Review: Sekilas tentang Historical Romance

Belakangan ini saya membaca banyak buku dari genre historical romance. Novel yang ceritanya berlatar di Inggris tahun 1800-an dan berkisar di dalam lingkaran pergaulan para bangsawan ini cukup menarik sebagai bacaan waktu senggang. Jujur saja, yang saya harapkan dari novel semacam ini adalah sebuah bacaan ringan, cukup predictable, dan pasti berakhir bahagia. Dan jujur, sepuluh tahun lalu pasti saya tidak akan baca buku-buku ini. Tapi belakangan, demi mengasah minat baca yang mulai terkubur, buku-buku historical romance cukup menghibur sebagai bacaan waktu senggang. Dan karena saya tidak sengaja dapat torrent historical romance yang isinya segunung.

Membaca banyak buku historical romance membuat saya tergelitik untuk me-reviewnya. Saya tahu memang jalan ceritanya cuma “itu-itu saja”, tapi justru menyenangkan kalau menemukan seseorang yang bisa menuliskan cerita yang “itu-itu saja” dengan sentuhan originalitas yang menarik. Karena itu, saya memutuskan untuk mereview beberapa pengarang yang cukup berkesan untuk saya. (disclaimer: saya bakal sadis. Jadi maaf kalau menyinggung beberapa fans. Tapi bukan berarti saya benci penulisnya juga lho.)

Interaksi pertama saya sebenarnya sudah sejak remaja. Ketika itu saya membaca “Beauty or Brain” karya Barbara Cartland. Awalnya, saya suka tema cerita yang disajikan (gadis bangsawan menyamar jadi aktris panggung. menarik!) dan itu juga yang membuat saya membaca beberapa bukunya yang lain. Tetapi – no offense sebelumnya – pada titik tertentu saya merasa seperti membaca sebuah teks pelajaran Bahasa Indonesia: “Ini Budi. Ini Ani. Budi bertemu Ani. Ani tidak suka Budi, tapi Budi suka Ani. Budi mengejar Ani. Ani pun suka pada Budi. Ani dan Budi menikah.”. Stereotipe dalam historical romance memang tidak bisa dihindari, tapi 2-dimensional characters is a no-no.

Salah satu yang pengarang baru (era tahun 1990an dan 2000an) yang menarik saya adalah Julia London. Buku pertamanya yang saya baca adalah “Book of Scandal”. Menarik sih, tentang suami istri yang sudah mendingin hubungannya namun akhirnya balikan lagi. Ini membawa saya ke buku-bukunya yang lain. Favorit saya adalah “The Devil’s Love”. Yang saya suka dari penulis ini adalah penggaliannya yang dalam di segi emosional karakter, baik dari segi cowok maupun cewek. Sebagai pembaca saya bisa larut dalam karakter yang ditulisnya. Kebanyakan atmosfir cerita yang disajikan lebih ke arah angsty, yang biasanya saya tidak suka, tapi kali ini saya tidak keberatan. Hanya saja, beliau punya kecenderungan melarut-larutkan endingnya. Maksudnya, saat kita kira konflik sudah hampir selesai, masih ada lagi konflik-konflik lain. Kenapa jadi kayak drama Korea???? Akibanya, dalam beberapa plot, feel dari endingnya jadi kurang berasa, karena saya sudah capek duluan dengan emotional rollercoaster yang disajikan.

Kemudian saya menjajal “Minx” karya Julia Quinn. Cukup menarik. Saat saya mengeksplorasi novel-novelnya – termasuk seri “Bridgerton” yang membuat teman saya sampai rela mengoleksi kedelapan bukunya. Lengkap – yang saya kagumi adalah bagaimana penulis membuat suatu dunia sendiri yang saling terkait. Misalnya, seri Bridgerton ada 8 buku (“Viscount Who Loved Me” jadi favorit saya), tapi dibuat lagi seri-seri lain berdasar karakter-karakter figuran dari buku tersebut, yang juga bisa dibaca sebagai cerita lepas. Itu suatu ide menarik (dan menguntungkan secara komersial, tentunya. Karena orang akan tertarik untuk mengoleksi selengkap-lengkapnya) dan tentunya menantang penulis untuk menuliskan cerita dengan tema dasar yang berbeda-beda. Hanya saja, dari beberapa yang saya baca, karakter-karakternya kebanyakan “happy-go-lucky”, dan satu hal yang mengganjal untuk saya adalah saya kurang merasakan chemistry antar karakter. Si cowok tiba-tiba jatuh cinta sama ceweknya. Just like that. no explanation. Memang detil-detil kecil tentang “masa pacaran”-nya manis dan lucu, tetapi “alasan” kenapa mereka saling menyukai itu kurang bisa saya tangkap.

Pengarang terakhir yang saya eksplorasi adalah Mary Balogh, diawali dengan buku “The Secret Mistress”. Saya sangat menyukai pengembangan karakter dan interaksi antar karakternya. Pembaca selalu diajak menelusuri cerita dari sisi cowok dan cewek, jadi pembaca tahu bagaimana perasaan masing-masing karakter. Dialog yang lucu, karakterisasi yang terbangun baik, dan tema-tema yang segar. Tiga hal ini yang saya cari dari penulis, dan paling suka saat membaca “Lady with Black Umbrella” dan “The Devil’s Web”. Hanya saja, penulis cenderung berfokus terlalu banyak pada subplot dan detil cerita. Adegan keluarga yang ditulis memang bagus, tapi saya tidak (dengan detil) butuh mengetahui bagaimana si sepupu dan temannya kenalan, pacaran, dan menikah. Terlalu distracting. Dan sekedar tips untuk pembaca Mary Balogh, sabar-sabar saja dengan internal monolog yang sering muncul dan penceritaan suatu adegan. Jujur sih, saya sering loncati beberapa adegan karena saya pikir membuang waktu.

Nah, sampai saat ini itulah hasil pengamatan saya atas pengarang. *halah* Lain kali kalau saya menemukan penulis lain yang menarik, mungkin akan saya share di sini. Kalau ada yang punya penulis fav, rekomen dong πŸ˜€

Iklan

5 pemikiran pada “Review: Sekilas tentang Historical Romance

  1. Klu aq jatuh cinta ma hisrom gegara baca karyany Johanna lindsey yg heart of thunder,… Dan akhirny nyari2 krya ny yg lain,sekarang sih tergila2 ma julia quinn, humornya itu loh…
    Bridgerton seriesnya J.Quinn, malory family nya J.lindsey ama hathaway seriesny lisa K jd target berikutny,kkk~

  2. Sya udah punya bbrpa novel historical, jadi yg sya rekomendasikan ya novel2 yg sya punya, hehehe. Novelnya Lavyrle Spencer judulnya Morning Glory bagus say, mengharukan. Sya ampe hampir nangis bacanya (hampir yaaa…)

    Ada juga novel2nya Catherine Anderson, saya baru punya yang Keegan/Paxton series (ada 5 novel, tapi baru punya 4) dan Comanche Moon.

    Novel2nya Johanna Lindsey juga bagus say… πŸ™‚

    • Thx atas komen dan rekomendasinya kakak~ πŸ™‚
      Ntar deh aku cek. Kalo yg sedih2… pernah sih baca punya Meagan McKinney judulnya Lions and Lace.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s