Judul : Rescue Dawn
Sutradara : Werner Herzog
Pemain : Christian Bale, Steve Zahn
Tahun rilis : 2007
Yak, saatnya niken mengupdate!!! ![]()
*lari dari sambitan haru karena sudah beribu-ribu tahun ga ngisi blog ini…*
Ketika saya diajak nonton film ini, saya menyetujui saja karena pilihan lainnya hanya film Indonesia tidak jelas dengan judul yang semakin vulgar. Eh, ternyata begitu film dibuka, layar menunjukkan potongan-potongan pesawat tempur dan situasi peperangan di Vietnam. Saat itu juga saya sempat cemas, apa saya bakal menyukai film ini. Maklum saja, saya bukan penggemar berat film perang (kecuali Saving Private Ryan kali ya…itu pun saya merasa film itu cukup sadis). Ternyata, saya lumayan suka juga dengan film tersebut.
Cerita dibuka dengan terbangnya satu tim penerbang dengan tugas rahasia menghancurkan markas-markas Vietkong di negara Vietnam melalui Laos. Dengan latar belakang perang Vietnam, kita segera disuguhi kemuraman yang terjadi pada sebuah perang. Dieter Dengler (Christian Bale), salah seorang penerbang, tidak beruntung karena pesawatnya terkena tembakan, dan dia terpaksa mendarat darurat (atau jatuh bebas yah tepatnya?) di pertengahan sawah di Laos. Segera saja dia menjadi tawanan para militan, dan sama seperti tawanan perang lainnya, tentu saja dia mendapat siksaan dari para penyanderanya.
Dieter kemudian dipenjarakan di sebuah gubuk yang terletak di tengah hutan belantara yang lebat (dan sedikit banyak mengingatkan saya pada hutan-hutan di Kalimantan). Di sana, dia bertemu dengan beberapa rekan senasib. Beberapa penerbang pesawat logistik ternyata juga tidak beruntung dan menjadi tawanan para militan di Laos selama kurang lebih 2 tahun (ada Gene, YC, Procet dan Phisit). Ada juga Duane, penerbang AU USA yang juga sudah ditahan sekitar 1.5 tahun.
Meski “teman-teman” barunya terus menyarankan agar Dieter tidak berbuat yang aneh-aneh, toh penderitaan menjadi seorang tawanan cukup mendorong Dieter untuk berencana kabur dari penjara di tengah hutan tersebut. Lalu berhasilkah Dieter kabur bersama yang lain? Mungkinkah mereka melarikan diri dari para militan bersenjata dan bebas dari hutan yang menyesatkan tersebut?
Ada beberapa poin yang terus berkelebat di pikiran saya selama menonton film ini. Pertama, penyandera tawanan perang akan selalu menyiksa para tawananannya (pernyataan yang cukup bodoh yah, karena itu kan sebenarnya sesuatu yang wajar terjadi, mengingat mereka menganggap diri mereka sebagai korban, dan siapapun yang menjadi musuh mereka harus menderita). Hal itu membawa saya ke pemikiran selanjutnya : Jika kita tidak mau diperlakukan demikian (dalam hal ini mereka sebagai tentara Amerika sih), maka seharusnya kita tidak memperlakukan orang lain seperti itu (dan ini kembali mengacu kepada Amerika Serikat yang hobi perang). Kesimpulannya : Perang itu nggak ada gunanya! Nggak pernah ada, dan nggak akan ada. Seharusnya dari film-film semacam ini, kita makin menyadari bahwa membunuh bangsa lain, ras lain, atau siapapun yang kita anggap “musuh”, tidak akan pernah berdampak baik bagi semua pihak.
Tentunya, selain pemikiran serius itu, saya juga memikirkan hal-hal yang lebih enteng, seperti, Christian Bale yang jadi kurus banget. Busyet dah, dia nurunin berapa kg ya? Saya sampe iri….program pengurusan badan saya masih jalan pelan-pelan sih, hehehe…
Secara karakter, tidak ada karakter yang sangat menonjol dalam film ini. Si tokoh utama, Dieter pun tidak terlalu masuk ke dalam hati saya, meski upayanya untuk survive dalam kondisi apapun patut diacungi jempol (katanya sih dari kisah nyata).
Overall, film ini lumayan untuk ditonton, khususnya buat para pecinta film perang. Buat yang tidak suka film perang, mungkin harus pikir-pikir dulu sebelum memutuskan menonton.
Btw, ternyata film ini bikinan tahun 2006 yah??? Kok baru muncul sekarang ya di sini? o_O;;

Kalimat pertama yang terlontar selesai membaca manga ini: SAKIT JIWA.
Seperti banyak novel terkenal lainnya, bukan pertama kalinya
– adalah setting waktu. Kalau di buku cerita berlatar tahun 1800-an, di anime waktu sudah berjalan sampai tahun 5000-an. Cakupan geografisnya pun sudah bukan ukuran negara lagi, tapi planet (contoh: Setting karnaval yang aslinya di Roma diubah jadi di Luna/bulan). Yang paling bikin “h0h” (dan buat saya agak jayuz), adalah cara ‘duel’ di zaman itu. Kalau di abad 19 duel menggunakan pistol atau pedang, di sini duel menggunakan mobile suit mecha! Suer deh, serasa nonton Gundam/Evangelion nyasar!
Mengharap sesuatu yang biasa dari Kusumoto Maki-sensei tampaknya akan sia-sia. Dari 3 karyanya yang saya baca, tak satupun yang bisa disebut “wajar” *mungkinkah karya-karya awal sensei lebih normal??? -_-;;* Mock Turtle Soup berisi 8 cerita SANGAT pendek tentang cinta: Chocolate love, girls’ love, summer love, fairytale love, unrequited love, bread love, reincarnated love, dan finding true love. Kalau memandang tiap cerita sebagai fragmen-fragmen yang tidak berhubungan, kemungkinan besar kita akan kecewa. Karena – seperti yang sudah saya bilang – cerita-cerita di sini SANGAT pendek, beda dengan Dolis atau K no souretsu yang memang punya plot. Malah lebih tepat dibilang prosa daripada cerita. Mungkin kalau kita coba menikmatinya sebagai satu kesatuan, kita bisa merasakan keindahannya. *Kasarannya, mending gak usah dipikir deh. Baca dan terima aja. Dengan begitu lebih kerasa indahnya*
Ketika membuka mata, Ryu terbangun di Camelot Garden. Di dunia yang merupakan personifikasi kartu remi itu, Ryu eksis sebagai pengganti kartu enam sekop yang mati terbunuh oleh Joker. Selain namanya, satu-satunya yang Ryu ingat adalah ia harus mencari seorang gadis bernama Claribel. Yah, di dunia itu memang ada Claribel, tapi Claribel adalah seorang cowok! Claribel di sana adalah “White Card”, satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan luka semua penghuni Camelot Garden. Bersama Claribel dan Gideon si Raja Sekop, Ryu bertekad memecahkan misteri Camelot Garden, dunia di mana mereka dilarang melihat wajah junjungan mereka, Lord Adonai.
Apa yang kiranya dilakukan seorang malaikat yang bosan? Transylvanian Rose punya jawabnya. Saat menjalankan tugasnya menyucikan arwah, Rose bertemu dengan sesosok arwah yang mati bunuh diri. Rose memberikan satu sayapnya, membangkitkan arwah itu dan menjadikannya binatang peliharaan sekaligus partner tugasnya. Sebaliknya, si arwah – yang dinamai “Undertaker” oleh Rose – justru sangat ingin mati. Sampai kapan Rose tahan bersama partner barunya ini, yang terjebak diantara hidup dan mati?
Yugi Hotori dan Kagari Keishi adalah pasangan sahabat yang unik. Hotori yang perempuan punya perawakan seperti cowok yang cool, sedangkan Keishi adalah seorang cowok cantik yang imut. Sebagai anak SMA yang sehat, Hotori menyukai Keishi. Masalahnya, setiap kali Hotori melihat Keishi yang muncul adalah khayalan-khayalan aneh yang makin lama makin tak terkendali (contoh: Keishi memakai bunny suit, Keishi *sensor*, me-*sensor* Keishi, dan *sensor*). Ketika curhat dengan kedua temannya, Yuna dan Sanaka, Hotori malah divonis mengidap Pheromomania Syndrome! Singkatnya, Hotori adalah pervert kelas kakap. Apakah jadian dengan Keishi adalah jalan keluar yang tepat untuk sembuh dari “penyakit” ini?