Review: Burlesque

Judul: Burlesque
Pemain: Cher, Christina Aguilera, Cam Gigandet, Eric Dane
Tahun: 2010
Sutradara: Steve Antin
Penata Musik: Linda Perry, Sia Furler, Samuel Dixon, Christina Aguilera, Diane Warren, C. “Tricky” Stewart, Claude Kelly

Another Cinderella story, itulah komentar saya meringkas cerita film ini. Gadis bersuara emas yang merantau ke kota, tanpa kerabat, “terdampar” di sebuah klub burlesque, bertemu rival sirik tapi berhasil jadi primadona, bingung diantara 2 pilihan cinta… dan tentu saja, berakhir dengan happy ending. Secara keseluruhan, ceritanya cukup gampang ditebak, belum lagi ditambah beberapa gap di detail cerita. Salah satu contoh, saat Marcus mengajak Ali makan malam seusai kerja di klub. Cukup membingungkan, karena bukankah jam kerja klub adalah malam sampai pagi? Ataukah kerjanya diatur per shift? Atau ini klub burlesque “baik-baik” yang buka sore tutup malam? Hell yeh!

Untung saja, film ini tidak bermaksud menonjolkan plot. Mengimbangi plot yang ringan, penonton disuguhi pertunjukan musikal yang mengesankan. Bisa ditebak dari deretan pemainnya yang bukan nama baru di dunia musik, seperti Christina Aguilera dan Cher. Christina sebagai Ali – gadis desa yang berambisi menjadi penyanyi sukses, beradu akting dengan Cher sebagai Tess – seorang pemilik klub burlesque yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Dari awal, Christina Aguilera mencuri mata dan telinga saya lewat nyanyian dan tariannya. Tidak mengherankan sih, karena mbak yang satu ini memang mengewali karirnya sebagai “idol”, yang menuntut kepiawaian menari selain suara yang bagus (dalam beberapa kasus, suara masih dinomorduakan. Tapi untuk kasus mbak Christina, sih, suaranya mantap jaya). Sedangkan untuk Cher, kalau di dunia nyata beliau sering dandan dengan baju yang lumayan unik, sepertinya film ini memang tempatnya berpakaian unik tanpa harus mengundang nyinyir para kritikus fashion. Tapi tentu saja, Cher tetap menunjukkan kualitasnya sebagai penyanyi senior lewat suara beratnya yang khas. Diane Warren makin memantapkan film ini sebagai penata musik dengan lagu ciptaannya, “You Haven’t Seen the Last of Me” dan menyabet Golden Globe untuk kategori Best Original Song.

Sayangnya, sepertinya selain Cher dan Christina, yang lain tidak dapat bagian unjuk vokal. Di awal memang dijelaskan bahwa klub burlesque tersebut memang lebih memfokuskan pada aksi panggung, sehingga para penari menyanyi dengan teknik lyp-sinc (kecuali Cher dan Christina). Burlesque memang menyuguhkan “pertunjukan” yang enak dinikmati, baik dari segi kostum maupun tarian, dan juga aspek humor pertunjukannya – sesuai dengan konsep burlesque. Sebagai film yang mengetengahkan “tarian”, mungkin tidak se-pro Step Up, tapi saya menyukai melihat para pemainnya menari dengan sepatu high-heels, belum lagi kostum yang lumayan terbuka tapi entah kenapa terlihat keren, karena adanya semangat burlesque yang menjungkirbalikkan norma dan menertawakan kehidupan. Kalau dibandingkan dengan film Moulin Rouge, mungkin bisa dibilang Burlesque adalah Moulin Rouge dengan lebih sedikit surealisme dan lebih banyak hiburan. Tidak salah kalau dikatakan bahwa kalau melihat film ini, anggaplah seperti melihat pertunjukan musik/video klip dengan jalan cerita, daripada sebagai film dengan pesan tertentu untuk disampaikan.

Iklan

6 pemikiran pada “Review: Burlesque

  1. membandingkan dengan Step Up dan Moulin Rouge … hmmm serasa dejavu pernah menanyakan perbandingan ini pada seseorang …

    • Terima kasih sudah mampir 🙂
      Wah, moulin rouge ya. Kemarin saya sempat lihat Rock of Ages. Lumayan juga kok 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s