Review: The Arabian Nights (Teater)

arabiannights

Judul: The Arabian Nights
Sutradara: Malcolm Tulip
Script: Mary Zimmerman (diadaptasi dari The Book of One Thousand Nights and One Night, terjemahan Powys Mathers) 
Produksi: U of M SMTD (Ann Arbor, MI)
Tahun: 2015

Sejak dikhianati istrinya, Sultan Syahriar memutuskan untuk tidak mempercayai wanita lagi. Logis, sih, hanya saja solusi Sang Sultan cukup ekstrem: berganti wanita setiap malam dan memenggal si wanita keesokan paginya. Tidak butuh waktu lama bagi kota Baghdad untuk mengalami krisis wanita. Scheherazade sebagai satu-satunya eligible candidate yang tersisa pun sebentar lagi akan menghadapi nasibnya sebagai pengantin wanita semalam. Tetapi, berbekal dongeng dan kebijaksanaannya, Scheherazade bertekad menghentikan Sang Sultan.

Sejak dulu, Kisah 1001 Malam adalah salah satu favorit saya. Saat itu saya nonton Arabian Nights karena ingin cerita yang predictable, safe, dan happy ending. Ternyata, waktu nonton ini saya dapat kejutan tersendiri: semua pelakonnya cewek! Yak benar, tidak ada satu pun cowok di atas panggung. Tapi jadinya memang keren sih. Tadinya saya sudah mikir apakah bakal jadi awkward kalau akting mesra-mesraan sesama cewek, tapi ternyata kalo aktingnya bener sih gak bakal awkward juga. Malah mungkin lebih nyaman buat aktor-aktornya karena ada beberapa adegan yang lumayan butuh kontak fisik, meski tidak eksplisit.

Secara konsep, yang saya sukai dari Kisah 1001 Malam adalah karena I’m a sucker for a reformed rake-type of story hihihi. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Scheherazade dengan cerdik menunda pelaksanaan hukuman dengan cara mengakhiri dongengnya dengan cliffhanger setiap hari, sehingga Syahriar penasaran dan lama-lama jatuh cinta. Tentunya, wejangan yang terselip secara halus di dalam dongeng juga berperan dalam membuat Syahriar berpikir ulang atas tindakannya selama ini. Makanya, selain ingin melihat interaksi antara Scheherazade dan Syahriar, saya juga penasaran bagaimana drama Arabian Nights ini akan mengapresiasi dongeng-dongeng tersebut.

Jujur, saya sendiri belum pernah membaca teks asli Kisah 1001 Malam, jadi saya nggak bisa memastikan bagaimana Mary Zimmerman, sang penulis naskah, mengadaptasi teks aslinya. Yang jelas, kalau berharap drama ini akan dipenuhi oleh petuah-petuah bijak yang kalem, lupakan saja. Paruh pertama Arabian Nights dipenuhi dengan kisah satir dan humor, dengan joke-joke yang nyerempet. Baru pada paruh kedua kisah-kisahnya lebih sober, lebih bijak, dan gak semesum paruh pertama hihihihi. Kalau dipikir-pikir, cukup masuk akal karena di paruh pertama, Syahriar memang dalam kondisi “senggol bacok”, jadi percuma saja kalau datang-datang mau langsung dikuliahi. Di paruh kedua, Syahriar sudah jadi lebih “jinak” sehingga Scheherazade bisa lebih eksplisit dalam memberikan nasihat.

Satu catatan, meski frame besar cerita ini adalah kisah Syahriar-Scheherazade, kedua karakter ini timbul-tenggelam diantara dongeng satu dan lainnya. Dongeng-dongengnya pun beragam, dari humor, kisah cinta, sampai tragedi (dongeng geje favorit saya adalah…kisah Abu Al-Hasan kentut!). Bahkan, ada juga dongeng yang terjadi di dalam dongeng. Hebatnya, meski begitu banyak cerita yang terjadi di dalam drama ini, perkembangan hubungan Syahriar dan Scheherazade tetap bisa diekspos dengan manis.

Satu lagi yang saya suka dari pentas Arabian Nights ini adalah tata panggung dan pengaturan gerak. *maafkan saya yang awam teater ini karena gak tau apa istilah tepatnya* Sebagaimana tipikal drama produksi anak kuliahan, panggung gak bisa mewah-mewah ataupun canggih-canggih. Biasanya, cukup ada backdrop dan mungkin 1-2 props yang bisa digeser2, sisanya benar-benar mengandalkan perubahan posisi pemain dan lighting untuk menginformasikan perubahan setting yang terjadi dalam cerita. Karena konsep Arabian Nights adalah “cerita dalam cerita”, bisa dibayangkan bahwa aspek ini benar-benar harus diatur supaya penonton secara natural bisa mengikuti perubahan setting yang terjadi, apalagi kadang karakter Syahriar bisa saja menyela di tengah-tengah cerita. Kerennya, produksi Arabian Nights kali ini mampu menyampaikan itu semua. Jujur, ini salah satu hal yang mempesona saya di drama ini.

Ending Arabian Nights meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Daripada membuat sebuah happy ending yang jelas dan bikin penonton bahagia, Arabian Nights justru memberikan sebuah shock therapy dengan “merubuhkan” aspek fantasi dari ceritanya dan membawa penonton menghadapi “kenyataan”. Dentuman mesin perang datang, kontras dengan gemerlap dunia 1001 malam yang dipenuhi tawa dan imajinasi. Scheherazade, Syahriar, Dunyazade, Wazir, semuanya makin menciut, kalah dengan nafsu kekuasaan manusia.

Secara pribadi, saya menyukai Kisah 1001 Malam (yang asli) karena ia melambangkan harapan. Bahwa, pada akhirnya, kebijaksanaan dan kelembutan dapat mengalahkan kejahatan. Bahwa kekejaman mungkin hanya gaung yang lebih keras dari kesedihan itu sendiri. Namun, menonton Arabian Nights,  setelah layar diturunkan saya hanya bisa termenung sendiri. Apakah “Scheherazade” dan “Syahriar” hilang ditelan segala konflik dan peperangan yang terjadi di dunia nyata? Pada akhirnya, akankah kebijaksanaan yang diwariskan turun-temurun lewat dongeng ini hanya akan jadi bisikan yang lewat dan terlupakan begitu saja?

Meski diakhiri dengan renungan, drama Arabian Nights tetaplah sebuah enjoyable ride. It makes me laugh, hope, and dream. Jauh di dasar hati, saya masih berharap bahwa Scheherazade dan Syahriar akan selalu hidup dalam imajinasi dan menyebarkan harapan. *mencoba puitis tapi gagal*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s