Review: Les Liaisons Dangereuses (teater)

nt_live_website_header_lld2

Judul: Les Liaisons Dangereuses (Dangerous Liaisons)
Pemain: Elaine Cassidy, Janet McTeer, Dominic West
Script: Christopher Hampton (based on novel by Pierre Choderlos de Laclos)
Produksi: National Theater Live (UK)
Tahun: 2016

Vicomte de Valmont dan Marquise de Merteuil adalah sepasang mantan kekasih sekaligus partner in crime dalam permainan skandal di kalangan bangwasan Paris. Kebohongan dan manipulasi sudah jadi makanan sehari-hari mereka. Kali ini, permainan terbaru mereka adalah tantangan bagi Valmont untuk merayu Madame de Tourvel, seorang wanita baik-baik dengan kehidupan perkawinan yang sempurna. Penolakan demi penolakan justru makin membakar semangat Valmont, namun Marquise de Merteuil bertanya-tanya apakah apakah motif Valmont masih murni demi taruhan atau Madame de Tourvel sudah berhasil membuat Valmont jatuh cinta.

Les Liaisons Dangereuses memotret dunia kelas atas Paris yang penuh kepalsuan dan tipu daya. Tokoh Vicomte de Valmont dan Marquise de Merteuil melukiskan bagaimana seseorang bisa – atau harus – bertahan di komunitas absurd ini. Vicomte de Valmont terang-terangan menyatakan diri sebagai “bajingan” dan terlibat berbagai kemaksiatan, meski masih tetap diterima oleh kalangan terhormat. Sebaliknya, Marquise de Merteuil selalu siap siaga jaga imej sebagai wanita terhormat tetapi diam-diam memanipulasi lewat kalimat-kalimat beracunnya. Hanya Madame de Tourvel yang benar-benar melambangkan virtue: seseorang yang baik hati, murni, dan terhormat.

Saya sendiri sudah pernah nonton Les Liaisons Dangereuses versi film (kapan-kapan pengen review, euy!), jadi jalan cerita sih udah gak surprise. Bahkan, hampir gak ada surprise karena yang versi film itu adegan dan dialognya benar-benar persis sama, secara versi film juga dibuat berdasar naskah Christopher Hampton. Menariknya, dialog-dialog para tokoh – terutama Valmont – terasa lebih hidup dan interaktif. Bukannya yang versi film nggak bagus, tetapi karena dialog-dialog  ini sepertinya memang ditulis sebagai semacam “tau sama tau” antara si tokoh dan penonton. Dialog antar tokohnya seringkali penuh sindiran dan kebohongan, diselingi Valmont yang 1-2 kali melirik nakal ke penonton seolah berkata, “you know what I mean, right?

Lebih lanjut, saya menangkap perbedaan pengembangan karakter antara versi teater dan film Les Liaisons Dengereuses. Valmont, misalnya, kalau di film benar-benar terasa jahatnya. Mulai dari caranya menipu bibinya, memperkosa Cecile de Volanges, sampai ketika mematahkan hati Madame de Tourvel. Di versi teater, karakter Valmont lebih terasa sebagai anak lelaki nakal yang tidak pernah tumbuh dewasa. Valmont yang ini menganggap dunia sebagai taman bermainnya, di mana apa yang dimau akan – dan harus – didapatkan. Sayangnya, secara impresi menurut saya lebih membekas Valmont versi film (John Malkovich), yang bahkan bisa membuat saya bersimpati meski jahatnya minta ampun itu.

Special mention untuk Janet McTeer, pemeran Marquise de Merteuil. Hihihi soalnya suaranya si tante berat dan seksi. Yah, mirip-mirip suara ibu kepala sekolah galak tapi dingin, yang ketika kita dipanggil ke kantornya belum-belum sudah pengen mengaku dosa dan minta ampun. Walau karakter Merteuil itu sumpah nyebelin abis – bahkan lebih nyebelin dari Valmont – tapi tidak lantas 2-dimensional. Ada sekelebat pesan gender empowerment di situ (yang dibiarkan menggantung), meski, dalam kasus Merteuil, salah arah.

Saya butuh waktu untuk warming-up sama karakter Madame de Tourvel. Gimana ya, dari awal si madame seperti seekor anak kucing yang disorong sana-sini hanya untuk memuaskan keisengan tuannya. Tetapi lambat laun, saya mulai menangkap perang batin Madame de Tourvel. Yah, semacam “iya nggak iya nggak iya nggak” tapi dalam skala lebih besar dan berdampak sistemik. Oh yes, dampaknya sistemik. Di akhir cerita, saya cuma bisa jatuh kasihan sama si madame yang sakit karena campuran sedih patah hati sama Valmont sekaligus didera rasa bersalah karena sudah selingkuh dari suaminya.

Menonton versi teater ini juga membuat saya memandang hubungan antara Valmont dan Merteuil dari sisi berbeda. Di sini, saya merasa hubungan mereka lebih dalam dari pasangan kekasih. Mereka adalah penyangga satu sama lain di dalam kalangan bangsawan Paris yang isinya senggol kiri-kanan. Sayangnya, ini justru membuat hubungan Valmont dan Madame de Tourvel menjadi “kurang greget”. Saya agak gak yakin kalo Valmont beneran cinta sama Madame de Tourvel. Tepatnya, mungkin Valmont cinta, tapi soulmate-nya tetaplah Merteuil. Jujur sih, adegan “beyond my control” versi film lebih berhasil meyakinkan saya atas perasaan Valmont terhadap Madame de Tourvel.

Les Liaisons Dangereuses adalah sebuah tragedi, seolah berkata bahwa dunia yang kejam adalah tempat bagi orang-orang kejam pula. Meski begitu, saya merasa ending cerita ini – meski tragis – cukup tepat bagi tokoh-tokohnya. Tidak ada teriakan-teriakan “mengapa???” saat melihat Valmont dan Madame de Tourvel meninggal. Tapi jelasnya ada kepuasan melihat Marquise de Merteuil “membayar” semua tipu dayanya.

Omong-omong, ini pengalaman pertama saya nonton National Theater Live. Jadi ini semacam pertunjukan teater yang disiarkan (hampir) live dari National Theater UK. Harganya jelas lebih murah daripada nonton teater beneran wihihihi! Plus, kita gak perlu kuatir harus datang sebelum jam main. Karena sistemnya yang kayak nonton bioskop, kalo dateng telat pun masih bisa dapet duduk. Hehehe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s