!crap: a tribute post to Isshi (一志)

Entri fangirling/nostalgia kali ini didedikasikan untuk Isshi, mantan vokalis Kagrra,. Alkisah, di masa muda saya yang tidak begitu polos, saya terjerumus ke dalam lembah J-music. Di tengah-tengah pencarian jalan keluar jati diri, saya nemu sebuah band bernama Kagrra,. Band satu ini memang unik karena mereka beraliran Neo-Japanesque, di mana mereka memasukkan unsur-unsur tradisional Jepang (baik itu sound, lirik, kostum, maupun atmosfer) ke dalam musik dan penampilan mereka. Isshi adalah vokalis sekaligus penulis lirik untuk band visual kei ini.

Membicarakan Isshi tidak bisa lepas dari Kagrra,. Awalnya, saya menyukai Kagrra, karena musiknya yang unik. Namun, namanya juga remaja, tidak sah rasanya kalo ngefans sebuah band tanpa “mengklaim” salah satu anggotanya (kalo sekarang mungkin istilahnya husbando wkwkwkwk). Karena sepengalaman saya member band visual kei itu secara default penampilannya cantik-cantik cakep-cakep  semua (secara itu make-up setebel itu ya), saya coba milih yang agak nyeleneh deh.

Lahir dengan nama Shinohara Hitoshi, musisi ini mengambil nama panggung dari namanya sendiri (Hitoshi 一志 bisa juga dibaca Isshi 一志). Jelas saya ngefans Isshi bukan karena yang bersangkutan cakep. Boro-boro. Tampangnya Si Mas – bahkan kalo udah make-up – termasuk yang paling “biasa” di Kagrra,. Kalau Nao adalah “si cantik-bitchy” dan Shin adalah “ice queen“, maka Isshi adalah “Oni” (iblis). Di tahun-tahun awal saat Kagrra, identik dengan kostum kimono modifikasi, Isshi sering tampil sebagai “Oni”, lengkap dengan tanduk. Kayaknya sih kalau ketemu Si Mas ngamen di lampu merah bakal bikin merinding disko. Dari segi postur badan, saya sempat kecele, lho. Sepertinya, karena Isshi seorang frontman dan ada kebutuhan untuk mengekspos perhatian, Si Mas hobi berdandan dengan sasakan rambut tinggi dan sepatu high heels. Belum lagi kostumnya. Akibatnya, badan Si Mas terlihat lebih besar dibandingkan member Kagrra, lainnya, padahal sebenarnya tinggi Isshi (174 cm) hampir sama dengan Nao dan Akiya (175 cm).

Satu hal yang membuat saya “jatuh cinta” pada Isshi adalah lirik lagunya. Kebetulan saya suka nekat mencoba menerjemahkan lirik lagu-lagu Jepang – dengan berbekal kemampuan bahasa Jepang seadanya, tentunya. Saya akui, wawasan saya tentang penggunaan bahasa Jepang – terutama untuk lirik lagu – memang terbatas. Setiap lyricist memang punya gaya sendiri-sendiri, dan kebetulan saya suka dengan gaya Isshi memadu-padankan diksi. Selain itu, kata-kata yang digunakan dalam liriknya cukup membuat garuk-garuk kepala. Ya, Isshi memang terkenal suka mengutak-atik karakter kanji. Masalahnya, itu bisa bikin pusing ketika mencocokkan antara lafal, karakter kanji, dan makna di kamus. Belum lagi kalau liriknya pakai kata-kata archaic.

Dalam menulis lirik, Isshi banyak dipengaruhi dengan kisah-kisah horor Jepang kuno dan prinsip Buddhisme. Kebanyakan lagunya antara melankolis atau horor atau keduanya. Ini pas banget dengan nuansa musik Kagrra, secara keseluruhan. Kalau mendengarkan lagu-lagu Kagrra, saya kerap membayangkan dibawa ke Jepang di masa lalu yang penuh dengan mistisme, remang-remang cahaya lilin, putri-putri yang dipingit di kastil, serta makhluk-makhluk tak kasat mata yang mengintai di balik kegelapan. Tentu saja, keindahan lagu-lagu Kagrra, tak lepas dari kolaborasi seluruh anggotanya (terutama Shin), yang suatu hari ingin saya bahas di entri terpisah (karena ini entri fangirling Isshi, ahahay~!).

Lagu yang mengukuhkan saya sebagai fans Isshi adalah Urei (愁, “kepedihan”). Mungkin ini karena saya sudah nonton video klipnya duluan, tapi saya merasa bisa memvisualisasikan liriknya ke dalam gerak, suasana, dan perasaan (karena itu satu lagu Kagrra, yang bisa saya ngerti kontennya tanpa gugling terjemahan banyak-banyak). Lagu lain yang jadi favorit saya adalah Sou (葬, “pemakaman”). Lagu ini bukan lagu “utama” Kagrra, karena hanya jadi c/w di single Omou (憶, “duka”). Musiknya gak terlalu istimewa – bahkan kadang saya merasa efek distorsi gitarnya agak lebay dan distraktif – tapi begitu dipadukan dengan liriknya, langsung dapet banget suasananya. Lirik yang menurut saya paling bagus itu adalah Utakata (うたかた, “sementara/fana”). Liriknya sendiri gak njelimet, bahkan cukup lugas mengekspresikan kesedihan atas perpisahan sekaligus harapan akan pertemuan kembali (reinkarnasi). Usut punya usut, katanya Isshi menulis itu setelah kematian anjingnya. Tapi serius, bagus banget liriknya. Intinya dia bilang “Meski aku sedih, tapi aku tahu ini cuma sementara. Jadi sampai kita bertemu lagi, aku akan mengenangmu dalam tangisan” kayak gitu lah.

Tipe suara Isshi juga mendukung atmosfer Neo-Japanesque dari lagu-lagu Kagrra,. Dengan tipe suara melengking bagai nyiur melambai dan agak-agak nyinden, cocok lah dengan isi lagu yang mellow. Soal warna suara ini juga yang sering membuat saya bully-bully gemes si Isshi. Percaya gak, ternyata suara normalnya Si Mas ini berat! Sama sekali gak menye-menye ato melengking melambai kayak di lagu! Jadi suka lucu gitu kalo pas ngeliat rekaman live concert-nya. Pas ngomong sambutan suaranya berat dan macho…eeeeh njeketek pas nyanyi langsung jadi melengking jaya.

Salah satu ciri khas live concert Kagrra, adalah hal yang saya juluki sebagai “Isshi ritual”. Kagrra, selalu membawakan Sakura Maichiru Ano Oka de… (桜舞い散るあの丘で~, “Di Bukit di mana Bunga Sakura Berguguran…”) sebagai lagu penutup. Menjelang akhir lagu, musik pengiring akan berhenti dan Isshi akan mengajak penonton menyanyikan reffrain terakhir…lagi…lagi…dan lagi. Beneran ya saya waktu nonton rekaman konsernya jadi bengong-bengong gitu karena berasa kayak nonton adegan pemujaan di sebuah secret cult yang dipimpin seorang titisan Oni raksasa bersuara melengking.

Sayangnya, saya tidak akan bisa mendengar Isshi berkarya lagi. Setelah sempat beberapa tahun tidak aktif di dunia perjepangan, saya benar-benar kaget sekaligus sedih ketika tahu bahwa Isshi sudah meninggal bulan Juli 2011 lalu. Karena dunia musik Jepang cukup tertutup, sudah biasa kalau beberapa kejadian diberi label “confidential“, apalagi kalau menyangkut jiwa seseorang. Meninggalnya Isshi pun salah satunya. Serius, saya cukup terpukul karena usia Isshi baru 32 tahun saat meninggal. Rasanya masih banyak yang bisa ia lakukan untuk dunia musik, apalagi ketika itu Isshi sedang menyiapkan peluncuran solo project-nya. Yah, sesedih apapun, Isshi dan Kagrra, adalah lembar berharga di bab masa remaja saya yang akan selalu saya kenang. Dari sini, saya hanya bisa mendoakan semoga Isshi tenang di alam sana…

The devil’s town where I have lived is so lonely
I want to run far, far, far away from this endless pain
I’ll watch you down below as I fall asleep alone, holding your shadow close

(translated from Sakura Maichiru Ano Oka de… by kiwi-musume)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s