Review: Rudy Habibie

Poster-film-Rudy-Habibie

Judul: Rudy Habibie
Pemain: Reza Rahadian, Chelsea Islan, Ernest Prakasa
Tahun: 2016
Sutradara: Hanung Bramantyo

Film ini mengusung kisah masa muda B.J. Habibie (Rudy Habibie) saat beliau bersekolah di Aachen, Jerman. Ada dua hal yang menarik saya menonton film ini. Pertama, tentu saja trailer-nya yang diputar berulang-ulang di bioskop. Ya gimana gak inget coba? Kedua, beberapa kali menonton film Indonesia belakangan ini, saya melihat garapan film Indonesia sudah makin bagus. Paling nggak, worthy lah buat ditonton di bioskop. Jadilah saya menonton Rudy Habibie, meski saat itu saya belum menonton Habibie & Ainun.

Ekspektasi saya atas sinematografi film Rudy Habibie memang nggak meleset, sih. Bagi saya yang awam dan sering dimanja film Holywood, film ini sangat bisa dinikmati. Untuk film Indonesia, saya gak akan komentar soal CG, ya, tapi kalau bicara tentang pengambilan adegan dan alur cerita, saya enjoy sih nontonnya. Untuk sebuah film drama, durasi 2,5 jam tidak terasa karena nuansa cerita yang serius dan menyentuh kerap diselingi humor.

Soal akting, Reza Rahadian keren! Baru-baru ini saya melihat penampilan Si Mas di film My Stupid Boss dan terkesan dengan bagaimana Si Mas menghidupkan karakter Mr. Bossman. Well, Si Mas melakukannya lagi di Rudy Habibie. Saya nggak tahu apakah ini karena saya hidup di tahun 90-an dan sudah tahu tentang siapa itu Habibie, ataukah memang Si Mas yang aktingnya begitu bagus; tapi saya bisa relate dengan karakter Rudy di film ini. Terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan keputusan-keputusan yang diambil karakternya, saya bisa mengerti kenapa Rudy bertindak begitu.

Sebagai Ilona, Chelsea Islan bermain bagus (Ilona adalah seorang gadis Polandia yang menjadi kekasih Rudy waktu di Aachen). Masalahnya, untuk adegan pacaran dengan Rudy, saya sih merasa biasa-biasa aja. Maksudnya, saya tidak ikut berbunga-bunga ketika mereka berduaan dan juga tidak ikut sedih waktu mereka berpisah. Sebaliknya, Ernest Prakasa malah berhasil membuat saya suka karakter Liem Kengkie. Meski bukan sebagai karakter utama dan bukan kekasih Rudy, saya bisa merasakan ikatan persahabatan antara Rudy dan Kengkie.

Saya juga menyukai karakter teman-teman Indonesia Rudy Habibie. Meski diciptakan untuk comic relief, tetap saja karakter mereka beragam dan lucu-lucu (personal favorite: Poltak). Yang sedikit nggak sreg mungkin dengan karakter Pieter yang diperankan olen Pandji malah terasa kurang. Entah kenapa saya merasa di situ Pandji tetap menjadi “Pandji” dan bukan “Pieter”. Apa gara-gara saya keseringan nonton stand-up comedy-nya Pandji? Eh tapi saya juga nonton Ernest, lho.

Lalu masalah plot. Gimana ya ngomongnya, meski saya menikmati menontonnya, pada suatu titik saya bertanya-tanya fokus film ini apa sih? Jelasnya ini bukan tentang romansa Rudy dan Ilona. Seperti yang saya bilang di atas: gak kerasa. Katakanlah, jika karakter Ilona di sini ingin dibuat sebagai personifikasi “godaan Eropa”, well, kok kayaknya kurang terasa “godaan”nya.

Cerita lebih banyak mengangkat visi Rudy Habibie muda untuk membangun industri dirgantara di Indonesia, yang tidak mudah dan tidak langsung berhasil. Dari sisi ini sebenarnya menarik, karena bisa dibilang ini cerita “kegagalan” Habibie, di mana kegagalan bukan lantas berarti menyerah dan berhenti. Tapi bagian situ juga kok saya gak dapet-dapet banget. Belum lagi tentang perseteruan Rudy dengan Laskar Pelajar yang tahu-tahu “selesai begitu saja” di akhir cerita. Wow, kapan selesainya? Bagaimana rekonsiliasinya? Apa yang menyebabkan pentolan Laskar Pelajar mau bae-bae dengan Habibie di akhir cerita?

Ah, sedikit curcolan tentang istilah “Paspor Hijau vs. Paspor Biru” (yang melambangkan Rudy Habibie vs. Laskar Pelajar), jujur saya suka konsepnya. Mungkin ini perasaan saya aja sih, tapi “Paspor Biru” alias paspor dinas melambangkan keterikatan dengan pemerintah. Kalau selesai belajar harus balik. Selama belajar juga harus tunduk dengan aturan-aturan pemerintah. Berbeda dengan “Paspor Hijau”. Meski biaya sendiri dan cukup berat (contoh jelasnya: Rudy Habibie), pemegang paspor hijau lebih bebas menentukan pilihannya setelah sekolah. Mau gak balik ke tanah air, ya silakan. Tetapi nyatanya, Rudy Habibie mau kembali ke Indonesia (ya gak langsung sih. Masih panjang itu ceritanya dan bisa ditonton di Habibie & Ainun)

Terakhir, soal setting. Sebenarnya ini karena saya memang kepo sih. Saya sadar kalau yang namanya pembuatan film itu dananya tidak tak terbatas *eh buset bahasanya kok udah kayak di UU aja* dan mungkin shooting untuk beberapa scene di luar Indonesia masih dilakukan di Indonesia.  Cuma ya gimana ya…contohnya, begitu nyadar itu di Kota Tua kayak…yah…ilang gitu feel-nya, termasuk beberapa scene lain yang saya kepo-in. Namun, saya juga sadar bahwa mungkin banyak scene luar negeri lain di film ini yang di-shoot di Indonesia tapi tidak terdeteksi “radar” saya, which means: you did it, Mr. Director! Oke, saya tahu ini memang kepo sih, hanya saja saya tidak tahan untuk tidak menuliskannya. *aih!*

Memang kalau ditanya, saya masih lebih suka film Soekarno (yang juga digarap oleh Hanung Bramantyo). Tetapi, film Rudy Habibie ini secara umum bagus dan layak tonton. Kelebihan lainnya, filmnya tidak membosankan (pengakuan dosa: pas nonton Habibie & Ainun sempat ketiduran). Akting Reza Rahadian juga jadi alasan untuk nonton, lho. Overall, sinema Indonesia sudah punya “modal”, baik dari segi aktor maupun sinematografi. Saya nggak sabar menanti film Indonesia berkualitas lainnya yang akan muncul di bioskop.

Iklan

2 pemikiran pada “Review: Rudy Habibie

  1. Gw akhirnya nonton juga semalem…
    I feel exactly what you write…

    Terlepas dr alurnya yang bagus.. konflik emosi internal pemain selain rudy kurang dikupas, jadinya dalam beberapa scene g dapet feelnya… terutama ketika tiba2 panca jadi baek mau motoin. Mgkn dia merasa bersalah, abis dia pukuli, rudy jd sakit berhari2.. Mungkin dia ditegur sama ayu trus putus yg bikin dia jadi mikir dua kali.. who knows?!

    Trus yg ilona, gw tau ilona cinta ke rudy sih. Tp konflik internal ilona yg akhirnya bikin dia buat ninggalin rudy ga kepegang banget sih sama gw. Gw tau dia ga tega liat rudy disia-siakan sama negaranya yg rudy belain setengah mati. Ilona juga merasa tersaingi sama kecintaan rudy thdp industri dirgantara. Ilona pengen rudy milih dia dan hidup bahagia sama dia…
    well, yes I get that… tapi g sampe yg emosi teraduk-aduk gitu…

    Oh tapi yg kota tua.. gw ga nyadar sih, hahahaa… jadi oke oke aja lah buat gue… wkwkwk..

    Overall, menarik filmnya… ga rugi lah gw bela2in malem2 nonton bareng anak kosan abis kelas dan di tengah2 deadline kerjaan.. hahahaa 😀

    • Ah akhirnya nonton! Ternyata kau pun berpikiran sama wkwkwk
      Makasih udah ngingetin namanya si mas2 laskar pelajar itu wkwkwkwk sumpah gw lupa.

      “Mgkn dia merasa bersalah, abis dia pukuli, rudy jd sakit berhari2..” –> plot fanfic bingits!!!! *ngakak setan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s