Review : “Monk”

monk.jpg

Judul Film (Serial TV) : Monk
Pemain : Tony Shalhoub
Tahun : 1998 – 2007 (season 1 – season 5)

Adrian Monk (Tony Shalhoub) adalah seorang detektif yang memiliki penyimpangan perilaku berupa OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Penyimpangan itu menyebabkan dia kehilangan lencananya di kepolisian, meski sebenarnya Monk adalah seseorang yang memiliki kemampuan analisa mengagumkan, karena ia mampu melihat hal-hal terkecil yang biasanya luput dari suatu masalah, dan pada akhirnya menemukan pelaku sebenarnya dari suatu kasus pembunuhan.

Bersama dengan asistennya (Sharona, yang kemudian diganti oleh Natalie), Monk menjadi konsultan kasus pembunuhan bagi kepolisian San Fransisco. Dalam pekerjaannya, Monk biasa didampingi oleh Captain Stottlemeyer (mantan atasan Monk) dan Randy Disher, tangan kanan Stottlemeyer yang sedikit ceroboh, namun cukup loyal pada atasannya. Maka mereka berempat (Monk, Natalie, Stottlemeyer dan Disher) pun bahu membahu bekerja sama dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan yang rumit dan penuh intrik.

Saya pertama kali mengenal Monk sekitar 3 tahun yang lalu, saat salah satu televisi swasta memutar serial TV menarik ini. Karena penasaran, saya meminta adik saya untuk berburu Monk (langsung beberapa season), dan Voila! Saya tidak kecewa sedikit pun dengan serial TV ini.

Yang paling saya kagumi dari serial ini tentu saja cara kerja Monk; bagaimana ia memperhatikan detil terkecil dari suatu TKP atau keterangan seorang saksi dalam suatu kasus; bagaimana ia mengaitkan satu fakta yang ia temukan dengan fakta lain yang, secara umum tampak tak berhubungan, tapi ternyata memiliki hubungan tersembunyi. Saya juga jatuh cinta pada OCD yang diderita Monk. Meski kadang tampak menyedihkan, saya rasa OCD itu sedikit banyak membantu Monk dalam menjalani hidupnya, karena memang itulah dia seutuhnya. Monk tanpa OCD-nya justru mungkin tidak akan menjadi Monk yang mampu menyelesaikan kasus secara brillian.

Dari season 1 hingga season 5, harus saya akui bahwa saya sangat terkesan pada season 1 dan 2. Pada season itu saya merasa seperti berkenalan perlahan dengan Monk, dan mencoba memahami seperti apa sosok Monk itu. Season 3 dan 4 cukup baik, meski agak sedikit membosankan pada bagian tengah. Sedangkan season 5 memberi efek yang sama dengan season 1 dan 2, membuat saya kembali jatuh cinta, dan mengingat kembali bahwa ini lho, Monk yang saya sukai dan cintai tersebut.

Bagi mereka yang menyukai segala sesuatu berbau detektif (seperti saya :D), Monk dapat menjadi salah satu alternatif tontonan yang mengasyikkan. Memang, Monk tidak seserius CSI, tapi percaya deh, tidak ada ruginya menonton Monk. Seru, lucu, dan menyegarkan.

Iklan

2 pemikiran pada “Review : “Monk”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s