!Crap: nembak semut kok pake senapan angin?

Film FITNA memang menyinggung banyak orang (di Indonesia), tapi kalau kemudian solusi yang diimplementasikan *cieeeh… bahasa apa ini??* justru menyinggung lebih banyak orang (di Indonesia), saya rasa perlu dipikirkan lagi. Saya mengerti alasan pemerintah memblokir kedua website di atas adalah untuk mencegah peredaran film FITNA. Masuk akal sih, karena menyebar kebencian itu bukan hal yang baik. Tapi pemblokiran akses ke youtube dan multiply rasanya tindakan preventif yang berlebihan, bahkan cenderung parno. *Amerika yang terkenal parno aja gak seekstrim ini*

Saya sadar, bahwa interet adalah sebuah ranah publik. Mengutip perkataan seseorang, “Menulis/menyebarkan sesuatu di internet sama dengan kamu teriak-teriak di Bunderan HI”. Karena itu, perlu kedewasaan dari yang menulis/meng-upload maupun yang mengakses. Buat saya, ada tanggung jawab moral jika seseorang menuliskan opininya di internet, karena apa yang ditulis statusnya bukan hanya “sekedar mengungkapkan isi hati”, tapi juga “opini yang bisa mempengaruhi publik”. Kebebasan berekpresi memang penting, tapi perlu dipikirkan juga efeknya terhadap yang membaca. Apakah yang ditulis itu sudah dengan dasar-dasar yang kuat, atau cuma asal bunyi? Kalau topiknya tidak berbahaya atau nggak penting *seperti crappuccino ini. hehe* mungkin tidak masalah. Kalau sebaliknya?

Di sisi lain, kayaknya sudah jadi mentalitas manusia (baca: orang Indonesia), bahwa semakin dilarang semakin jadi. Dengan membuat kebijakan yang bersifat “negasi” (jangan begini, dilarang begitu, dll) justru malah makin membuat orang penasaran. Sekali lagi, internet adalah sebuah zona abu-abu, dimana segala sesuatu itu punya mudharat dan manfaat yang (ada kalanya) sama besarnya. Tanggung jawab mengetahui resiko dan baik/buruk konten sebuah website ada di tangan browser. Saya rasa, sense inilah yang perlu dibina sebagai solusi jangka panjang, bukan “menambal” masalah dengan pemblokiran website.

– sampe LJ diblokir aku sumpahin bener tu Depkominfo! –

Iklan

10 pemikiran pada “!Crap: nembak semut kok pake senapan angin?

  1. Aku juga kaget ki. Kalo aku sih, asal masih bisa googling sante aja. Hehe. Kalo mau yg lebih ekstrim harusnya blokir produk belanda aja, hehehe. Aku dapat info dari temenku, katanya di Belanda sekarang jg lagi rame. Dan tahu ga? Perpustakaan di Amsterdam malah rame dikunjungin orang krn pengin tahu banyak ttg Islam. Dan katanya juga ada beberapa orang Belanda yg masuk muslim krn kejadian ini. Ga hny sisi negatif aja kan? Semua kejadian terjadi karena ada alasan..

  2. iaku sendiri jg kebetulan jarang ngakses multiply ama youtube. Sempet baca2 di wordpress, katanya justru orang Belanda jg banyak yg marah.

    Kadang2 Mpok, aku kira itu berkaitan dengan sikap beberapa “oknum” umat muslim sendiri, sampe Islam dicap agama yg “eksklusif”. Gimana tuh mpok? padahal harusnya kan Islam itu “rahmatan lil alamin”.

  3. Hehehehe….ketahuan deh nggak pernah update. Abis gimana chan, wong kabel LAN-nya gantian ama bosku!!! Nggak bisa ol sering2 deh…….. :(((((

    Btw, ki, ttg beberapa muslim yg kamu bilang terkesan ‘eksklusif’..
    Ya berarti tugas kamu utk menunjukkan bahwa Islam itu nggak kaya gitu. Terserah dgn cara apa, nulis di LJ kek, apa kek…
    Sebenarnya semua itu kembali ke orangnya kok. Apa dia cukup BERPIKIRAN LUAS untuk bisa menerima semua pengetahuan, dan kemudian menyaringnya; atau buru2 BERPIKIRAN SEMPIT sehingga apapun yang sebenarnya baik, terlihat jelek.

    Capek deh..

  4. @mbe: hihi… takutnya mbe… kalo AKU yang nulis di LJ, tar citranya tambah hancur… hihihihi… pikirannya terlalu terbuka kalee.. sampe pemikiran2nya pada kabur…

  5. Hehehe…sama kok kaya aku. makanya kita harus lebih banyak mengorek informasi dan pengetahuan Ki, biar tahu mana yang bisa diambil dan mana yang nggak.

    jadi inget istilah buku adalah jendela dunia, hehehehe…….

  6. Bagi muslim, point yg paling penting adalah memahami agamanya. Di film itu digambarkan wanita yg dihukum rajam. Emang bener. Tp, ga sembarang orang, siapa wanita yg patut dihukum rajam? Ketika muslim tahu alasannya suatu hukum, liat film fitna, ya fine2 aja. Itu Islam, dan (bagiku) itu nilai positif ben ga ada zina dll. Begitu jg dgn jihad, dsbnya… Bener katamu ken, belajar, belajar, korek ilmu.. šŸ™‚

  7. Bener banget. Dengan banyak belajar, kita akan punya dasar ketika mengucapkan atau berpendapat akan segala sesuatu. Nggak kaya itu tuh *tunjuk2 wilder yg entah ada di mana*, asal bikin film tanpa ilmu yang jelas.

    Sayangnya, masih banyak orang enggan untuk belajar tentang Islam. Heran… Seberapa alergi sih mereka belajar Islam??

    Buat hanim.. salam kenal yak!!!! šŸ™‚

  8. @mbe: cieee… yang baru dapet akses internet… šŸ˜€

    eh, tiba2 jadi punya pikiran aneh nih…. (sebenernya sih berhubung saya agak kesel karena ada orang2 yang saking sebelnya sama P Nuh sampe bawa2 nama ITS segala) banyak yang bilang kebijakan pemblokiran ini gara2 adanya “tekanan” dari “atas”.
    Mungkin gak sih pemblokiran ini suatu taktik mengalihkan perhatian dari film FITNA. Soalnya kebencian masyarakat kan jadi beralih dari Belanda/Greet Wilder/orang bule jadi ke…. pemerintah Indon!
    Kalopun ntar blocking-nya dibuka lagi, paling orang2 sudah lupa sama FITNA. hmm.. saya terlalu parno kali ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s