Review: Yumi’s Cell

EC9E91ED9288EC8381EC84B8_pc_img

Bila pepatah mengatakan bahwa lidah itu tidak bertulang, maka pikiran manusia adalah medan perang!!!

Mungkin itu yang ingin disampaikan dalam cerita Yumi’s Cell, sebuat webtoon keluaran Naver yang dapat dibaca di situs webtoon versi English.
Dengan gambar super simple ala… hmm… astro boy, ala anak SD gitu lhaa, saya awalnya cuman penasaran kenapa ratingnya bisa tinggi (di atas 9.5 gitu)…pasti pakai ‘pelaris’ hahaha….

Jadilah saya iseng membaca Yumi’s Cell disamping karena dah kehabisan hiburan juga karena kebetulan pas lagi mati gaya. And guess what! Ini cerita romance lhooo…

Dalam Yumi’s Cell ini, Lee Donggun menceritakan seorang wanita lajang kantoran berumur 31-32 tahun bernama Yumi yang sehari-harinya menjalani hidup dengan apatis namun memendam ‘secuil’ feeling buat rekan kantornya yang 6 tahun lebih muda, bernama Wook. Tentu, Yumi dengan wajah poker facenya tidak terang-terangan menunjukkan ketertarikannya, berusaha untuk tetap cool bahkan saat muncul rival junior bernama Ruby, seorang gadis centil yang berani secara blak-blakan flirting ke si Wook, like a cheap. Dilema buat si Yumi…
Terus uniknya cerita Yumi’s cell dimana? Uniknya ada dalam konsep perang pemikiran dan mood dalam diri Yumi. Untuk setiap keputusan-keputusan yang Yumi perlu ambil, akan terjadi perang persona di dalam otak Yumi (digambarkan sebagai sebuah kota yang didiami ratusan ribu sel kurcaci sesuai dengan sifat Yumi masing-masing) yang menurut saya lumayan kocak.
Cara pengarang mendefinisikan tiap-tiap sel ini pun unik dan kreatif lhoo…, ada sel ‘naughty’ yang digambarkan sebagai kurcaci tanpa celana dan hobi memikirkan hal-hal mesum, ada sel ’emotion’ yang digambarkan sebagai kurcaci anak perempuan mellow, kemudian ada sel kurcaci ‘rational’ (pemikiran logis), kurcaci detektif (sisi analisa dan misteri), kurcaci ‘hungry’ (nafsu makan) dengan badan raksasa dan antena kue ikan, kurcaci ‘anxious’ maupun kurcaci ‘suspicion’, dan sebagainya termasuk kurcaci ‘inner feeling’ maupun kurcaci ‘love’.
Bila di dunia nyata Yumi menemukan masalah, maka pengarang akan menggambarkan di dalam ‘Kota Otak Yumi’ kalau para kurcaci sedang berkerja (memutar roda rodi otak) maupun musyawarah (dengan tak jarang saling hajar, pentung, ataupun tembak meriam antar kurcaci layaknya disaster) untuk menentukan keputusan apa yang sebaiknya diambil oleh Yumi, yup seakan tiap-tiap kurcaci ini memiliki jiwa personalnya sendiri-sendiri.
Kemudian sel-sel kurcaci ini juga bisa fusion lhooo… misalnya saat sel kurcaci inner feeling bersatu dengan sel kurcaci ‘confidence’, maka di dunia nyata Yumi berubah menjadi lebih percaya diri dalam menyuarakan pemikiran hatinya yang selama ini dipendam. Terus kalau sel kurcaci cinta bergabung dengan sel kurcaci hobi (main game) maka karakternya berubah jadi gamers fanatik. Cukup menarik kaann?

Overall, Yumi’s Cell adalah romance komedi yang easy to consume, lucu, lumayan bikin ga bisa lepas setelah beberapa chapter, dan juga bikin kita jadi simpatik pengen nyemangatin si Yumi “Ayooo kamu pasti bisaaa….”

Lalu bagaimanakah kelanjutan cerita ini? Hmm… monggo silakan bisa dibaca sendiri…cheerrss…:D

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s