!Crap: manga dan ideologi aneh2

Mungkin beberapa menganggap saya terlalu kekanak-kanakkan, karena meski umur bertambah, tetap tidak bisa lepas dari yang namanya novel dan manga. Buat saya, fiksi bagi saya bisa jadi lebih menantang daripada buku ideologi manapun. Kenapa saya bilang begitu? Soalnya, fiksi adalah media yang sangat bebas, begitu bebasnya sampai seorang pengarang bisa “menyelipkan” ideologinya, sengaja atau tidak. Di sisi lain, seorang penulis sedikit banyak menuangkan pandangannya terhadap sesuatu ke dalam tulisannya, entah tentang dirinya sendiri, kehidupan, ataupun hal lainnya.

Terkadang ada orang iseng (untuk tidak menyebut saya) yang mencoba sembarangan “menafsirkan” maksud di dalam fiksi tertentu, dan akhirnya sampai pada pemikiran yang aneh-aneh.

Hm, Hmm, coba kita utak-atik “Magic Knight Rayearth”-nya CLAMP. Di situ diceritakan bahwa penyebab kehancuran Zephyr tak lain adalah Putri Emerald sendiri, yang lagi berserk karena dilema antara mencintai Zagard atau tetap berdoa untuk Zephyr. Sebagai seorang “tiang”, seharusnya Putri Emerald terus berdoa demi kelangsungan Zephyr, tapi ia “mendua” dengan mencintai Zagard. Di sinilah datang Hikaru yang mengkritisi. Memang hanya seorang “tiang” yang bisa berdoa? Kenapa semua tanggung jawab itu dilimpahkan ke “tiang”? Tidak bisakah semua penduduk Zephyr sama-sama berdoa demi Zephyr? Nyatanya, itu adalah sebuah solusi sederhana sekaligus ironis. Sederhana, karena pada dasarnya tidak ada aturan yang melarang seorang “tiang” untuk mengubah aturan sebelumnya (dimana “tiang” harus selalu berdoa untuk Zephyr), dalam hal ini membagi tanggung jawab tersebut ke seluruh penduduk Zephyr. Ironis, karena itu berarti Putri Emerald itu cuma mempersulit diri sendiri, padahal aslinya masalahnya begitu simpel.

Yang mengganjal di pikiran saya adalah mengenai konsep “hati” itu. Zephyr adalah dunia yang dibentuk dari “hati”. Hmm… kalau begitu “hati” itu bisa dianalogikan sebagai “free-will” dong? Kenapa saya mendapat kesan bahwa CLAMP mau bilang bahwa suatu “sistem” hanya ada sebagai buatan manusia, sedang yang penting adalah “hati” alias “free-will” itu sendiri? Bahwa sebenarnya eksistensi dan ekspektasi itu datangnya dari “hati” manusia itu sendiri. Semua yang baik dan buruk datang dari “hati”, sehingga pada dasarnya jika manusia bisa mengendalikan apa yang diinginkan “hati” maka ia bisa mengendalikan “baik” dan “buruk” hidupnya. Lalu, karena “sistem” itu pondasinya adalah “hati”, bisakah diartikan bahwa “sistem” itu bisa dimodifikasi, dan “tiang” sebagai hasil dari “sistem kepercayaan” itu sebenarnya bukan sesuatu yang “mutlak”, karena masih berada di bawah “hati”? Kalau begitu, dari awal sampai akhir, manusia itu sebenarnya berdiri sendiri, tanpa bergantung pada apapun kecuali “hati”.

Oke, itu satu. Saya lebih keki lagi waktu baca “Angel Sanctuary”. Kalau saya tangkap secara umum, semua tokohnya (dalam hal para malaikat) bertanya-tanya: “God” ada di mana? Apakah “God” menyayangi “anak-anak”nya? Lalu kenapa “God” tidak pernah datang dan menjawab “anak-anak”nya? Ada begitu banyak pertanyaan seputar “berdosakah aku?” (hal ini dialami Setsuna yang mencintai Sara, adiknya – walau sebenarnya itu adalah hukuman “God” pada Alexciel untuk hidup mengenaskan di setiap reinkarnasinya). Semuanya berkembang menjadi sebuah pertanyaan besar, “God, where are you?”, yang terjawab di volume terakhir bahwa “God” adalah… sebuah super computer. Tepatnya, sebuah super computer yang dijalankan oleh artificial intelligence, siapa pembuatnya tidak diketahui. Dan super computer itu ingin mencegah “anak-anak”nya berkembang menjadi mandiri sehingga dengan sengaja menciptakan konflik internal. So, in this case, the “God” is dead? Nietzsche banget gitu loh! (Saya gak tau kalo ada orang Indonesia yang bikin cerita macem gini, dia masih bisa selamet dari pembredelan gak ya?)

Mungkin saya bukan pemeluk agama yang taat *hehe* tapi saya dibesarkan dengan ajaran monotheisme, jadi hal-hal ini sedikit banyak membuat dahi saya mengernyit. Saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan latar belakang budaya juga. Sejauh yang saya tahu, pada dasarnya masyarakat Jepang memeluk agama Shinto (sebelum Budha dan Kristen masuk), dimana Shinto intinya hanyalah sebuah ritual penyembahan terhadap dewa-dewa, semacam aliran kepercayaan (berdasarkan buku pintar keluaran tahun 1980-an). Saya belum tahu apakah di dalam Shinto ada sebuah konsep Ketuhanan yang mutlak, dan jika ada seperti apa.

Mungkin sebaiknya “otak iseng” saya yang harus dikurangi. đŸ˜€ Karena, biar bagaimanapun, kedua manga di atas adalah karya seni dari manga-ka yang saya kagumi. Suer. Sepertinya lebih aman kalau sebuah “hiburan” tetap menjadi sebuah “hiburan”
Gitu aja kok repot!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s