Review: Annie (musical)

Judul: Annie
Musik & Lirik: Charle Strouse/Martin Charnin
Cerita: Thomas Meehan
Produksi: ? (Jakarta, Indonesia)
Tahun: 2016

Tomorrow, tomorrow, I love you!
Tomorrow, you’re only a day away!

Annie adalah salah satu penghuni panti asuhan di New York City di tahun 1933. Kehidupan sebagai anak yatim piatu di panti asuhan memang berat, apalagi jika bernasib sial dan mendapat pengawas panti macam Miss Hannigan yang kejam. Meski begitu, Annie selalu percaya bahwa suatu hari orang tuanya akan menjemputnya kembali. Suatu hari, Annie beruntung karena dipilih untuk menghabiskan liburan natal bersama Oliver Warbucks, yang berujung pada sebuah persahabatan. Mr. Warbuks berjanji akan membantu mencari orang tua Annie. Akankah mimpi Annie bertemu kedua orang tuanya terwujud?

Annie adalah sebuah musical yang sangat family-friendly. Karena ditujukan untuk anak-anak dan temanya Natal, maka tidak heran Annie sarat dengan optimisme. Karakter Annie tidak pernah menyerah terhadap mimpinya (keluar dari panti asuhan dan bertemu orang tuanya) walau hidupnya berkesusahan. Sebaliknya, Annie selalu ceria, baik pada semua orang (dan anjing), serta punya pandangan positif pada hidup. Di sisi lain, bagi saya Annie adalah sebuah “dongeng Cinderella” versi anak-anak. Beberapa hal memang seakan too good to be true: pertemuan dan persahabatan kilatnya dengan Mr. Warbucks (dan semua staffnya), sampai pertemuannya dengan presiden FDR. Semuanya seperti mimpi.

Tapi memang sih, di Annie banyak adegan-adegan yang bikin “awwwww” karena oh-so-cute. Ada interaksi yang menggemaskan saat Annie “membujuk” Mr. Warbucks untuk menghabiskan liburan natal bersamanya daripada terus-terusan sibuk bekerja. Satu lagi adegan imut favorit saya adalah ketika Annie bertemu dengan presiden FDR dan menularkan optimismenya. Ujung-ujungnya FDR malah menyuruh staffnya ikutan nyanyi Tomorrow wakakak. Rivalry antara FDR dan Mr. Warbucks pun digambarkan dengan lucu. Dan tentu saja, “the iconic doggy scene“bersama Sandy si anjing! *mukyaaaa~!*

Aransemen musik Annie membawa semangat kanak-kanak yang ceria dan nakal. Siapa yang tidak tahu lagu Tomorrow? (saya juga baru tau kok kalo lagu ini dari musikal Annie wihihihi) Beberapa adegan yang sebenarnya cukup sedih tetap dibawakan dengan ceria. It’s a Hard-Knock Life menceritakan sedihnya jadi anak yatim piatu, tapi dibawakan dengan begitu lucu. Saya kagum dengan penampilan adek-adek yang masih imut-imut tapi udah pinter banget nyanyi sembari menari. Lagu We’d Like to Thank You, Herbert Hoover sarat dengan sindiran dari rakyat di masa resesi pada pemerintah sekaligus memberikan gambaran pada penonton seberapa melas-nya keadaan ekonomi saat itu. Lagu Maybe – yang menceritakan harapan Annie untuk bertemu orang tuanya – juga dibawakan dengan cukup menyentuh. Tapi kalau boleh jujur ya, selain Tomorrow dan It’ a Hard-Knock Life, tidak banyak lagu yang memorable dari musikal ini. (meski adegan-adegannya banyak yang menyentuh dan imut.)

Performa para aktor dan aktris di pertunjukan Annie pun oke punya lah. Hanya saja saya mungkin kurang merasakan chemistry antara Annie dan Mr. Warbucks. Sebaliknya, Miss Hannigan cukup berhasil menebarkan aura “ibu tiri”-nya di panggung. Tata panggungnya sih kayaknya udah standar pro. Kalau ada yang mengganjal dari pertunjukan Annie kemarin, itu adalah sebuah hal gak penting sih: ini produksi dari mana sih? Soalnya penonton juga gak dikasih program book atau apa gitu yang ada keterangan nama-nama aktor dan produksinya. *ya, oke, saya memang kepo*

Oh iya, hal lain yang membuat saya excited adalah bahwa ini pertama kalinya saya nonton musical di Indonesia. Ternyata, venue-nya cukup oke juga. Meski tempat duduk saya cukup jauh dari panggung karena saya murahan cari murah, tidak terlalu mengganggu saya dalam menikmati pertunjukan. (Kalau inget dulu pas nonton Book of Mormon kerasa banget pangguh itu JAUH. Uh!). Bagi yang kuatir gak ngerti dialognya, jangan kuatir karena di venue disediakan beberapa layar untuk subtitle-nya.

So far, Annie adalah sebuah musical yang cocok dinikmati bersama keluarga. Kalau mau digali, banyak pesan moral untuk selalu optimis dalam menghadapi keadaan. Dan lagi, kalaupun gagal meraih mimpi, good things would come to those who keep believing and trying. Dari sisi viewing experience, nonton musical di Jakarta tidak mengecewakan (dengan satu-dua exception). Makasih buat Nene yang nemenin saya nonton *muuach!* Hmm… kira-kira musical apalagi, ya, yang akan dipertunjukkan di Jakarta? (Ngarepnya sih Lion King, hihihihi)

…..and nope, music-wise, Sweeney Todd is still my favorite musical so far.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s