Review: The Book of Mormon (musical)

The_Book_of_Mormon_poster

Judul: The Book of Mormon
Musik & Lirik: Trey Parker, Robert Lopez, & Matt Stone
Cerita: Trey Parker, Robert Lopez, & Matt Stone
Produksi: Broadway National US Tour
Tahun: 2016 (First US Tour: 2012)

(Ding Dong!)
Hello, my name is Elder Price
and I would like to share with you the most amazing book

Elder Price dan Elder Cunningham adalah dua orang misionaris Mormon dengan karakter berbeda – Elder Price si Pemuda Harapan Bangsa Mormon dan Elder Cunningham si pathological liar berkelakuan super ajaib. Masih kinyis-kinyis di usia 19 tahun, dengan penuh harapan mereka menginjakkan kaki di Uganda. Apa daya, yang menyambut mereka justru sekelompok orang yang sudah apatis menghadapi hidup. Hidup saja susah, ngapain mendengarkan ceramah tentang Tuhan ini-itu? So, bagaimana perjalanan mismatched duo ini menyebarkan firman Tuhan di tanah Afrika?

Baiklah, mari memulai review musical keren ini dengan ngomongin plot. Dua kreator show ini, Trey Parker dan Matt Stone, sudah duluan terkenal lewat Southpark. Dari sini bisa dibayangkan bahwa jalan cerita akan jadi ngaco bin ngehe. Mengambil genre satir, The Book of Mormon menggambarkan mirisnya kehidupan (AIDS, kemiskinan, kelaparan, digencet warlord setempat, you name it) sebagai sebuah tragicomedy yang mengocok perut sekaligus (sesekali) membuat ingin mewek.

The Book of Mormon mengajak kita menilai apa arti agama. *agama, ya, bukan Tuhan* Bagi Nabulungi, putri kepala suku setempat, agama bisa jadi sebuah simbol dari kehidupan yang lebih baik. Lagu Sal Tlay Ka Siti (mispronounce dari Salt Lake City, salah satu kota Mormon di Amerika) sukses menyampaikan harapan naif Nabulungi akan sebuah “surga dunia” (saya mewek lho dengerin ini). Oh, dan lagu Hasa Diga Eebowai itu… sungguh priceless! Keberadaan agama lagi-lagi disindir sebagai sebuah sarana pelarian alias denial bagi para misionaris di lagu Turn It Off.

Meski begitu, bagi saya The Book of Mormon masih memotret agama dengan nuansa positif. Misal, walau banyak orang menganggap ending The Book of Mormon menyiratkan bahwa “agama adalah sesuatu yang berarti, tapi gak segitu berartinya juga”, saya justru melihat bahwa musical ini juga menyiratkan bahwa “untuk bisa membawa perubahan yang lebih baik ke sekelilingmu, keyakinan itu penting.” Satu adegan yang powerful adalah saat Elder Price – yang sedang kehilangan arah – bangkit kembali meraih keyakinannya. Itu adalah “the moment“, saat Elder Price menyadari apa artinya menjadi seorang Mormon: simply to believe.

Kelakuan tokoh-tokohnya nggak ada yang jelas semua. Elder Price, with all his goody-two-shoes appearance, ternyata diam-diam mendambakan untuk ditempatkan di Orlando (Sea World! Disneyland!). Elder Cunningham yang ternyata gak hapal Book of Mormon, ujung-ujungnya malah mengajarkan isi kitab sucinya dengan jurus mengarang tingkat dewa. Belum lagi kelompok misionaris Mormon setempat yang udah pada stress karena sekian lama belum berhasil meng-convert seorang pun. Yang agak bikin cemberut mungkin penggambaran orang lokal yang terlalu stereotipikal. Well, sekali ini dimaafkan deh. Tapi memang orang-orang lokalnya hampir semuanya pada wassalam sih. (Ada gitu yaaaa satu orang yang kerjaannya cuma bilang “I have maggots in my scrooootuuuuuum” bwahahaha kampreeeeeet!!!!)

Banyak adegan yang bikin ngakak di The Book of Mormon, tapi yang paling bikin cengok adalah adegan pembaptisan Nabulungi oleh Elder Cunningham. Suer ya, padahal itu beneran adegan baptis gak ada apa-apa, tapi lirik dan ekspresi kedua orang itu yang malu-malu sudah kayak mau malam pertama (“I’m about to do it for the first time. And I’m gonna do it with a girl” –> maksutnya ngomongin pembaptisan pertama). Geblek banget sumpah.

Dari segi musik, The Book of Mormon punya segudang lagu-lagu catchy. Meski buat saya, secara keseluruhan aransemen musik masih belum ada yang mengalahkan Sweeney Todd, The Book of Mormon adalah musical dengan jumlah lagu terbanyak yang saya sukai. Curiganya, ini karena paduan maut dari nada-nada catchy dan lirik yang sumpah ngaco parahhhh! Hello! sebagai lagu pembuka cukup menampar dengan ngelawak soal kelakuan misionaris Mormon. Tapi yang paling ngaco (diantara lagu-lagu ngaco lainnya) adalah Hasa Diga Eebowai. Ironisnya, karena lagu ini sangat catchy buntut-buntutnya malah jadi favorit saya. Masih banyak lagu-lagu keren lainnya macam Baptize Me, I Believe, dan Turn It Off. Ah, tidak lupa satu lagu yang oh-so-sweet, I am Here For You.

Rasanya masih banyak yang ingin saya tuangkan di sini, tapi mungkin gak akan berhasil menyampaikan apresiasi saya atas musical ini. Singkat kata, saya amat sangat rekom untuk menyempatkan nonton The Book of Mormon bagi para pecinta musical , dengan catatan untuk tetap open-minded dan coba melihat dari konteks yang lebih besar. Lagian, kapan lagi liat ada cup Starbucks raksasa di neraka?

 

Iklan

4 pemikiran pada “Review: The Book of Mormon (musical)

  1. Hai, gue suka banget sama musikal, awalnya tau ada musikal ini karna lagu lagunya ada di playlist broadway gue. Boleh share referensi dimana bisa dapet full record dari show nya? Trimakasih

    • Hi.
      Makasih udah komen 🙂 senang ketemu sesama penggemar musikal!
      Wah maaf kalo full recordnya aku kurang tau juga. Di youtube susah ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s