Review: Dr. Frost

Dr. Frost

Dr. Frost

Judul: Dr. Frost
Author: Lee Jong-bum
Chapters: 131 [ongoing] (scanlation: ongoing)
Penerbit: AniBooks (print) Naver webtoons (digital)
Tahun: 2011

Researcher, detektif, dan psikolog punya satu kesamaan. Inti pekerjaan mereka adalah meng-observasi keadaan sekitar mereka.

Dr. Frost, sebuah manhwa korea yang ditulis oleh Lee-Jong bum ini menceritakan tentang psikolog muda yang dikenal dengan nama Frost.
Alasan dibalik namanya itu adalah, dia memiliki kelainan pada bagian frontal lobe di otaknya yang disebabkan oleh kecelakaan di waktu dia kecil. Akibatnya, dia tidak bisa merasakan simpati maupun empati kepada orang lain.

Namun, di lain sisi, kondisi otaknya tersebut menyebabkan bagian otak kirinya berkembang dengan sangat mengesankan sehingga kemampuan logikanya sangat melebihi rata-rata. Kecerdasannya membuatnya berhasil meraih gelar profesor di usia yang sangat muda.

Dia kembali ke korea setelah menyelesaikan studinya di US dan bekerja sebagai Kepala Departemen Konseling di Yong-Gang University. Bersama dengan asistennya, Yoon Sung-Ah mahasiswi psikologi di universitas tersebut, mereka menyelesaikan kasus-kasus psikologi yang masuk ke meja mereka. Berkebalikan dengan Frost, Sung-Ah adalah seorang gadis yang penuh semangat dan memiliki rasa simpati yang tinggi.

doctor-frost

Manhwa ini dibuka dengan sebuah quote dari psikolog terkenal Gordon Exner, bahwa “Manusia pada dasarnya serupa, yang membedakan mereka hanyalah enam juta cara dalam mengekspresikan karakter seseorang”.

Setiap orang selalu merasa bahwa dia tahu tentang dirinya lebih baik dari orang lain. Namun, terkadang ada suatu masa dimana seseorang menghadapi suatu permasalahan yang pelik yang membuat mental mereka terpengaruh. Seberapa besar pengaruh masalah terhadap mental seseorang tersebut sangat bervariasi.

Ada yang cukup normal dan biasanya dapat disembuhkan sendiri hanya dengan melakukan behavioral-self-therapy sederhana atau meditation. Namun, terkadang terdapat beberapa kasus dimana self-therapy itu tidak mempan, dimana seseorang merasa ada yang salah dengan diri mereka tetapi mereka tidak tahu kenapa maupun apa sebabnya. Saat itulah psikolog diperlukan untuk membantu mereka menyelesaikan permasalahan mereka.

Hanya karena mereka mendatangi psikolog itu tidak lantas berarti mereka gila (psychologist and psychiatrist are different anyway). It just as normal as how people need meditation to balancing their crowded life. (Even a common case such as insomnia or stress needs some psychological treatment sometimes). 

Misalnya, kasus dependent personality disorder yang diangkat di manhwa ini. This case tells a story about a girl who has an excessive needs of one’s approval. Pada dasarnya meminta pendapat orang lain mengenai suatu permasalahan itu adalah hal yang wajar. Namun, jika hal tersebut dilakukan secara berlebihan, hampir setiap saat, sampai ke hal-hal remeh temeh pun, maka ada kemungkinan orang tersebut perlu datang ke psikolog.

Umumnya, orang dengan dependent personality disorder selalu mengharapkan orang lain membuat keputusan untuknya. Bahkan sampai hal-hal sehari-hari seperti, “hari ini aku harus pakai sepatu warna apa?” pun mereka harus meminta pendapat orang lain.

The fear of being abandoned or separated from important individuals in his/her life has made this person voluntarily giving abundant care to others. This make this person engage in a submissive behavior. This illness *according to this manhwa* was caused by an overprotective parents. The healing method is, of course, by confronting it with their parents first.

Yang menarik dari manhwa ini adalah, alur cerita yang ditulis dengan tingkat analisa yang bagus. Probably that’s because Lee-Jong bum is a psychologist afterall. Kasus-kasus yang diangkat di cerita ini meliputi dependent personality disorder, delusional disorder, sampai borderline personality disorder.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah, bahwa menjadi seorang psikolog tidak lantas membuat mereka kebal dari permasalahan mental. Bahkan, bisa jadi bagi mereka, terapi mereka adalah dengan mengobservasi permasalahan mereka melalui pasien-pasien mereka.

In short, reading this manhwa is like reading a detective story. The passion that they gave during the observation, collecting the patient’s information piece by piece, until finally they reach the last puzzle piece and solve the case, are very interesting for me. 🙂

Last words, Keep your passion. Keep observing. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s