Review: Litchi Hikari Club

Lychee_Light_Club_manga_vol_1

Judul: Litchi Hikari Club (Lychee Light Club)
Manga-ka: Furuya Usamaru
Volume: 1 [tamat] (scanlation: completed)
Penerbit: Ohta Shuppan (jpn) / Vertical (eng)
Tahun: 2006

Litchi…Li-Litchi… Li-Li-Litchi

Di sebuah kota industri yang selalu diselimuti asap pabrik, sembilan orang remaja berkumpul dan menyebut diri mereka “Hikari Club”. Dipimpin oleh Zera, mereka membangun sebuah mesin menyerupai manusia yang berbahan bakar buah leci. Mereka percaya, dengan mesin ini mereka dapat mewujudkan visi Hikari Club untuk membawa cahaya di kota Keikou yang selalu terhalang awan hitam polusi. Namun ketika sang mesin akhirnya selesai, apakah cita-cita mereka akan terwujud? Akankah solidaritas mereka bertahan melawan ambisi, loyalitas, pengkhianatan, dan kebingungan menghadapi pubertas?

Surreal? Satir? Guro? Erotica? Buat saya cukup sulit mengklasifikasi manga ini. Mau dibilang guro (grotesque) karena di awal-awal sudah ada adegan usus orang kiwir-kiwir, nyatanya tidak terlalu dieksplotasi juga. Mau bilang erotica ya memang ada nudity tapi jelas bukan itu fokusnya. Mau bilang ‘surreal‘ tapi di sini ada beberapa momen yang absurdly funny (dan argumen ‘surreal‘ ini bakal terpatahkan juga nanti). Mungkin satir adalah yang paling dekat – the machine uses LYCHEE, for God’s sake! Yang jelas, manga ini menciptakan dilema personal untuk saya karena saya terjebak antara pingin nge-ceng-in manga ini habis-habisan dan memikirkan lebih dalam tentang makna buah leci.

Kalau mau ngomong serius, satu tema yang jelas disajikan di sini adalah denial of adulthood. Para anggota Hikari Club menganggap orang-orang dewasa itu menjijikkan (yang ditunjukkan dengan sangat ekspresif di chapter 1, terima kasih) dan menjadi dewasa adalah dosa, tapi menerima kenyataan bahwa pubertas adalah absolut. Di manga ini, buah leci sendiri dipandang sebagai lambang keindahan dan kemurnian, tak lekang dimakan waktu. Samar-samar saya menduga bahwa anggota Hikari Club ingin melewati pubertas tanpa menjadi dewasa. Dari situ, saya jadi menganggap segala tindakan Zera dan kawan-kawan adalah usaha (terlalu) keras untuk menyangkal kedewasaan.

Membicarakan pubertas tentu tidak lepas dari kebangkitan seksualitas, satu aspek lain mereka coba lawan. Ini terlihat jelas saat Zera menugaskan sang robot, Litchi, untuk membawakan seorang gadis untuk mereka. Bukan sembarang gadis, tapi specifically “a pure, young maiden”. Litchi akhirnya sukses menculik Kanon. Namanya remaja puber, kehadiran Kanon, meski minim interaksi, membangkitkan rasa penasaran anggota Hikari Club. Saya cukup suka karakter Kanon di sini. Sebagai seorang gadis yang terjebak bersama anak-anak lelaki yang agak korslet otaknya, Kanon cukup cerdas untuk bertahan hidup. Mulai dari pura-pura pingsan/tidur sampai menjalin persahabatan dengan Litchi. Pelan tapi pasti, Kanon menjadi retak kecil yang kian membesar memecah solidaritas Hikari Club.

Satu lagi aspek seksual yang patut disebut adalah hubungan antara Zera dan Jaibo. Yah, intinya mereka suka hepi-hepi bareng lah. Lebih dari sekedar homoseksualitas (bagi Jaibo) dan eksperimen seksual (bagi Zera), saya menganggap ini adalah satu lagi bentuk denial of adulthood. !Spoiler alert! Jaibo digambarkan sangat mencintai/mengagumi/memuja Zera dan cemburu waktu Zera sepertinya ada minat dengan Kanon (entah apa minatnya, sampai akhir belum jelas). Kecemburuan Jaibo ini lebih karena Jaibo sadar kalau dirinya adalah lelaki dan akan tumbuh menjadi lelaki; ia tidak bisa tetap “beautiful” seperti sekarang. Zera sendiri lebih terkesan aseksual dan menerima ‘service’ dari Jaibo dengan “oh kamu mau ngasih ya sudah silakan”. Di sisi lain, minat Zera pada Kanon pun agak ambigu, antara menganggap sebagai “symbol of purity” tapi kayaknya dia juga sebenernya mau hepi-hepi cuma denial. Ah bingung. !Spoiler alert! Sebenarnya saya masih ingin menyorot lebih dalam, tapi rasanya lebih tepat nanti deh saat review Bokura no Hikari Club, sequel sekaligus “guidebook” Litchi Hikari Club. (Yeah, I can hear you scream, “Ada sequel-nya??!!!!”)

Ah, hampir lupa. Artwork-nya. Ini adalah kali pertama saya membaca manga karya Furuya Usamaru. Agak terkejut (tapi senang, ahahay!) bahwa Furuya-sensei style gambarnya ala bishonen begitu. Entah memang begitu atau memang disengaja untuk menekankan kesan androgynous dari anggota Hikari Club. Apalagi di versi color, bibir karakternya diwarnai merah darah, memperkuat ambiguitas gender.

Sebagai tambahan, saya suka karena manga ini gak kepanjangan! Gak tau kenapa, untuk model cerita macem gini, kalau dibuat terlalu panjang biasanya risiko ceritanya mbleber kemana-mana kayak MPD Psycho.

Secara keseluruhan, ini manga yang aneh. Disturbing, absurdly funny at times, but thought-provoking nonetheless.

^^ bonus fanart Litchi boys versi bishie by rondeau ^^

litchi_boys_by_rondeau-d4mugcg

Iklan

2 pemikiran pada “Review: Litchi Hikari Club

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s