Review: Star Wars: The Force Awakens

star-wars-the-force-awakens-official-movie-poster-2

Judul: Star Wars: The Force Awakens
Pemain: Daisy Ridley, John Boyega, Adam Driver, Oscar Isaac, Harrison Ford, Carrie Fisher
Tahun: 2015
Sutradara: J. J. Abrams

A long time ago in a galaxy far, far away…

Tiga puluh tahun setelah kekaisaran dihancurkan, sisa-sisa kekaisaran bangkit kembali dan menamakan diri mereka The First Order. Posisi The First Order yang semakin menguat menimbulkan keresahan. Menyadari hal ini, pasukan pemberontak yang dipimpin Leia Organa memutuskan untuk melacak keberadaan Luke Skywalker yang menghilang tanpa jejak. Leia mengutus pilot terbaiknya, Poe Dameron, untuk mengambil peta yang mencatat lokasi Luke. Apa daya, pasukan First Order yang dipimpin Kylo Ren mengendus rencana mereka, memaksa Poe untuk menyembunyikan peta di dalam droid BB-8. Poe yang ditangkap oleh Kylo Ren berhasil meloloskan diri dengan bantuan Finn, seorang stormtrooper yang mendadak insaf. Sementara itu, dalam perjalanannya, BB-8 ditemukan oleh Rey, seorang pemulung yang menyimpan kekuatan Force terpendam. Bagaimana perjalanan ketiga orang ini? Akankah mereka berhasil menemukan Luke Skywalker?

Komentar saya untuk Star Wars: The Force Awakens ini cukup singkat saja: BAGUS! Special effect jelas, lah, oke punya. Alur cerita pun memikat, membuat 2 jam lebih durasi film ini tidak terasa. Kalaupun ada sedikit kritik mungkin lebih pada jalan cerita yang serasa mengikuti blue print Star Wars Episode IV: seorang nobody yang tiba-tiba menemukan droid yang membawa pesan rahasia, lalu terseret dalam perseteruan kekuasaan antara kubu baik dan jahat, plus – sebagai bonus – ternyata si nobody itu adalah seorang pahlawan! Sounds familiar? Terus soal Starkiller Base itu juga! Udah mau tepok jidat pas dikasih tau cara menghancurkan Starkiler Base. Well, karena saya suka Episode IV, saya gak protes sih, apalagi alur cerita film ini dieksekusi dengan baik. (Bagi yang belum nonton Episode IV, saya sangat rekom untuk mencari DVD bajakan atau donlotan terdekat nonton.) Satu lagi, bagi yang nonton ini dan mengharap jalan cerita yang realistis, mohon maaf. Banyak hal “mendadak” yang terjadi: Finn yang mendadak insaf, Rey yang mendadak nyadar punya kekuatan, dan Poe yang mendadak dangdut… eh. Saya sih maklum-maklum saja karena Star Wars memang pada dasarnya film “koboi”. Even with all that, it’s a good movie!

Dari segi karakter, The Force Awakens sukses memperkenalkan triumvirat baru: Rey, Finn, dan Poe. Saya cukup surprise karena saya cukup suka karakter Rey. Dibanding beberapa film belakangan ini yang mengedepankan tokoh utama wanita – seperti Hunger Games dan Wanted (saya belum nonton Divergent, sih) – yang bagi saya terasa terlalu menekankan one-woman show, The Force Awakens berhasil membagi porsi peran yang seimbang diantara ketiga karakter utamanya. Rey adalah seorang wanita cerdas dan mandiri, tapi ia tetap membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa berhasil. Karakter Finn juga bagus. Terlepas dari pertanyaan “kok bisa tiba-tiba insap?”, keberadaan Finn membaur cukup baik, bahkan ia cenderung nyambi jadi comic relief. Seperti Luke yang sempat naksir Leia di Episode IV, Finn juga agak-agak naksir Rey. Sayangnya sejauh ini saya melihat Finn masih beredar di area friendzone sih. Meski begitu, karakter Finn punya potensi besar untuk dikembangkan di sequel selanjutnya. Terakhir, Poe Dameron sang pilot tampan nan menawan. Peran Poe memang kurang terasa di film ini, tapi saya harap bisa melihat Poe hepi-hepi sama Finn di sequel selanjutnya. Ups, spoiler ya? Wakakakak. Maaph~!

Satu lagi kejutan menyenangkan yang saya dapat di film ini adalah Kylo Ren. Yak, benar sekali. Tokoh antagonis yang satu ini ternyata cukup kompleks dan cukup fangirling-worthy! Ahahay! Saya rasa penulis ceritanya melakukan inisiatif yang cerdas dengan membuat Kylo Ren membuka topengnya di paruh awal cerita. Jika sebelumnya Kylo Ren tidak lebih dari seorang “Darth Vader 2.0” – bahkan dengan segala masa lalunya – terbukanya topeng Kylo Ren membuat penonton bisa ‘terhubung’ dengan karakternya. Penonton dapat merasakan bahwa Kylo Ren tidak hanya sekedar tokoh antagonis yang ada di situ untuk menghalangi niat tokoh utama, tetapi sebuah 3-dimensional character yang utuh. Kalau ada yang bilang bahwa Kylo Ren terlalu immature untuk seorang pimpinan pasukan musuh – secara dia kalo kalah suka emosi dan melampiaskan kepada lingkungan sekitar – menurut saya hal itu wajar karena, secara umur, Kylo Ren memang jauh lebih muda dibandingkan Darth Vader di Episode IV. Terbukanya topeng Kylo Ren juga sangat membantu saya untuk tidak menganggap setiap ucapan Kylo Ren – terutama saat menginterogasi Poe dan Rey – sebagai double entendre. Bwahahaha. Saya sih mendukung Kylo sama Rey. Kalau mereka bukan sepupu. Eh tapi sepupu kan masih boleh nikah yak. Harapan saya, untuk selanjutnya karakter ini akan dieskplorasi lebih dalam. Menilai dari ending scene-nya, kemungkinan besar Kylo akan jadi lebih heartless dan kedjam. Eh tapi sumpah penasaran apa maksutnya Snoke waktu bilang mau ‘menuntaskan pelatihan’. Kenapa kok jadi terbayang sesuatu yang iya-iya dan nggak-nggak? *dikeplak*

Akhir kata, The Force Awakens sangat pantas untuk ditonton di bioskop. Jangan khawatir kalau belum pernah nonton Star Wars sebelumnya, karena film ini sangat bisa ditonton sebagai stand alone, mengingat ini adalah awal dari trilogi baru Star Wars. Selamat menonton!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s