Crappuccino

Desember 1, 2008

Review : Rescue Dawn

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , — crappuccino @ 12:44 pm

rescue-dawn

Judul : Rescue Dawn
Sutradara : Werner Herzog
Pemain : Christian Bale, Steve Zahn
Tahun rilis : 2007

Yak, saatnya niken mengupdate!!! :P
*lari dari sambitan haru karena sudah beribu-ribu tahun ga ngisi blog ini…*

Ketika saya diajak nonton film ini, saya menyetujui saja karena pilihan lainnya hanya film Indonesia tidak jelas dengan judul yang semakin vulgar. Eh, ternyata begitu film dibuka, layar menunjukkan potongan-potongan pesawat tempur dan situasi peperangan di Vietnam. Saat itu juga saya sempat cemas, apa saya bakal menyukai film ini. Maklum saja, saya bukan penggemar berat film perang (kecuali Saving Private Ryan kali ya…itu pun saya merasa film itu cukup sadis). Ternyata, saya lumayan suka juga dengan film tersebut.

Cerita dibuka dengan terbangnya satu tim penerbang dengan tugas rahasia menghancurkan markas-markas Vietkong di negara Vietnam melalui Laos. Dengan latar belakang perang Vietnam, kita segera disuguhi kemuraman yang terjadi pada sebuah perang. Dieter Dengler (Christian Bale), salah seorang penerbang, tidak beruntung karena pesawatnya terkena tembakan, dan dia terpaksa mendarat darurat (atau jatuh bebas yah tepatnya?) di pertengahan sawah di Laos. Segera saja dia menjadi tawanan para militan, dan sama seperti tawanan perang lainnya, tentu saja dia mendapat siksaan dari para penyanderanya.

Dieter kemudian dipenjarakan di sebuah gubuk yang terletak di tengah hutan belantara yang lebat (dan sedikit banyak mengingatkan saya pada hutan-hutan di Kalimantan). Di sana, dia bertemu dengan beberapa rekan senasib. Beberapa penerbang pesawat logistik ternyata juga tidak beruntung dan menjadi tawanan para militan di Laos selama kurang lebih 2 tahun (ada Gene, YC, Procet dan Phisit). Ada juga Duane, penerbang AU USA yang juga sudah ditahan sekitar 1.5 tahun.

Meski “teman-teman” barunya terus menyarankan agar Dieter tidak berbuat yang aneh-aneh, toh penderitaan menjadi seorang tawanan cukup mendorong Dieter untuk berencana kabur dari penjara di tengah hutan tersebut. Lalu berhasilkah Dieter kabur bersama yang lain? Mungkinkah mereka melarikan diri dari para militan bersenjata dan bebas dari hutan yang menyesatkan tersebut?

Ada beberapa poin yang terus berkelebat di pikiran saya selama menonton film ini. Pertama, penyandera tawanan perang akan selalu menyiksa para tawananannya (pernyataan yang cukup bodoh yah, karena itu kan sebenarnya sesuatu yang wajar terjadi, mengingat mereka menganggap diri mereka sebagai korban, dan siapapun yang menjadi musuh mereka harus menderita). Hal itu membawa saya ke pemikiran selanjutnya : Jika kita tidak mau diperlakukan demikian (dalam hal ini mereka sebagai tentara Amerika sih), maka seharusnya kita tidak memperlakukan orang lain seperti itu (dan ini kembali mengacu kepada Amerika Serikat yang hobi perang). Kesimpulannya : Perang itu nggak ada gunanya! Nggak pernah ada, dan nggak akan ada. Seharusnya dari film-film semacam ini, kita makin menyadari bahwa membunuh bangsa lain, ras lain, atau siapapun yang kita anggap “musuh”, tidak akan pernah berdampak baik bagi semua pihak.

Tentunya, selain pemikiran serius itu, saya juga memikirkan hal-hal yang lebih enteng, seperti, Christian Bale yang jadi kurus banget. Busyet dah, dia nurunin berapa kg ya? Saya sampe iri….program pengurusan badan saya masih jalan pelan-pelan sih, hehehe… :P

Secara karakter, tidak ada karakter yang sangat menonjol dalam film ini. Si tokoh utama, Dieter pun tidak terlalu masuk ke dalam hati saya, meski upayanya untuk survive dalam kondisi apapun patut diacungi jempol (katanya sih dari kisah nyata).

Overall, film ini lumayan untuk ditonton, khususnya buat para pecinta film perang. Buat yang tidak suka film perang, mungkin harus pikir-pikir dulu sebelum memutuskan menonton.

Btw, ternyata film ini bikinan tahun 2006 yah??? Kok baru muncul sekarang ya di sini? o_O;;

Juli 15, 2008

Review : The Janissery Tree

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 11:39 am

Judul : The Janissery Tree
Pengarang : Jason Goodwin
Tahun : 2006

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk membeli buku ini adalah istilah “novel detektif” yang nangkring dengan manisnya di sampul depan novel berwarna ungu terong tersebut. Meski sempat ragu karena latar belakang negara Turki yang digunakan (saya biasanya sering mumet kalau membaca sesuatu yang berhubungan dengan Timur Tengah dan sebagainya), toh buku itu tetap juga berpindah tangan ke tangan saya.
Dan, ALHAMDULILLAH, saya nggak menyesal membeli buku ini *senyum bahagia*

Cerita bersetting di Istanbul, Turki, sekitar tahun 1830-an. Sudah sepuluh tahun sejak pemberontakan pasukan militer Istanbul terjadi, dan Istanbul pun menjadi makin sibuk. Sebagai kota yang merupakan salah satu titik pusat perdagangan dunia, Istanbul menjadi magnet banyak negara untuk melakukan kerja sama dalam perdagangan.

Kisah dimulai ketika Yashim, seorang kasim, dipanggil untuk menangani dua kasus sekaligus : hilangnya 4 perwira pasukan militer kesultanan (Garda Baru) dan misteri matinya seorang calon selir dari harem istana. Sebagai seorang kasim yang telah memiliki banyak pengalaman, Yashim memiliki kelebihan yang diakui oleh pihak istana : pengetahuannya yang luas, dan kehadirannya yang tidak pernah mencolok, sehingga memudahkannya untuk bergerak mencari informasi.

Dengan kemampuan yang dimilikinya, Yashim pun bergerak perlahan untuk memecahkan kedua misteri tersebut. Apalagi satu demi satu perwira militer yang hilang itu ditemukan tewas mengenaskan.

Perjalanannya dalam menemukan jawaban mengantarnya pada suatu kemungkinan baru : bahwa semua pembunuhan perwira-perwira militer tersebut dilakukan oleh mantan pasukan militer kesultanan yang bernama Yenicheri. Pasukan Yenicheri diluluhlantakkan oleh kesultanan sekitar sepuluh tahun sebelumnya, ketika mereka melakukan pemberontakan kepada kesultanan.
Apakah benar Yenicheri berada di balik semua pembunuhan itu? Lalu apa pula penyebab kematian si calon selir yang telah disebutkan sebelumnya? Mungkinkah ada hubungan antara kematian empat perwira militer tersebut dengan kematian si calon selir?

Seperti sudah saya bilang, saya mengharapkan sebuah kisah detektif di buku ini, dan saya menemukannya. Cara buku ini bercerita mungkin tidak sama dengan novel detektif lain yang sering saya baca, tapi saya cukup menikmatinya. Di buku ini ada suatu proses mencari, mengumpulkan petunjuk, dan menganalisa : rincian kegiatan yang dilakukan seorang detektif.
Yashim, sebagai tokoh utama dalam buku ini, benar-benar mencuri hati saya. Sejak awal dia sendiri mengakui bahwa dia hanya setengah laki-laki : dia tidak sempurna. Toh, di perjalanannya mencari kebenaran, dia menyadari bahwa seorang kasim pun bisa berbahagia (dia bertemu dengan seorang Rusia yang memikat.. Hmm…nakal yah Yashim…). I love him!

Selain Yashim, dan juga alur ceritanya, yang saya suka dari novel ini adalah selipan kisah-kisah sejarah mengenai Istanbul dan pertempuran yang terjadi. Saya tidak begitu tahu tentang sejarah, tapi bisa saya bilang kalau saya cukup percaya dengan rentetan kisah yang dipaparkan oleh Goodwin.
Yang mungkin agak mengganggu bagi saya adalah terjemahan dari buku ini (ada beberapa istilah yang saya bingung artinya, dan kadang-kadang ada kalimat yang rasanya kurang pas). Selain itu, saya juga agak bingung membaca penggambaran daerah-daerah atau lokasi di dalam cerita. Tentu saja, bukan berarti Goodwin jelek dalam menggambarkannya. Mungkin saja saya yang kurang punya imajinasi dalam membayangkan lokasi di kota seperti Turki, hehehe…..

Oiya, satu lagi yang agak mengganggu buat saya : endingnya! Meski akhirnya dijelaskan bahwa si Mr. X lah dalang dari semuanya (rahasia ya, hehe…), tapi penjelasannya terlalu singkat!!! Masa cuma dijelaskan dalam satu scene antara si Yashim dan ibu suri (kalo di novel namanya valide sultan)? Kurang mantap deh menurut saya…. Mestinya dia bisa menggambarkan seberapa kompleks konspirasi kejahatan yang dilakukan.

But overall, saya puas terhadap novel ini. Tadinya saya mau nyicil novel ini selama beberapa hari (karena kepikiran team building), tapi ternyata 2 hari dah kelar, hehehe…. Buat mereka yang suka novel detektif, rasanya ini bisa jadi salah satu bacaan yang mengasyikkan.

Note :
Akhirnya…akhirnya bisa update juga di crappu, hehehe…

Juli 9, 2008

Puisi : Team Building

Diarsipkan di bawah: !crap — Tag:, , — crappuccino @ 11:57 am

Judul : Team Building (puisi)
By : niken
Comment : Puisi ini sangat diragukan kesastraannya, plus keniatan si pembuat. Yang jelas puisi ini dibuat jam 6:49 malem ketika si penulis sedang menunggu tebengan pulang di kantor

Team Building
Satu kegiatan yang aku tunggu
Apalagi sejak aku masuk
Belum ada yang namanya kumpul-kumpul

Team building
Rencananya bulan Agustus
Sebelum puasa datang
Dan proyek datang bagai air bah (Amin…)

Oh, Team Building
Ada yang ingin di Gunung Slamet
Ada pula yang ingin di Gunung Kidul
Tapi sepertinya, kita akan ke Gunung Salak

Team Buildiiing, oh, team building
Aku tak sabar menjalankanmu
Bersenang-senang dengan semua
Sebelum kembali ke rutinitas kerja

Team building
Kau sahabat setiaku kunanti-nanti!!!

-end of poem-

*niken tersenyum puas*
*ketawa-ketawa sendiri*

:D

April 18, 2008

Movie review : Jumper (2008)

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , , — crappuccino @ 5:56 am

Judul : Jumper
Tahun: 2008
Sutradara : Doug Liman
Pemain : Hayden Christensen, Samuel L. Jackson, Diane Lane, Jamie Bell, etc

Gimana rasanya bisa melompat dari satu tempat ke tempat lain hanya dalam sekejap? Bisa ditebak, sangat menyenangkan, dan yang jelas, memberi keuntungan pula bagi kita. Bayangkan, sesaat kita di rumah, dan sedetik kemudian, kita bisa berada di Jepang, sekedar untuk jalan-jalan ataupun shopping.

Kemampuan itulah yang dimiliki David Rice (Hayden Christinsen). Menyadari kekuatannya di usia 15 tahun, pemuda itu segera memanfaatkannya tanpa perlu pikir panjang. Situasinya benar-benar tepat baginya : ibunya pergi meninggalkannya ketika ia berusia 5 tahun, ayahnya seringkali menyiksanya, dan tidak ada teman yang dapat mendukungnya di sekolah. Kekuatannya adalah satu-satunya jalan bagi dia untuk bisa keluar dari kehidupan yang tidak menyenangkan.

Maka dimulailah petualangan itu : merampok bank untuk memenuhi kebutuhan hidup, berwisata dari satu negara ke negara lain; hanya sekedar menghabiskan waktu untuk makan siang, atau berselancar di kepulauan Fiji. Semua tampak begitu sempurna sampai sosok itu datang : Roland (Samuel L. Jackson). Tanpa ada penjelasan, pria itu tiba-tiba saja ingin membunuhnya.

Meski berhasil lolos, David tidak menyadari bahwa sebenarnya ia dikejar-kejar oleh sebuah organisasi bernama Paladin, yang memang bertujuan memusnahkan semua “jumper”, yaitu orang-orang yang berkekuatan sama dengannya. Teguran keras dari seorang jumper lain, Griffin (jamie bell) menyadarkan David bahwa seharusnya ia waspada akan kehadiran Paladin. Tapi saat ia sadar bahwa ia harus waspada, gadis yang disukainya, Millie (Rachel Bilson), telah ditangkap oleh Ronald!

Apa yang terjadi selanjutnya? Lalu apa pula hubungan ibu David (Diane Lane) dengan semua kekacauan ini?

Dari segi ide, film ini sebenarnya lumayan. Orang-orang dengan kekuatan super selalu saja menarik perhatian (ingat Heroes yang booming sampai sekarang ini?). Visual efek dari film ini juga mempesona, benar-benar bersih dan mulus dalam menunjukkan perpindahan para jumper dari satu tempat ke tempat lain.

SAYANGNYA, plot dan karakter dari film ini bener-bener nggak bagus! Banyak scene yang nggak perlu (seperti scene antara David dan Mille), tapi scene berkaitan dengan penjelasan Jumper dan Paladin itu sendiri nggak ada! Mbok ya dijelasin, jumper itu muncul karena apa, Paladin iku sopo…. Masa tau-tau aja ada tanpa penjelasan???

Terus karakter utamanya, ya ampuuuuuuuuunnnnnn, kalau bisa lompat ke dalam film, si Hayden itu bakal aku iket terus aku lempar! Bener2 ga kerasa emosinya. Datar banget, kalo nggak mau dibilang ancur! Aku malah lebih impressed ama karakternya si Griffin. Setidaknya dia punya sesuatu yang bisa diingat (selain aksen Inggrisnya).

Overall, saya tidak merekomendasikan film ini bagi mereka yang senang melihat akting super njelimet dan asoy. Nonton aja kalo suka liat visual efek yang bagus.

April 9, 2008

Random post (totally crap) : CHANGE!

Diarsipkan di bawah: !crap — Tag:, — crappuccino @ 7:42 am

Kenekatan untuk ikutan (kembali) ngepost didorong adanya komentar dari ecchan yang mencurigai adanya pembelotan komitmen oleh niken (a.k.a saya) untuk menjadi penghuni tetap blog nggak jelas ini. Untuk itu, saya jelaskan sebenar-benarnya bahwa nggak ada itu yang namanya pembelotan. Yang ada adalah proses hiatus sementara karena terjebak di kantor dengan 1 line LAN untuk 2 orang.. Bisa dibayangin gimana repotnya gantian line, apalagi orang yang satunya lagi itu BOS ane….
Yum, yum, eh?

Karena beberapa hari terakhir saya terasing dari peradaban (baca : nggak nonton TV, nggak ngenet, nggak baca koran) dan terjebak di kantor, jadi saya bakal ngepost yang terkait dengan apa yg terjadi pada saya aja yak.

Tentang perubahan! Yak! (benernya mau tentang SCM, tapi nanti nggak ada yang mudeng gimana dung?). Semua orang setuju bahwa sesuatu yang tidak akan berubah di dunia ini adalah perubahan. Tapi apakah berubah memang bisa semudah itu?

Contoh kasus yang sekarang terjadi ya di perusahaan saya. Sedang diadakan restrukturisasi organisasi. Memang nggak terlalu radikal, tapi cukup untuk mengubah semua tatanan yang ada di dalamnya. Saya kebetulan termasuk orang baru yang diposisikan pada perubahan itu. Apakah perubahan itu bisa berjalan dengan mulus? Nggak juga tuh. Masih banyak pertentangan di mana-mana, meski nggak eksplisit terlihat.

Saya sendiri percaya bahwa perubahan itu perlu, tentunya dalam lingkup ke arah yang lebih baik. Tapi busyet………..mau berubah itu lho, kok susah amat. Contoh gampang lagi ya saya sendiri. Kebiasaan buruk untuk menunda-nunda pekerjaan kok susah banget diubahnya. Niat sih ada, tapi………

Nggak heran saya iri pada mereka yang bisa berubah. Tapi penasaran juga………apa sih kiat2 biar bisa berubah dengan mulus? Anyone knows??

…gawat, ini bahkan crap yang lebih parah dari punya haru! T^T

Maret 1, 2008

Review : “Monk”

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , — crappuccino @ 12:54 am

monk.jpg

Judul Film (Serial TV) : Monk
Pemain : Tony Shalhoub
Tahun : 1998 – 2007 (season 1 – season 5)

Adrian Monk (Tony Shalhoub) adalah seorang detektif yang memiliki penyimpangan perilaku berupa OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Penyimpangan itu menyebabkan dia kehilangan lencananya di kepolisian, meski sebenarnya Monk adalah seseorang yang memiliki kemampuan analisa mengagumkan, karena ia mampu melihat hal-hal terkecil yang biasanya luput dari suatu masalah, dan pada akhirnya menemukan pelaku sebenarnya dari suatu kasus pembunuhan.

Bersama dengan asistennya (Sharona, yang kemudian diganti oleh Natalie), Monk menjadi konsultan kasus pembunuhan bagi kepolisian San Fransisco. Dalam pekerjaannya, Monk biasa didampingi oleh Captain Stottlemeyer (mantan atasan Monk) dan Randy Disher, tangan kanan Stottlemeyer yang sedikit ceroboh, namun cukup loyal pada atasannya. Maka mereka berempat (Monk, Natalie, Stottlemeyer dan Disher) pun bahu membahu bekerja sama dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan yang rumit dan penuh intrik.

Saya pertama kali mengenal Monk sekitar 3 tahun yang lalu, saat salah satu televisi swasta memutar serial TV menarik ini. Karena penasaran, saya meminta adik saya untuk berburu Monk (langsung beberapa season), dan Voila! Saya tidak kecewa sedikit pun dengan serial TV ini.

Yang paling saya kagumi dari serial ini tentu saja cara kerja Monk; bagaimana ia memperhatikan detil terkecil dari suatu TKP atau keterangan seorang saksi dalam suatu kasus; bagaimana ia mengaitkan satu fakta yang ia temukan dengan fakta lain yang, secara umum tampak tak berhubungan, tapi ternyata memiliki hubungan tersembunyi. Saya juga jatuh cinta pada OCD yang diderita Monk. Meski kadang tampak menyedihkan, saya rasa OCD itu sedikit banyak membantu Monk dalam menjalani hidupnya, karena memang itulah dia seutuhnya. Monk tanpa OCD-nya justru mungkin tidak akan menjadi Monk yang mampu menyelesaikan kasus secara brillian.

Dari season 1 hingga season 5, harus saya akui bahwa saya sangat terkesan pada season 1 dan 2. Pada season itu saya merasa seperti berkenalan perlahan dengan Monk, dan mencoba memahami seperti apa sosok Monk itu. Season 3 dan 4 cukup baik, meski agak sedikit membosankan pada bagian tengah. Sedangkan season 5 memberi efek yang sama dengan season 1 dan 2, membuat saya kembali jatuh cinta, dan mengingat kembali bahwa ini lho, Monk yang saya sukai dan cintai tersebut.

Bagi mereka yang menyukai segala sesuatu berbau detektif (seperti saya :D ), Monk dapat menjadi salah satu alternatif tontonan yang mengasyikkan. Memang, Monk tidak seserius CSI, tapi percaya deh, tidak ada ruginya menonton Monk. Seru, lucu, dan menyegarkan.

Februari 27, 2008

Review : Pembunuhan ABC

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 5:48 am

abc1.jpg

Judul : Pembunuhan ABC (The ABC Murders)
Penulis : Agatha Christie
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Para penggemar novel detektif pasti pernah mendengar judul buku ini. Ya, Pembunuhan ABC atau The ABC Murders merupakan salah satu hasil karya ibu Agatha Christie yang banyak dikenal karena keunikan kasusnya, serta (tentunya) kehebatan tokoh detektif Mr. Hercule Poirot dalam memecahkan kasus tersebut.

The ABC Murders dibuka dengan surat tantangan pada Mr. Hercule Poirot untuk mengambil sebuah tindakan terhadap suatu kejadian yang akan terjadi pada bulan yang sama. Meski Poirot awalnya setuju dengan rekannya, Mr. Hastings, bahwa surat itu dapat dikategorikan sebagai suatu lelucon yang konyol, tak urung sesuatu dalam pikirannya membuat pria berkumis tebal itu khawatir. Bagaimana jika ABC, si pengirim surat itu, tidak main-main? Bagaimana jika sesuatu memang benar-benar terjadi sesuatu? Bagaimana jika….

Kekhawatiran itu pun terbukti. Pada tanggal yang ditentukan, seseorang dengan inisial A ditemukan mati terbunuh pada kota yang berinisial sama. Petunjuk yang tertinggal hanyalah sebuah buku panduan kereta api yang sering juga disebut buku ABC. Sebelum Hercule Poirot mampu membuka tabir kasus pembunuhan pertama, surat tantangan kembali datang. Adanya pembunuhan selanjutnya pada korban berinisial B dan C memaksa pria itu berpikir keras. Apa sebenarnya tujuan dari pembunuhan yang dilakukan secara acak dan sesuai abjad ini? Siapa pula seseorang yang dilihat oleh kerabat korban (baik dari korban pertama hingga terakhir) berkeliaran pada saat terjadinya pembunuhan?

Novel ini adalah novel detektif pertama yang saya baca (kalau nggak salah waktu kelas 3 SMP), dan sampai sekarang, saya masih terkagum-kagum pada kehebatan Ms. Agatha Christie dalam menceritakan kasus ini. Ketiga pembunuhan yang terjadi benar-benar terkesan acak dan tidak ada dasarnya sama sekali. Siapa yang menduga, bahwa di balik semua itu ternyata hanya satu kejahatan yang memiliki motif, sementara pembunuhan lainnya hanyalah ‘tambahan’ untuk menyamarkan motif tersebut?

Menariknya ide cerita ini juga diakui oleh Aoyama Gosho sensei (mangaka dari Meitantei Conan a.k.a Detective Conan). Pada volume 39, Conan Edogawa dan Heiji Hattori menghadapi kasus yang mirip dengan The ABC Murders, hanya bedanya pada kasus ini yang terjadi secara berurutan adalah tragedi kebakaran secara acak, bukan pembunuhan. Korban baru muncul pada peristiwa kebakaran terakhir. Adanya seorang tokoh yang berkepribadian lemah menggiring Hattori dan Conan pada penyelesaian yang sama dengan The ABC Murders. (maaf, gambarnya jelek. Scanner saya rusak, jadi dalam keadaan darurat saya mengambil foto saja.. :P )

abc2.jpg

Anyway, bagi penggemar novel detektif, ini adalah satu judul menarik yang saya rekomendasikan untuk dibaca. Sedang bagi mereka yang belum mengenal Ms. Agatha Christie, The ABC MUrders bisa menjadi perkenalan yang luar biasa :)

Februari 16, 2008

Review : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 4:30 am

Display Buku

Judul : Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup
Penerbit : Mizan

Yap, review buku pertama! Meski sudah banyak yang mereview buku luar biasa ini, rasanya nggak masalah untuk menambah satu lagi review dalam deretan review buku ini. Toh, buku ini pantas mendapatkannya :)

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken dibuka dengan buku-surat yang ditulis oleh Nils dan Berit. Nils Boyum Torgersen dan Berit Boyum adalah dua orang sepupu yang baru saja berlibur bersama dan memutuskan untuk saling bertukar cerita menggunakan sebuah buku surat.

Meski awalnya terlihat hanya sebagai proyek pribadi yang tidak berbahaya, rasa penasaran terhadap seorang perempuan bernama Bibbi Bokken tak urung membawa kedua sepupu itu ke dalam sebuah petualangan. Ya, topik buku-surat itu pun mengerucut, berfokus pada Bibbi Bokken dan mengenai sebuah perpustakaan rahasia, perpustakaan yang hanya diketahui oleh Bibbi Bokken sendiri, dan tentunya, Nils serta Berit yang terus mengumpulkan informasi mengenai wanita misterius itu.

Dalam perjalanannya, beberapa kejadian yang aneh mereka hadapi. Seperti Nils, yang bertemu seseorang berwajah penjahat dengan nama panggilan Mr. Smiley. Dan Berit, yang tinggal satu kota dengan Bibbi Bokken dan nyaris ketahuan saat menyelinap masuk ke rumah wanita itu!

Yang istimewa dari buku ini adalah beberapa pemikiran filosofis mengenai buku dan kegiatan menulis. Seperti apa yang dituliskan Nils :

Tak ada aturan bagi seseorang dalam menulis, demikian juga dalam berpikir (hal 135).

“Jadi, sama seperti atom dan molekul dapat menjadi seekor beruang, huruf-huruf tersebut pun dapat menjaid kisah Pooh si Beruang” (hal 227)

Buku ini juga memuat berbagai istilah seperti Klasifikasi Desimal Dewey, Buku Harian Anne Frank, puisi jan Erik Vold dan berbagai istilah lainnya. Jujur, aku sendiri bahkan baru tahu mengenai klasifikasi desimal Dewey! Kupikir pengklasifikasian buku sudah ada sejak dulu kala, dan muncul begitu saja tanpa ada tokoh di baliknya :P

Overall, buku ini salah satu yang sangat aku rekomendasikan untuk kalian baca. Sungguh mengasyikkan, dan ending-nya pun cukup memuaskan :)

Blog pada WordPress.com.