!Crap: No Place in Heaven

Father, will you forgive me for my sins?
Father, if there’s a heaven let me in

Diiringi aransemen piano sederhana namun sedih, lirik itu mengawali lagu No Place in Heaven dari album terbaru Mika. Begitu mendengarnya, saya langsung mikir “Wah, tumben Mika bikin lagu ‘berat'”. Mika adalah salah satu singer-songwriter favorit saya. Secara umum, saya menyukai aransemen Mika yang didominasi piano bernuansa ceria serta lirik yang agak berteka-teki namun cerdas dan nakal. Makanya, bait awal lagu tadi cukup membuat saya terkejut.

Lagu No Place in Heaven adalah lagu yang sangat personal, berisi ‘curhat’ Mika kepada Tuhan terkait orientasi seksualnya (fyi, Mika is gay). Saya kira lagu ini cukup unik. Oke, mungkin saya yang kurang piknik, tapi biasanya image yang saya tangkap dari artis luar negeri yang sudah coming out adalah “Finally, I’m free to be myself! Yay, you should try coming out too, my friends! No more pretensions!” Pendek kata, dunia seolah disepuh warna pelangi. Tetapi beberapa aspek kehidupan – salah satunya aspek religi – secara tidak langsung seakan menjadi sebuah “elephant in the room”. Ada, tapi mau diungkit bikin gak enak. Lewat lagu ini, Mika secara blak-blakan mengungkapkan kecemasan dan kekhawatirannya sebagai seorang penganut Katolik (atau setidaknya sebagai seorang penganut agama) sekaligus seorang homoseksual.

I don’t know where to go if I should die
We haven’t been on speaking terms for so long, you and I

Jujur, saya sangat tersentuh oleh lagu ini. Terlepas dari tema homoseksualnya, lagu ini sangat manusiawi karena lagu ini mendeskripsikan kecemasan dan ketakutan setiap manusia beragama, yang mungkin hanya terpikir di malam-malam sunyi sepi sendiri sambil memohon ampun. Lagu ini mengingatkan saya akan lagu-lagu religi yang biasanya rajin diputar di TV selama bulan Ramadhan. Correction, it’s even more than that! Kalau boleh mengaku, dari sekian banyak komersialisasi lagu religi, cuma sedikit yang benar-benar bikin saya tersentuh. Tetapi No Place in Heaven – yang jelas-jelas tidak dipasarkan sebagai lagu religi – sukses bikin saya nangis bombay. Selama “karir” saya yang sangat, sangat pendek sebagai penulis lagu (minimal ada 1 lagu, jreng! hihihi), saya percaya bahwa niat dan kejujuran adalah kunci sebuah lagu bagus, dan lagu ini memiliki keduanya.

I’m down on my knees
I’m begging you please
There’s no place in heaven for someone like me
Won’t you open the door
And try me once more?
‘Cause there’s no place in heaven for someone like me

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s