Review: Gadis Jeruk

GADIS JERUK
Judul asli: Orange Girl
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan
Tahun: 2005

Pernah membayangkan bagimana rasanya menerima surat dari orang yang sudah meninggal? Itulah yang dialami oleh Georg ketika menemukan surat yang ditulis ayahnya yang sudah meninggal di dalam jahitan di lapisan kereta bayinya. Georg yang ditinggal mati ayahnya ketika masih bayi tidak begitu mengenal ayahnya, sampai dia menemukan surat ini. Di dalam surat itu, ayahnya menceritakan tentang kisah cinta pertamanya dengan seorang cewek misterius yang disebutnya ”Gadis Jeruk”. Siapa ”Gadis Jeruk” itu? Kenapa dia mengetahui banyak hal tentang ayah Georg?

Sekilas, saya bilang ini termasuk karya Jostein Gaarder yang cukup ringan, namun tetap menyentuh. Pembaca yang diajak larut dalam kemisteriusan si ”Gadis Jeruk”, makin bersemangat membaca lembar demi lembar. Saya juga suka bagaimana Oom Jostein ini menggambarkan tahap demi tahap Georg mengenal sang ayah. Lewat sebuah surat, hubungan batin yang semula datar-datar saja seiring berjalannya cerita menjadi semakin kuat. Kalaupun ada yang mengganggu, kebanyakan gara-gara isi surat yang sering ngelantur ke mana-mana saking tingginya imajinasi ayah yang satu ini. Satu contoh, waktu si ayah penasaran menebak-nebak si ”gadis jeruk”, hanya dengan berbekal imej ”gadis”, ”mantel anorak tua”, dan ”jeruk”; imajinasinya bisa nyasar dari seorang ibu rumah tangga dengan banyak anak sampai ke organisasi perlindungan hewan dengan misi ke Kutub Utara *literally speaking!* dan deskripsinya itu cukup makan tempat. Fuih. Saya pribadi sebagai pembaca yang sudah penasaran jadi makin gemes sama tokoh ”ayah” ini.

”Gadis Jeruk” adalah buku kedua Jostein Gaarder yang saya baca, setelah ”Dunia Sophie”. Dari kedua buku ini, saya sangat mengagumi cara penulisan Oom Gaarder yang memancing rasa penasaran pembacanya. Dengan begitu, mau nggak mau pembaca pasti membaca sampai habis (atau setidaknya sampai ”misteri”nya terpecahkan), meskipun buntut-buntutnya ternyata njeketek, alias ”misteri” itu bukan sesuatu yang luar biasa, ajaib, apalagi yaoi. Justru di situ serunya 😀 Kalau temen-temen penasaran dengan Jostein Gaarder tapi mutung melihat tebalnya “Dunia Sophie” yang penuh dengan penjelasan dan sejarah filsafat, “Gadis Jeruk” bisa jadi perkenalan yang cukup manis.

Review dari saya ini masih terlalu “dangkal” untuk sebuah karya Jostein Gaarder. Ini link review lain tentang “Gadis Jeruk”, tentunya yang lebih cerdas dan bermanfaat 😀

Iklan

4 pemikiran pada “Review: Gadis Jeruk

  1. kaget waktu buka dashboard wordpress.. kok ada yang ngelink ke blog saya, eh, ternyata ada yang ngreview Gadis jeruk juga.. hehehe.. makasih.. btw.. review saya juga masih dangkal kok utk sekelas buku2nya Jostein Gaarder. sudah baca “Maya”?

  2. hee.. aku juga kaget kok ngeliat komen ini ^^ maluuu… aku baca gadis jeruk udah hampir 2 taun lalu, jadi udah rada2 lupa waktu nulis ini, makanya banyak poin2 yg aku lupa (macem teleskop hubble, dll – yang penting2 malah)
    Aku masih berusaha namatin Dunia Sophie 😀 kalo yg “Maya” belum. Suka Jostein Gaarder jg ya?
    aku penasaran sih sama “Misteri Solitaire”

  3. baca yang “misteri soliter” dulu, nanti baru baca “Maya” ada benang merah yang tak disangka-sangka. “Maya” bisa dibilang, versi panjang dari “Gadis Jeruk”, apa yang diangkat gaarder hampir sama, tentang waktu dan kematian.

    sering-sering diupdate donk, biar saya bisa baca-baca review buku terbaru. hehehe..

  4. Hoo.. makasih infonya dan support-nya 😀
    hihi… kadang gak sempet jg baca buku2 baru, meski pingin. Jadi maap aja kalo update biasanya tentang barang2 lama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s