Review: Black

Movie: BLACK (2005)
Sutradara: Sanjey Leela Bhansali

Nasib malang menimpa Michelle McNally (Rani Mukerji/Ayesha Kapoor), yang lahir normal namun jadi buta-tuli-bisu karena sakit ketika kecil. Keluarganya tetap menyayangi Michelle, tetapi membiarkannya tumbuh menjadi anak liar tanpa sopan santun dan pendidikan. Ketika Michelle berumur 9 tahun, orangtuanya mendatangkan Debraj Sahai (Amitabh Bachchan), guru privat khusus untuk penderita buta-tuli. Debraj sendiri adalah orang yang eksentrik (dan agak alkoholik), dan memakai cara-cara yang tidak biasa untuk mengajari Michelle, demi membawa Michelle keluar dari dunianya yang gelap.

Film ini adalah sebuah film India yang sama sekali tidak seperti film India. Catat saja, durasi film yang ”cuma” 2 jam lebih sedikit, scene nyanyi yang amat minim (hanya satu, itu pun tidak pakai tari-tarian dan lagunya adalah ”L-O-V-E”-nya Natalie Cole), dan nama-nama tokoh yang kebarat-baratan. Saya melewatkan 1/3 pertama film ini (karena SCTV memutarnya secara terpisah), tapi dari sekelebat adegan akhir masa kecil Michelle, ketika Debraj menyeretnya ke pancuran air, membiarkan air jatuh ke telapak tangan muridnya, dan Michelle terbata-bata mengatakan ”Wa.. water…” itu sudah membuat saya curiga. Benar saja, dari info yang saya dapat, film ini dibuat berdasarkan film ”Miracle Worker”(1962) yang memang berdasarkan kisah hidup Helen Keller. Eits, tapi jangan salah, itu cuma di bagian masa kecil Michelle saja. Cerita selanjutnya mengenai kehidupan remaja Michelle – masih didampingi oleh Debraj sang guru. Michelle yang ingin belajar nekat mendaftar ke universitas, dan akhirnya berhasil diterima setelah melalui sesi wawancara yang mengharukan. Meski begitu, butuh belasan tahun baginya untuk lulus, karena ia kurang cepat dalam mengetik jawaban dalam ujian.

Di ending credit, mata saya tertumbuk pada sebuah kalimat: ”Directed by Sanjay Leela Bhansali”. Ealaaaah, orang ini to. Pantesss. Kalau temen-temen pernah mendengar atau menonton “Devdas” pasti mengenal nama ini. Dua hal yang paling saya ingat dari ”Devdas”: (1) Akhirnya TIDAK HAPPY ENDING *evil laugh*; (2) Sinematografinya yang keren! Gimana yah, teatrikal dan dramatik gitu. Tonton sendiri deh, saya susah jelasinnya. Pokoknya, dengan film seperti ”Devdas”, saya tidak heran kalau sang sutradara bakal membuat film yang lain daripada film India lain. ”Black” sendiri lebih menekankan hubungan antara guru-murid (Michelle-Debraj). Kalaupun ada getar asmara, itu bukanlah asmara yang simpel dan picisan, namun sebuah hubungan batin yang mengakomodir betapa luas dan universalnya cinta itu.

Saya juga kagum sama Rani Mukerji. Selama ini, saya menilai semua artis India itu sama saja. Habis, dari kebanyakan film India yang saya tonton, karakternya begitu-begitu aja. Pokoknya intinya cewek/cowok yang sedang jatuh cinta. Tapi di ”Black”, Rani membuktikan kemampuan aktingnya lewat karakter yang menantang ini. Kalau Amitabh Bachchan sih, saya no comment. Buat saya, dia adalah ”Robert De Niro”-nya Bollywood.

Iklan

5 pemikiran pada “Review: Black

  1. Aku cuma sempet nonton secuil, terus denger ceritanya dari kamu, hehe.. 🙂

    Tapi boleh juga untuk sebuah film India, paling nggak beda dan tidak ada tarian yang berlebihan.. XD

  2. lhoo.. saya orangnya terbuka kok…
    selama itu indah.. dan nikmat…. dan sebisa mungkin tidak haram hihi 😀

    heh? ada persewaan komik???? *histeris* di mana, di mana? deket tempatmu? berapaan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s