Review: Indebted Series

51QFQjsLfbL._SX331_BO1,204,203,200_

Judul: Indebted Series (book 1-7) 
Pengarang: Pepper Winters
Tahun: 2014-2016

Nila Weaver terlahir di keluarga kaya dan punya karir cemerlang sebagai perancang busana. Meski begitu, Nila merasa terpenjara oleh ayah dan saudara kembarnya yang overprotektif. Nila heran ketika sang ayah mengenalkannya pada Jethro Hawk serta mengijinkan Jethro membawanya pergi. Kebingungan Nila makin bertambah ketika Jethro mengatakan bahwa sebuah hutang turun-temurun memaklumatkan setiap putri tertua keluarga Weaver sebagai ‘hak milik’ keluarga Hawk. Apa itu Debt Inheritance? Akankah Nila berakhir menjadi satu lagi tumbal perseteruan keluarga Hawk dan Weaver?

Indebted Series adalah perkenalan pertama saya pada genre dark romance. Tadinya saya kira ini semacam cerita marriage of convenience gitu, eh ternyata salah, lah, lah. Semua berawal pada zaman dahulu kala, saat keluarga Weaver memperbudak dan menyiksa keluarga Hawk dengan sangat kejam. Singkat cerita, keluarga Hawk berhasil membalikkan keadaan dan membuat Debt Inheritance: tiap putri tertua keluarga Weaver akan diambil oleh keluarga Hawk untuk membayar penderitaan keluarga Hawk. Sebagaimana ibunya, sekarang giliran Nila Weaver diklaim oleh Jethro Hawk untuk membayar 5 hutang alias 5 penyiksaan, yang berujung pada hukuman mati. Wow. Oh, wow. Ini pertama kali saya baca buku ginian.

Untungnya (atau sialnya?), Pepper Winters adalah penulis yang baik. Biasanya saya kurang suka dengan penggunaan 1st person POV di novel romance, tapi Indebted Series memakai 1st person POV bergantian untuk kedua tokoh utama, Nila dan Jethro. Itu dan kepiawaian penulisnya membuat saya bisa duduk manis tanpa ingin melempar barang ke tembok. Serial ini juga perkenalan saya dengan hobi sebagian pengarang genre ini: cliffhanger. Indebted Series terdiri dari 7 buku: Debt Inheritance, First Debt, Second Debt, Third Debt, Fourth Debt, Final Debt, dan Indebted Epilogue. Tiap bukunya (kecuali Final Debt dan Epilogue) diakhiri dengan cliffhanger yang ngehe. Banget. Sumpah. Apalagi ending-nya Third Debt tuh bikin saya pengen nge-troll.

Karakterisasi tokohnya cukup bagus. Di awal serial, Nila Weaver digambarkan bagai seorang putri di menara gading. Cantik, so protected, dan menderita vertigo. With all due respect pada penderita vertigo, di karakter Nila aspek ini benar-benar melengkapi gambaran seorang “putri” yang dikit-dikit pingsan/mual/muntah. Bagusnya, sejak First Debt karakter Nila berkembang menjadi lebih kuat. Tinggal di kediaman keluarga Hawk menjadi berkah tersembunyi karena ia belajar bertahan hidup di tengah-tengah intrik dan tipu daya. Nila pun belajar mengendalikan serangan vertigonya. Overall, saya suka pengembangan karakternya.

Lalu ada Jethro Hawk. Sejak Debt Inheritance, saya sudah tertarik dengan karakter Jethro karena di situ dia benar-benar digambarkan sebagai orang yang kejam dan tidak berperasaan. Memang di situ Jethro tidak melakukan kekerasan fisik ke Nila tapi secara mental ia benar-benar melecehkan Nila sebagai seorang manusia. Kenapa saya tertarik? Karena saya penasaran bagaimana pengarangnya akan membalik karakter Jethro yang tadinya antagonis menjadi Pemuda Harapan Bangsa. Cukup berhasil sih. Sungguh menyenangkan melihat Nila merobohkan pertahanan mental Jethro. Ada sedikit plot device, tapi yah… masih okelah. *Mas Jethro, aku padamu, Mas~!*

Karakter-karakter lainnya juga menarik, terutama keluarga Hawk. Ada Hawk bersaudara: Kestrel Hawk yang ramah namun penuh rahasia, Jasmine Hawk yang sangat devoted pada Jethro, dan Daniel Hawk, si bungsu keluarga Hawk yang sudah wassalam dan beyond repair. Belum lagi Bryan “Cut” Hawk, sang kepala keluarga yang elegan tapi psycho. Keluarga Weaver pun, meski nggak se-geje keluarga Hawk, juga agak aneh sih benernya. Kalau dipikir-pikir pantes aja Nila dan Jethro cocok secara mereka dibesarkan oleh keluarga yang sama-sama ajaib – dengan caranya masing-masing.

Saya sih lumayan love-hate sama serial ini. Love karena sudah kadung ngikutin dan penasaran dengan debt dan segala macam latar belakangnya. Untuk ukuran serial, ketujuh buku di Indebted Series cukup mengekplorasi latar belakang Debt Inheritance. Hal lain yang banyak dijelaskan adalah macam-macam “what if” dari Debt Inheritance. Misal, karena jangka waktu pelunasan Debt Inheritance yang panjang (bisa tahunan kayak kredit mobil), masa sih dari sekian generasi Hawk-Weaver gak ada yang pernah jatuh cinta? Terus masa keluarga Weaver gak ada yang pernah coba lapor polisi gitu? Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab sedikit demi sedikit di tiap bukunya, memperkuat pondasi latar cerita.

Hate-nya sih karena makin ke belakang novelnya makin panjang. Okelah Debt Inheritance cuma 220 halaman – secara prolog gitu loh – dan First Debt standar lah 300-an halaman. Njeketek Final Debt masa 472 halaman? Masalahnya, makin ke belakang juga rasanya makin banyak filler yang nggak penting. Di Second Debt – yang saya juluki “buku honeymoon” karena isinya yayang-yayangan melulu – banyak bagian saya skip karena bosen. Lalu ada Fourth Debt yang separuh buku isinya !!!spoiler alert!!! Nila nangis-nangis melulu karena menyangka Jethro sudah mati. Terus lama banget mengungkap bahwa Jasmine cuma pura-pura, padahal pembaca udah bisa nebak. As if it’s a surprise. !!!spoiler alert!!! Paling kesel sama Final Debt karena selama paruh awal ceritanya bisa dibilang jalan di tempat. Ada aktivitasnya sih, tapi secara plot mereka nggak kemana-mana. Baru di paruh kedua Final Debt cerita bergulir seru dan mantap. Tau gitu, kenapa separuh awal Final Debt gak ditaruh di separuh akhir Fourth Debt aja? Ironisnya, terlepas dari semua keluhan itu, yang membuat saya tetap setia pada serial ini tak lain adalah…cliffhanger.

Oh iya, sekadar peringatan, karena tema Indebted Series cukup suram, jangan kaget kalau disuguhi adegan penyiksaan yang agak absurd dan bikin pingsan. Sejauh ini, adegan-adegan tersebut masih bisa saya skimming tanpa mengurangi esensi cerita. Bahkan, makin ke belakang, saya merasa Nila got away with too many things. Apa penulisnya insap gak tega karena ini cerita romance? Yang jelas, membaca Indebted Epilogue berasa kayak di toko permen, seolah penulisnya ingin membayar dosa kebrutalan buku-buku sebelumnya.

Kisah cinta Nila dan Jethro? Oh please, why do you think I keep reading this book? Kalau anda bisa bertahan baca Debt Inheritance, sepertinya anda akan sangat menikmati jalinan cinta Nila dan Jethro sebagai star-crossed lovers serta perjuangan mereka mengakhiri Debt Inheritance. Anyway, saya senang karena semua berakhir bahagia dan saya bisa lepas dari siksaan cliffha…. What the heck, mau ada Indebted Beginning??? Miapah, Miss Winters, miapah????

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s