Crappuccino

November 24, 2008

Review: watashi no… megane-kun

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:21 am

Judul: watashi no… megane-kun
Manga-ka: Sumoto Amu
Volume: 7 [tamat] (scanlation: Ongoing)
Penerbit: Shogakukan
Tahun: 2002

Loving you… until everything has become a convoluted state.

Kalimat pertama yang terlontar selesai membaca manga ini: SAKIT JIWA.

Chouko dan Taichiro (Megane-kun) hidup bertetangga. Meski selalu satu sekolah, keduanya bukan sahabat karib. Chouko menyukai Megane-kun sejak kecil, namun apa dikata, terakhir kali berpapasan di sekolah, kalimat yang meluncur dari mulut Megane-kun adalah “Aku benci sekali padamu, sampai-sampai aku ingin membunuhmu.“. Tentu saja Chouko down. Sampai suatu hari, senior Chouko menyatakan cinta padanya. Di tengah kebingungan, Megane-kun tiba-tiba turut menyatakan cinta juga. Jelas, Chouko memilih Megane-kun. Happy ending? Tidak. Chouko dan Taichiro harus berkelut dengan masalah terbesar mereka: obsesi mereka terhadap satu sama lain.

Kisah tentang cinta obsesif sudah sering saya baca. Tipikalnya, sih, entah si cewek atau si cowok yang obsesif terhadap pasangannya. Nah, bagaimana kalau dua-duanya sama-sama obsesif? Inilah yang menjadi poin di manga ini. Bagaimana sebuah hubungan itu tak cukup hanya “cinta”. Setidaknya, itu berlaku untuk sebuah hubungan yang sehat, yang jelas tidak dimiliki Chouko dan Megane-kun. Sekilas, mungkin kelihatannya Megane-kun yang lebih berperan sebagai manipulator dalam hubungan ini dan Chouko “korban”-nya. Tetapi kalau ditelusuri, Chouko pun punya andil sebagai manipulator, dengan caranya sendiri. Jujur saja, saya gregetan membaca manga ini. Kalau ada yang mencari referensi praktis tentang istilah “jatuh cinta, dunia milik berdua” atau “cinta buta”, di sinilah tempatnya. Memang sih, tetap ada momen-momen manis khas orang pacaran, tapi tetap dalam frame obsesivitas.

Untunglah, aspek grafisnya tidak mengecewakan. Yah, mungkin tidak yang “wow” begitu, tetapi cukup bagus dan bisa dinikmati mata. Terutama buat pembaca cewek. Meski begitu, rating manga ini adalah mature, karena, seobsesif apapun, baik Chouko maupun Megane-kun adalah cewek dan cowok normal secara biologis. Namun sejauh ini, saya nilai scene-scene tertentu itu hanya sebagai pelengkap cerita.

Secara garis besar, manga ini membuat saya baik gregetan maupun penasaran. Gregetan melihat hubungan Chouko dan Megane-kun yang begitu siklikal (baca: muter-muter gak karuan), dan penasaran mengetahui akhir dari hubungan mereka yang begitu rapuh ini. Akankah mereka tetap seperti itu sampai akhir, ataukah akhirnya beralih ke hubungan yang lebih sehat?

Downloadable: Ochibiscan, Mangatraders

Oktober 21, 2008

Review: Killing Moon

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:49 am

Judul: Killing Moon
Manga-ka: Motoni Modoru
Volume: 1 [tamat] – oneshot (dari tankoubon “Prince of Monster”)
Penerbit: Biblos [Japan]
Tahun: 1998

He is wolf, he is the wolf that thirsts for love, that survives on devouring the love and adoration of humans on the night of full moon…

peringatan: full spoiler!

Cerita dimulai dari kematian seorang nyonya keluarga kaya. Karena keluarga itu tidak punya anak, Satoshi, adik nyonya itu, datang ke rumah kakaknya untuk mengurus kematian sang nyonya dan suaminya (sang suami tewas sebulan sebelumnya). Di sana, Satoshi menemui Fumio, seorang anak yatim piatu yang diasuh keluarga itu; dan Mariko, salah satu tetangga mereka. Namun, rupanya ada satu lagi penyusup di rumah itu. “Serigala”, begitu Fumio menyebutnya. Siapa dan apa peran “Serigala” di rumah itu, dan kenapa wujud “Serigala” tampak berbeda bagi setiap orang?

Secara garis besar, Killing Moon adalah cerita tragedi cinta segi-mbulet. Sang Tuan mencintai Sang Nyonya, Sang Nyonya mencintai Fumio, Fumio mencintai Mariko, Mariko mencintai sosok lelaki Fumio tapi malah terperangkap ke pelukan “Serigala”, dan “Serigala” mencintai Fumio. Satoshi yang mulanya hanya sebagai pengamat, pada akhirnya pun terlibat dan menambah keruwetan dengan jatuh cinta pada Fumio.

Meski ceritanya aneh, bagi saya karakter dalam cerita ini sangat menarik. Tokoh kunci di sini adalah Fumio, seorang gadis yang dibesarkan sebagai lelaki hanya demi memuaskan hasrat abnormal Sang Nyonya, dan pada akhirnya ia pun menjadi sasaran kekerasan Sang Tuan yang memendam cinta tak terbalas pada istrinya. Fumio yang akhirnya menjadi lesbian mencintai Mariko, seorang gadis biasa yang menyukai sosok lelaki Fumio namun segera menampik mentah-mentah ketika tahu Fumio adalah wanita.

Dan tentu saja, “Serigala”, tokoh antagonis yang menarik. Diceritakan, “Serigala” mengambil bentuk sosok orang yang dicintai, karena wujud “Serigala” berbeda-beda bagi setiap orang (Bagi Satoshi yang saat itu tidak punya kekasih, “Serigala” tampil sebagai seorang pria yang memakai topeng). Situasi inilah yang dimanfaatkan “Serigala” untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya sehingga dia bisa mendapatkan Fumio. Dengan kelicikannya, ia berjanji untuk menolong Fumio mendapatkan cinta (dalam hal ini, Mariko); dengan syarat selama Fumio belum menemukan cinta sejatinya, “Serigala” akan memakan semua orang yang menginginkan Fumio.

Keculasan “Serigala” yang paling berkesan buat saya adalah saat dia memberikan shock therapy untuk Fumio. Saat itu, Mariko sudah menolak Fumio dan ‘tertipu’ dengan “Serigala”. Di mata Mariko, “Serigala” tampak persis seperti Fumio, dengan perkecualian ia adalah ‘Fumio yang lelaki’. Dan “Serigala” melempar fakta kelelakiannya itu mentah-mentah di depan Fumio, membuat Fumio down karena menjadi lelaki adalah hal yang mustahil baginya. Bisa ditebak, Fumio melemparkan kemarahannya pada Mariko, dan menyuruh “Serigala” memakan Mariko. Meskipun begitu, seculas apapun “Serigala” , menurut saya sebenarnya kebencian Fumio pada dirinya sendirilah yang menyebabkan ia tak bisa menemukan cinta sejatinya.

Sebagai sebuah oneshot, cerita ini bisa memaksimalkan karakterisasi (terutama karakter Fumio yang kompleks) dan plot. Kalaupun ada karakter yang kurang ‘terasa’, mungkin itu Satoshi. Bagaimana ia yang mulanya memposisikan dirinya sebagai orang luar bisa tertarik dengan Fumio, rasanya penjelasan di situ kurang terasa. Tetapi hal ini masih bisa dimaklumi karena jatah halaman untuk oneshot terbatas.

Artwork-nya juga mendukung atmosfer cerita. Saya mengenal Motoni Modoru-sensei dari karyanya, Tantei Aoneko. Saya suka tarikan garisnya yang tegas dan ‘bersih’, dan tentu saja, inking-nya yang kontras hitam-putih, minus ‘dekorasi’. Mungkin karena mengambil setting waktu yang tak jauh beda dengan Tantei Aoneko, setting tempat dan suasananya terkesan ‘Aoneko banget’. Jujur, saya belum pernah *tepatnya tidak mau* membaca karya lain sensei yang berlatar di jaman modern (contoh: shikugakari rika, koi ga bokura o yurusu hani) jadi saya tidak bisa bilang apa itu memang ciri khas sensei. Tokoh “Serigala” menjadi tokoh favorit saya karena desain karakternya gothic banget *apalagi ditambah masker matanya itu*, selain karena pribadinya yang energik dan menghidupkan cerita. *meski bukan dalam artian baik* :D

*Killing Moon adalah oneshot dari tankoubon Prince of Monster bersama 3 oneshot lainnya: Sambika, Life of The Machine, dan Prince of Monster*

Downloadable: Free Manga LJ Community

September 15, 2008

Review: Mock Turtle Soup

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:19 am

Judul: ikasama umigame no Soup (Mock Turtle Soup)
Manga-ka: Kusumoto Maki
Volume: 1 [tamat]
Penerbit: Shinsokan [Japan]
Tahun: 1998

recipe:
Turtle Tears……………………………………… 3 drops
Eye of Newt…………………. Shelled and sliced thin
Dead Man’s Toes…………………………….. 13 digits
Crushed Tiger Beetle powder… 33 1/3 teaspoons
Hemlock (fresh)………………………….. Just enough

(if the above are difficult to obtain, you may substitute in “hundred year poison”.)

Mengharap sesuatu yang biasa dari Kusumoto Maki-sensei tampaknya akan sia-sia. Dari 3 karyanya yang saya baca, tak satupun yang bisa disebut “wajar” *mungkinkah karya-karya awal sensei lebih normal??? -_-;;* Mock Turtle Soup berisi 8 cerita SANGAT pendek tentang cinta: Chocolate love, girls’ love, summer love, fairytale love, unrequited love, bread love, reincarnated love, dan finding true love. Kalau memandang tiap cerita sebagai fragmen-fragmen yang tidak berhubungan, kemungkinan besar kita akan kecewa. Karena – seperti yang sudah saya bilang – cerita-cerita di sini SANGAT pendek, beda dengan Dolis atau K no souretsu yang memang punya plot. Malah lebih tepat dibilang prosa daripada cerita. Mungkin kalau kita coba menikmatinya sebagai satu kesatuan, kita bisa merasakan keindahannya. *Kasarannya, mending gak usah dipikir deh. Baca dan terima aja. Dengan begitu lebih kerasa indahnya*

Beda lagi kalau bicara soal artwork. Buat saya pribadi, inilah alasan utama saya baca manga ini. Seperti biasa, kusumoto sensei tidak mengecewakan kalau menyangkut artwork. Lebih lagi, manga ini full-color! Penempatan panel yang tidak wajar, gaya minimalis, taburan warna-warni di background; hal ini makin menguatkan kesan pada diri saya bahwa Kusumoto-sensei “cuma” ingin bereksperimen seni daripada membuat manga dengan plot yang solid. Kalau boleh jujur, saya anggap gaya gambar sensei (dari segi character/style) tidak sedahsyat beberapa manga-ka lain, tetapi saya amat mengagumi bagaimana sensei menempatkan gambarnya ke cerita yang tepat. *kadang suka sensi juga sih. Masa satu halaman segede gitu cuma gambar ilustrasi orang satu-dua biji, satu-dua balon kata, sisanya maen blocking warna ato maen tekstur*

Secara umum, saya lebih merasa membaca sebuah buku kumpulan puisi dengan gambar ilustrasi yang sangat bagus daripada membaca sebuah manga dengan cerita tertentu. Saya sadar, manga ini bisa jadi terlalu aneh atau terlalu menarik. Kalau Anda tanya saya, sampai sekarang saya belum pernah merasa rugi telah membaca karya Kusumoto Maki. Yah, semuanya tergantung pada pembacanya. Take it or leave it.

nb: sekedar saran. Coba baca ini sambil dengerin Sakana-nya Shiina Ringo :D

Downloadble: Storm in Heaven

Juni 4, 2008

!Crap: Ini nursery rhymes?? Serius????

Diarsipkan di bawah: !crap, manga — Tag:, , — crappuccino @ 6:09 am

Belakangan (sebenernya baru dari kemarin sih) saya suka browsing tentang nursery rhyme. Gara-garanya, saya sekarang lagi rajin ngikutin serial Count Cain-nya Yuki Kaori. Di sana, banyak berserakan lirik-lirik nursery rhymes (lagu anak-anak) macam mother goose atau puisi-puisi lain, yang dijadikan tema kasus-kasus pembunuhan/misteri nan gak mengenakkan. Memang, nursery rhymes tadi agak di-alter sedikit supaya sesuai dengan kasusnya atau lebih terkesan lebih serem, tapi kalo saya pikir-pikir, versi aslinya juga udah horor gitu.

There was a man, a very untidy man

There was a man, a very untidy man,
Whose fingers could nowhere be found to put in his tomb.
He had rolled his head far underneath the bed;
He had left his legs and arms lying all over the room.

Syair ini pertama kali saya baca di K no Souretsu (ada juga di Count Cain, cuma sekilas). Kirain itu semacem puisi gothic gitu, eh, taunya nursery rhyme. Serius neh ini syair buat anak-anak??? Apa maksudnya yah? Apa semacem wejangan gitu, supaya jangan jorok-jorok? Jadi kalo jorok-jorok ntar mayatnya gelimpangan di mana-mana gituh? Serem amat. Bingung saiyah. Saya coba browsing yang laen.

My mother has killed me

My mother has killed me,
My father is eating me,
My brothers and sisters sit under the table,
Picking up bury them under the cold marble stones.

Nah lo. Ini tebakan apa beneran seh? Makin tidak jelas.

Tom married a wife on Sunday

Tom married a wife on Sunday,
Beat her well on Monday,
Bad was she on Tuesday,
Middling was she on Wednesday,
Worse was she on Thursday,
Dead was she on Friday;
Glad was Tom on Saturday night,
To bury his wife on Sunday.

Okeh, katakanlah ini buat menghapal hari. Tapi perumpamaannya kok KDRT seh?

Ten little nigger boys went out to dine

Ten little nigger boys went out to dine;
One choked his little self, and then there were nine.
Nine little nigger boys sat up very late;
One overslept himself, and then there were eight.
Eight little nigger boys travelling in Devon;
One said he’d stay there, and then there were seven.
Seven little nigger boys chopping up sticks;
One chopped himself in half, and then there were six.
Six little nigger boys playing with a hive;
A bumble-bee stung one, and then there were five.
Five little nigger boys going in for law;
One got in chancery, and then there were four.
Four little nigger boys going out to sea;
A red herring swallowed one, and then there were three.
Three little nigger boys walking in the Zoo;
A big bear bugged one, and then there were two.
Two little nigger boys sitting in the sun;
One got frizzled up, and then there was one.
One little nigger boy living all alone;
He got married, and then there were none.

Syair ini yang mendasari cerita And Then There Were None karangan Agatha Christie (Indo: Sepuluh Anak Negro). Beliau juga memakai beberapa sayir lain seperti Three Blind Mice dan Sing a Song of Sixpence. Sejauh yang saya tangkap, nursery rhymes juga digunakan buat bantu anak-anak belajar hitungan, nama hari, dan lain-lain. Mungkin ini syair buat bantu belajar hitungan (seperti juga sayir sebelumnya buat menghapal hari). Sebetulnya banyak juga yang lucu-lucu. Cuma di entri ini khusus ngebahas yang aneh-aneh, jadi gak saya masukin :D Sehubungan dengan syair nan aneh-aneh ini, kira-kira temen-temen ada yang bisa kasih penjelasan gak kenapa kok syairnya serem gitu? Saya gak nyambung sama pemikirannya orang sana seh.

Hmm… bagaimana dengan lagu anak-anak (tradisional) di Indonesia? Inget gak lagu Anak ayam turun sepuluh (mati satu tinggal….)? Hihi, gimana ya misalnya ada yang bikin cerita misteri pembunuhan pake lagu Anak ayam turun sepuluh?

*berpikir*
*membayangkan*
*berusaha membayangkan*
Gak tega ah. Gak banget deh kayaknya. XDD~

Beberapa link tentang nursery rhyme:
- http://www.apples4theteacher.com/mother-goose-nursery-rhymes/
- http://nrg.mgjapan.net/

Mei 30, 2008

Review: Camelot Garden

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 5:56 am

Judul: Camelot Garden
Manga-ka: Yuki Kaori
Volume: 1 [tamat] – oneshot
Penerbit: Betsuhana Magazine [Japan]
Tahun: 2008 [Japan]

She look’d down to Camelot.
Out flew the web and floated wide;
The mirror crack’d from side to side;
‘The curse is come upon me,’ cried
The Lady of Shalott.

- “Lady of Shalott” by Alfred Tennyson -

Ketika membuka mata, Ryu terbangun di Camelot Garden. Di dunia yang merupakan personifikasi kartu remi itu, Ryu eksis sebagai pengganti kartu enam sekop yang mati terbunuh oleh Joker. Selain namanya, satu-satunya yang Ryu ingat adalah ia harus mencari seorang gadis bernama Claribel. Yah, di dunia itu memang ada Claribel, tapi Claribel adalah seorang cowok! Claribel di sana adalah “White Card”, satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan luka semua penghuni Camelot Garden. Bersama Claribel dan Gideon si Raja Sekop, Ryu bertekad memecahkan misteri Camelot Garden, dunia di mana mereka dilarang melihat wajah junjungan mereka, Lord Adonai.

Di karya terbarunya, Yuki Kaori-sensei kembali memukau saya.. lewat sebuah oneshot! Personal saja, biasanya tidak banyak oneshot karya Yuki Kaori-sensei yang saya suka (paling banter Bloodhound dan Boys Next Door), karena kok saya merasa sensei berusaha menjejalkan begitu banyak hal sedangkan jatah halamannya tidak banyak. Tampaknya hal ini tidak berlaku untuk Camelot Garden. Plotnya jelas, tidak terburu-buru, dan diakhiri dengan pas pula. Mungkin karena manga ini cukup panjang untuk ukuran oneshot (total 92 halaman)? Mungkin karena ceritanya juga tidak rumit-rumit banget? Entahlah. Yang jelas, manga ini cukup “kena” buat saya. Saya suka sekali ide menggabungkan antara dunia kartu dengan puisi Lady of Shalott-nya Tennyson. Hehe, kalau mau iseng sih, setting cerita ini lumayan bisa dikembangkan jadi game RPG, soalnya ada sistem “naik-turun tingkat”, healer, dan “job description“.

Masalah artwork, saya no comment. Mau ngomong apa lagi? Yuki Kaori gitu loh! :D

Downloadable: Mangatraders, Aerandria

Mei 28, 2008

Review: R.I.P

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 3:37 am

Judul: R.I.P. (Requiem In Phonybrian)
Manga-ka: Mitsukazu Mihara
Volume: 1 [tamat]
Penerbit: Tokyopop [US]
Tahun: 2006 [US]

Apa yang kiranya dilakukan seorang malaikat yang bosan? Transylvanian Rose punya jawabnya. Saat menjalankan tugasnya menyucikan arwah, Rose bertemu dengan sesosok arwah yang mati bunuh diri. Rose memberikan satu sayapnya, membangkitkan arwah itu dan menjadikannya binatang peliharaan sekaligus partner tugasnya. Sebaliknya, si arwah – yang dinamai “Undertaker” oleh Rose – justru sangat ingin mati. Sampai kapan Rose tahan bersama partner barunya ini, yang terjebak diantara hidup dan mati?

Meski ide ceritanya cukup bagus, pada dasarnya sih klise. Pasangan kekasih; si cewek sakit lalu meninggal, si cowok putus asa kemudian bunuh diri. Sampai separuh buku pembaca pasti sudah bisa menebak arah cerita. Kisah-kisah seputar arwah lain yang disucikan diulas *halah* dalam chapter singkat dan tidak begitu ditekankan. Justru cerita berpusat antara Rose dan Undertaker; tentang siapa sebenarnya Undertaker, hubungan Rose dengan Undertaker, dan bagaimana reaksi teman-teman malaikat Rose. Satu yang saya suka, tidak ada romance yang berkembang antara Rose dan Undertaker. *kalo sampe iya, cerita bakal lebih klise lagi. Jangan sampe lah!*

Beda lagi kalo soal artworknya. Di sinilah letak kekuatan manga ini. Sebelumnya, saya pernah baca oneshot karangan Mitsukazu-sensei yang berjudul Kyuuketsuki to Boku (The Vampire and I), dan saya acungkan jempol untuk art-nya yang gothic abiz! Belakangan, baru saya tahu memang sensei satu ini ratunya gothic lolita. Memang, dibandingkan Kyuuketsuki to Boku, saya merasa di R.I.P. desain karakternya masih belum mantap gothic lolita-nya. Tapi style artwork-nya secara keseluruhan sudah TOP gothic lolita abiz. Terakhir dan yang paling mantap, adalah sense of fashion Mitsukazu-sensei. Dari desain baju, gaya rambut, sepatu, semuanya menyatakan alasan kenapa sensei disebut “Queen of Gothic Lolita“. Bahkan rasanya manga ini jadi ajang fashion show, dengan para karakter sebagai modelnya. Pokoknya, temen-temen yang nyari ide fashion atau cosplay gothic lolita bisa comot ide dari sini. Saya sendiri paling suka dengan baju-bajunya Rose (untuk baju cewek. Kebanyakan berupa baju terusan dengan garis pinggang tinggi, tidak lupa hiasan renda-renda) dan Quiet Noise (untuk baju cowok. Paling suka topinya). Contoh artwork bisa diliat di sini, sini, sini, dan sini.

Downloadable: Mangatraders

Mei 21, 2008

Review: Pheromomania Syndrome

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:45 am

Judul: Pheromomania Syndrome
Manga-ka: Ichiha
Volume: 10 [tamat]
Penerbit: Hana to Yume [Japan]
Tahun: 2002

All the while I was (I was watching Keishi’s ass, desperately trying to control my own desires of touching it, and that was when I saw your hand slide from the top to the bottom – it was obviously caressing it) watching it!!!!

Yugi Hotori dan Kagari Keishi adalah pasangan sahabat yang unik. Hotori yang perempuan punya perawakan seperti cowok yang cool, sedangkan Keishi adalah seorang cowok cantik yang imut. Sebagai anak SMA yang sehat, Hotori menyukai Keishi. Masalahnya, setiap kali Hotori melihat Keishi yang muncul adalah khayalan-khayalan aneh yang makin lama makin tak terkendali (contoh: Keishi memakai bunny suit, Keishi *sensor*, me-*sensor* Keishi, dan *sensor*). Ketika curhat dengan kedua temannya, Yuna dan Sanaka, Hotori malah divonis mengidap Pheromomania Syndrome! Singkatnya, Hotori adalah pervert kelas kakap. Apakah jadian dengan Keishi adalah jalan keluar yang tepat untuk sembuh dari “penyakit” ini?

Dalam beberapa shounen manga, kita kerap mendapati bagaimana cowok berfantasi mengenai lawan jenisnya. Namun bagaimana kalau posisinya ditukar? Lewat cerita yang sinting nan kocak, Ichiha-sensei mengungkap sisi tergelap dunia fantasi seorang cewek. Atas dasar itu, saya mengklasifikan Pheromomania Syndrome sebagai “manga penuh darah”, karena banyaknya adegan mimisan di tiap chapter. Buat saya, bagian yang paling menarik adalah hubungan Hotori-Keishi itu sendiri. Mengimbangi Hotori yang setengah mati mengendalikan diri, Keishi di balik wajah imutnya justru menyimpan sejuta kelicikan untuk memprovokasi Hotori, sehingga makin lama makin tidak jelas siapa yang jadi “setan” di sini. Satu hal yang jelas adalah mereka saling menyayangi. Jujur, saya baru membaca satu volume saja karena minimnya sumber scanlation, tapi saya anggap cukup untuk men-judge manga ini sebagai manga yang oh-so-sweet manis.

Dari segi artwork, saya bilang lumayan. Tidak ada yang menonjol atau unik sekali, tapi sangat bisa dinikmati oleh pecinta shoujo manga. Manga sejenis yang pernah saya baca adalah Perfect Girl Evolution. Sama-sama tentang cowok cantik, sama-sama “penuh darah”, dan sama-sama membawa pesan “(Cowok) Cantik itu dosa”. Bedanya, kalau PGE bercerita tentang kehidupan sehari-hari Sunako dan empat sekawan bishounen (Kyohei, Ranmaru, Takenaga, dan Yukinojo), Pheromomania Syndrome lebih fokus ke perkembangan hubungan Hotori-Keishi (atau begitulah sejauh ini). Karena itu, saya bilang rating umur manga ini adalah 17+ (versi Indonesia), bukannya karena banyak adegan nyerempet, tapi lebih karena khayalan-khayalan berlebihan Hotori. Overall, saya menganjurkan manga ini buat pecinta komedi romantis (yang gila).

Downloadale: Free Manga, Shoujo Magic (mIRC)

Mei 15, 2008

Review: Concrete Garden

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:21 am

Judul: Concrete Garden
Manga-ka: Kotobuki Tarako
Volume: 1 [tamat]
Penerbit: Magazine Zero / BeBoy Comics [Japan]
Tahun: 2000

Toki isn’t the one eating humans. We are the ones who are sharing food. Humans feeding on humans.

Sebagai ‘hadiah’ kelulusannya, Kashii Kiyoharu diberi tahu bahwa mendiang kakeknya melakukan penelitian tentang gen malaikat. Penelitian ini bahkan sudah membuahkan hasil, yaitu seorang klon malaikat yang bernama Toki. Tugas Kiyoharu sederhana. Cukup mendampingi Toki sebagai ‘teman’-nya. Tampaknya mereka lupa memberi tahu bahwa spesies ‘malaikat’ punya selera makan yang aneh. Makanan mereka tak lain adalah… manusia.
Lewat Concrete Garden, Kotobuki-sensei menghadirkan pertanyaan “Jika manusia boleh memakan hewan dan tumbuhan karena manusia ada di puncak rantai makanan sebagai makhluk paling superior, lalu kenapa malaikat – yang notabene lebih superior dari manusia – tidak boleh memakan manusia?” Antara rasionalisme Toki dan humanisme Kiyoharu, siapa yang akan menang?

Sayangnya, kita tidak akan menemukan jawabnya di sini, karena cerita berakhir terlalu cepat. Bahkan klimaks cerita pun membuat saya cukup keki, karena ternyata dari awal yang jadi masalah bukanlah sebuah pertanyaan filosofis mengenai humanisme, melainkan sebuah ekspektasi biologis tentang reproduksi. Ini semua adalah demi memurnikan gen malaikat, mencapai ‘kesempurnaan’ yang sempurna.
!spoiler alert!
Ternyata oh ternyata, tujuan Kiyoharu dibawa ke lembaga penelitian bukan semata-mata untuk dijadikan teman Toki, bukan juga karena ia adalah cucu profesor yang ‘menciptakan’ Toki, tetapi karena Kiyoharu adalah pemilik gen malaikat ‘betina’ yang dimaksudkan sebagai pasangan Toki. Karena gen malaikat hanya bisa bertahan apabila kedua induknya adalah malaikat, maka kakek Kiyoharu menanamkan gen malaikat betina ke rahim anaknya, yang adalah ibu Kiyoharu.
!spoiler alert!

Saya mencoba maklum bahwa manga ini hanya dimaksudkan sebagai one-shot, tetapi rasanya kalau ide ini bisa dikonsep menjadi lebih matang, bisa jadi serial yang bagus menurut saya. Lagipula, akhir cerita meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak terpuaskan hanya dengan 68 halaman saja. Oke, sebelum ada yang mencak-mencak karena ini baik malaikat maupun kloning adalah topik sensitif, mari kita lihat cerita ini dari sisi lain. Manusia selalu mengidamkan kesempurnaan, bahkan lebih. Manusia ingin “menguasai” kesempurnaan.  Di sini kesempurnaan itu datang dalam sosok Toki, si malaikat. Toh, terbukti, manusia itu hanyalah serangga yang mendekati api.

Secara umum, artworknya enak dilihat. Atau lebih tepatnya, bisa dilihat. Bagus sekali sih tidak, tapi kesan unik langsung terasa. Penggambaran karakter cowok terkesan keras dan jantan, yang biasanya tidak saya suka, justru menjadi hal yang saya sukai di karya Kotobuki-sensei. Temen-temen yang suka dengan bishonen tulen mungkin tidak begitu suka dengan desain karakternya, karena yang ada hanya cowok tulen di sini (Kiyoharu sendiri lebih tepat didefinisikan sebagai cowok lembut daripada bishonen). Kadang juga terganggu dengan kesan misproporsi, contohnya perbedaan ukuran yang terlalu jauh antara Kiyoharu dan Toki. Tetapi saya suka garis-garisnya yang tegas, bersih, namun tetap terkesan avant garde. *Halah, mulai ngelantur ini*

Bagi saya, Concrete Garden adalah perkenalan pertama yang berkesan dengan Kotobuki Tarako-sensei. Style yang unik, cerita yang sinting; Kotobuki-sensei sudah punya modal untuk menyeret saya ke “kencan kedua”.

Catatan: Concrete Garden terbit sebagai tankoubon bersama cerita Clokdown. Namun di sini saya hanya membahas Concrete Garden saja.

Downlodable: Obsession, Mangatraders, Free Manga LJ Community

April 28, 2008

!Crap: manga dan ideologi aneh2

Diarsipkan di bawah: !crap, manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:35 am

Mungkin beberapa menganggap saya terlalu kekanak-kanakkan, karena meski umur bertambah, tetap tidak bisa lepas dari yang namanya novel dan manga. Buat saya, fiksi bagi saya bisa jadi lebih menantang daripada buku ideologi manapun. Kenapa saya bilang begitu? Soalnya, fiksi adalah media yang sangat bebas, begitu bebasnya sampai seorang pengarang bisa “menyelipkan” ideologinya, sengaja atau tidak. Di sisi lain, seorang penulis sedikit banyak menuangkan pandangannya terhadap sesuatu ke dalam tulisannya, entah tentang dirinya sendiri, kehidupan, ataupun hal lainnya.

Terkadang ada orang iseng (untuk tidak menyebut saya) yang mencoba sembarangan “menafsirkan” maksud di dalam fiksi tertentu, dan akhirnya sampai pada pemikiran yang aneh-aneh.

(lagi…)

April 25, 2008

Review: Sex Pistols

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 10:17 am

Judul: Sex Pistols (aka: Love Pistol)
Manga-ka: Kotobuki Tarako
Volume: 5 [ongoing]
Penerbit: BLU (US)

Bagaimana jadinya kalau monyet dan kucing disilangkan? Kemudian anak hasil persilangan ini disilangkan lagi dengan jaguar, yang bersaudara dengan buaya, ular, dan macan? Saya sarankan, JANGAN PERNAH membiarkan seorang manga-ka yaoi bermain-main dengan teori Darwin, karena hasilnya adalah manga yang gila, orisinil, dan unik.

Menurut Teori Darwin, manusia berevolusi dari monyet. Ternyata, bukan cuma monyet saja yang berevolusi. Binatang-binatang lain seperti macan, kucing, anjing, beruang, juga turut berevolusi menjadi manusia. Manusia-manusia hasil evolusi ini disebut madararui, karena meskipun secara fisik tampak seperti manusia, jiwa animalistik mereka tetap ada. Biasanya perkawinan terjadi antar madararui, tetapi ada ras campur antara madararui dengan homo sapien (kaum madararui menyebutnya “monyet”). Biasanya, keturunan madararui dengan monyet akan cenderung mengikuti sifat monyet, tetapi mungkin juga karakteristik madararui bangkit dari seorang monyet keturunan, yang disebut retrograde/senzogaeri (returner to ancestry).

Tsuburaya Norio tidak pernah dan tidak perlu mengetahui semua hal di atas. Sampai suatu ketika ia mulai melihat manusia dalam penampakan hewan. Sampai suatu ketika orang-orang di sekelilingnya mulai “mengincar”-nya sebagai obyek pelecehan seksual. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Madarame Kunimasa, yang seenaknya menunjuknya sebagai “calon ibu dari anak-anakku”. Yak, benar sekali, ternyata Norio adalah seorang retrograde dari jenis yang langka! Alhasil, banyak madararui yang mengincarnya sebagai sasaran persilangan – yah, “persilangan” itu cuma istilah halus dari reproduksi. Hmm.. mampukah Norio menolak Kunimasa?

Waktu pertama kali membaca sinopsisnya, terus terang saya gak nafsu, karena jujur aja I’m not into animal porn. Tambah lagi, dari sekilas melihat covernya, tidak ada bishounen di situ. Tapi setelah membaca “Concrete Garden”-nya Kotobuki-sensei, saya tertarik dengan gaya artwork sensei yang unik. Kalau boleh bilang, avant garde. Okelah, saya coba baca satu volume. Sadar-sadar, saya sudah tak sabar nunggu volume 5. Alur ceritanya sendiri tidak membosankan, karena subyek cerita berkisar diantara kaum madararui, meski tetap berpusat pada Norio dan Kunimasa. Karakterisasi dari kedua tokoh utama ini berkembang dengan manis. Tokoh-tokohnya juga menarik, ada Madarame Yonekuni, kakak Kunimasa yang anti-cowok (padahal dia sendiri cowok!), lalu ada Kumakashi-senpai, seorang “beruang” yang mencari cinta, kemudian ada keluarga Madarame/Tokashiki yang punya silsilah keluarga aneh bin ajaib.

Satu hal lagi yang “menyelamatkan” manga ini adalah penjabaran detail latar belakang komunitas madararui mengenai strata spesies, karakteristik, sampai cara reproduksi! Terkadang sebuah ide yang kedengarannya “payah” atau “maksa” bisa jadi menarik karena adanya penjabaran yang lengkap dan pengembangan cerita yang mantap. Ambil contoh “Animal X”, yang mengambil tema dinosauroids. Yang ini malah lebih gak napsu lagi pertamanya. Tapi kalau dipikir-pikir, dasar plot kedua manga ini gak jauh beda, yaitu… (lagi-lagi) reproduksi! Memang sih, kalau ngambil tema tentang “spesies langka” pasti hubungannya dengan “pelestarian spesies”.

Kesimpulannya, manga ini bisa jadi manga yang menarik sekali atau payah sekali, tergantung dari sisi mana melihatnya. Bagi yang ingin mencari cerita yang unik, manga ini bisa dicoba. Nevermind the bollocks, here comes the sex pistols! :D

Downloadable: Free Manga

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.