Review: The Danish Girl

The_Danish_Girl_(film)_poster

Judul: The Danish Girl
Pemain: Eddie Redmayne, Alicia Vikander, Matthias Schoenaerts, Ben Wishaw
Tahun: 2015
Sutradara: Tom Hooper

Film ini terinspirasi dari kisah Einar dan Gerda Wegener, sepasang seniman sekaligus suami-istri. Pernikahan mereka berjalan baik, sampai suatu hari Gerda yang notabene pelukis potret meminta Einar untuk menggantikan modelnya, di mana Einar harus memakai pernak-pernik wanita. Hal ini membangkitkan hasrat bawah sadar Einar, perlahan namun pasti mempertanyakan seksualitasnya sebagai seorang lelaki.

Tadinya saya mengira tidak banyak yang bisa dibicarakan dari The Danish Girl. Ini cerita seorang transgender yang kemudian memutuskan menjalani operasi ganti kelamin, topik yang di era milenium bukan hal baru (meski masih mengundang komentar). Oh well, karena setting-nya tahun 1920-an mungkin cuma beda level tekanan sosial lah ya. Ending-nya juga sudah ketebak. Saya sendiri menonton ini murni karena ingin melihat mas Eddie Redmayne jadi cewek. Tujuan hina itu (sangat) terpuaskan, tetapi saya lega karena dugaan saya tentang film ini salah.

To me, The Danish Girl is a love story. Film ini menyoroti bagaimana ikatan cinta antara Einar/Lili dan Gerda menghadapi kegelisahan Einar atas gender dan seksualitasnya. Diawali dari shock from the discovery, masa adaptasi dan ‘gencatan senjata’ (okemonggo silakan cross-dress tapi diem-diem aja yak), sampai dengan keputusan final Einar untuk operasi ganti kelamin, yang berarti berakhirnya pernikahan Einar dan Gerda. Saya aja sampe miris melihat bagaimana Gerda bisa begitu nerimo, supportive, dan cinta – serta tetap setia – pada Einar/Lili. Kadang pengen nyambit Einar karena keegoisannya cross-dressing, bahkan punya affair dengan cowok lain (singkat sih, tapi tetep aja -_-), tapi kasihan juga melihat konflik batin yang dihadapi. Campur aduk, deh. Tetapi sampai akhir, penonton bisa menangkap bahwa ikatan mereka berdua masih dan akan selalu ada.

Acungan jempol saya untuk para aktornya. Seperti biasa, mas Eddie Redmayne memberikan penampilan yang sangat membekas plus membuat saya minder soalnya Si Mas cakep sih jadi cewek. Adegan yang paling berkesan adalah ketika Einar menonton peep show, namun – bukannya menikmati – Einar malah diam-diam menirukan gerak-gerik si wanita penghibur. Di sini, tatapan mata dan bahasa tubuh Einar berhasil mengekspresikan “aku ingin, tapi aku takut… takut sekali” dengan sangat kuat. Also, thumbs up for Alicia Vikander karena berhasil membuat saya merasakan betapa miris situasinya. Chemistry antara Eddie Redmayne dan Alicia Vikander cukup terasa. I even rooted for them, despite the sex reassignment thing!  

Sayangnya, hal yang membuat saya terpikat pada film ini ternyata juga merupakan kekurangan terbesarnya. Meski terinspirasi oleh kisah nyata, film ini sangat meromantisir hubungan Einar dan Gerda. Ya, plot The Danish Girl memang berdasarkan sebuah novel (fiksi) yang ditulis berdasarkan kisah hidup Einar Wegener/Lili Elbe. Pada kenyataannya, banyak hal yang mempengaruhi hubungan Einar dan Gerda. Kalau di film, timeline cerita hanya berkisar beberapa tahun, padahal kenyataannya Einar mulai cross-dressing sejak lama (mereka menikah tahun 1904 dan dibatalkan tahun 1930. Minimal sejak tahun 1912 “Lili” sudah ada. Einar/Lili meninggal tahun 1931). Belum lagi spekulasi bahwa pasangan nyentrik ini masing-masing memang punya tendensi homoseksual. I mean, it’s one thing to keep being married to a man who cross-dresses when you’re not seeing it, but it’s another thing to keep being married to a man who cross-dresses and is ALSO your (favorite) model. Not to mention that you hang around town with the cross-dressing husband. But, even after knowing this, I still think they made a good team. Cuma ya itu, film ini tidak dapat diandalkan sebagai ‘kisah nyata’. 

Bagi yang lagi mood nonton film agak berat dan tidak keberatan dengan tragic ending, The Danish Girl bisa jadi tontonan pas. Buat yang ngefans Eddie Redmayne dan Ben Wishaw –  apalagi yang pengen liat mereka berdua cipokan – juga sangat disarankan nonton. Suer deh adegan itu lumayan jaw-dropping, antara lain karena ekspresi Si Mas (Eddie) yang bener-bener kayak perawan yang malu-malu belum pernah dicium. Sayangnya, saya tidak tahu apakah film ini akan dirilis di Indonesia, mengingat topiknya yang masih kontroversial di tanah air.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s