Review: Sweeney Todd (musical)

FINALFINAL

Judul: Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street
Musik & Lirik: Stephen Sondheim
Cerita: Hugh Wheeler
Produksi: MUSKET (Ann Arbor, MI)
Tahun: 2014

Attend the tale of Sweeney Todd
His skin was pale and his eye was odd
He shaved the faces of gentlemen
Who never thereafter were heard of again

Setelah difitnah dan diasingkan selama 15 tahun, Benjamin Barker berhasil kembali ke London. Bukannya menemukan anak dan istri yang disayangi, Benjamin mendapati istrinya meninggal dan anaknya diambil oleh Judge Turpin. Ketika mengetahui Judge Turpin adalah dalang di balik semuanya, Benjamin Barker bertekad membalas dendam. Dibantu oleh Mrs. Lovett, Benjamin menjelma menjadi persona baru: Sweeney Todd, seorang tukang cukur dari Fleet Street. Akan tetapi, apa yang awalnya adalah pembalasan dendam berubah menjadi ajang pembunuhan berantai.

Saya memilih Sweeney Todd karena merasa “aman” sudah tahu garis besar ceritanya dari versi film. Jujur, saya tidak terlalu suka versi filmnya. Nggak tahu kenapa aneh aja ngeliat Johnny Depp tau-tau nyanyi di tengah film. Nggak heran saya sempat merasa deg-degan apakah saya akan menyukai musical ini. Ternyata… saya suka! banget! Pengetahuan saya mengenai seluk-beluk pertunjukan musical tidak banyak, jadi tampaknya saya tidak bisa sok profesional komentar tentang akting dan nyanyiannya. Lagipula, saya terlalu sibuk terpana menikmati “keajaiban di atas panggung”.

Hmmm bingung nih mau mulai dari mana. Let’s see… Ah, the music! Pengalaman nonton musical masih bisa dihitung jari sih, tapi sampai sekarang belum ada yang mengalahkan aransemen musik Sweeney Todd. Saya nggak tahu apakah ini karena aransemen musiknya – yang mirip-mirip opera – atau apa, tapi dibanding beberapa musikal lain, saya merasa musical score di Sweeney Todd paling berhasil menyampaikan emosi karakter. Diantara lagu-lagu yang ada di musical ini, ada beberapa yang jadi favorit saya.

Lagu yang paling saya suka adalah The Ballad of Sweeney Todd yang bikin merinding disko. Aransemennya yang gelap, suram, dan bergaya semi-opera terasa pas banget menggambarkan karakter Sweeney Todd yang penuh kepahitan dan dendam kesumat. Sebagai lagu pembuka, lagu ini dinyanyikan oleh seluruh cast Sweeney Todd dan menjadi lagu yang menggambarkan atmosfer keseluruhan pertunjukan. Cuplikan pentas bisa dilihat di sini (The Ballad of Sweeney Todd mulai menit 2:25):

Lagu No Place Like London juga salah satu favorit saya. Entah kenapa, saya merasa lagu ini berhasil mengekspresikan perasaan Sweeney Todd dan Anthony Hope saat melihat kota London dari dek kapal. Keduanya menganggap London “tiada duanya”; Anthony yang masih muda dan lugu melihat sebuah kampung halaman indah yang selalu ia rindukan, sebaliknya, Sweeney yang sudah kenyang penderitaan duniawi hanya melihat keburukan dan kenistaan. Kontras ini sangat menarik buat saya.

Lagu lain yang saya suka adalah Pirelli’s Miracle Elixir. Alasannya sederhana: lagunya catchy. Bwakakakak. ‘Twas Pirelli’s Miracle elixir. That’s what did the trick, Sir. True, Sir, true…. *dibekep* *dibuang ke laut*

Dari segi cerita, Sweeney Todd adalah sebuah tragedi. Seorang pria baik-baik yang dizalimi, yang setelah bersusah-payah kembali malah menemukan keluarganya tercerai-berai. Masuk akal kalau ia ingin balas dendam. Sayangnya, dalam pembalasan dendamnya, Sweeney malah jadi gelap mata, berbalik tertelan oleh dendam yang tidak terpuaskan meski sudah membunuh musuhnya sekalipun. Meski begitu, akhir cerita menyisakan harapan yang dilambangkan oleh sosok Johanna dan Anthony yang pergi menyongsong masa depan mereka.

Soal kostum dan setting pertunjukan Sweeney Todd, dari kacamata orang awam sih saya suka-suka aja. Mungkin karena pertunjukannya level anak kuliahan, tidak banyak luxury yang ditawarkan. Kostum, misalnya, ‘cuma’ pakai baju sehari-hari dengan tambahan pernak-pernik sekedarnya. Setting backdrop-nya bagus, tapi tidak ada “mini stage” tambahan yang biasanya ada di panggung pro *apaan sih itu namanya gak tau* sehingga para aktor (dan sutradara) harus cermat memanfaatkan satu panggung untuk bermacam jenis latar (dibantu bermacam props, tentunya). Tapi mau level anak kuliahan sekalipun, saya lihat semua elemen pertunjukan bekerja sama menghasilkan sebuah hiburan yang mengena di hati penonton.

Pertunjukan Sweeney Todd ini akan selalu jadi kenangan manis untuk saya sebagai pertunjukan live musical pertama yang saya tonton sekaligus membuat saya ketagihan nonton musical. Seperti halnya pertunjukan ini membuka mata saya atas dunia musical, saya pun berharap review ini hanyalah awal dari review musical yang akan hadir di Crappuccino.

Iklan

2 pemikiran pada “Review: Sweeney Todd (musical)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s