Review: Yukarism

i228930

Judul: Yukarism
Pengarang: Shiomi Chika
Volume: 4 (tamat)
Penerbit: Hakusensha (jpn) / Viz (eng)
Tahun: 2010

If you are still a prisoner to the past, then this time, I will free you and take you with me

Yukari adalah seorang siswa SMU yang tidak biasa. Selain menjadi seorang novelis muda, Yukari punya satu rahasia: ia bisa “melihat” kehidupan masa lalu di zaman Edo lewat mimpi! Cerita dimulai ketika Yukari bertemu Mahoro, seorang gadis yang baru pindah ke sekolahnya. Sejak itu, “mimpi” Yukari menjadi lebih mendetail. Ia makin sering “terbangun” di zaman Edo sebagai seorang oiran bernama Yuumurasaki. Yukari menyadari bahwa orang-orang terdekatnya di masa kini dan masa lalu saling berhubungan. Namun dalam perjalanan mencari “siapa-reinkarnasi-siapa”, jati diri Yukari dan Yuumurasaki pun kian lebur menjadi satu. Bagaimana Yukari menghadapi batasan “masa lalu” dan “masa kini” yang kian kabur?

Bersama Yukari, pembaca diajak untuk mencoba menjawab kenapa Yuumurasaki “memanggil” Yukari. Apa yang ingin disampaikan Yuumurasaki? Ini sebuah cerita sederhana dan manis tentang sekelompok orang yang berusaha menyelesaikan ikatan dengan masa lalu mereka. Agak-agak mirip dengan Please Save My Earth, hanya saja lebih ringan, meski tetap dengan konsep coming-of-age story.  Alur cerita manga ini tidak terlalu fantastis, tapi juga tidak melulu romantis. Satu poin menarik dari Yukarism: gender-swap reincarnation! Yukari yang cowok tulen sempat cengok saat “terbangun” sebagai Yuumurasaki berbalut kimono dan tata rias lengkap khas oiran. Dan tentu saja, Mahoro di masa lalunya adalah cowok. (Pertanyaannya: siapa?)

Karakter-karakter di Yukarism sangat likable. Saya menyukai reaksi mereka yang sangat minim drama terkait masalah reinkarnasi. Yukari, khususnya, adalah yang paling lempeng. “Oh, gue di zaman Edo sekarang. Eh, gue cewek? Not bad!” (dan masih tetep lempeng saat Yukari “bangun” ketika Yuumurasaki sedang “melayani” pelanggan.) Karakter Mahoro juga menarik. Mungkin karena ia adalah cowok di kehidupan yang lalu, sangat menarik melihat dinamika hubungan Yukari dan Mahoro. Dan tidak lupa, dua cowok kece yang sangat sayang pada Yuumurasaki: Kazuma dan Shizuka. Dua cowok dengan tujuan yang sama, namun sifat dan cara yang berbeda. (If you ask, I’m team Shizuka.)

Masih seputar karakterisasi, buat saya Yukarism berhasil menyuguhkan karakter-karakter yang menarik hanya dalam 4 volume saja. Yuumurasaki misalnya, walau digambarkan sebagai “almost flawless character“, tetap terasa kompleks. Sebagai oiran, ia menanggung “beban” untuk mencintai semua orang tetapi tidak mengistimewakan satu pun. Tapi kalau dibalik, bukankah mencintai semua orang sama rata sama dengan tidak mencintai siapapun? Karakter Shizuka dan Kazuma pun jelasnya bukan tipikal pemuda harapan bangsa. Kazuma punya masa lalu kelam sebelum akhirnya memutuskan bekerja sebagai bodyguard Yuumurasaki. Shizuka pun, selain sebagai dukun yang ditakuti, punya karakter yang agresif dan egois – tipikal alpha-male. Bab demi bab, Yukarism menyingkap layer masing-masing karakternya, menghasilkan gambaran pribadi yang utuh. (Sebenarnya saya ingin ngomong lebih banyak soal karakter-karakter ini, tapi jatuhnya spoiler ntar.)

Dari segi art, Yukarism tidak mengecewakan. Iya dong, isinya mas-mas ganteng. Memang tidak se-maknyus mas-masnya Odagiri Hotaru sih, tapi sangat acceptable untuk shoujo manga. Singkatnya, Yukarism adalah shoujo manga yang layak baca. Short and sweet, but not too short and not too sweet. Sangat rekom buat yang ingin baca cerita yang tidak panjang-panjang, romantis tapi berisi, tamat, dan – tentunya – happy ending!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s