!crap: Amerika yang saya ingat itu…

Amerika yang saya ingat itu….seperti lagu “Back Home” dari Owl City. Agak ironis memang karena judul lagunya “Back Home”, tapi rangkaian liriknya kerap membuat saya kembali ke hampir 2 tahun kehidupan saya di negeri Paman Sam itu.

Saya lahir, besar, dan bekerja di kota. Sebagai keturunan keluarga perantauan, tentunya “liburan keluarga ke rumah kakek-nenek” seperti di buku pelajaran Bahasa Indonesia pernah saya alami, tetapi sebagian besar memori dan mindset saya tidak pernah jauh dari denyut nadi metropolis. Karena itulah, ketika mendaftar sekolah di Amerika Serikat, pikiran saya adalah suasana perkotaan layaknya di film-film (d*mn you, Hollywood!) atau minimal seperti di Jawa. Tetapi apa yang saya dapat ketika menjalani kehidupan di sana justru sebaliknya.

Di Amerika, saya tinggal di sebuah kota kecil, yang tidak sampai satu jam dari kota besar terdekat. Kota ini bisa dibilang cukup hippies and artsy sebagai sebuah kota pelajar, dengan area pusat kota yang ramai meski tidak besar. Namun, apa daya, saya bertempat tinggal di “ujung” kota. Masih di area kampus dan hanya 15-20 menit naik bus ke kampus di tengah kota, tapi saya merasa seperti tinggal di cagar alam. Di belakang rumah saya ada sebuah “hutan” kecil, yang sebenarnya langsung tembus ke jalan, tetapi pohon-pohonnya dibiarkan tumbuh begitu saja. Di belakang rumah itulah saya sering bertemu dengan tupai, kelinci, dan burung-burung yang hinggap di dahan pohon. Saya ingat pernah melongo waktu melihat beberapa ekor rusa berkeliaran dengan santainya di seberang halte bus di kampus! (well duh, it’s North Campus but it still counts, right?) Belum lagi pertemuan tengah malam dengan rakun endut nan marem yang dengan khusyuknya mengais-ngais bak sampah komplek perumahan.

Pengalaman di luar kota tempat tinggal saya juga makin memperkuat kesan rural America. Syukurlah, ada yang bisa saya tebengin jalan-jalan di Amerika. Tapi namanya juga menumpang, jadilah saya pasrah mau dibawa ke mana. Dari sekian banyak road trip yang saya jalani, pemandangan yang tersaji di depan saya tidak pernah jauh-jauh dari deretan pepohonan dan sawah/ladang (atau gurun). Salah satu yang cukup berkesan adalah waktu melewati negara bagian Idaho: ladang kentang sejauh mata memandang! Sungguh, saya sedikit curiga ada kesengajaan dari pihak yang saya tebengin untuk bawa saya muter-muter sekitaran sawah, hehehehe. Tinggal di daerah Midwest yang berkontur super datar juga memberi saya kesempatan melihat ‘cakrawala nun-jauh di sana’ sepanjang perjalanan, jika tidak ada risiko tornado.

Dua tahun adalah waktu yang singkat. Secuil pengalaman saya pastinya tidak bisa merepresentasikan keseluruhan Amerika secara tepat, tetapi begitulah saya mengingatnya. Mendengarkan lagu ini akan selalu membawa saya ke deretan pohon di malam hari yang menemani saya pulang lembur dari perpustakaan, kerlip kunang-kunang yang bersembunyi di semak-semak di musim panas, dan hamparan dandelion di sekitar komplek rumah dan kampus saat musim semi datang.

*cross-posted here with several adjustments

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s