Crappuccino

Desember 1, 2008

Review : Rescue Dawn

Diarsipkan di bawah: film — Tag:, , — crappuccino @ 12:44 pm

rescue-dawn

Judul : Rescue Dawn
Sutradara : Werner Herzog
Pemain : Christian Bale, Steve Zahn
Tahun rilis : 2007

Yak, saatnya niken mengupdate!!! :P
*lari dari sambitan haru karena sudah beribu-ribu tahun ga ngisi blog ini…*

Ketika saya diajak nonton film ini, saya menyetujui saja karena pilihan lainnya hanya film Indonesia tidak jelas dengan judul yang semakin vulgar. Eh, ternyata begitu film dibuka, layar menunjukkan potongan-potongan pesawat tempur dan situasi peperangan di Vietnam. Saat itu juga saya sempat cemas, apa saya bakal menyukai film ini. Maklum saja, saya bukan penggemar berat film perang (kecuali Saving Private Ryan kali ya…itu pun saya merasa film itu cukup sadis). Ternyata, saya lumayan suka juga dengan film tersebut.

Cerita dibuka dengan terbangnya satu tim penerbang dengan tugas rahasia menghancurkan markas-markas Vietkong di negara Vietnam melalui Laos. Dengan latar belakang perang Vietnam, kita segera disuguhi kemuraman yang terjadi pada sebuah perang. Dieter Dengler (Christian Bale), salah seorang penerbang, tidak beruntung karena pesawatnya terkena tembakan, dan dia terpaksa mendarat darurat (atau jatuh bebas yah tepatnya?) di pertengahan sawah di Laos. Segera saja dia menjadi tawanan para militan, dan sama seperti tawanan perang lainnya, tentu saja dia mendapat siksaan dari para penyanderanya.

Dieter kemudian dipenjarakan di sebuah gubuk yang terletak di tengah hutan belantara yang lebat (dan sedikit banyak mengingatkan saya pada hutan-hutan di Kalimantan). Di sana, dia bertemu dengan beberapa rekan senasib. Beberapa penerbang pesawat logistik ternyata juga tidak beruntung dan menjadi tawanan para militan di Laos selama kurang lebih 2 tahun (ada Gene, YC, Procet dan Phisit). Ada juga Duane, penerbang AU USA yang juga sudah ditahan sekitar 1.5 tahun.

Meski “teman-teman” barunya terus menyarankan agar Dieter tidak berbuat yang aneh-aneh, toh penderitaan menjadi seorang tawanan cukup mendorong Dieter untuk berencana kabur dari penjara di tengah hutan tersebut. Lalu berhasilkah Dieter kabur bersama yang lain? Mungkinkah mereka melarikan diri dari para militan bersenjata dan bebas dari hutan yang menyesatkan tersebut?

Ada beberapa poin yang terus berkelebat di pikiran saya selama menonton film ini. Pertama, penyandera tawanan perang akan selalu menyiksa para tawananannya (pernyataan yang cukup bodoh yah, karena itu kan sebenarnya sesuatu yang wajar terjadi, mengingat mereka menganggap diri mereka sebagai korban, dan siapapun yang menjadi musuh mereka harus menderita). Hal itu membawa saya ke pemikiran selanjutnya : Jika kita tidak mau diperlakukan demikian (dalam hal ini mereka sebagai tentara Amerika sih), maka seharusnya kita tidak memperlakukan orang lain seperti itu (dan ini kembali mengacu kepada Amerika Serikat yang hobi perang). Kesimpulannya : Perang itu nggak ada gunanya! Nggak pernah ada, dan nggak akan ada. Seharusnya dari film-film semacam ini, kita makin menyadari bahwa membunuh bangsa lain, ras lain, atau siapapun yang kita anggap “musuh”, tidak akan pernah berdampak baik bagi semua pihak.

Tentunya, selain pemikiran serius itu, saya juga memikirkan hal-hal yang lebih enteng, seperti, Christian Bale yang jadi kurus banget. Busyet dah, dia nurunin berapa kg ya? Saya sampe iri….program pengurusan badan saya masih jalan pelan-pelan sih, hehehe… :P

Secara karakter, tidak ada karakter yang sangat menonjol dalam film ini. Si tokoh utama, Dieter pun tidak terlalu masuk ke dalam hati saya, meski upayanya untuk survive dalam kondisi apapun patut diacungi jempol (katanya sih dari kisah nyata).

Overall, film ini lumayan untuk ditonton, khususnya buat para pecinta film perang. Buat yang tidak suka film perang, mungkin harus pikir-pikir dulu sebelum memutuskan menonton.

Btw, ternyata film ini bikinan tahun 2006 yah??? Kok baru muncul sekarang ya di sini? o_O;;

November 24, 2008

Review: watashi no… megane-kun

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:21 am

Judul: watashi no… megane-kun
Manga-ka: Sumoto Amu
Volume: 7 [tamat] (scanlation: Ongoing)
Penerbit: Shogakukan
Tahun: 2002

Loving you… until everything has become a convoluted state.

Kalimat pertama yang terlontar selesai membaca manga ini: SAKIT JIWA.

Chouko dan Taichiro (Megane-kun) hidup bertetangga. Meski selalu satu sekolah, keduanya bukan sahabat karib. Chouko menyukai Megane-kun sejak kecil, namun apa dikata, terakhir kali berpapasan di sekolah, kalimat yang meluncur dari mulut Megane-kun adalah “Aku benci sekali padamu, sampai-sampai aku ingin membunuhmu.“. Tentu saja Chouko down. Sampai suatu hari, senior Chouko menyatakan cinta padanya. Di tengah kebingungan, Megane-kun tiba-tiba turut menyatakan cinta juga. Jelas, Chouko memilih Megane-kun. Happy ending? Tidak. Chouko dan Taichiro harus berkelut dengan masalah terbesar mereka: obsesi mereka terhadap satu sama lain.

Kisah tentang cinta obsesif sudah sering saya baca. Tipikalnya, sih, entah si cewek atau si cowok yang obsesif terhadap pasangannya. Nah, bagaimana kalau dua-duanya sama-sama obsesif? Inilah yang menjadi poin di manga ini. Bagaimana sebuah hubungan itu tak cukup hanya “cinta”. Setidaknya, itu berlaku untuk sebuah hubungan yang sehat, yang jelas tidak dimiliki Chouko dan Megane-kun. Sekilas, mungkin kelihatannya Megane-kun yang lebih berperan sebagai manipulator dalam hubungan ini dan Chouko “korban”-nya. Tetapi kalau ditelusuri, Chouko pun punya andil sebagai manipulator, dengan caranya sendiri. Jujur saja, saya gregetan membaca manga ini. Kalau ada yang mencari referensi praktis tentang istilah “jatuh cinta, dunia milik berdua” atau “cinta buta”, di sinilah tempatnya. Memang sih, tetap ada momen-momen manis khas orang pacaran, tapi tetap dalam frame obsesivitas.

Untunglah, aspek grafisnya tidak mengecewakan. Yah, mungkin tidak yang “wow” begitu, tetapi cukup bagus dan bisa dinikmati mata. Terutama buat pembaca cewek. Meski begitu, rating manga ini adalah mature, karena, seobsesif apapun, baik Chouko maupun Megane-kun adalah cewek dan cowok normal secara biologis. Namun sejauh ini, saya nilai scene-scene tertentu itu hanya sebagai pelengkap cerita.

Secara garis besar, manga ini membuat saya baik gregetan maupun penasaran. Gregetan melihat hubungan Chouko dan Megane-kun yang begitu siklikal (baca: muter-muter gak karuan), dan penasaran mengetahui akhir dari hubungan mereka yang begitu rapuh ini. Akankah mereka tetap seperti itu sampai akhir, ataukah akhirnya beralih ke hubungan yang lebih sehat?

Downloadable: Ochibiscan, Mangatraders

Oktober 21, 2008

Review: Killing Moon

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:49 am

Judul: Killing Moon
Manga-ka: Motoni Modoru
Volume: 1 [tamat] – oneshot (dari tankoubon “Prince of Monster”)
Penerbit: Biblos [Japan]
Tahun: 1998

He is wolf, he is the wolf that thirsts for love, that survives on devouring the love and adoration of humans on the night of full moon…

peringatan: full spoiler!

Cerita dimulai dari kematian seorang nyonya keluarga kaya. Karena keluarga itu tidak punya anak, Satoshi, adik nyonya itu, datang ke rumah kakaknya untuk mengurus kematian sang nyonya dan suaminya (sang suami tewas sebulan sebelumnya). Di sana, Satoshi menemui Fumio, seorang anak yatim piatu yang diasuh keluarga itu; dan Mariko, salah satu tetangga mereka. Namun, rupanya ada satu lagi penyusup di rumah itu. “Serigala”, begitu Fumio menyebutnya. Siapa dan apa peran “Serigala” di rumah itu, dan kenapa wujud “Serigala” tampak berbeda bagi setiap orang?

Secara garis besar, Killing Moon adalah cerita tragedi cinta segi-mbulet. Sang Tuan mencintai Sang Nyonya, Sang Nyonya mencintai Fumio, Fumio mencintai Mariko, Mariko mencintai sosok lelaki Fumio tapi malah terperangkap ke pelukan “Serigala”, dan “Serigala” mencintai Fumio. Satoshi yang mulanya hanya sebagai pengamat, pada akhirnya pun terlibat dan menambah keruwetan dengan jatuh cinta pada Fumio.

Meski ceritanya aneh, bagi saya karakter dalam cerita ini sangat menarik. Tokoh kunci di sini adalah Fumio, seorang gadis yang dibesarkan sebagai lelaki hanya demi memuaskan hasrat abnormal Sang Nyonya, dan pada akhirnya ia pun menjadi sasaran kekerasan Sang Tuan yang memendam cinta tak terbalas pada istrinya. Fumio yang akhirnya menjadi lesbian mencintai Mariko, seorang gadis biasa yang menyukai sosok lelaki Fumio namun segera menampik mentah-mentah ketika tahu Fumio adalah wanita.

Dan tentu saja, “Serigala”, tokoh antagonis yang menarik. Diceritakan, “Serigala” mengambil bentuk sosok orang yang dicintai, karena wujud “Serigala” berbeda-beda bagi setiap orang (Bagi Satoshi yang saat itu tidak punya kekasih, “Serigala” tampil sebagai seorang pria yang memakai topeng). Situasi inilah yang dimanfaatkan “Serigala” untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya sehingga dia bisa mendapatkan Fumio. Dengan kelicikannya, ia berjanji untuk menolong Fumio mendapatkan cinta (dalam hal ini, Mariko); dengan syarat selama Fumio belum menemukan cinta sejatinya, “Serigala” akan memakan semua orang yang menginginkan Fumio.

Keculasan “Serigala” yang paling berkesan buat saya adalah saat dia memberikan shock therapy untuk Fumio. Saat itu, Mariko sudah menolak Fumio dan ‘tertipu’ dengan “Serigala”. Di mata Mariko, “Serigala” tampak persis seperti Fumio, dengan perkecualian ia adalah ‘Fumio yang lelaki’. Dan “Serigala” melempar fakta kelelakiannya itu mentah-mentah di depan Fumio, membuat Fumio down karena menjadi lelaki adalah hal yang mustahil baginya. Bisa ditebak, Fumio melemparkan kemarahannya pada Mariko, dan menyuruh “Serigala” memakan Mariko. Meskipun begitu, seculas apapun “Serigala” , menurut saya sebenarnya kebencian Fumio pada dirinya sendirilah yang menyebabkan ia tak bisa menemukan cinta sejatinya.

Sebagai sebuah oneshot, cerita ini bisa memaksimalkan karakterisasi (terutama karakter Fumio yang kompleks) dan plot. Kalaupun ada karakter yang kurang ‘terasa’, mungkin itu Satoshi. Bagaimana ia yang mulanya memposisikan dirinya sebagai orang luar bisa tertarik dengan Fumio, rasanya penjelasan di situ kurang terasa. Tetapi hal ini masih bisa dimaklumi karena jatah halaman untuk oneshot terbatas.

Artwork-nya juga mendukung atmosfer cerita. Saya mengenal Motoni Modoru-sensei dari karyanya, Tantei Aoneko. Saya suka tarikan garisnya yang tegas dan ‘bersih’, dan tentu saja, inking-nya yang kontras hitam-putih, minus ‘dekorasi’. Mungkin karena mengambil setting waktu yang tak jauh beda dengan Tantei Aoneko, setting tempat dan suasananya terkesan ‘Aoneko banget’. Jujur, saya belum pernah *tepatnya tidak mau* membaca karya lain sensei yang berlatar di jaman modern (contoh: shikugakari rika, koi ga bokura o yurusu hani) jadi saya tidak bisa bilang apa itu memang ciri khas sensei. Tokoh “Serigala” menjadi tokoh favorit saya karena desain karakternya gothic banget *apalagi ditambah masker matanya itu*, selain karena pribadinya yang energik dan menghidupkan cerita. *meski bukan dalam artian baik* :D

*Killing Moon adalah oneshot dari tankoubon Prince of Monster bersama 3 oneshot lainnya: Sambika, Life of The Machine, dan Prince of Monster*

Downloadable: Free Manga LJ Community

September 22, 2008

Review: Gankutsuou

Diarsipkan di bawah: anime — Tag:, , — crappuccino @ 3:00 am

Judul: Gankutsuou: The Count of Monte Cristo
Episode: 24
Tahun: 2004 [Japan], 2006 [US]
Studio: GONZO

Death is certain; its hour, uncertain.

Catatan: Saya tahu review ini telat 4 tahun, tapi setidaknya ijinkan saya fangirling okeh?

Seperti banyak novel terkenal lainnya, bukan pertama kalinya Count of Monte Cristo (Le Comte de Monte-Cristo) diadaptasi, utamanya ke format layar lebar atau layar kaca. Kali ini, GONZO mengangkat novel karya Alexandre Dumas ini ke bentuk anime dan saya bilang… keren abis! Di satu sisi, plot asli Count of Monte Cristo sudah menarik. Cerita balas dendam selalu menarik. Versi animenya mengambil paruh terakhir buku, di mana Edmond Dantes kembali sebagai Count of Monte Cristo untuk membalas dendam pada orang-orang yang mengkhianatinya. Bedanya, di sini Count diposisikan sebagai tokoh antagonis. Karakter utama dipegang oleh Albert de Morcerf, anak dari Ferdnand dan Mercedes. Untuk kepentingan balas dendam, Count bersahabat dengan Albert, sebagai pintu masuknya ke kalangan elit Paris.

Sampai sekarang, paling banter yang saya tahu tentang Count of Monte Cristo adalah versi layar lebarnya (diperankan oleh Jim Caviezel). Di situ yang menjadi sorotan utama adalah sang Count (Edmond Dantes); mulai dari dikhianati sahabatnya sampai aksi balas dendam. Di versi anime, sudut pandang cerita diganti dari kacamata Albert dan sahabat-sahabatnya: Franz, Eugenie, Beuschamp, Lucien, Maxmillien, Valentine, dan Renaud.

Mungkin awalnya terasa kurang adil ‘menandingkan’ Albert yang nyata-nyata masih cupu dengan Count yang sudah ditempa pengalaman hidup. Justru di sinilah menariknya, melihat perubahan karakter Albert yang semula ‘hanya’ seorang anak bangsawan yang naif dan tidak kenal susah menjadi seorang dewasa lewat tamparan-tamparan realita yang diterimanya; juga bagaimana Albert belajar makna cinta dan persahabatan, sementara hidup di dunia elit dimana cinta adalah perjodohan kepentingan dua keluarga. Saya yang semula mengacuhkan Albert kian lama semakin menyadari peran Albert dalam cerita. Sebaliknya, keluguan dan spontanitas remaja Albert sedikit banyak mempengaruhi Count, termasuk naluri kebapakan sang Count. Sekadar masukan subyektif, memang secara fisik penampilan tokoh Count lumayan aneh, kalau bukan sangar. Kulit biru, mata merah-biru, kuku panjang, bertaring, gila banget deh. Tapi entah kenapa, tokoh Count di anime terasa jaaaaauuuuuuuhhhh lebih keren daripada yang di layar lebar. *sori, mas Jim Caviezel, Anda kalah dengan tokoh anime*

Namanya adaptasi, wajar bila ada beberapa perubahan. Perubahan yang paling jelas di anime ini – tentu saja – adalah setting waktu. Kalau di buku cerita berlatar tahun 1800-an, di anime waktu sudah berjalan sampai tahun 5000-an. Cakupan geografisnya pun sudah bukan ukuran negara lagi, tapi planet (contoh: Setting karnaval yang aslinya di Roma diubah jadi di Luna/bulan). Yang paling bikin “h0h” (dan buat saya agak jayuz), adalah cara ‘duel’ di zaman itu. Kalau di abad 19 duel menggunakan pistol atau pedang, di sini duel menggunakan mobile suit mecha! Suer deh, serasa nonton Gundam/Evangelion nyasar! :D Menariknya, meski teknologi dan gadget high-tech betebaran, tren fashion dan gaya hidup justru berkiblat ke tahun 1920-an (pasca PD I). Menurut saya, setting yang bisa dibilang ‘tabrakan’ ini adalah daya tarik segar, mengingat dari segi plot kurang lebih sama dengan versi novel. Tetapi, kadang saya merasa ada technology gap, seperti saat Eugenie menerima surat dari New York Conservatoire, yang diposkan manual layaknya surat biasa; ataupun saat Franz pergi ke Marseille naik kereta yang ditarik lokomotif yang tampangnya gak jauh beda dengan lokomotif uap biasa.

Daya tarik segar lainnya datang dari segi visual grafis. Efek rendering layer photoshop yang digunakan untuk tekstur pakaian, motif wallpaper rumah, sofa, maupun warna rambut pasti langsung menyengat mata. Mulanya mungkin agak bikin sakit mata, terutama di scene karnaval, malam hari dengan konsep spotlight yang kontras (di episode-episode awal di Luna). Eits, jangan mutung dulu. Cobalah dinikmati, karena di episode-episode berikutnya efek itu lebih soft, karena kebanyakan scene siang hari. Selain masalah tekstur, animasi 3D yang dipakai untuk latar belakang juga oke punya. Bagian favorit saya adalah penggambaran rumah Count, lengkap dengan laut buatan dan rangkaian tata surya buatan.

Saya memang tidak update masalah anime, tapi Gankutsuou adalah sebuah karya yang patut menerima acungan jempol. Dua bahkan, dari saya. Salut buat GONZO! Perpaduan cerita yang penuh intrik dengan visualisasi grafis yang unik, apalagi yang kurang? Tinggal bagaimana kita menikmatinya saja.

Fuih, selesai sudah review semi fangirling ini :D

September 15, 2008

Review: Mock Turtle Soup

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:19 am

Judul: ikasama umigame no Soup (Mock Turtle Soup)
Manga-ka: Kusumoto Maki
Volume: 1 [tamat]
Penerbit: Shinsokan [Japan]
Tahun: 1998

recipe:
Turtle Tears……………………………………… 3 drops
Eye of Newt…………………. Shelled and sliced thin
Dead Man’s Toes…………………………….. 13 digits
Crushed Tiger Beetle powder… 33 1/3 teaspoons
Hemlock (fresh)………………………….. Just enough

(if the above are difficult to obtain, you may substitute in “hundred year poison”.)

Mengharap sesuatu yang biasa dari Kusumoto Maki-sensei tampaknya akan sia-sia. Dari 3 karyanya yang saya baca, tak satupun yang bisa disebut “wajar” *mungkinkah karya-karya awal sensei lebih normal??? -_-;;* Mock Turtle Soup berisi 8 cerita SANGAT pendek tentang cinta: Chocolate love, girls’ love, summer love, fairytale love, unrequited love, bread love, reincarnated love, dan finding true love. Kalau memandang tiap cerita sebagai fragmen-fragmen yang tidak berhubungan, kemungkinan besar kita akan kecewa. Karena – seperti yang sudah saya bilang – cerita-cerita di sini SANGAT pendek, beda dengan Dolis atau K no souretsu yang memang punya plot. Malah lebih tepat dibilang prosa daripada cerita. Mungkin kalau kita coba menikmatinya sebagai satu kesatuan, kita bisa merasakan keindahannya. *Kasarannya, mending gak usah dipikir deh. Baca dan terima aja. Dengan begitu lebih kerasa indahnya*

Beda lagi kalau bicara soal artwork. Buat saya pribadi, inilah alasan utama saya baca manga ini. Seperti biasa, kusumoto sensei tidak mengecewakan kalau menyangkut artwork. Lebih lagi, manga ini full-color! Penempatan panel yang tidak wajar, gaya minimalis, taburan warna-warni di background; hal ini makin menguatkan kesan pada diri saya bahwa Kusumoto-sensei “cuma” ingin bereksperimen seni daripada membuat manga dengan plot yang solid. Kalau boleh jujur, saya anggap gaya gambar sensei (dari segi character/style) tidak sedahsyat beberapa manga-ka lain, tetapi saya amat mengagumi bagaimana sensei menempatkan gambarnya ke cerita yang tepat. *kadang suka sensi juga sih. Masa satu halaman segede gitu cuma gambar ilustrasi orang satu-dua biji, satu-dua balon kata, sisanya maen blocking warna ato maen tekstur*

Secara umum, saya lebih merasa membaca sebuah buku kumpulan puisi dengan gambar ilustrasi yang sangat bagus daripada membaca sebuah manga dengan cerita tertentu. Saya sadar, manga ini bisa jadi terlalu aneh atau terlalu menarik. Kalau Anda tanya saya, sampai sekarang saya belum pernah merasa rugi telah membaca karya Kusumoto Maki. Yah, semuanya tergantung pada pembacanya. Take it or leave it.

nb: sekedar saran. Coba baca ini sambil dengerin Sakana-nya Shiina Ringo :D

Downloadble: Storm in Heaven

Juli 15, 2008

Review : The Janissery Tree

Diarsipkan di bawah: buku — Tag:, , — crappuccino @ 11:39 am

Judul : The Janissery Tree
Pengarang : Jason Goodwin
Tahun : 2006

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk membeli buku ini adalah istilah “novel detektif” yang nangkring dengan manisnya di sampul depan novel berwarna ungu terong tersebut. Meski sempat ragu karena latar belakang negara Turki yang digunakan (saya biasanya sering mumet kalau membaca sesuatu yang berhubungan dengan Timur Tengah dan sebagainya), toh buku itu tetap juga berpindah tangan ke tangan saya.
Dan, ALHAMDULILLAH, saya nggak menyesal membeli buku ini *senyum bahagia*

Cerita bersetting di Istanbul, Turki, sekitar tahun 1830-an. Sudah sepuluh tahun sejak pemberontakan pasukan militer Istanbul terjadi, dan Istanbul pun menjadi makin sibuk. Sebagai kota yang merupakan salah satu titik pusat perdagangan dunia, Istanbul menjadi magnet banyak negara untuk melakukan kerja sama dalam perdagangan.

Kisah dimulai ketika Yashim, seorang kasim, dipanggil untuk menangani dua kasus sekaligus : hilangnya 4 perwira pasukan militer kesultanan (Garda Baru) dan misteri matinya seorang calon selir dari harem istana. Sebagai seorang kasim yang telah memiliki banyak pengalaman, Yashim memiliki kelebihan yang diakui oleh pihak istana : pengetahuannya yang luas, dan kehadirannya yang tidak pernah mencolok, sehingga memudahkannya untuk bergerak mencari informasi.

Dengan kemampuan yang dimilikinya, Yashim pun bergerak perlahan untuk memecahkan kedua misteri tersebut. Apalagi satu demi satu perwira militer yang hilang itu ditemukan tewas mengenaskan.

Perjalanannya dalam menemukan jawaban mengantarnya pada suatu kemungkinan baru : bahwa semua pembunuhan perwira-perwira militer tersebut dilakukan oleh mantan pasukan militer kesultanan yang bernama Yenicheri. Pasukan Yenicheri diluluhlantakkan oleh kesultanan sekitar sepuluh tahun sebelumnya, ketika mereka melakukan pemberontakan kepada kesultanan.
Apakah benar Yenicheri berada di balik semua pembunuhan itu? Lalu apa pula penyebab kematian si calon selir yang telah disebutkan sebelumnya? Mungkinkah ada hubungan antara kematian empat perwira militer tersebut dengan kematian si calon selir?

Seperti sudah saya bilang, saya mengharapkan sebuah kisah detektif di buku ini, dan saya menemukannya. Cara buku ini bercerita mungkin tidak sama dengan novel detektif lain yang sering saya baca, tapi saya cukup menikmatinya. Di buku ini ada suatu proses mencari, mengumpulkan petunjuk, dan menganalisa : rincian kegiatan yang dilakukan seorang detektif.
Yashim, sebagai tokoh utama dalam buku ini, benar-benar mencuri hati saya. Sejak awal dia sendiri mengakui bahwa dia hanya setengah laki-laki : dia tidak sempurna. Toh, di perjalanannya mencari kebenaran, dia menyadari bahwa seorang kasim pun bisa berbahagia (dia bertemu dengan seorang Rusia yang memikat.. Hmm…nakal yah Yashim…). I love him!

Selain Yashim, dan juga alur ceritanya, yang saya suka dari novel ini adalah selipan kisah-kisah sejarah mengenai Istanbul dan pertempuran yang terjadi. Saya tidak begitu tahu tentang sejarah, tapi bisa saya bilang kalau saya cukup percaya dengan rentetan kisah yang dipaparkan oleh Goodwin.
Yang mungkin agak mengganggu bagi saya adalah terjemahan dari buku ini (ada beberapa istilah yang saya bingung artinya, dan kadang-kadang ada kalimat yang rasanya kurang pas). Selain itu, saya juga agak bingung membaca penggambaran daerah-daerah atau lokasi di dalam cerita. Tentu saja, bukan berarti Goodwin jelek dalam menggambarkannya. Mungkin saja saya yang kurang punya imajinasi dalam membayangkan lokasi di kota seperti Turki, hehehe…..

Oiya, satu lagi yang agak mengganggu buat saya : endingnya! Meski akhirnya dijelaskan bahwa si Mr. X lah dalang dari semuanya (rahasia ya, hehe…), tapi penjelasannya terlalu singkat!!! Masa cuma dijelaskan dalam satu scene antara si Yashim dan ibu suri (kalo di novel namanya valide sultan)? Kurang mantap deh menurut saya…. Mestinya dia bisa menggambarkan seberapa kompleks konspirasi kejahatan yang dilakukan.

But overall, saya puas terhadap novel ini. Tadinya saya mau nyicil novel ini selama beberapa hari (karena kepikiran team building), tapi ternyata 2 hari dah kelar, hehehe…. Buat mereka yang suka novel detektif, rasanya ini bisa jadi salah satu bacaan yang mengasyikkan.

Note :
Akhirnya…akhirnya bisa update juga di crappu, hehehe…

Mei 30, 2008

Review: Camelot Garden

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 5:56 am

Judul: Camelot Garden
Manga-ka: Yuki Kaori
Volume: 1 [tamat] – oneshot
Penerbit: Betsuhana Magazine [Japan]
Tahun: 2008 [Japan]

She look’d down to Camelot.
Out flew the web and floated wide;
The mirror crack’d from side to side;
‘The curse is come upon me,’ cried
The Lady of Shalott.

- “Lady of Shalott” by Alfred Tennyson -

Ketika membuka mata, Ryu terbangun di Camelot Garden. Di dunia yang merupakan personifikasi kartu remi itu, Ryu eksis sebagai pengganti kartu enam sekop yang mati terbunuh oleh Joker. Selain namanya, satu-satunya yang Ryu ingat adalah ia harus mencari seorang gadis bernama Claribel. Yah, di dunia itu memang ada Claribel, tapi Claribel adalah seorang cowok! Claribel di sana adalah “White Card”, satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan luka semua penghuni Camelot Garden. Bersama Claribel dan Gideon si Raja Sekop, Ryu bertekad memecahkan misteri Camelot Garden, dunia di mana mereka dilarang melihat wajah junjungan mereka, Lord Adonai.

Di karya terbarunya, Yuki Kaori-sensei kembali memukau saya.. lewat sebuah oneshot! Personal saja, biasanya tidak banyak oneshot karya Yuki Kaori-sensei yang saya suka (paling banter Bloodhound dan Boys Next Door), karena kok saya merasa sensei berusaha menjejalkan begitu banyak hal sedangkan jatah halamannya tidak banyak. Tampaknya hal ini tidak berlaku untuk Camelot Garden. Plotnya jelas, tidak terburu-buru, dan diakhiri dengan pas pula. Mungkin karena manga ini cukup panjang untuk ukuran oneshot (total 92 halaman)? Mungkin karena ceritanya juga tidak rumit-rumit banget? Entahlah. Yang jelas, manga ini cukup “kena” buat saya. Saya suka sekali ide menggabungkan antara dunia kartu dengan puisi Lady of Shalott-nya Tennyson. Hehe, kalau mau iseng sih, setting cerita ini lumayan bisa dikembangkan jadi game RPG, soalnya ada sistem “naik-turun tingkat”, healer, dan “job description“.

Masalah artwork, saya no comment. Mau ngomong apa lagi? Yuki Kaori gitu loh! :D

Downloadable: Mangatraders, Aerandria

Mei 28, 2008

Review: R.I.P

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 3:37 am

Judul: R.I.P. (Requiem In Phonybrian)
Manga-ka: Mitsukazu Mihara
Volume: 1 [tamat]
Penerbit: Tokyopop [US]
Tahun: 2006 [US]

Apa yang kiranya dilakukan seorang malaikat yang bosan? Transylvanian Rose punya jawabnya. Saat menjalankan tugasnya menyucikan arwah, Rose bertemu dengan sesosok arwah yang mati bunuh diri. Rose memberikan satu sayapnya, membangkitkan arwah itu dan menjadikannya binatang peliharaan sekaligus partner tugasnya. Sebaliknya, si arwah – yang dinamai “Undertaker” oleh Rose – justru sangat ingin mati. Sampai kapan Rose tahan bersama partner barunya ini, yang terjebak diantara hidup dan mati?

Meski ide ceritanya cukup bagus, pada dasarnya sih klise. Pasangan kekasih; si cewek sakit lalu meninggal, si cowok putus asa kemudian bunuh diri. Sampai separuh buku pembaca pasti sudah bisa menebak arah cerita. Kisah-kisah seputar arwah lain yang disucikan diulas *halah* dalam chapter singkat dan tidak begitu ditekankan. Justru cerita berpusat antara Rose dan Undertaker; tentang siapa sebenarnya Undertaker, hubungan Rose dengan Undertaker, dan bagaimana reaksi teman-teman malaikat Rose. Satu yang saya suka, tidak ada romance yang berkembang antara Rose dan Undertaker. *kalo sampe iya, cerita bakal lebih klise lagi. Jangan sampe lah!*

Beda lagi kalo soal artworknya. Di sinilah letak kekuatan manga ini. Sebelumnya, saya pernah baca oneshot karangan Mitsukazu-sensei yang berjudul Kyuuketsuki to Boku (The Vampire and I), dan saya acungkan jempol untuk art-nya yang gothic abiz! Belakangan, baru saya tahu memang sensei satu ini ratunya gothic lolita. Memang, dibandingkan Kyuuketsuki to Boku, saya merasa di R.I.P. desain karakternya masih belum mantap gothic lolita-nya. Tapi style artwork-nya secara keseluruhan sudah TOP gothic lolita abiz. Terakhir dan yang paling mantap, adalah sense of fashion Mitsukazu-sensei. Dari desain baju, gaya rambut, sepatu, semuanya menyatakan alasan kenapa sensei disebut “Queen of Gothic Lolita“. Bahkan rasanya manga ini jadi ajang fashion show, dengan para karakter sebagai modelnya. Pokoknya, temen-temen yang nyari ide fashion atau cosplay gothic lolita bisa comot ide dari sini. Saya sendiri paling suka dengan baju-bajunya Rose (untuk baju cewek. Kebanyakan berupa baju terusan dengan garis pinggang tinggi, tidak lupa hiasan renda-renda) dan Quiet Noise (untuk baju cowok. Paling suka topinya). Contoh artwork bisa diliat di sini, sini, sini, dan sini.

Downloadable: Mangatraders

Mei 21, 2008

Review: Pheromomania Syndrome

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:45 am

Judul: Pheromomania Syndrome
Manga-ka: Ichiha
Volume: 10 [tamat]
Penerbit: Hana to Yume [Japan]
Tahun: 2002

All the while I was (I was watching Keishi’s ass, desperately trying to control my own desires of touching it, and that was when I saw your hand slide from the top to the bottom – it was obviously caressing it) watching it!!!!

Yugi Hotori dan Kagari Keishi adalah pasangan sahabat yang unik. Hotori yang perempuan punya perawakan seperti cowok yang cool, sedangkan Keishi adalah seorang cowok cantik yang imut. Sebagai anak SMA yang sehat, Hotori menyukai Keishi. Masalahnya, setiap kali Hotori melihat Keishi yang muncul adalah khayalan-khayalan aneh yang makin lama makin tak terkendali (contoh: Keishi memakai bunny suit, Keishi *sensor*, me-*sensor* Keishi, dan *sensor*). Ketika curhat dengan kedua temannya, Yuna dan Sanaka, Hotori malah divonis mengidap Pheromomania Syndrome! Singkatnya, Hotori adalah pervert kelas kakap. Apakah jadian dengan Keishi adalah jalan keluar yang tepat untuk sembuh dari “penyakit” ini?

Dalam beberapa shounen manga, kita kerap mendapati bagaimana cowok berfantasi mengenai lawan jenisnya. Namun bagaimana kalau posisinya ditukar? Lewat cerita yang sinting nan kocak, Ichiha-sensei mengungkap sisi tergelap dunia fantasi seorang cewek. Atas dasar itu, saya mengklasifikan Pheromomania Syndrome sebagai “manga penuh darah”, karena banyaknya adegan mimisan di tiap chapter. Buat saya, bagian yang paling menarik adalah hubungan Hotori-Keishi itu sendiri. Mengimbangi Hotori yang setengah mati mengendalikan diri, Keishi di balik wajah imutnya justru menyimpan sejuta kelicikan untuk memprovokasi Hotori, sehingga makin lama makin tidak jelas siapa yang jadi “setan” di sini. Satu hal yang jelas adalah mereka saling menyayangi. Jujur, saya baru membaca satu volume saja karena minimnya sumber scanlation, tapi saya anggap cukup untuk men-judge manga ini sebagai manga yang oh-so-sweet manis.

Dari segi artwork, saya bilang lumayan. Tidak ada yang menonjol atau unik sekali, tapi sangat bisa dinikmati oleh pecinta shoujo manga. Manga sejenis yang pernah saya baca adalah Perfect Girl Evolution. Sama-sama tentang cowok cantik, sama-sama “penuh darah”, dan sama-sama membawa pesan “(Cowok) Cantik itu dosa”. Bedanya, kalau PGE bercerita tentang kehidupan sehari-hari Sunako dan empat sekawan bishounen (Kyohei, Ranmaru, Takenaga, dan Yukinojo), Pheromomania Syndrome lebih fokus ke perkembangan hubungan Hotori-Keishi (atau begitulah sejauh ini). Karena itu, saya bilang rating umur manga ini adalah 17+ (versi Indonesia), bukannya karena banyak adegan nyerempet, tapi lebih karena khayalan-khayalan berlebihan Hotori. Overall, saya menganjurkan manga ini buat pecinta komedi romantis (yang gila).

Downloadale: Free Manga, Shoujo Magic (mIRC)

Mei 15, 2008

Review: Concrete Garden

Diarsipkan di bawah: manga — Tag:, , — crappuccino @ 2:21 am

Judul: Concrete Garden
Manga-ka: Kotobuki Tarako
Volume: 1 [tamat]
Penerbit: Magazine Zero / BeBoy Comics [Japan]
Tahun: 2000

Toki isn’t the one eating humans. We are the ones who are sharing food. Humans feeding on humans.

Sebagai ‘hadiah’ kelulusannya, Kashii Kiyoharu diberi tahu bahwa mendiang kakeknya melakukan penelitian tentang gen malaikat. Penelitian ini bahkan sudah membuahkan hasil, yaitu seorang klon malaikat yang bernama Toki. Tugas Kiyoharu sederhana. Cukup mendampingi Toki sebagai ‘teman’-nya. Tampaknya mereka lupa memberi tahu bahwa spesies ‘malaikat’ punya selera makan yang aneh. Makanan mereka tak lain adalah… manusia.
Lewat Concrete Garden, Kotobuki-sensei menghadirkan pertanyaan “Jika manusia boleh memakan hewan dan tumbuhan karena manusia ada di puncak rantai makanan sebagai makhluk paling superior, lalu kenapa malaikat – yang notabene lebih superior dari manusia – tidak boleh memakan manusia?” Antara rasionalisme Toki dan humanisme Kiyoharu, siapa yang akan menang?

Sayangnya, kita tidak akan menemukan jawabnya di sini, karena cerita berakhir terlalu cepat. Bahkan klimaks cerita pun membuat saya cukup keki, karena ternyata dari awal yang jadi masalah bukanlah sebuah pertanyaan filosofis mengenai humanisme, melainkan sebuah ekspektasi biologis tentang reproduksi. Ini semua adalah demi memurnikan gen malaikat, mencapai ‘kesempurnaan’ yang sempurna.
!spoiler alert!
Ternyata oh ternyata, tujuan Kiyoharu dibawa ke lembaga penelitian bukan semata-mata untuk dijadikan teman Toki, bukan juga karena ia adalah cucu profesor yang ‘menciptakan’ Toki, tetapi karena Kiyoharu adalah pemilik gen malaikat ‘betina’ yang dimaksudkan sebagai pasangan Toki. Karena gen malaikat hanya bisa bertahan apabila kedua induknya adalah malaikat, maka kakek Kiyoharu menanamkan gen malaikat betina ke rahim anaknya, yang adalah ibu Kiyoharu.
!spoiler alert!

Saya mencoba maklum bahwa manga ini hanya dimaksudkan sebagai one-shot, tetapi rasanya kalau ide ini bisa dikonsep menjadi lebih matang, bisa jadi serial yang bagus menurut saya. Lagipula, akhir cerita meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak terpuaskan hanya dengan 68 halaman saja. Oke, sebelum ada yang mencak-mencak karena ini baik malaikat maupun kloning adalah topik sensitif, mari kita lihat cerita ini dari sisi lain. Manusia selalu mengidamkan kesempurnaan, bahkan lebih. Manusia ingin “menguasai” kesempurnaan.  Di sini kesempurnaan itu datang dalam sosok Toki, si malaikat. Toh, terbukti, manusia itu hanyalah serangga yang mendekati api.

Secara umum, artworknya enak dilihat. Atau lebih tepatnya, bisa dilihat. Bagus sekali sih tidak, tapi kesan unik langsung terasa. Penggambaran karakter cowok terkesan keras dan jantan, yang biasanya tidak saya suka, justru menjadi hal yang saya sukai di karya Kotobuki-sensei. Temen-temen yang suka dengan bishonen tulen mungkin tidak begitu suka dengan desain karakternya, karena yang ada hanya cowok tulen di sini (Kiyoharu sendiri lebih tepat didefinisikan sebagai cowok lembut daripada bishonen). Kadang juga terganggu dengan kesan misproporsi, contohnya perbedaan ukuran yang terlalu jauh antara Kiyoharu dan Toki. Tetapi saya suka garis-garisnya yang tegas, bersih, namun tetap terkesan avant garde. *Halah, mulai ngelantur ini*

Bagi saya, Concrete Garden adalah perkenalan pertama yang berkesan dengan Kotobuki Tarako-sensei. Style yang unik, cerita yang sinting; Kotobuki-sensei sudah punya modal untuk menyeret saya ke “kencan kedua”.

Catatan: Concrete Garden terbit sebagai tankoubon bersama cerita Clokdown. Namun di sini saya hanya membahas Concrete Garden saja.

Downlodable: Obsession, Mangatraders, Free Manga LJ Community

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.