Review: The Sheik

11093169

Judul: The Sheik
Pengarang: E.M. Hull
Tahun: 1921

Miss Diana Mayo memang seorang wanita bangsawan yang eksentrik. Dibesarkan oleh kakak lelakinya yang mendidiknya sebagai seorang “lelaki”, Diana tumbuh menjadi seorang wanita cantik, mandiri, namun egois. Keegoisan terbarunya adalah memutuskan untuk pergi menjelajahi gurun dengan hanya didampingi pemandu lokal. Siapa yang sangka bahwa Diana akan menjadi incaran Ahmed, seorang sheik muda pemimpin suku setempat. Bagi Ahmed, apa yang ia mau, akan ia ambil. Tanpa basa-basi Ahmed menculik Diana dan membawanya ke gurun. Pilihan Diana tidak banyak: mati terlantar di gurun atau tunduk pada Sheik Ahmed bin Hassan!

Saya rasa buku ini harusnya diberi judul The Sheikh: A Detailed and Thorough Example of Stockholm Syndrome in Romance Fiction. Buku ini menyajikan kisah cinta yang aneh dan obsesif berlatar setting eksotis gurun pasir. Oke, jadi Ahmed melihat Diana sekelebatan di jalan, lalu dengan santainya memutuskan “Cakep juga. Culik ah~!” Nyang bener aje, Mas???? Diana yang berwatak angkuh dan egois tentu saja berontak. Hanya saja, Diana tidak menduga bahwa Ahmed jauh lebih angkuh dan lebih egois daripada dia. Tidak heran bagian awal buku ini diisi oleh battle of will, bahkan bisa dibilang bahwa ‘malam pertama’ Ahmed dan Diana adalah pemaksaan.

Titik baliknya adalah ketika Diana mencoba kabur (dan berhasil!), namun segera sadar bahwa dirinya tidak bisa apa-apa sendirian di tengah gurun pasir. Otomatis Diana langsung teringat Ahmed dan secara tidak sadar mengasosiasikan “rasa aman dan familiar” yang didapat dari “naungan” Ahmed dengan perasaannya terhadap Ahmed, di mana Diana sampai pada kesimpulan: aku cinta Ahmed! Mbak Diana, pernah denger stockholm syndrome gak, Mbak? Alur cerita berjalan lambat dan baru menghangat di pertengahan buku, ketika Diana jatuh cinta pada Ahmed. Dari situlah semuanya menjadi oh-so-drama dan pembaca bisa menarik napas lega karena akhirnya yakin bahwa ini novel romance dan bukannya kisah drama penculikan.

The Sheik ditulis tahun 1921, di mana konsep Orientalisme masih jaya-jayanya di dunia barat. Banyak strereotyping dan salah kaprah atas budaya Arab di buku ini. Tapi hebatnya, penulis buku ini adalah seorang ibu rumah tangga! Ya, Edith Maude Hull adalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menginjakkan kaki ke gurun pasir manapun ketika buku ini ditulis. Mau tidak mau saya salut juga dengan daya imajinasi beliau karena adegan-adegan keseharian yang digambarkan di buku ini cukup detil, termasuk dekor dan tata ruang tenda Diana dan Ahmed.

Terlepas dari segala macam keluhan di atas, saya mengakui The Sheik ditulis dengan baik. Yah, gimana yah, buku ini minus adegan huha, sih. Bagi yang membaca dengan harapan ngintip adegan huha siap-siap ketjewa karena di-skip langsung ke “the next morning” wihihihi. Minusnya adegan huha ini membuat penulis bisa lebih memfokuskan ke jalan cerita dan perasaan para karakternya. Dan jalinan ceritanya pun ditulis dengan baik. Hampir tidak ada bagian yang menurut saya ‘maksa’. Bahkan membaca buku ini bisa jadi pengalaman yang menarik karena kita seolah diajak melihat proses stockholm syndrome. Bahkan dengan itu pun, karakter Diana bisa konsisten sepanjang buku (bahkan setelah Diana terkiwir-kiwir sama Ahmed pun sifat dasarnya masih sama). Oh, dan adegan terakhirnya ituh! Terlepas dari hubungan Diana dan Ahmed yang – menurut saya – aneh, adegan klimaks The Sheik sangat menyentuh emosi. Saya nggak bisa bilang apa-apa sih, cuma yang jelas adegan terakhirnya itu sangat masuk akal dengan mempertimbangkan karakter mereka berdua (which means pembaca sebaiknya baca dari awal. NO PEEKING, NO SKIMMING!).

Kekurangannya, hampir seluruh buku ini habis dipakai untuk mengeksplorasi pemikiran Diana. Tokoh Ahmed dan Raoul hanya mendapat bagian seperlunya. Bahkan saya bilang bagian Raoul (yang baru muncul di sepertiga terakhir cerita) masih lebih banyak dari Ahmed. Sebagai pembaca saya benar-benar tidak tahu jalan pikiran Ahmed selain dari tindakan dan dialog yang dia ucapkan, karena Diana sendiri juga masih suka bingung membaca mood Ahmed. Si pengarang memang berusaha “membayar” dengan memberikan satu paragraf (puuuuanjang!) yang isinya igauan Ahmed ketika tak sadarkan diri karena terluka. Satu paragraf yang merangkum perjalanan cerita The Sheik dari sudut pandang Ahmed. Sayangnya, menurut saya itu belum cukup.

Sungguh, buku ini seperti love-hate relationship untuk saya. Tapi satu alasan saya memutuskan untuk me-review The Sheik adalah karena buku ini bisa dibilang nenek moyang segala macam “Sheikh Romance” yang biasanya nongol di buku-buku Harlequin Present. Sheikh-nya sekarang mungkin diganti dengan Pangeran/Milyuner/Tycoon atau entah apa lagi, tapi blueprint-nya tidak jauh beda. Tapi buat saya buku ini masih lebih bagus karena karakter ceweknya yang kuat (meski tidak membuat simpati). Kabar gembiranya, The Sheik sudah masuk public domain, jadi bisa di-download bebas dari website Project Gutenberg.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s