Review: Doulce Memoire & Maestro Musik Sunda

13118002_1194405513932999_676058762_n

Pemain: DOULCE MEMOIRE & MAESTRO MUSIK SUNDA
Judul: Musik dari Negeri yang Telah Hilang
Tanggal/Jam: Kamis, 5 Mei 2016, 19:30
Lokasi: Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

Kamis kemarin, Saya sukses mengajak kawan Saya untuk mengawali liburan panjang ini dengan menghadiri Festival Seni Prancis-Indonesia di TIM. Acara ini diadakan oleh Kedutaan Besar Perancis dan Institut Français d’Indonésie (IFI).

Acara ini merupakan sebuah konser musik klasik yang memadukan grup ensembel dari Perancis, Doulce Mémoire, dengan grup musik tradisional Sunda. Bertemakan perjalanan musik dari negeri yang telah hilang, kedua grup ini memainkan musik dari jaman keraton Sunda sampai musik raja-raja Perancis di jaman Renaisans.

Dalam sebuah pertunjukan yang berdurasi 60 menit ini, kedua grup ini memainkan 16 buah lagu, yakni: Colinetto, Papatet Ratu Padjadjaran, Pour Délaisser Tristesse, Exaltabo Te Domine, Padjadjaran Sinangging Degung, Beauté Parée de Valour, Jemplang Leumpang, Cara Mie Donna, Sekar Manis, El Mie Dolce Sospir, Je Vivray Liement, Isabella, Per Allegrezza, Vrai Dieu d’Amour, Lokatmala, dan Douce Dame Jolie.

Pertunjukan dibuka dengan performa Doulce Mémoire yang kemudian dilanjutkan oleh Maestro Musik Sunda. Yang menarik dari pertunjukan ini adalah ketika kedua grup ini berkolaborasi membawakan sebuah lagu. Ada lagu dimana Doulce Mémoire yang ikut bergabung memainkan musik Sunda, dan ada pula masa dimana Maestro Musik Sunda yang ikut membawakan musik berbahasa Perancis. Pertunjukan ini ditutup dengan sebuah encore piece yaitu Es Lilin.

Dolce

Dalam performance kali ini, Doulce Mémoire mengusung lima orang anggotanya, yaitu Véronique Bourin di Soprano, Hugues Primard di tenor, Miguel Henry (mas-mas yang paling muda dan paling ganteng) di luth, Bruno Caillat di Perkusi dan direktor sekaligus flute Denis Raisin Dadre. Sedangkan Maestro Musik Sunda membawakan kecapi Sunda oleh Dede Suparman, Suling oleh Yoyon Darsono, dan Hendrawati Ashworth sebagai sinden.

Jika kalian pernah memainkan musik tradisional Jawa, tentunya tahu bahwa tembang-tembang Jawa dimainkan dengan sistem yang berbeda dengan musik klasik pada umumnya. Bahkan pada beberapa piece, biasanya suling sunda dimainkan dengan memakai feeling dan tidak kaku mengikut pada partitur. Sayangnya, hal ini membuat grup yang menggunakan sistem yang berbeda menjadi agak kesulitan dalam mengikutinya. Dalam pagelaran kali ini pun demikian, flute tampak agak loss di beberapa part.

Hal lain yang Saya sayangkan dari pertunjukan kali ini adalah suara sindennya yang kurang begitu terdengar. Mungkin memang karena tema lagu-lagu Sunda yang berkesan merintih pedih makanya suara Sang Sinden lebih tampak seperti menangis lirih. Sayangnya hal ini sangat kontras dengan suara sopran/tenor yang sangat kuat. Akibatnya, dalam beberapa lagu Sunda yang dimainkan secara solo oleh Maestro Musik Sunda, penonton (d.h.i. Saya) sempat merasa bosan dan mengantuk. Alasannya, karena suara vokal yang sulit diresapi. Mungkin, alangkah baiknya jika disediakan mic untuk bagian itu.

Overall, acara ini cukup unik. Gabriel Laufer, perkusi dari Jakarta Simfonia Orchestra, pun juga turut hadir menonton pagelaran ini. (Gabriel ini adalah bapak-bapak setengah botak yang perform di konser Adam Gyorgy di Kemayoran 23 April lalu. Ulasannya bisa dilihat di postingan psychonene).

Jika berminat pada acara-acara kebudayaan maupun hal-hal yang berbau Eropa, sampai bulan Juni ke depan ada beberapa event dari Printemps Francais maupun Europe on Screen yang diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Jika Printemps Francais adalah acara kesenian yang diselenggarakan oleh kedutaan Perancis, maka Europe On Screen adalah acara yang memutarkan film-film dari berbagai negara di Eropa, diantaranya Belanda, Inggris, Perancis, dan sebagainya. Kedua acara ini tidak hanya diselenggarakan di Jakarta, tetapi juga di beberapa kota besar lain di Indonesia.

Iklan

Satu pemikiran pada “Review: Doulce Memoire & Maestro Musik Sunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s