!crap : Mudik Jakarta-Surabaya via kapal

Review mudik yang terlambat
Latar Belakang
Bukan karena ga punya duit Dari awal 2016 memang sudah ngincar nyoba naik kapal sebagai sarana mudik sekalipun sejawat kantor pada ribut hunting tiket kereta or pesawat apalagi mudik gratis Kemenhub saya mah tetap cuek, mengingat libur kali ini lumayan panjang 9 hari dan juga tidak buru-buru pulang ke Surabaya hanya untuk bukber, kongkow, silahturahmi ataupun tidur doang di rumah, ga ada yang salah sih dengan itu tapi pengennya ada sesuatu yang lain misalnya traveling (walau hanya sekadar melintasi laut jawa yang ga ada gelombangnya blas, kontras banget dengan laut Selatan). Waktu perjalanan adalah 22 jam, sedikit jauh lebih cepat dari jalur Pantura (Brexit) walau 2x lebih lama dari kereta, tapi yang penting selama bisa tidur (berbaring) maka buat saya 22 jam tidak masalah.
Tiket
Tiket kapal Gunung Dempo yang saya naiki harganya mumer abis hanya 235rb gratis 4x makan + kasur + asuransi. Sayangnya belum ada media pemesanan tiket online layaknya KAI atau maskapai penerbangan (situs Pelni isinya hanya seputar jadwal dan harga saja). Di situsnya disebutkan daftar agen travel yang menjual tiket Pelni, namun karena 2 agen yang kebetulan ditelpon ngakunya sudah tidak kerjasama dengan Pelni (update situsnya plis) jadinya saya meluncur sendiri ke Gajah Mada. Antrean loket Pelni sepi sekalipun sudah masa persiapan mudik.
Delay
Yup! Delay saudara-saudara! 5 jam pulak! Katanya gara-gara pengisian bahan bakar 850 liter. Tapi selama delay itu kebetulan ada wartawan tv*ne yang mewawancara Kepala Otoritas Pelabuhan dalam siaran langsung pas di lorong tempat tidur saya (dalam hati dah mikir jangan-jangan delaynya gara-gara mereka). Iseng-iseng saya curi dengar isi wawancaranya, dan agak sedih juga waktu dengar bahwa pada masa mudik ini jumlah penumpang tidak berbeda jauh dengan hari-hari biasa (padahal ketambahan saya lhooo…)
IMG-20160630-WA0017
Kamar
Well, bukan kamar sih tapi barak tanpa bantal atau selimut. Masih ada juga yang bentuknya kamar kelas 1 or 2 namun pintunya sudah dicopot karena aturan menteri sudah tidak boleh ada pemisahan kelas 1 dan 2 jadi semuanya ekonomi (tapi yang kamar ga ada kasurnya, kayanya kalo mau di kamar kudu bayar ama petugas). Awalnya di tiket saya tertera lokasi deck 2 namun saat masuk kapal diarahkan ke deck 5 tengah kiri yang lebih kosong (sebenarnya deck 2 malah kosong melompong, tapi lokasinya di lantai bawah jadi pertimbangannya mungkin karena sulit dipantau petugas kali ya?). Tiba di deck 5 sepi bebas pilih kasur, ac nya mati, dan penuh asap rokok (damn I hate selfish smoker).
Jadi bingung kemana harus mengungsi, saat di barak ketemu selfish smoker, saat keluar ketemu unselfish smoker, crap!
IMG-20160630-WA0004
Kebersihan
Toilet dipisah antara pria dan wanita. Satu toilet barak isinya minimal 2 bilik kloset dan 2 bilik shower mandi. Di toilet barak saya salah satu kloset flushernya mati dan ada penampakannya pula, jadi saya menyingkir ke toilet barak lain yang ternyata sedang dibersihkan, lalu menyingkir lagi dan untungnya nemu toilet yang bisa dipakai walau bau amis (well what do you expect?). Sebenarnya petugas kebersihan kapal sudah cukup kerja membersihkan barak atau toilet, tapi mungkin karena faktor penumpangnya saja yang kurang bersih.
Makanan
Tiap waktunya pembagian makanan gratis diumumkan di speaker, antriannya tidak lama dan hanya perlu menunjukkan tiket (bisa diwakilkan).
Soal menu buat saya lumayan, walau tidak semewah makanan pesawat Garuda. 1 paket makan isinya nasi+mie+ikan/telur+air mineral+jus/susu. Kalau tidak suka makanannya bisa juga beli di kafetaria atau area toko yang menjual ayam goreng, siomay, baso, pop mie, de el el.
IMG-20160630-WA0009
Sinyal
Ga ada. Blas! Padahal pakai Telkomsel, kayanya operator lain juga sama. Tapi ada stop kontak (tiap tempat tidur) dengan listrik 1-2 ampere (hanya cukup buat charger handphone).
Lalu krn ada yg merokok di dkt tempat tidur saya kemudian mengungsi ke tangga di deck 6 dan ajaib dapat sinyal, langsung cek peta dan posisinya memang lg dekat jawa
Keamanan
Well, barang dijaga sendiri, buat yg dapat kamar eks-kelas 1 or 2 sih ada lemari (dan kamar mandi sendiri), tapi yang di barak ga ada. Untungnya pihak kapal menyediakan security box buat nitip barang berharga secara gratis.
Penumpang
Kebanyakan dari masyarakat kelas non-atas tapi dari berbagai suku (Madura, Makasar, Jawa, Papua, bahkan Cina). Saya kebetulan memilih tempat tidur dekat sebuah keluarga dengan 2 anak kecil, mungkin pertimbangan lebih aman (buat cewe solo seperti saya) sekalipun lebih berisik. Selama perjalanan kita bisa kenalan dan mengobrol, ini penting karena bisa minta tolong mengawasi barang saat ke toilet atau keluar.
Perjalanan
Laut yang tenang tanpa gelombang mirip seperti laut menjelang badai kecuali mungkin tidak ada badai di laut Jawa yang dangkal dan berada di antara gugusan pulau (atau karena hari ini juga kebetulan cerah?).
Dari jendela barak sempat terlihat siluet pulau yang katanya merupakan pulau Karimun (andai saja ada internet pasti langsung cek google map).
IMG-20160701-WA0003
Kesimpulan
Overall harusnya oke-oke aja mudik naik kapal asalkan kebersihan dan disiplin penumpang bisa dikontrol agar tidak mengganggu penumpang yang lain. Tapi bersyukur lho memilih mudik naik kapal ketimbang jalur Pantura :p
Next, guess what, tahun depan saya mau coba mudik pakai motor hahaha.
Iklan

2 pemikiran pada “!crap : Mudik Jakarta-Surabaya via kapal

  1. “Next, guess what, tahun depan saya mau coba mudik pakai motor hahaha.” –> mohon jangan ditiru. sekian.

    – tante –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s