Review: Manungsa

Manungsa

Judul: Manungsa
Pengarang: Erfan Fajar, Jaka Ady
Volume: 1 (ongoing)
Penerbit: M&C (serialized in Kosmik Magazine)
Tahun: 2016

Kanaka dan Rakai adalah sepasang kakak-beradik yang selamat dari bencana di kampung halaman mereka, Pakuan. Sudah empat belas tahun berlalu dan mereka kini menjalani hari-hari normal di Giacarta. Meski begitu, Kanaka selalu percaya bahwa yang menghancurkan wilayah Pakuan bukanlah bencana alam, namun “sesuatu” yang misterius. Sampai suatu hari kekacauan dan keanehan mulai terjadi di Giacarta, yang mungkin juga terkait dengan bencana di Pakuan. Kanaka dan Rakai mau tak mau terseret ke dalam konflik antara dunia mistik dan teknologi.

Manungsa ini adalah salah satu “oleh-oleh” saya dari Popcon Asia 2016 kemarin. Saya membeli komik ini murni karena ada yang endorse di timeline Twitter saya, sampai bela-belain balik lagi masuk ke dalem padahal udah mau pulang. Untungnya, semua usaha itu terbayar.

Dari segi artwork, komik ini top markotop lah. Saya mengagumi perhatian atas detil di komik ini. Gak tau sih, cuma saya merasa setiap scene-nya itu “hidup”. Kalau biasanya di manga yang saya baca kebanyakan fokus ke muka/badan/orang, Manungsa sangat memperhatikan setiap detilnya, mulai dari desain baju, pengambilan POV untuk tiap scene, serta – yang paling bikin speechless – detil background. Kebetulan saya memang suka dengan gaya gambar ala sketsa gitu. Sketsa, tapi detil. Ya gitulah. Mengesampingkan plot, saya sebagai pembaca sudah merasa dimanja dengan artwork-nya. Hanya saja, saya memang kurang suka dengan desain karakternya. Kalau ini memang masalah selera sih. Di sini sungguh susah mencari mas-mas ganteng. Yah, semoga di seri berikutnya akan lebih banyak mas-mas ganteng. Amien.

Plot Manungsa sendiri cukup menarik untuk saya yang notabene bukan penggemar action. Mungkin karena Manungsa dengan cerdas membuat pembaca penasaran akan benang merah antar tokoh-tokohnya. Jadi, bukannya memulai dengan fokus pada Kanaka dan Rakai, pembaca malah disuguhi tokoh-tokoh segambreng yang motifnya masih belum jelas. Selesai membaca buku ini, saya pun sadar bahwa ini hanyalah “prolog” dari sebuah grand plot. Saya berharap ke depannya plot Manungsa tidak akan jadi mbulet gak karuan, karena di seri pertama ini saja kelihatannya bakal banyak unsur-unsur akan menjadi bagian cerita Manungsa (supranatural, teknologi, konspirasi, cinta(?), tragedi, pembalasan alam pada manusia, dan lain-lain).

Kompleksitas plot juga diisyaratkan dari narasinya. Walau dialog-dialog percakapan antar karakter di Manungsa tergolong biasa saja, di beberapa bagian narasinya bisa lumayan puitis untuk sebuah komik action. Biasanya ini diucapkan oleh si tokoh antagonisnya (Si Mas bertopeng yang ternyata lumayan ganteng). Ada kesan bahwa tokoh antagonisnya memiliki motif yang lebih dari sekedar ingin menguasai dunia atau merampok gudang uang Paman Gober. Salah satu narasi yang buat saya cukup cetar:

Aah….kamu dengar itu? Burung-burung besi bersuara pekak mulai berdatangan bersama sosok yang tidak berdetak.
Bayangan raksasa yang menutupi wajah sang surya. Hujan besi sebagai perlambang perlindungan. Meneriakkan gemuruh harapan atas kesempatan kedua.
Janji ditepati, ikrar dimuliakan

Saya jadi kayak, “Njir, gw baca komik apa sih?” Not that I don’t like it, though. Hihihihi.

Manungsa juga berhasil merebut hati saya lewat karakter-karakternya yang intriguing. Satu lagi poin plus dari saya karena meski tiap karakter harus “berdesak-desakan” dengan karakter lainnya, personality masing-masing cukup terasa. Bahkan diantara gersangnya manusia ganteng di belantara visual komik Manungsa, saya malah jadi ngefans sama Si Komandan robot yang mukanya mesti digambarin tiap hari supaya mirip manusia. Iya, Si Komandan Yang-Namanya-Susah-Banget-Dilafalkan itu. (Backpfeifengesicht! Buset ngejanya aja susah.) Meski Si Komandan ini robot (or so I thought), hubungan antara dia dan Rana lumayan cute.   

Manungsa_2 Manungsa_1

Salut juga untuk pembuat Manungsa karena berhasil mengasimilasikan unsur-unsur lokal ke dalam ceritanya. Setting-nya mengambil dystopian future di Indonesia (agak-agak meringis juga waktu baca nama kota macam Giacarta dan Gresic). Konsep monsternya (“Anomali”) juga banyak diambil dari budaya lokal yang sudah dimodifikasi dengan keren (sejauh ini udah nemu armor babi ngepet, buto, dan jailangkung. Kalau membaca “atogaki”-nya soal konsep dan proses desain, kita bisa lihat sentuhan lokal (terutama Jawa/Sunda) yang mempengaruhi rancangan kostum karakternya.

Bagi saya pribadi, Manungsa adalah “kemenangan” dari “taruhan kecil” saya. Jujur saja, saya tidak akan membeli komik ini jika itu tidak di-mention di linimasa saya (karena dari cover-nya saja sudah ngiklan “Action shonen nih!”). Untuk pembaca cowok di blog Crappucino (jika ada, dan belum menyesal), saya sangat rekom komik ini. Untuk pembaca cewek, cobalah baca, siapa tau nyantol juga. Saya sih akan dengan sabar menanti seri selanjutnya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Review: Manungsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s