12:44 pm

rescue-dawn

Judul : Rescue Dawn
Sutradara : Werner Herzog
Pemain : Christian Bale, Steve Zahn
Tahun rilis : 2007

Yak, saatnya niken mengupdate!!! :P
*lari dari sambitan haru karena sudah beribu-ribu tahun ga ngisi blog ini…*

Ketika saya diajak nonton film ini, saya menyetujui saja karena pilihan lainnya hanya film Indonesia tidak jelas dengan judul yang semakin vulgar. Eh, ternyata begitu film dibuka, layar menunjukkan potongan-potongan pesawat tempur dan situasi peperangan di Vietnam. Saat itu juga saya sempat cemas, apa saya bakal menyukai film ini. Maklum saja, saya bukan penggemar berat film perang (kecuali Saving Private Ryan kali ya…itu pun saya merasa film itu cukup sadis). Ternyata, saya lumayan suka juga dengan film tersebut.

Cerita dibuka dengan terbangnya satu tim penerbang dengan tugas rahasia menghancurkan markas-markas Vietkong di negara Vietnam melalui Laos. Dengan latar belakang perang Vietnam, kita segera disuguhi kemuraman yang terjadi pada sebuah perang. Dieter Dengler (Christian Bale), salah seorang penerbang, tidak beruntung karena pesawatnya terkena tembakan, dan dia terpaksa mendarat darurat (atau jatuh bebas yah tepatnya?) di pertengahan sawah di Laos. Segera saja dia menjadi tawanan para militan, dan sama seperti tawanan perang lainnya, tentu saja dia mendapat siksaan dari para penyanderanya.

Dieter kemudian dipenjarakan di sebuah gubuk yang terletak di tengah hutan belantara yang lebat (dan sedikit banyak mengingatkan saya pada hutan-hutan di Kalimantan). Di sana, dia bertemu dengan beberapa rekan senasib. Beberapa penerbang pesawat logistik ternyata juga tidak beruntung dan menjadi tawanan para militan di Laos selama kurang lebih 2 tahun (ada Gene, YC, Procet dan Phisit). Ada juga Duane, penerbang AU USA yang juga sudah ditahan sekitar 1.5 tahun.

Meski “teman-teman” barunya terus menyarankan agar Dieter tidak berbuat yang aneh-aneh, toh penderitaan menjadi seorang tawanan cukup mendorong Dieter untuk berencana kabur dari penjara di tengah hutan tersebut. Lalu berhasilkah Dieter kabur bersama yang lain? Mungkinkah mereka melarikan diri dari para militan bersenjata dan bebas dari hutan yang menyesatkan tersebut?

Ada beberapa poin yang terus berkelebat di pikiran saya selama menonton film ini. Pertama, penyandera tawanan perang akan selalu menyiksa para tawananannya (pernyataan yang cukup bodoh yah, karena itu kan sebenarnya sesuatu yang wajar terjadi, mengingat mereka menganggap diri mereka sebagai korban, dan siapapun yang menjadi musuh mereka harus menderita). Hal itu membawa saya ke pemikiran selanjutnya : Jika kita tidak mau diperlakukan demikian (dalam hal ini mereka sebagai tentara Amerika sih), maka seharusnya kita tidak memperlakukan orang lain seperti itu (dan ini kembali mengacu kepada Amerika Serikat yang hobi perang). Kesimpulannya : Perang itu nggak ada gunanya! Nggak pernah ada, dan nggak akan ada. Seharusnya dari film-film semacam ini, kita makin menyadari bahwa membunuh bangsa lain, ras lain, atau siapapun yang kita anggap “musuh”, tidak akan pernah berdampak baik bagi semua pihak.

Tentunya, selain pemikiran serius itu, saya juga memikirkan hal-hal yang lebih enteng, seperti, Christian Bale yang jadi kurus banget. Busyet dah, dia nurunin berapa kg ya? Saya sampe iri….program pengurusan badan saya masih jalan pelan-pelan sih, hehehe… :P

Secara karakter, tidak ada karakter yang sangat menonjol dalam film ini. Si tokoh utama, Dieter pun tidak terlalu masuk ke dalam hati saya, meski upayanya untuk survive dalam kondisi apapun patut diacungi jempol (katanya sih dari kisah nyata).

Overall, film ini lumayan untuk ditonton, khususnya buat para pecinta film perang. Buat yang tidak suka film perang, mungkin harus pikir-pikir dulu sebelum memutuskan menonton.

Btw, ternyata film ini bikinan tahun 2006 yah??? Kok baru muncul sekarang ya di sini? o_O;;

April 18, 2008

Movie review : Jumper (2008)

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , , — crappuccino @ 5:56 am

Judul : Jumper
Tahun: 2008
Sutradara : Doug Liman
Pemain : Hayden Christensen, Samuel L. Jackson, Diane Lane, Jamie Bell, etc

Gimana rasanya bisa melompat dari satu tempat ke tempat lain hanya dalam sekejap? Bisa ditebak, sangat menyenangkan, dan yang jelas, memberi keuntungan pula bagi kita. Bayangkan, sesaat kita di rumah, dan sedetik kemudian, kita bisa berada di Jepang, sekedar untuk jalan-jalan ataupun shopping.

Kemampuan itulah yang dimiliki David Rice (Hayden Christinsen). Menyadari kekuatannya di usia 15 tahun, pemuda itu segera memanfaatkannya tanpa perlu pikir panjang. Situasinya benar-benar tepat baginya : ibunya pergi meninggalkannya ketika ia berusia 5 tahun, ayahnya seringkali menyiksanya, dan tidak ada teman yang dapat mendukungnya di sekolah. Kekuatannya adalah satu-satunya jalan bagi dia untuk bisa keluar dari kehidupan yang tidak menyenangkan.

Maka dimulailah petualangan itu : merampok bank untuk memenuhi kebutuhan hidup, berwisata dari satu negara ke negara lain; hanya sekedar menghabiskan waktu untuk makan siang, atau berselancar di kepulauan Fiji. Semua tampak begitu sempurna sampai sosok itu datang : Roland (Samuel L. Jackson). Tanpa ada penjelasan, pria itu tiba-tiba saja ingin membunuhnya.

Meski berhasil lolos, David tidak menyadari bahwa sebenarnya ia dikejar-kejar oleh sebuah organisasi bernama Paladin, yang memang bertujuan memusnahkan semua “jumper”, yaitu orang-orang yang berkekuatan sama dengannya. Teguran keras dari seorang jumper lain, Griffin (jamie bell) menyadarkan David bahwa seharusnya ia waspada akan kehadiran Paladin. Tapi saat ia sadar bahwa ia harus waspada, gadis yang disukainya, Millie (Rachel Bilson), telah ditangkap oleh Ronald!

Apa yang terjadi selanjutnya? Lalu apa pula hubungan ibu David (Diane Lane) dengan semua kekacauan ini?

Dari segi ide, film ini sebenarnya lumayan. Orang-orang dengan kekuatan super selalu saja menarik perhatian (ingat Heroes yang booming sampai sekarang ini?). Visual efek dari film ini juga mempesona, benar-benar bersih dan mulus dalam menunjukkan perpindahan para jumper dari satu tempat ke tempat lain.

SAYANGNYA, plot dan karakter dari film ini bener-bener nggak bagus! Banyak scene yang nggak perlu (seperti scene antara David dan Mille), tapi scene berkaitan dengan penjelasan Jumper dan Paladin itu sendiri nggak ada! Mbok ya dijelasin, jumper itu muncul karena apa, Paladin iku sopo…. Masa tau-tau aja ada tanpa penjelasan???

Terus karakter utamanya, ya ampuuuuuuuuunnnnnn, kalau bisa lompat ke dalam film, si Hayden itu bakal aku iket terus aku lempar! Bener2 ga kerasa emosinya. Datar banget, kalo nggak mau dibilang ancur! Aku malah lebih impressed ama karakternya si Griffin. Setidaknya dia punya sesuatu yang bisa diingat (selain aksen Inggrisnya).

Overall, saya tidak merekomendasikan film ini bagi mereka yang senang melihat akting super njelimet dan asoy. Nonton aja kalo suka liat visual efek yang bagus.

April 3, 2008

!Crap: FITNA, fifteen minutes of fame

Diarsipkan di bawah: !crap, film — Tag:, — crappuccino @ 6:27 am

Rasanya 2-3 hari belakangan ini seantero wordpress (kalau bukan seantero Indonesia) pada menghujat film ini. Hebat, bener-bener “15 minutes of fame”. Belum liat sih, dan sebisa mungkin gak mau liat. Rasanya kok malah nambah dosa aja *habis.. kan bikin orang marah, kadang sampe misuh-misuh, berprasangka, terus akhirya dendam. Dosa semua kan tuh?* Udah gitu ukuran file-nya lumayan pula, 50 MB, cuma buat 15 menit. Ukuran segitu tuh udah dapet manga satu volume. Yang buat itu gak ada kerjaan laen apa? Urusin negaranya sendiri napa?

Sudah ah, jadi darah tinggi.

Maret 1, 2008

Review : “Monk”

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , — crappuccino @ 12:54 am

monk.jpg

Judul Film (Serial TV) : Monk
Pemain : Tony Shalhoub
Tahun : 1998 – 2007 (season 1 – season 5)

Adrian Monk (Tony Shalhoub) adalah seorang detektif yang memiliki penyimpangan perilaku berupa OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Penyimpangan itu menyebabkan dia kehilangan lencananya di kepolisian, meski sebenarnya Monk adalah seseorang yang memiliki kemampuan analisa mengagumkan, karena ia mampu melihat hal-hal terkecil yang biasanya luput dari suatu masalah, dan pada akhirnya menemukan pelaku sebenarnya dari suatu kasus pembunuhan.

Bersama dengan asistennya (Sharona, yang kemudian diganti oleh Natalie), Monk menjadi konsultan kasus pembunuhan bagi kepolisian San Fransisco. Dalam pekerjaannya, Monk biasa didampingi oleh Captain Stottlemeyer (mantan atasan Monk) dan Randy Disher, tangan kanan Stottlemeyer yang sedikit ceroboh, namun cukup loyal pada atasannya. Maka mereka berempat (Monk, Natalie, Stottlemeyer dan Disher) pun bahu membahu bekerja sama dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan yang rumit dan penuh intrik.

Saya pertama kali mengenal Monk sekitar 3 tahun yang lalu, saat salah satu televisi swasta memutar serial TV menarik ini. Karena penasaran, saya meminta adik saya untuk berburu Monk (langsung beberapa season), dan Voila! Saya tidak kecewa sedikit pun dengan serial TV ini.

Yang paling saya kagumi dari serial ini tentu saja cara kerja Monk; bagaimana ia memperhatikan detil terkecil dari suatu TKP atau keterangan seorang saksi dalam suatu kasus; bagaimana ia mengaitkan satu fakta yang ia temukan dengan fakta lain yang, secara umum tampak tak berhubungan, tapi ternyata memiliki hubungan tersembunyi. Saya juga jatuh cinta pada OCD yang diderita Monk. Meski kadang tampak menyedihkan, saya rasa OCD itu sedikit banyak membantu Monk dalam menjalani hidupnya, karena memang itulah dia seutuhnya. Monk tanpa OCD-nya justru mungkin tidak akan menjadi Monk yang mampu menyelesaikan kasus secara brillian.

Dari season 1 hingga season 5, harus saya akui bahwa saya sangat terkesan pada season 1 dan 2. Pada season itu saya merasa seperti berkenalan perlahan dengan Monk, dan mencoba memahami seperti apa sosok Monk itu. Season 3 dan 4 cukup baik, meski agak sedikit membosankan pada bagian tengah. Sedangkan season 5 memberi efek yang sama dengan season 1 dan 2, membuat saya kembali jatuh cinta, dan mengingat kembali bahwa ini lho, Monk yang saya sukai dan cintai tersebut.

Bagi mereka yang menyukai segala sesuatu berbau detektif (seperti saya :D ), Monk dapat menjadi salah satu alternatif tontonan yang mengasyikkan. Memang, Monk tidak seserius CSI, tapi percaya deh, tidak ada ruginya menonton Monk. Seru, lucu, dan menyegarkan.

Februari 28, 2008

Review: Black

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , — crappuccino @ 3:18 am

Movie: BLACK (2005)
Sutradara: Sanjey Leela Bhansali

Nasib malang menimpa Michelle McNally (Rani Mukerji/Ayesha Kapoor), yang lahir normal namun jadi buta-tuli-bisu karena sakit ketika kecil. Keluarganya tetap menyayangi Michelle, tetapi membiarkannya tumbuh menjadi anak liar tanpa sopan santun dan pendidikan. Ketika Michelle berumur 9 tahun, orangtuanya mendatangkan Debraj Sahai (Amitabh Bachchan), guru privat khusus untuk penderita buta-tuli. Debraj sendiri adalah orang yang eksentrik (dan agak alkoholik), dan memakai cara-cara yang tidak biasa untuk mengajari Michelle, demi membawa Michelle keluar dari dunianya yang gelap.

Film ini adalah sebuah film India yang sama sekali tidak seperti film India. Catat saja, durasi film yang ”cuma” 2 jam lebih sedikit, scene nyanyi yang amat minim (hanya satu, itu pun tidak pakai tari-tarian dan lagunya adalah ”L-O-V-E”-nya Natalie Cole), dan nama-nama tokoh yang kebarat-baratan. Saya melewatkan 1/3 pertama film ini (karena SCTV memutarnya secara terpisah), tapi dari sekelebat adegan akhir masa kecil Michelle, ketika Debraj menyeretnya ke pancuran air, membiarkan air jatuh ke telapak tangan muridnya, dan Michelle terbata-bata mengatakan ”Wa.. water…” itu sudah membuat saya curiga. Benar saja, dari info yang saya dapat, film ini dibuat berdasarkan film ”Miracle Worker”(1962) yang memang berdasarkan kisah hidup Helen Keller. Eits, tapi jangan salah, itu cuma di bagian masa kecil Michelle saja. Cerita selanjutnya mengenai kehidupan remaja Michelle – masih didampingi oleh Debraj sang guru. Michelle yang ingin belajar nekat mendaftar ke universitas, dan akhirnya berhasil diterima setelah melalui sesi wawancara yang mengharukan. Meski begitu, butuh belasan tahun baginya untuk lulus, karena ia kurang cepat dalam mengetik jawaban dalam ujian.

Di ending credit, mata saya tertumbuk pada sebuah kalimat: ”Directed by Sanjay Leela Bhansali”. Ealaaaah, orang ini to. Pantesss. Kalau temen-temen pernah mendengar atau menonton “Devdas” pasti mengenal nama ini. Dua hal yang paling saya ingat dari ”Devdas”: (1) Akhirnya TIDAK HAPPY ENDING *evil laugh*; (2) Sinematografinya yang keren! Gimana yah, teatrikal dan dramatik gitu. Tonton sendiri deh, saya susah jelasinnya. Pokoknya, dengan film seperti ”Devdas”, saya tidak heran kalau sang sutradara bakal membuat film yang lain daripada film India lain. ”Black” sendiri lebih menekankan hubungan antara guru-murid (Michelle-Debraj). Kalaupun ada getar asmara, itu bukanlah asmara yang simpel dan picisan, namun sebuah hubungan batin yang mengakomodir betapa luas dan universalnya cinta itu.

Saya juga kagum sama Rani Mukerji. Selama ini, saya menilai semua artis India itu sama saja. Habis, dari kebanyakan film India yang saya tonton, karakternya begitu-begitu aja. Pokoknya intinya cewek/cowok yang sedang jatuh cinta. Tapi di ”Black”, Rani membuktikan kemampuan aktingnya lewat karakter yang menantang ini. Kalau Amitabh Bachchan sih, saya no comment. Buat saya, dia adalah ”Robert De Niro”-nya Bollywood.

Februari 18, 2008

Review: Across The Universe

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , — crappuccino @ 4:08 am

movie: ACROSS THE UNIVERSE (2007)

sutradara: Julie Taymor

”Words are flowing out like endless rain into a paper cup
They slither wildly as they slip away across the universe”
- Across The Universe by The Beatles -

Waktu melihat trailer film ini di sebuah vcd sewaan, saya sudah ‘curiga’. Liat judulnya, itu salah satu judul lagu The Beatles. Denger background music-nya, cover lagu The Beatles juga. Cari-cari di wiki, ternyata… emang bener, film serba Beatles! OMG, dreams come true!

Alkisah, sekitar taun 1960-an seorang cowok Inggris bernama Jude (Jim Sturgess) pergi ke Amerika buat menemui ayahnya. Ayahnya dulu seorang tentara yang ditugasin di Inggris, tempat dia ketemu ibunya Jude. Sayangnya, ternyata di Amerika sang ayah sudah punya keluarga, membuat Jude Cuma bisa pasrah. Tapi justru perjalanannya ke Amerika mempertemukannya dengan Max Carrigan (Joe Anderson), seorang mahasiswa pemberontak. Semakin akrab dengan Max, Jude pun bertemu dengan Lucy (Evan Rachel Wood), adik Max, yang kekasihnya baru saja gugur di perang vietnam. Jude pun diajak Max pergi ke New York dan hidup di sana sebagai seniman, di mana mereka bertemu dengan berbagai macam orang dengan berbagai persoalan pula. Cerita berputar sekitar Jude, Lucy, Max, Sadie (ibu kos mereka merangkap vokalis band rock), Jojo (gitaris band Sadie), dan Prudence (seorang gadis lesbian yang juga teman kos mereka).

Film musikal ini banyak memotret gaya hidup bohemian dari flower generation sekaligus semangat anti perang menentang kebijakan perang Vietnam pemerintah AS. Sedikit informasi, film ini adalah film indie *bener gak? Ada informasi yang pasti?* yang cukup berhasil meraih perhatian masyarakat awam. Sempat curiga juga sih apakah Julie Taymor, sang sutradara, memang menggunakan situasi itu untuk menganalogikan protes perang Irak yang gencar beberapa tahun belakangan. Sekaligus, film ini juga mengingatkan kita bahwa protes itu sah-sah saja, tapi jangan sampai generasi muda sebagai agent of changes maupun social control/iron stock malah terjerumus jadi anarkis, bahkan jadi teroris.
Apapun maksudnya, sebagai penggemar The Beatles, saya sih senang-senang saja. Karena, jujur nih, saya lebih memfokuskan perhatian ke lagu-lagunya. Sekali lagi, karena ini film musikal, otomatis banyak sekali adegan cover song, yang dilakukan dengan memuaskan. Film ini saya anggap berhasil merangkaikan lagu-lagu itu sedemikian rupa sehingga menyampaikan pesan-pesan anti perang dan kritik sosial dengan tepat (yah, sebagian besar). Ambil saja contoh lagu Let It Be yang menggambarkan duka kerabat yang ditinggal mati korban kerusuhan dan/atau tentara perang Vietnam; atau medley lagu I Want You (She’s So Heavy) yang justru dipakai untuk merepresentasikan ’kesewenang-wenangan’ pemerintah dalam merekrut pemuda-pemuda ikut wajib militer.

Satu lagi hal menarik di sini adalah nama-nama tokohnya. Hampir semua nama tokoh diambil dari lagu The Beatles. Dari Jude, Prudence, Martha, Sadie, Jojo sampai Desmond dan Dr. Robert (kecuali mungkin nama ayah Jude dan tokoh-tokoh gak penting lainnya). Tapi yang jadi perhatian saya yaitu lagu yang menjadi dasar pengambilan nama. Nama ”Jude” – si tokoh utama, okelah, itu dari Hey Jude, lagu buat Julian (anak John Lennon) supaya bisa nerima ibu tirinya (Yoko Ono). Lalu nama tokoh utama cewek, ”Lucy” dari Lucy in the Sky with Diamonds, lagu The Beatles yang kontroversial, karena diduga menggambarkan keadaan ‘teler’ pengguna LSD, meski disangkal oleh personil Beatles. Tokoh “Max”, kakak Lucy, diambil dari Maxwell’s Silver Hammer, lagu tentang seorang pembunuh bernama Maxwell yang bersenjata kapak perak. Hmmm… menurut kalian gimana?

Blog pada WordPress.com.