!Crap: Sebelum sekolah ke luar negeri….

pic blog

Sering kita dengar tentang kisah-kasih “meraih mimpi sekolah ke negara X” atau “berbagai pengalaman hidup di negara Y”. Berapa kali kita membaca tulisan-tulisan seperti itu dengan pandangan mata penuh mimpi dan hati yang makin bertekad bulat untuk meraih hal yang sama? Pada saat akhirnya beasiswa dan Letter of Acceptance sudah di tangan, tentunya hati ini makin berbunga-bunga, dong! Sudah terbayang hidup di negeri orang, ngerasain salju, dan jalan-jalan ke negara tetangga sekitar. *ahem, yang sekolah di Eropah!* (Kuliah? Hah, apa itu?).

Tapi, eitts, tunggu dulu! Ada beberapa hal “tak terduga” yang akan kita hadapi di negeri orang, hal-hal yang terkesan remeh-temeh tapi efeknya bisa merasuk sampai ke jiwa. *halah!* Di postingan kali ini, saya mau share sedikit tentang beberapa hal “mengezutkan” yang saya dapati ketika hidup di Amerika.

Dua Kata: TOILET KERING

Benar sekali, teman-temanku tertjintah! Di Amerika semuanya pakai TOILET KERING. Jangankan semprotan, ember dan ciduk aja gak ada! Buat orang Indonesia yang gak biasa cebok pakai tissue, selamat menikmati. Paling berat ya waktu di awal-awal. Rasanya aneh, wagu bin risih. Makin ke belakang, apakah makin terbiasa? Ya, nggak juga sih. Tapi saya belajar untuk selalu sedia air (entah berupa botol air atau bawa satu pak tissue basah) ketika ke toilet. Ya lumayan, lah, daripada nggak ada. Tapi tetep aja kalo BAB itu paling drama, deh. Hal lain soal toilet kering ini adalah meski orang Amerika tergolong bersih, yang namanya toilet kering, ya, pasti bau, apalagi kalau pas ketemu toilet umum yang sampah tissuenya masih numpuk. Saya jamin waktu pulang ke Indonesia (atau minimal waktu transit di Jepang) langsung sujud syukur ngeliat bidet atau semprotan air di WC.

Kalau di kediaman pribadi, masih lumayan sih. Meski kamar mandinya didesain untuk toilet kering, tapi minimal bisa beli ember dan ciduk sendiri. Oh iya, jangan harap nemu benda bernama ciduk di supermarket Amerika. Na-ah. Nada. Nein. Coba cari di toko Cina terdekat. Kalau emang mikir mau tinggal menetap, bisa lah modal sedikit buat pasang bidet di WCnya.

Berjibaku Mencari Tempat Wudhu

Bagi teman-teman yang muslim, ini jadi tantangan tersendiri. Syukur-syukur dapat kampus yang punya masjid (kalau ada), tapi kalau yang tersedia hanya prayer room, biasanya wudhu-nya di kamar mandi terdekat. Jangan kira kamar mandinya akan menyediakan keran khusus buat wudhu. Lalu di mana? Tepat sekali, di wastafel. Sebenarnya nggak apa-apa sih, tapi paling ribet itu saat membasuh kaki. Kalau mau “nekat”, bisa sih naikin kaki ke wastafel (setelah tolah-toleh dulu sebelumnya). Tapi ya mbok ya sebaiknya basuhlah kaki itu di bawah (dan siapkan segulungan tissue). Sebaiknya cari kamar mandi yang agak sepi, meski harus selalu siap mental ketika ada yang masuk dan nanya, “Ar yu okey?”. (Mostly yang nanya begini Asians, karena orang bule sana terlalu cuek untuk nanya).

(Masih Tentang) Drama di Prayer Room

Di kampus saya, prayer room pada prinsipnya adalah untuk semua agama dan kepercayaan (serta orang-orang yang cari colokan untuk nge-charge, orang-orang yang cari tempat belajar sambil nyolok laptop, dll). Di prayer room di kampus saya, yang lumayan drama di prayer room itu adalah nyari kiblat. Jangankan karpet sholat, sticker kiblat aja kadang gak ada (tapi tersedia sajadah dan mukena). Yang paling epic adalah ketika saya pertama kali sholat. Karena saya cuma sendirian dan gak ada petunjuk apa pun, ya sudahlah saya main percaya saja dengan app compass/qibla di handphone. Apa daya, di tengah-tengah sholat, masuklah seorang mas-mas yang kemudian sholat dengan arah kiblat berbeda. Makjan, malunya itu lho!!!! Saran saya, search dulu arah kiblat di negara itu ke arah mana, dan hapalkan. Itu lebih gampang sih daripada tiap kali harus liat app yang biasanya gak reliable.

Belum lagi kebingungan soal “batas suci”. Mau naruh di luar pintu, nggak enak. Mau naruh di dalem di balik pintu, eh itu tempatnya para mas-mas middle eastern yang ngganteng-ngganteng. Ya sudahlah, saya taruh saja sepatu saya di pinggir ujung samping area cewek. Lha kok ya ndilalah ada mbak-mbak melenggang masuk, lewat depan saya, dan baru lepas sepatu di sebelah dia. Lalu batas sucinya di mana dong? Untuk hal ini, saya serahkan kepada hati nurani masing-masing.

Sebenarnya lumayan seru juga sih di sini, karena saya suka liat banyak macem muslim. Ada yang sholatnya gaya begini dan begitu, yang cewek ada yang pake mukena ada yang tidak, belum lagi kalo ketemu yang beda aliran.

Ribetnya Transfer Uang antar Bank

Sebagai scholarship student, saling hutang sesama teman (scholarship) student Indonesia sudah biasa lah, apalagi kalau pas makan bareng atau ketika uang beasiswa menipis. Ucapkan selamat tinggal pada kemudahan transfer antar bank seperti di Indonesia. Sepengalaman saya, transfer antar bank di Amerika itu hampir gak ada. Karena di sana menggunakan sistem cek, jangan kaget kalau saat buka rekening dikasih setumpukan buku cek. Dengan cek, kalau beda bank kita tinggal nulis cek, dan penerima ceknya yang nanti menyetorkan ke rekeningnya sendiri. Tapi ya masih ribet sih menurut saya. Bank macem Chase menyediakan fasilitas Chase Quickpay, tapi hanya untuk sesama nasabah Chase. Tapi tenang saja, bisa diakali dengan aplikasi transfer uang pihak ketiga macem Venmo yang sejauh ini cukup aman.

Tips, tips, tips 

Di Amerika, tips adalah bagian penting dari food service business. Standar tips di Amerika adalah antara 15-20%. Besaran 15 persen itu kira-kira tips $1 setiap $7 (sebelum pajak). Kalo mau jalan tengah ya kasih tips aja 18%. Silakan pake teknik “al-qiro” alias dikira-kira sendiri atau kalo mau tiap makan siap-siap kalkulator handphone.

Yang perlu diingat, tidak semua restoran wajib tips. Cara bedainnya cukup mudah. Kalau pas masuk restoran ada maitre d’-nya, nanya “untuk berapa orang?”, lalu didudukin, dan dikasih satu orang dedicated waiter/waitress, berarti kita wajib ngasih tips. Tapi beneran lho, waiter/waitress di restoran itu perhatian banget. Sembari kita makan, beberapa kali ditanya “Everything’s good?” dan masing-masing waiter/waitress punya area pelayanan sendiri di restoran (beda sama di Indonesia, dianter ke meja sama siapa, pesennya sama siapa). Inilah kenapa kita harus ngasih tips. Kalau ke restoran yang kita langsung pesen dan bayar di kasir, makanan diambil sendiri, cari tempat duduk sendiri, bobo sendiri, maka itu berarti tidak perlu tips. Bahkan artinya kita harus membereskan sisa-sisa makanan kita sendiri. Biasanya ini berlaku di restoran fast food. Ini yang sering nggak dilakukan di Indonesia, entah karena saking banyaknya SDM nganggur di restoran fast food atau karena bawaan males dari orok.

Oh iya, mungkin saja lho ada restoran yang meski makanannya diantar (tapi cari meja sendiri), kita gak perlu kasih tips. Biasanya itu tertulis besar-besar di counter pemesanannya bahwa tidak perlu ngasih tips. Setidaknya itu pengalaman saya di Noodles & Company.

Air Putih? Ambil dari Keran! 

Sebenernya ini poin gak penting sih. Awalnya saya agak canggung, secara sudah diprogram di otak sejak balita bahwa air keran bukan buat diminum. Waktu pertama minum jadi agak drama dan mikir macem-macem. Idih rasanya kok aneh. Waduh ntar sakit perut gak ya? Yah semacem itulah. Saking drama-nya saya, sampe setahun pertama saya masih stok air mineral di rumah. Sebagai pembelaan, saya kenal lho orang Indonesia yang sudah 20 tahun lebih di Amerika dan masih canggung minum air keran.

Untungnya, semakin waktu berlalu saya jadi mikir sendiri. Lha emang kalo minum air putih di restoran mereka gak ngambil dari keran? Lha emang kalo refill botol minum di kampus airnya gak dari keran? Toh nyatanya saya masih sehat walafiat sampe sekarang. Berkat itu dan dorongan teman serumah saya yang seorang pecinta lingkungan (“Ayo kurangi sampah plastik!”), akhirnya saya berhasil dengan cueknya minum air keran. Oh well, ada filter air yang dijual di supermarket sih. Bentuknya kayak pitcher air cuma ada saringannya gitu, jadi minimal ada sedikit “jaminan” secara psikologis, hihihihi.

 

Kira-kira begitulah sekilas culture shock yang saya alami di Amerika, terlepas dari culture shock “standar” lainnya seperti makanan, socializing, dan cuaca. Memang, dibanding hal-hal tersebut, yang saya bahas ini cenderung remeh tapi nyebelin. Atau mungkin memang saya yang terlalu drama queen. Tapi jangan sampai hal-hal seperti ini bikin jadi mengurungkan niat pergi ke negara tujuan lho! (Kecuali yang masalah toilet kering tadi. Saya sungguh maklum, bwahahaha!). Yang penting, selalu ikhlas dan positive thinking. Selamat bertualang di negeri orang!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s