Review: Killing Moon

Judul: Killing Moon
Manga-ka: Motoni Modoru
Volume: 1 [tamat] – oneshot (dari tankoubon “Prince of Monster”)
Penerbit: Biblos [Japan]
Tahun: 1998

He is wolf, he is the wolf that thirsts for love, that survives on devouring the love and adoration of humans on the night of full moon…

peringatan: full spoiler!

Cerita dimulai dari kematian seorang nyonya keluarga kaya. Karena keluarga itu tidak punya anak, Satoshi, adik nyonya itu, datang ke rumah kakaknya untuk mengurus kematian sang nyonya dan suaminya (sang suami tewas sebulan sebelumnya). Di sana, Satoshi menemui Fumio, seorang anak yatim piatu yang diasuh keluarga itu; dan Mariko, salah satu tetangga mereka. Namun, rupanya ada satu lagi penyusup di rumah itu. “Serigala”, begitu Fumio menyebutnya. Siapa dan apa peran “Serigala” di rumah itu, dan kenapa wujud “Serigala” tampak berbeda bagi setiap orang?

Secara garis besar, Killing Moon adalah cerita tragedi cinta segi-mbulet. Sang Tuan mencintai Sang Nyonya, Sang Nyonya mencintai Fumio, Fumio mencintai Mariko, Mariko mencintai sosok lelaki Fumio tapi malah terperangkap ke pelukan “Serigala”, dan “Serigala” mencintai Fumio. Satoshi yang mulanya hanya sebagai pengamat, pada akhirnya pun terlibat dan menambah keruwetan dengan jatuh cinta pada Fumio.

Meski ceritanya aneh, bagi saya karakter dalam cerita ini sangat menarik. Tokoh kunci di sini adalah Fumio, seorang gadis yang dibesarkan sebagai lelaki hanya demi memuaskan hasrat abnormal Sang Nyonya, dan pada akhirnya ia pun menjadi sasaran kekerasan Sang Tuan yang memendam cinta tak terbalas pada istrinya. Fumio yang akhirnya menjadi lesbian mencintai Mariko, seorang gadis biasa yang menyukai sosok lelaki Fumio namun segera menampik mentah-mentah ketika tahu Fumio adalah wanita.

Dan tentu saja, “Serigala”, tokoh antagonis yang menarik. Diceritakan, “Serigala” mengambil bentuk sosok orang yang dicintai, karena wujud “Serigala” berbeda-beda bagi setiap orang (Bagi Satoshi yang saat itu tidak punya kekasih, “Serigala” tampil sebagai seorang pria yang memakai topeng). Situasi inilah yang dimanfaatkan “Serigala” untuk memanipulasi orang-orang di sekitarnya sehingga dia bisa mendapatkan Fumio. Dengan kelicikannya, ia berjanji untuk menolong Fumio mendapatkan cinta (dalam hal ini, Mariko); dengan syarat selama Fumio belum menemukan cinta sejatinya, “Serigala” akan memakan semua orang yang menginginkan Fumio.

Keculasan “Serigala” yang paling berkesan buat saya adalah saat dia memberikan shock therapy untuk Fumio. Saat itu, Mariko sudah menolak Fumio dan ‘tertipu’ dengan “Serigala”. Di mata Mariko, “Serigala” tampak persis seperti Fumio, dengan perkecualian ia adalah ‘Fumio yang lelaki’. Dan “Serigala” melempar fakta kelelakiannya itu mentah-mentah di depan Fumio, membuat Fumio down karena menjadi lelaki adalah hal yang mustahil baginya. Bisa ditebak, Fumio melemparkan kemarahannya pada Mariko, dan menyuruh “Serigala” memakan Mariko. Meskipun begitu, seculas apapun “Serigala” , menurut saya sebenarnya kebencian Fumio pada dirinya sendirilah yang menyebabkan ia tak bisa menemukan cinta sejatinya.

Sebagai sebuah oneshot, cerita ini bisa memaksimalkan karakterisasi (terutama karakter Fumio yang kompleks) dan plot. Kalaupun ada karakter yang kurang ‘terasa’, mungkin itu Satoshi. Bagaimana ia yang mulanya memposisikan dirinya sebagai orang luar bisa tertarik dengan Fumio, rasanya penjelasan di situ kurang terasa. Tetapi hal ini masih bisa dimaklumi karena jatah halaman untuk oneshot terbatas.

Artwork-nya juga mendukung atmosfer cerita. Saya mengenal Motoni Modoru-sensei dari karyanya, Tantei Aoneko. Saya suka tarikan garisnya yang tegas dan ‘bersih’, dan tentu saja, inking-nya yang kontras hitam-putih, minus ‘dekorasi’. Mungkin karena mengambil setting waktu yang tak jauh beda dengan Tantei Aoneko, setting tempat dan suasananya terkesan ‘Aoneko banget’. Jujur, saya belum pernah *tepatnya tidak mau* membaca karya lain sensei yang berlatar di jaman modern (contoh: shikugakari rika, koi ga bokura o yurusu hani) jadi saya tidak bisa bilang apa itu memang ciri khas sensei. Tokoh “Serigala” menjadi tokoh favorit saya karena desain karakternya gothic banget *apalagi ditambah masker matanya itu*, selain karena pribadinya yang energik dan menghidupkan cerita. *meski bukan dalam artian baik* 😀

*Killing Moon adalah oneshot dari tankoubon Prince of Monster bersama 3 oneshot lainnya: Sambika, Life of The Machine, dan Prince of Monster*

Downloadable: Free Manga LJ Community

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s