!Crap: Hikaru Genji dan Tantei Aoneko

Sebenernya saya belum pernah baca Genji Monogatari sih, karena selain gak diterbitkan di sini, ceritanya panjaaaang dan lamaaaa dan itu novel klasik. *mungkin kayak baca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk tapi lebih panjang kali ye?* Tetapi, cerita ini sudah sering muncul baik dalam manga, film, atau opera; dalam bentuk adaptasi dari cerita asli, atau dipakai sebagai latar belakang cerita saja. Pertama kali saya mengenal Genji Monogatari adalah dari manga Midnight Moon terbitan Gramedia (kalau gak salah). Kesan pertama saya mengenai mas Hikaru Genji (tokoh utama Genji Monogatari) ini adalah playboy cap kapak. Singkatnya, ia adalah seorang pencinta. Saya gak bisa mengerti, bagaimana bisa ia mencintai SEMUA wanita yang dipacari (dan dinikahi) olehnya. Sekilas, saya heran apa maksudnya novel yang lebih mirip jurnal playboy ini?

Setelah semua caci maki itu, beberapa waktu kemudian saya bertemu lagi dengan Genji Monogatari di manga Gekka no Kimi. Mungkin karena di situ karakter Genji digali lebih dalam, dan kali ini lebih fokus pada satu wanita, yaitu Murasaki no Ue. Dari situ, saya mulai menyadari bahwa Genji adalah karakter yang menarik dan kompleks. Kecintaannya pada para wanita itu mungkin adalah pelampiasan dari cintanya yang tidak kesampaian pada ibu tirinya – Fujitsubo – yang cuma beberapa tahun lebih tua darinya. Kalau dipikir, betapa menyedihkan ya, orang yang bisa mendapatkan semua wanita tapi satu-satunya yang diinginkan malah tidak mungkin didapat. Lagipula, saya mendapat kesan bahwa meski Genji itu playboy, tapi ia adalah seorang “playboy sejati”. *hoho.. apa pula itu?* Maksudnya, dia tidak “mempermainkan” para wanita itu. Ya, dia cinta, cuma yang dia cinta banyak. Paradox memang.

Lalu, lalu, apa maksudnya entri ini? Sebetulnya, kemarin malam saya dan Niken – dua orang kurang kerjaan – sedang membicarakan Tantei Aoneko (Detective Bluecat) karangan Motoni Modoru. Manga ini adalah manga yang meski saya acungi jempol dari segi artwork, tapi saya tidak suka ceritanya. Alasan utamanya, tentu saja, karena Bluecat tidak punya pasangan tetap! Tapi barulah saya “ngeh” bahwa karakter Bluecat itu seperti analogi dari Genji. Coba, cinta pertamanya adalah seseorang yang lebih tua, dan Bluecat sendiri adalah orang yang selalu mencari figur ayah. Kemudian deretan kekasih-kekasih Bluecat, dari yang lebih muda, lebih tua, properti orang, anak angkatnya, semua ada. Dan Bluecat adalah seorang yang tampan, cerdas, pintar, dan berkuasa; mirip seperti Genji.

Jadi, inti dari semuanya adalah, cuma mau bilang, ini seperti versi yaoi dari Genji Monogatari.

– langsung kabur sebelum ditendang Niken –

Iklan

12 pemikiran pada “!Crap: Hikaru Genji dan Tantei Aoneko

  1. XD

    *tendang haru*
    Waktu baca judulnya sih udah agak tertarik.. tapi begitu baca BLUECAT di bagian bawah… *geleng2 kepala*

    Itu salah satu manga paling nggak jelas dan imoral yang pernah aku baca.. (satu level di bawah jillbird deh..)

  2. dari segi cerita sih mungkin iya. tapi artworknya itu bagus.. jadi agak dimaklumi dikit lah.
    lah kamu… Tantei Aoneko itu ya Detective Bluecat dul!

  3. Aku kan cuma hapal si Bluecat. Udah lupa bhs.jepang tuh.. *siul2 ga jelas*

    XD

    Eh, ki, gmn sih upload avatar yg bener?Aku udah upload, tapi kok ga nongol2 ya????

  4. gak tau mbe, kali aja wordpress-nya sensi ama kamu 😛
    FAKTOR WAJAH itu!

    btw btw, temenku ngajak nonton festival film perancis besok. Uwaaaah… sayang banget film2 yang aku pengen justru udah kelewat jadwalnya T____T mana bayar pulak! Tapi rencana nonton sih 😀

  5. asli … ini cerita paling kompleks yang pernah saya baca. dulu nemu manganya (cuma volume tertentu, dalam bahasa aslinya) di perpustakaan Japan Foundation.

    awal-awal juga eneg kok ceritanya parah begini, udah gitu agak-agak kesian sama Murasaki no ue. si Genji ini dibilang immoral prince, iya juga (tega-teganya cari pelampiasan sampai sebanyak itu perempuannya), tapi kok kesian juga sama nasibnya (cuma saya paling simpati sama Murasaki no ue). tapi terus terang saya benci sama tokoh Fujitsubo, ngga tau kenapa, saya ngerasa sih kayanya ini biangkerok permasalahan si Genji. kalau dulu Fujitsubo mau jadi pengganti ibunya Genji, mungkin si Genji ga bakalan sampai seimmoral ini? probably. 😦

    novel sensasional memang.
    tapi memang hebat sih pengarangnya (Murasaki Shikibu), mengaduk-aduk perasaan pembaca. sayangnya bahasa Jepang saya ga kuat, pernah baca terjemahan Inggrisnya, dan agak-agak membingungkan, soalnya memang susah sih ungkapan di novelnya puitis gitu kan …

    tapi waktu baca scanlation Gekka no Kimi, kok rasanya agak-agak terhibur … 😛 mungkin karena saya supporter Murasaki no ue. 😉

    makasih udah nulis artikel ini, jadi nostalgia lagi sama Genji Monogatari. 😛

  6. wah, makasih komennya, Saudara dibusek! ^^ *terharu karena ada yg komen*

    wuaaah beruntung banget pernah baca versi Jepangnya. Aku sempet cari2 info di wiki, dan kalo gak salah itu lumayan banyak (berapa puluh volume gitu), dan itu cukup mematahkan semangat buat baca. 😀 gak kuat baca panjang2 seh ^^

    Aku setuju kalo “biang kerok”-nya adalah Fujitsubo. Mungkin aku bakal lebih seneng kalo cinta Genji tetep jadi unrequited love, gak usah sampe punya anak segala sama Fujitsubo. *Gila, kalo itu dibikin soap opera/sinetron pasti asyik d*

    – haru

  7. iya, Genji Monogatari ada sekitar 50an chapters (apa volume ya?), itu saya hitung terjemahan novelnya. ada yang bilang itu pun masih ada missing chaptersnya. 😛

    baca novelnya mah bener-bener butuh ketabahan. LOL. saya aja masih harus baca ulang (karena waktu itu banyak yang diskip saking ga tahan si Genji banyak perempuannya, jadi lebih fokus ke beberapa aja, terutama yang ada Murasaki no ue.)

    tapi kalo dipikir-pikir, buat yang serius (dan terutama … tabah!) baca versi Jepangnya (yang ada romanization segala) sambil dicompare ke terjemahan Englishnya, mungkin bisa jadi jago bahasa Jepang (klasik) seselesai baca novel ini kali ya? huahahaha …

    tapi terus terang saya kaget, ternyata sekolah di Jepang rata-rata memasukkan karya ini sebagai pelajaran wajib di sekolah menengahnya. ini pun saya nyadarnya pas baca Gekka no Kimi (yang cihui! saya dapet both RAW Japanese n English scanlationnya). terus terang, saya terobsesi bahasa Jepang gara-gara Genji Monogatari lho. v(^o^)/

  8. Kalo baca di wiki sih, 50-an chapter itu termasuk cerita tentang anak2nya (Genji-nya sendiri udah meninggal).
    Hehe.. bisa bahasa jepang ya mas? Aku cuma bisa dikit2, dan sudah nyerah kalo berurusan sama kanji.
    Emangnya gaya penceritaannya gimana sih? Apakah bahasa puitisnya itu sampe bikin “mabok”? 😀
    Kalo Gekka no Kimi sih aku suka cerita Genji-nya, tapi pas balik ke cerita jaman modern plotnya kok keras rada aneh… -_-;;;

  9. ahem … ah, ga segitunya kali ya. ^^; kalo kanji sih udah banyak banget yang lupa, lagian saya ketolong sama kamus jepang yang ada di lokasi waktu itu. LOL. kalo hiragana sih ketolong pelajaran waktu sekolah di SMP pernah wajib belajar bahasa Jepang. 😛
    oh ya, Anda sendiri mahir bahasa Jepang? keliatannya Anda tahu banyak judul manga? 🙂 kayanya boleh sering-sering nulis artikel tentang manga tuh. 😀

    tapi soal baca cerita bahasa Jepang, beneran, nyerah deh kalo liat kanji sampe segitunya (masih mending baca manga ketimbang novelnya).
    bahasa asing kalo kita udah berhenti belajar, terus ga dipakai sama sekali, ingatannya juga udah ikut melayang entah ke mana. 😛

    soal pemakaian tata bahasa, Genji itu kan puitis sekali kalo lagi ngomong sama para perempuan itu. apalagi pas dia ngegombal supaya para perempuan itu ga merasa diabaikan. 😉
    kadang-kadang baca terjemahan pun sampe geregetan juga, apalagi penyebutan nama tokoh-tokohnya waktu jaman mereka kan pakai title, bukan nama personal kaya zaman kita sekarang. tapi maklum sih namanya juga novel klasik. 😛 gimanapun, salut sama yang bela-belain terjemahin 50an chapter itu. o_O;; ^_^;;

    iya sih, Gekka no Kimi keren pas penggambaran Genjinya. saya pertama kali ‘kesetrum’ pas liat covernya yang di awal-awal, pas ada gambar Genji yang masih kecil itu, benar-benar terkesan “Shining Prince” banget. pas dewasanya juga gambarnya keren, bener-bener meyakinkan bahwa memang ini tampang yang bikin banyak wanita gandrung sama dia di zamannya.

    mantep banget dibanding sama karyanya si YAMATO Waki (denger-denger yang YAMATO punya itu pure Genji Monogatari, denger-denger sampe pemerintah Jepang sendiri sokong untuk bikin versi bilingual gitu, supaya orang non Japanese bisa ikutan pelajarin ceritanya, tapi saya cari-cari scannya ga nemu, entah ada yang sharing ga?)

    tapi modern plot Gekka no Kimi memang aneh sih, mungkin karena nyampur antara zaman Genji vs sekarang? ^^ bagaimanapun, itu akhir cerita Gekka no Kimi bener-bener bikin garuk-garuk kepala karena saya ga paham konsep reinkarnasi (baru baca rawnya kemarin), tapi ya boleh lah, itung-itung agak-agak terhibur dengan akhir membahagiakan antara Genji n Murasaki di zaman modern. * grinning *

  10. Yang paling gak nyambung di Gekka no Kimi itu plot yang waktu mereka habis ML trus langsung nyambung ke cerita aneh2 tentang kekuatan supranatural itu. Karena itu aku gak ngelanjut sampe akhir (dan nunggu scanlation jg seh). Emang akhirnya gmn?
    Hehe… saya sih cuma penikmat aja (dan tukang donlot :D). Bahasa Jepang terbatas banget. Aku pernah denger tentang Genji versi Yamato Waki, dan memang kayaknya yang versi itu gak ada di ranah scanlation.
    Hehe.. suka baca manga juga? Di sini kebanyakan review manga2 cewek sih, cuma memang cari yang rada2 nyeleneh. Silaken menjelajah… 😀
    btw.. situ anak IT yah? aku liat blog-nya PCMAV mlulu 😀

  11. LOL. itu kayanya ada link antara mereka yang zaman dulu ke zaman sekarang, jadi sepertinya pas lagi manggung itu, kan lampu sorotnya tiba-tiba jadi gelap tuh, n tahu-tahu alam modern mereka ‘terkoneksi’ ke gerhana bulan di zaman Genji.

    kalo ga salah nangkap ceritanya sih ya, jadi kaya dimensi 2 zaman jadi berbaur gitu, jadi kayanya si Genji modern ‘kesurupan’ Genji yang saat masa lampau itu, sama-sama ‘backstreet’ dengan si Murasaki no Ue-nya (yang notabene, Shuu di zaman sekarang).

    kalo di volume akhirnya sih mereka jadian. jadi sepertinya roh Genji masa lalu bisa komunikasi sama yang zaman modern gitu. makanya saya juga jadi garuk-garuk kepala gitu bacanya (soalnya lagi males nyari arti kanji di kamus :P), jadi kedua Genji ini sama-sama sadar n bisa saling komunikasi gitu. ^^;;

    di volume terakhir, Shuu tahu-tahu ngeliat bayangan dirinya n cowonya di cermin sebagai diri mereka berdua di masa lampau itu (lengkap dengan kimono kebesaran mereka), jadi dari situ Shuu mulai ingat lagi jati dirinya sebagai reinkarnasi Murasaki no Ue. tapi anehnya, mereka jadi 2 pasang gitu lho … roh masa lalu mereka akhirnya pergi bareng-bareng dengan damai, yang masa modern, masih tetep di masa modern, tapi jadian juga. bingung deh pokoknya. ^^;;

    eh iya, saya lulusan IT. 😛 itu PCMAV mah iseng doang ditaruh di sana, ketimbang blognya ga pernah diupdate sama sekali. 😛 saya juga penikmat scanlation doang. 😛 kalau mau belajar Jepang lagi, kok kayanya rada-rada mentok sekarang, mungkin musti dibarengin sama RAW scan biar lebih ‘termotivasi’ lagi ketimbang buku teks. LOL.

    btw, itu URL RAW Gekka no Kimi yang nemu dari website RAW scans. ga tau masih bisa masukin URL di kolom komentar ga? ada 1 website yang banyak sharing RAW scan gitu, alamatnya crazytje.be
    kalo tau kana aslinya bisa tinggal searching RAW macam-macam manga di situ. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s