Review: Warcraft (movie)

world-of-warcraft-movie-promo-700x389

Judul: Warcraft: The Beginning
Pemain: Travis Fimmel, Paula Patton, Toby Kebbel, Daniel Wu, Ben Schnetzer
Tahun: 2016
Sutradara: Duncan Jones

Kerajaan Azeroth yang diperintah oleh ras manusia kedatangan tamu tak diundang: para Orc. Dipimpin oleh Gul’dan, bangsa Orc datang berbondong-bondong demi mencari tempat hidup yang layak. Perang tidak dapat dihindari. Tetapi, selain membawa membawa sepasukan Orc, Gul’dan juga datang berbekal Sihir Fel – sebuah sihir terlarang dan mematikan yang mampu menghisap energi kehidupan. Mampukah ras manusia mempertahankan Azeroth?

Kesan-kesan menonton film ini:

IH KZL. DUH. PLEASE. 

Saya ngomong gitu bukan karena saya non-gamers. Bukan pula karena minimnya jumlah Mas-Mas bishie yang bisa dikecengin di film ini. Bukan pula karena jalan ceritanya ‘meh’. Justru sebenernya saya cukup suka dengan basic plot film Warcraft. Saya yang tadinya skeptis karena mikir “Yaelah, cuma ngeliatin manusia lawan orc ini” malah jadi ikut penasaran dengan mau dibawa ke mana hubungan kita ceritanya. Belum lagi kualitas CG yang cukup menghibur mata.

Tapi nyatanya, saya cuma bisa nggerundel di akhir film. The movie could have been good. It could have, but – flash news – it’s not! Berikut saya list kenapa-kenapanya (versi saya, tentunya). (Warning: full spoiler!)

Kecepetan, Bro
Paruh pertama Warcraft berjalan sangat cepat. Di setengah jam pertama saja kita sudah dijejali pengetahuan geografi instan di Warcraft universe, pengenalan tokoh-tokoh segitu banyak, belum lagi eksekusi plot yang sangat cepat. Saya bingung aja ngeliat tokoh-tokohnya pada kebingungan lalu mondar-mandir sana-sini. Misal nih, si Lothar baru pertama ketemu Khadgar (yang ketangkep waktu sedang meriksa mayat), langsung percaya aja gitu waktu Khadgar bilang “Anda harus pangggil Guardian!” Really? Seorang jenderal berpengalaman *ahem* mau aja disuruh-suruh anak kemaren sore?

Ada 2 adegan yang bikin keki. Pertama, waktu Khadgar melapor ke ‘para tetua’ (saya lupa mereka itu apaan) soal adanya sihir Fel di Azeroth. Yaaah… cuma bantah-bantahan dikit terus langsung tekbal waktu Khadgar nyebut sesuatu yang para tetua itu gak tau soal sihir Fel. Ini para tetua kerjanya apaan sih masa ada sihir Fel muncul gak tau? Kedua, waktu Lothar melakukan Mak’gora (duel of honor) sama orc itu sumpah bikin keki abis! Saya yang tadi udah siap-siap menanti sequence adegan pertarungan langsung kecele abis karena…sekali tebas langsung mati.

Tokoh-tokohnya terkesan 2-dimensional
Oke, saya mengerti kalo film ini diangkat dari game dan mungkin sebagian besar aktornya juga bukan A-listers. Biasanya situasi ini bisa diimbangi dengan menyajikan CG berkualitas maha dahsyat plus cerita full action sedemikian rupa sehingga aktornya gak perlu pendalaman karakter selevel aktor watak. Warcraft mungkin akan baik-baik saja andaikan penulisnya gak berusaha terlalu keras untuk membuat cerita yang kompleks, lengkap dengan peta hubungan emosional antar tokohnya.

Bukannya apa-apa, tapi sayang lho. Tokoh-tokohnya jadi kayak cuma selewatan gitu. Sang Raja, Llane Wrynn, gak begitu kerasa kharismanya. Si Guardian, Medivh, kayak kurang “divine” untuk ukuran guardian (saya ngarepnya sih ada semacem aura-aura Gandalf ato Saruman gitu, meski masih muda). Karakter Khadgar sebagai penyihir muda yang penuh rasa ingin tahu juga cuma kerasa kayak orang lewat. Apakah ini gara-gara alurnya yang kecepetan? Tapi nyatanya saya masih bisa relate tokoh Garona, meski bukan tokoh utama dan screen time-nya sama-sama terbatas.

Lothar
Di poin sebelumnya sudah saya sebutkan soal 2-dimensional character, tapi saya merasa Lothar pantas diberi paragraf tersendiri karena dia tokoh utamanya. Saya KZL banget sama Si Oom yang satu ini. Sebagai penonton, terus terang saya gak dapet chemistry dengan Si Oom, secara Si Oom ini karakternya mau diapain juga gak jelas. Di awal-awal ada kesan humoris, tapi terus jadi serius, tapi terus tau-tau kok flirting ama Garona iki piye toh jal?

Masalahnya, karena si Oom ini tokoh utama jadi dia banyak megang adegan kunci, yang – harusnya – cukup emosional. Mulai dari kehilangan anak, kehilangan sahabat, sampai romansa sekilas dengan Garona (oh dan jangan lupa ‘salah paham’ di akhir cerita. Oh, Garona ternyata pengkhianat! *rolls eyes*). Tapi semua adegan itu hanya ‘lewat’ begitu saja. Dibandingkan Si Oom, karakter Durotan justru lebih ‘terasa’. Tapi ya gimana screen time-nya gak sebanyak Lothar, ya jadinya paragraf ngomel-ngomel ini saya dedikasikan untuk Lothar.

Tolong jelaskan apa perannya Callan
With all due respect pada Mas Callan yang imut-imut dan unyu-unyu, saya gak ngerti kenapa karakter ini bahkan harus ada. Oke, Lothar punya anak cowok yang ikut perang terus gugur di medan perang, di depan matanya sendiri. Terus poinnya apa? Supaya dendam sama Medivh? Tapi nyatanya gak juga. Supaya sakit hati sama pembunuhnya biar lebih maknyus waktu Mak’gora? Well, kematian Llane Wrynn harusnya sudah cukup membuat Lothar muntab, secara mereka sahabat baik.

Bahkan adegan kematian Callan juga kayak di-setting banget gitu loh. Oh, kebetulan Callan ada di situ. Oh, kebetulan mereka dikepung pasukan orc. Oh, kebetulan resimennya Callan gak masuk ke ‘pelindung darurat’ buatan Medivh. Oh, kebetulan pas Lothar lagi ada di situ jadi bisa melihat kematian anaknya sendiri. So many coincidences.

Terlepas dari omelan panjang-lebar ini, mungkin saya masih akan menonton sequel Warcraft. Kalau ada. Kalau dibikin. Sejauh ini rencana sequel sih jelas ada *lirik embel-embel “The Beginning” di subjudul* tapi mungkin tergantung animo penonton juga.

Iklan

2 pemikiran pada “Review: Warcraft (movie)

  1. Hoooooh… untung semalem gw g jadi nonton… kalo jadi rugi bandar nih…
    Lumayan kan waktunya bs dipake buat sesuatu yg lebih berguna.. *such as tiduuuurr
    Wkwkwkwkkww

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s