Review: Gankutsuou

Judul: Gankutsuou: The Count of Monte Cristo
Episode: 24
Tahun: 2004 [Japan], 2006 [US]
Studio: GONZO

Death is certain; its hour, uncertain.

Catatan: Saya tahu review ini telat 4 tahun, tapi setidaknya ijinkan saya fangirling okeh?

Seperti banyak novel terkenal lainnya, bukan pertama kalinya Count of Monte Cristo (Le Comte de Monte-Cristo) diadaptasi, utamanya ke format layar lebar atau layar kaca. Kali ini, GONZO mengangkat novel karya Alexandre Dumas ini ke bentuk anime dan saya bilang… keren abis! Di satu sisi, plot asli Count of Monte Cristo sudah menarik. Cerita balas dendam selalu menarik. Versi animenya mengambil paruh terakhir buku, di mana Edmond Dantes kembali sebagai Count of Monte Cristo untuk membalas dendam pada orang-orang yang mengkhianatinya. Bedanya, di sini Count diposisikan sebagai tokoh antagonis. Karakter utama dipegang oleh Albert de Morcerf, anak dari Ferdnand dan Mercedes. Untuk kepentingan balas dendam, Count bersahabat dengan Albert, sebagai pintu masuknya ke kalangan elit Paris.

Sampai sekarang, paling banter yang saya tahu tentang Count of Monte Cristo adalah versi layar lebarnya (diperankan oleh Jim Caviezel). Di situ yang menjadi sorotan utama adalah sang Count (Edmond Dantes); mulai dari dikhianati sahabatnya sampai aksi balas dendam. Di versi anime, sudut pandang cerita diganti dari kacamata Albert dan sahabat-sahabatnya: Franz, Eugenie, Beuschamp, Lucien, Maxmillien, Valentine, dan Renaud.

Mungkin awalnya terasa kurang adil ‘menandingkan’ Albert yang nyata-nyata masih cupu dengan Count yang sudah ditempa pengalaman hidup. Justru di sinilah menariknya, melihat perubahan karakter Albert yang semula ‘hanya’ seorang anak bangsawan yang naif dan tidak kenal susah menjadi seorang dewasa lewat tamparan-tamparan realita yang diterimanya; juga bagaimana Albert belajar makna cinta dan persahabatan, sementara hidup di dunia elit dimana cinta adalah perjodohan kepentingan dua keluarga. Saya yang semula mengacuhkan Albert kian lama semakin menyadari peran Albert dalam cerita. Sebaliknya, keluguan dan spontanitas remaja Albert sedikit banyak mempengaruhi Count, termasuk naluri kebapakan sang Count. Sekadar masukan subyektif, memang secara fisik penampilan tokoh Count lumayan aneh, kalau bukan sangar. Kulit biru, mata merah-biru, kuku panjang, bertaring, gila banget deh. Tapi entah kenapa, tokoh Count di anime terasa jaaaaauuuuuuuhhhh lebih keren daripada yang di layar lebar. *sori, mas Jim Caviezel, Anda kalah dengan tokoh anime*

Namanya adaptasi, wajar bila ada beberapa perubahan. Perubahan yang paling jelas di anime ini – tentu saja – adalah setting waktu. Kalau di buku cerita berlatar tahun 1800-an, di anime waktu sudah berjalan sampai tahun 5000-an. Cakupan geografisnya pun sudah bukan ukuran negara lagi, tapi planet (contoh: Setting karnaval yang aslinya di Roma diubah jadi di Luna/bulan). Yang paling bikin “h0h” (dan buat saya agak jayuz), adalah cara ‘duel’ di zaman itu. Kalau di abad 19 duel menggunakan pistol atau pedang, di sini duel menggunakan mobile suit mecha! Suer deh, serasa nonton Gundam/Evangelion nyasar! 😀 Menariknya, meski teknologi dan gadget high-tech betebaran, tren fashion dan gaya hidup justru berkiblat ke tahun 1920-an (pasca PD I). Menurut saya, setting yang bisa dibilang ‘tabrakan’ ini adalah daya tarik segar, mengingat dari segi plot kurang lebih sama dengan versi novel. Tetapi, kadang saya merasa ada technology gap, seperti saat Eugenie menerima surat dari New York Conservatoire, yang diposkan manual layaknya surat biasa; ataupun saat Franz pergi ke Marseille naik kereta yang ditarik lokomotif yang tampangnya gak jauh beda dengan lokomotif uap biasa.

Daya tarik segar lainnya datang dari segi visual grafis. Efek rendering layer photoshop yang digunakan untuk tekstur pakaian, motif wallpaper rumah, sofa, maupun warna rambut pasti langsung menyengat mata. Mulanya mungkin agak bikin sakit mata, terutama di scene karnaval, malam hari dengan konsep spotlight yang kontras (di episode-episode awal di Luna). Eits, jangan mutung dulu. Cobalah dinikmati, karena di episode-episode berikutnya efek itu lebih soft, karena kebanyakan scene siang hari. Selain masalah tekstur, animasi 3D yang dipakai untuk latar belakang juga oke punya. Bagian favorit saya adalah penggambaran rumah Count, lengkap dengan laut buatan dan rangkaian tata surya buatan.

Saya memang tidak update masalah anime, tapi Gankutsuou adalah sebuah karya yang patut menerima acungan jempol. Dua bahkan, dari saya. Salut buat GONZO! Perpaduan cerita yang penuh intrik dengan visualisasi grafis yang unik, apalagi yang kurang? Tinggal bagaimana kita menikmatinya saja.

Fuih, selesai sudah review semi fangirling ini 😀

Iklan

6 pemikiran pada “Review: Gankutsuou

  1. [Tapi entah kenapa, tokoh Count di anime terasa jaaaaauuuuuuuhhhh lebih keren daripada yang di layar lebar. *sori, mas Jim Caviezel, Anda kalah dengan tokoh anime* ]

    huahahaha … di mana-mana anime memang lebih keren ketimbang yang di layar lebarnya. 😛 jangankan yang keren, yang ‘ancur’ kaya Dragon Ball aja dulu masih keren-an animenya ketimbang layar lebarnya. (doh! lupa siapa aktor pemerannya, kayanya Jimmy LIN kali ya)

    kayanya keren juga nih ceritanya, minta rekomendasi mending mulai dari mana nih ngikutin plot ceritanya? langsung tembak ke anime aja?

  2. hehe. Jangankan Dragon Ball yang versi orang itu, sekarang kan mo di-remake tuh Dragon Ball yang versi orang (versi US kayaknya) dan ngeliat sekilas kok rada2 ‘h0h’ gitu.

    Hoo.. liat aja animenya. Bagus kok! Buat gambaran cerita, coba aja liat Count of Monte Cristo versi bioskop. Intinya sama, meski versi bioskop dan anime sama2 ada yang diubah.
    Ayo, ayo… mari lihat animenya… *tarik2*

  3. I see, animenya sih memang keren screenshotnya tuh. graphic effectnya sangat-sangat membuat ngiler untuk nontonnya.

    makasih suggestionnya. 😀
    * langsung tancap ke lokasi pencarian *

  4. hihi… *sebar2 racun gankutsuou*

    donlot ato cari di Glodok/MangDu neh? kalo cari di penjual DVD mungkin kudu ngubek2 dikit. Soale lumayan lama seh 😀

  5. Whoa… Gankutsuou emang keyen! OP ma ED songna bener2 cocok ma suasana anime yang rada2 dark plus gothic gitu… pattern render-na seh keren, cuma kadang2 bikin bingung.
    Ya sud, thanks for visiting my blog yes
    Ciaosu o/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s