Review: Fairy Cube

Judul : Fairy Cube (Jepang: Yousei Hyouhon)
Manga-ka : Yuki Kaori
Volume : 3 [tamat]
Tahun :2005

Punya kemampuan melihat peri, punya ayah yang tertekan karena kehilangan istri, dan punya “kembaran” berwujud roh yang sangat membencinya — apalagi yang dibutuhkan Hasumi Ian? Di sisi lain, Ishinagi Rin punya ayah yang workaholic, ibu yang abusif, dan ingin lari dari dunia. Keduanya bertemu, bersahabat, dan saling suka. Mungkin cerita ini akan berhenti sampai sini saja kalau tidak terjadi kematian-kematian misterius di kota mereka. Semua korbannya mengalami cedera tulang punggung yang parah, sehingga darah berceceran dari luka di punggung mereka membentuk siluet sayap — seperti peri. Suatu hari, Ian tidak sengaja melihat Kaito di tempat pembunuhan, dan memutuskan membuntutinya. Pengintaian itu membawanya ke sebuah toko milik Kaito, yang kemudian memberinya sebuah fairy cube, sebuah kristal amulet yang berisi miniatur hewan yang diawetkan. Siapa sangka, fairy cube adalah jawaban dari deretan kematian misterius yang terjadi. Selesai sampai di situ? Tentu tidak. Justru fairy cube adalah awal dari terbongkarnya misteri di sekeliling Ian, sekaligus menandai revolusi kaum peri untuk mengambil alih dunia manusia.

Sekali lagi, Yuki Kaori-sensei mempesona pembacanya lewat artwork yang khas, karakterisasi yang kuat, dan ending yang penuh kejutan. Dari segi gambar, dalam serial ini kita akan menemukan style Yuki Kaori-sensei yang bernuansa gothic, namun sudah jauh lebih stabil dibandingkan dengan Angel Sanctuary (volume-volume awal). Selera fashion sensei juga tetap tak mengecewakan, terutama bagi penggemar gaya gothic lolita dan j-rock fashion. Mengenai karakterisasi, entah kenapa saya merasa banyak “jejak” Angel Sanctuary di sini: hubungan orangtua-anak yang tidak harmonis, crossdresser, kasih tak sampai, benci tapi sayang/sayang tapi benci, serta “dunia milik berdua, yang lain ngontrak”. Meski begitu, sensei membangun semuanya dalam frame dan pengembangan yang berbeda dari Angel Sanctuary. Satu lagi yang saya suka dari Yuki Kaori-sensei adalah jalan cerita. Yang mulanya kelihatan simpel, bisa dikembangkan menjadi sebuah alur yang saling mengaitkan tokoh-tokohnya seperti sebuah jaring laba-laba (intinya, semua tokoh itu saling berhubungan dan akhirnya muter-muter aja gak keruan). Nilai plus lain adalah referensi mengenai jenis-jenis peri dan monster cukup kuat, dan kebanyakan berasal dari legenda Irlandia atau Yunani.

Sayangnya, tampaknya cerita ini terlalu panjang untuk dijejalkan ke dalam 3 volume saja. Mungkin maksudnya ingin memperkuat karakter dengan mengeksplorasi masa lalunya, tetapi itu malah melemahkan pengembangan karakter itu sendiri (atau bahkan karakter lain) dalam jalannya cerita. Meskipun pendalaman karakter ini ada hubungannya dengan ending-nya, namun kadang justru membuat alur terasa dibelokkan begitu tajam dan membuat pembaca bingung. Ambil contoh, karakter Ian yang semula hanya memikirkan “asal Rin dan aku selamat, aku gak peduli dunia mau ancur” digambarkan menjadi lebih dewasa dengan berpikir untuk “mencari cara agar baik dunia maupun Rin bisa selamat”. Tetapi, saya hampir tidak merasakan bagaimana proses pendewasaan berjalan. Saya perhatikan, ini sering terjadi di karya-karya awal Yuki Kaori-sensei, yang kebanyakan memang one-shot (ya mana cukup lah, one-shot mau pendalaman karakter). Di sisi lain, saya juga tidak tega membayangkan kalau memang cerita ini diperpanjang bisa sampai berapa volume, kalau ingat untuk mencapai “keutuhan” baik jalan cerita maupun karakter, Angel Sanctuary saja butuh 20 volume (dengan catatan tokohnya hampir duapuluh orang).

Secara keseluruhan, Fairy Cube cukup lumayan untuk ukuran Yuki Kaori, dan bisa jadi bacaan yang menarik untuk penggemar mystery-romance. Namun, sementara ini manga ini hanya tersedia dalam bentuk softcopy, alias download. Hehe. Padahal menurut saya manga ini cukup layak diterbitkan di sini. Tampaknya Gramedia cukup berbaik hati dengan menerbitkan serial ini di Indonesia. Ok, ok, so… selamat membaca! *udah tamat lageee!*

Iklan

11 pemikiran pada “Review: Fairy Cube

  1. Nggak suka manga Yuki Kaori. Terlalu kelam, nggak ada ceria-cerianya. Nggarai stress. Pusing bacanya. Angel Sanctuary aja cuma tahan baca 1 volume.

    Intinya : cih! XDDDD

    Huekekekeke..
    Bercanda ki, tp ak emang nggak dapet manganya Yuki Kaori sensei sih…

  2. Yah, emang rada mbulet sih, soalnya dia menjejalkan materi 5 volume jd 3 volume. Tapi akhirnya happy ending kok. Lumayan setimpal. Huehehe…

  3. Kamu kasi review komik yg nyantai tapi asik dong..
    ..yang normal asal, huekekek.. 😛
    Aku lagi blank nih.. Mau review apa? Orang nggak ada apa-apa di kosku,,, T^T

  4. apa lho?
    saya sekarang sedang seneng sama MPD Psycho… apanya yang normal?

    Review “The Goal” dong! Kan belum banyak yang tau di sini. Itu referensi yang bagus banget loh ^^

  5. @sibermedik: halah, gaya ini! yah, memang nge-blog terus itu g bagus, tapi kalo emang pingin posting, posting aja, terutama ttg sesuatu yg bersangkutan dg hajat hidup orang banyak.

    okeh.. jaga diri ^^

  6. emaaaaak *hugz hugz*
    sukanya yg suram2 yah..
    iya seh, fairy cube itungannya “biasa” dibanding karya Yuki-sensei yg lain 😀

  7. Yea.. tapi lumayaaaan.. ada penyegaran… wes suwe gak ndelok punya yuki kaori.. gambarnya di atas rata2 sih (jauh!)
    Ternyata kuching udah pernah gitu tha? Oh boy…
    Blm ada q-bordis…
    Terancam maen 4 orang neh, Dom juga mau ke aceh..

  8. tul.. tul… aku pengen “Bloodhound” juga diterbitin di Indon.. si Suou keren ^^b
    kucing dulu pernah lupa TM kalo g salah.. jadinya TM kesiangan… ya perasaan waktu qta maen di Unesa itu, makanya qta dapet giliran band pembuka bintang tamu 😀

    mukyaaa… Kakang jadi ke Aceh? wah, cinta tanah aer dia 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s