Review: Bokura no Hikari Club

i126309

Judul: Bokura no Hikari Club (Our Light Club)
Manga-ka: Furuya Usamaru
Volume: 2 [tamat] 
Penerbit: Ohta Shuppan (jpn)
Tahun: 2011

After all, it’s always been our Hikari Club.

Yak, seperti yang dijanjikan, kali ini saya review prequel Litchi Hikari Club, yaitu Bokura no Hikari Club. Manga ini menceritakan bagaimana Hikari Club terbentuk dan apa arti Hikari Club bagi masing-masing anggotanya. Kita juga diajak melihat ulang beberapa event di Litchi dari sudut pandang anggota Hikari Club (terutama Tamiya dan Zera). Dengan kata lain, ini adalah kisah tentang kesembilan adek-adek manis yang berubah dari sekumpulan pemuda-pemudi harapan bangsa menjadi sebuah grup pseudo-Nazi militan.

Satu catatan penting, Bokura no Hikari Club sebaiknya dibaca setelah Litchi meski secara timeline kejadian di manga ini terjadi sebelum LitchiBokura no Hikari Club seperi antitesis dari Litchi itu sendiri. Kalau Litchi terkesan surreal (banyak yang membandingkan Litchi dengan Clockwork Orange), Bokura menyajikan realita di mana kesembilan remaja labil ini hidup, makan, dan bermain serta hepi-hepi. Kontras dengan Litchi yang menampilkan anggota Hikari Club laksana robot yang mematuhi perintah Zera sampai ke titik koma, di Bokura kita melihat bahwa masing-masing anggota Hikari Club punya kisah dan motivasinya masing-masing. Sungguh, ini membuat semuanya jadi makin miris.

Menurut saya pribadi, manga ini adalah “suara” Tamiya, soalnya saya merasa selama di Litchi karakter Tamiya lebih seperti seorang “unexpected hero” yang (di)muncul(kan) demi mengeksekusi ending cerita (yeah, saya merasa motif “ini club guweh!” itu masih kurang dalam dieksplorasi di Litchi). Bokura menguatkan karakterisasi Tamiya dengan menampilkan persahabatannya dengan Kaneda dan Dafu sampai mereka memutuskan membentuk Hikari Club. Saya suka banget karena di sini saya bisa melihat sisi manusiawi mereka. Adegan favorit (sekaligus bikin miris!) adalah saat tiga sekawan ini main ke pantai lalu membuat messages in a bottle berisi harapan-harapan mereka. Satu lagi karakter yang mendapat sorotan adalah Nico. Saya suka sih karena di sini diperlihatkan bagaimana karakter Nico perlahan berubah seiring dengan bergesernya kekuasaan di Hikari Club dari Tamiya ke Zera. Oke, ini juga cukup menjawab rasa penasaran kenapa Nico begitu berbakti pada nusa dan bangsa Zera.

Tentu saja, Bokura tidak akan lengkap tanpa kisah Zera, dan kisah Zera ternyata tidak bisa lepas dari Jaibo. I really, really hate to say this but basically it’s nothing new. Standar kisah anak jenius tapi broken-home, punya daddy issue, membenci kedewasaan, dan ujung-ujungnya mencoba menyangkal bahwa dirinya juga akan jadi orang dewasa kelak. Pas baca bagian itu jadi kayak WTF-moment: “Apaaaa, jadi semua ini cuma gara-gara kamu punya daddy issue???!!” Kondisi Zera yang labil ini makin diperparah ketika bertemu Jaibo. Ada satu hal yang menarik dari karakterisasi Jaibo di sini. Kalau anggota-anggota Hikari Club yang lain digambarkan sebagai karakter abu-abu dengan segala baik-buruknya, Jaibo is just plain evil. Sayang sih, karena saya tadinya berharap bahwa karakterisasi Jaibo bisa lebih 3-dimensional lagi, tapi mungkin pengarangnya ingin menggambarkan Jaibo sebagai personifikasi “The Devil”. Jaibo adalah bad influence yang menggerakkan Hikari Club dari balik layar menuju jurang kesesatan sambil hepi-hepi sama Zera.

Spesial buat Jaibo, saya sisihkan satu paragraf buat nge-rant. !Spoiler alert! Si adek cantik-kemayu-nan-sadis ini dari awal sudah ngaku kalau dia ngefans sama Zera (sambil silet-silet kodok -_-;;).  di manga ini Jaibo sungguh menyebalkan, sampai-sampai saya bawaannya pengen nabok ini bocah terus, terutama waktu scene “operasi” mata Nico. Apa coba maksudnya sengaja membius mata yang salah? Zera maunya mata kanan, bukan mata kiri. Trus Zera juga kekeuh pokoknya harus mata kanan. Blegh~! Terus si Nico operasi tanpa obat bius! *pengen puk-puk Nico* Udah gitu Jaibo ini literally orang yang paling nganggur di Hikari Club. Oh well, dia memang penyandang dana sih (alias nyolongin duit bapaknya), tapi sisanya dia cuma jadi cem-cem-annya Zera. !Spoiler alert!

Secara keseluruhan, saya suka manga ini. Tidak dapat dipungkiri kalau awalnya ada sedikit kekecewaan karena Bokura menegasikan surealisme Litchi. Istilahnya “oh ternyata mereka cuma remaja biasa“. Tapi setelah selesai membaca, saya akui buku ini pas banget sebagai “Guidebook to Litchi Hikari Club”. If you like Litchi Hikari Club, you should read this one!

nb:

Beberapa pesan moral yang saya dapatkan dari manga ini:
1. Hati-hati menyekolahkan anak di sekolah khusus cowok.
2. Jika temanmu yang jenius tapi punya daddy issue mulai ngajak-ngajak bikin robot atau makhluk superhuman lainnya, jangan langsung dituruti. Mungkin dia cuma butuh di-puk-puk.
3. Tolong, PLEASE, gak usah deket-deket sama anak yang ngakunya ngefans sama kamu tapi hobinya nyilet-nyilet perut hewan. Trust me, it’s a bad idea.

Iklan

5 pemikiran pada “Review: Bokura no Hikari Club

  1. Nice review. Saya suka art dan horror.

    ” 3. Tolong, PLEASE, gak usah deket-deket sama anak yang ngakunya ngefans sama kamu tapi hobinya nyilet-nyilet perut hewan. Trust me, it’s a bad idea.”
    Lol. Kecuali kalo masokis *cough*

  2. Well, aku ‘tersesat’ ke blog ini karena Nomura Shuhei jadi Tamiya di Litchi Hikari Club. Nyari review filmnya, semuanya membingungkan… kabur, seakan ada yang ditutupi /halah/ Jadi aku cari review manga-nya aja

    Pas baca review Litchi dan yang ini, aku tersadar… tambahin pesan moral satu lagi kak: 4. Jangan dibaca dan ditonton pas bulan Puasa. Pokoknya jangan. 😦

    Well, di film live action-nya, (as usual) ada beberapa bagian yang harus dipersingkat. Dan ini bikin bingung. Sumpah. Apakah aku harus baca manganya juga? Ah tunggu selesai bulan puasa aja kali ya… wkwk

    • Makasih komennya ^^
      Wah udah nonton live actionnya ya? Aku blm, krn waktu itu msh blm ada yg sub 😦 klo liat trailernya sih kyna jalan cerita plek kayak manganya.

      Semoga menikmati blog ini! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s