Review: Battle of Surabaya

Battle_of_Surabaya.jpeg
Judul: Battle of Surabaya
Tahun: 2015
Pemeran: Dominic, Maudy Ayunda, Reza Rahadian
Produksi: STMIK AMIKOM, MSV Pictures

Surabaya, 1945. Di tengah gaung proklamasi yang masih segar terdengar, tentara Belanda kembali memasuki Indonesia untuk merebut kembali wilayah jajahannya. Musa hanyalah seorang bocah sederhana yang bekerja sebagai pengantar surat di Surabaya. Tetapi ketika ia dipercaya sebagai kurir pesan rahasia untuk tentara Indonesia, mau tak mau ia benar-benar terlibat dalam perseteruan antara Indonesia dan Belanda (yang membonceng tentara sekutu). Situasi bertambah rumit dengan kemunculan kelompok Kipas Hitam, sebuah organisasi rahasia bentukan Jepang. Dibantu oleh Yumna dan Mas Danu, Musa harus memastikan pesan yang dipercayakan kepadanya sampai ke tangan yang benar.

Battle of Surabaya adalah sebuah anime Indonesia. Ya, saya memilih untuk memakai istilah anime karena kentalnya pengaruh gaya animasi Jepang yang digunakan di sini. Buat saya tidak masalah karena kenyataannya dunia perkomikan dan perkartunan Indonesia sudah sekitar 20 tahunan dipengaruhi manga dan animasi Jepang. Yang penting adalah menemukan “bentuk” tersendiri yang unik dan cocok bagi masyarakat Indonesia (hal ini bisa berhasil dengan manhwa (Korea) dan manhua (Cina), kenapa tidak dengan Indonesia?). Saya menonton anime ini tanpa harapan terlalu tinggi, tapi saya akui saya mendapatkan beberapa kejutan menarik.

Satu hal yang patut dipuji dari Battle of Surabaya adalah kualitas animasi, terutama background. Saya orang awam masalah teknik animasi, tapi sebagai penikmat, saya mengagumi ketajaman warna dan kualitas grafis yang disuguhkan. Sekuen animasi pembuka (yang digunakan untuk menyampaikan latar belakang cerita) juga bagus. Pantaslah untuk level movie! Sayangnya, motion animation untuk karakternya masih terbilang kaku, sehingga saat dipadukan dengan background yang sudah cakep itu, malah jadi aneh. Sebagai tambahan, tokoh-tokoh sejarah seperti Bung Tomo digambarkan dengan style realis, beda dengan Musa dan kawan-kawan yang sangat kental style Jepang-nya. Personal sih, tapi saya jadi merasa aneh aja. Alangkah baiknya kalau mau adaptasi mbok ya jangan nanggung-nanggung.

Satu lagi favorit saya adalah desain karakter yang secara subtle dapat menggambarkan keberagaman demografi di Indonesia umumnya dan Surabaya khususnya. Mungkin ini perasaan saya aja sih, tapi coba diperhatikan. Desain karakter Musa adalah tipikal “pribumi” dengan kulit kecoklatan dan mata bulat-lebar. Sebaliknya, Yumna digambarkan berkulit kuning dan bermata sipit (oke, dan namanya “Yumna”, please). Ada satu adegan ketika Musa dan Yumna berdoa, di mana cara mereka berdoa pun berbeda. Satu hal yang masih menjadi misteri adalah Mas Danu. Secara fisik Mas Danu dan Yumna serupa tapi tak sama. Meski Mas Danu suka sok keren menjadi lone wolf, anggota tentara Indonesia nampak tidak ada yang mempertanyakan keberadaan dia di situ. Lalu siapa dia? (Yah, saya dan teman-teman menduga nama aslinya Dansuke hahahahahhhh)

Dari segi plot, saya menilai plotnya kurang kuat. Orang Surabaya mana yang tak kenal pertempuran 1945? That legen–wait for it–dary moment when the Surabayanese youths tore the blue part of the Dutch flag, leaving the remaining red-and-white part as the flag of Indonesia. Nyatanya, cerita lebih banyak mengangkat tentang kehidupan pribadi Musa dan serangan dari kelompok Kipas Hitam (which DID exist, btw). Oke, sampai di sini sebenarnya masih oke kalau memang niatnya memfokuskan cerita ke Musa dengan memakai Pertempuran Surabaya sebagai latar belakang. Yah, seperti konsep Bakumatsu Kikansetsu atau Chevalier D’Eon gitu lah. Masalahnya fokusnya di sini juga nanggung. Penonton bisa melihat beberapa tokoh sejarah Indonesia bersliweran, tapi nyaris tanpa makna. Plus, dari segi alur, beberapa kejadian kunci terjadi secara ‘kebetulan’. Yah, masih bisa dimaafkan lah karena ini movie dengan waktu tayang terbatas. Tetapi, satu hal yang jujur bikin bete banget itu adalah karakter Yumna. Bagi saya, karakter Yumna di situ fungsinya cuma buat plot device. Memang betul Yumna punya peran tersendiri di dalam cerita, tetapi secara alur she’s practically plot device.

Dan sampailah kita pada hal yang sudah banyak jadi bahasan dan cacian: dubbing. Bagusnya, setidaknya mereka memakai native speaker untuk karakter Jepang dan Inggris (kurang tahu untuk karakter Belanda). Di sisi lain, banyak yang mengkritik bahwa para dubber untuk tokoh utamanya “kurang berlogat Surabaya”. Setidaknya Reza Rahadian sudah berusaha berlogat se-Jawa mungkin, andai saja si Mas tidak mengacaukannya dengan berkata “Njuk ngopo?” yang sebenarnya adalah Semarang-an dan bukan Suroboyo-an. Sebagai arek Suroboyo, meski saya suka sok londo di blog ini tetap saja saya sebal. Dari segi voice acting-nya sendiri, jujur saya pengen lempar sendal setiap kali Yumna ngomong. Maaf, tapi begitulah adanya. Musa cukup lumayan, Mas Danu juga oke (well, Reza Rahadian gitu loh), tapi menurut saya yang paling oke adalah…. Cak Soleh! Yak, karakter ini aslinya cuma sebagai comic relief, tapi sukses menyuarakan logat Suroboyo.

Mengesampingkan nasionalisme, Battle of Surabaya adalah film yang cocok ditonton ramai-ramai bersama sesama pecinta anime/manga, tak lain karena pada saat menonton pasti bawaannya pengen teriak “WTH~!” atau “Aaaaah animasi background-nya udah bagus tapi kenapa ceritanya begituuuu???”. Yah, begitulah. Mengedepankan nasionalisme, Battle of Surabaya adalah film yang cocok ditonton ramai-ramai buat nambah-nambahin box office dan untuk tahu bahwa animasi Indonesia sudah cukup maju sehingga bolehlah kita berbangga. Sebagai seorang Indonesia, arek Suroboyo, dan penggemar manga/anime; saya sangat menantikan produksi-produksi animasi nasional selanjutnya.

nb: sekadar link ke sebuah review yang ‘Suroboyoan bangeeetz!’

Iklan

2 pemikiran pada “Review: Battle of Surabaya

  1. Personal sih, tapi saya jadi merasa aneh aja. Alangkah baiknya kalau mau adaptasi mbok ya jangan nanggung-nanggung –> its a point….. ya memang masih belum maksimal, tapi patut diapresiasi usahanya untuk membuat anime Indonesia. untuk mencapai level Indonesia banget saya rasa belon :p.

    #ditulisDenganGayaNgarang

    • makasih udah mampir mas. Maaf baru bales 😀
      ……entah kenapa kayaknya definis “indonesia banget” kita mungkin beda hihihihi…tapi gapapa deng 😀 Yah semoga perkartunan Indonesia tambah maju~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s