Review: Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Title: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Marlina the Murderer in Four Acts)
Year: 2017
Director: Mouly Surya
Writers: Rama Adi
Cast: Marsha Timothy, Egi Fedly, Dea Panendra

Marlina

Film yang kabarnya meraih penghargaan di Polandia dan mengalahkan Nicole Kidman ini menceritakan tentang kisah seorang janda di pedalaman Sumba NTT yang menjadi korban perampokan di rumahnya sendiri. Sebagaimana judulnya, film yang berdurasi 93 menit ini dibagi ke dalam 4 bagian.

Bagian pertama bersetting di kediaman Marlina, seorang janda miskin yang telah kehilangan anaknya di usia 8 bulan. Belum habis hutang untuk biaya pemakaman anaknya, pun kini suaminya menyusul anak mereka. Ketiadaan dana membuat Marlina tidak memakamkan suaminya dan hanya memumifikasinya di sudut ruangan. Malam itu, tiba-tiba Markus, seorang kepala perampok berusia sekitar 60-70 tahun, datang “bertamu” dan menitahkan bahwa nanti akan datang sekawanan perampok yang akan menguras habis ternak Marlina, kemudian ‘jika cukup waktu’ semuanya akan bercinta dengan Marlina. Markus pun memerintahkan Marlina untuk menyiapkan sop ayam sebagai hidangan untuk para “tamu”nya ini.

Sampai sini, Saya lumayan tercengang, dengan bagaimana santainya Markus datang seorang diri ke rumah Marlina, dan dengan tenang menceritakan rencana busuknya ke Marlina. Dia benar-benar yakin bahwa rencananya akan berjalan mulus dan Marlina hanyalah seorang wanita lemah yang tidak berdaya. Tergambar jelas bagaimana stigma wanita sebagai makhluk lemah yang tugasnya hanya berkisar “dapur”, “sumur”, dan “kasur”. 

!!!!!–spoiler alert–!!!!

Marlina yang panik akan nasibnya kemudian mencari cara agar dapat lolos dari bahaya yang mengancamnya. Sekawanan perampok yang dijanjikan Markus pun datang. Mereka berjumlah 6 orang, 4 orang diantaranya tinggal sedangkan 2 orang sisanya pergi ke kota membawa ternak-ternak Marlina. Singkat cerita, Marlina berhasil meracuni 4 orang perampok yang sedang bercengkerama di ruang tamu dengan sup ayam buatannya. Saat itu, Markus sedang beristirahat di kamar tidur. Marlina hendak menjalankan rencana yang sama untuk meracuni Markus, sialnya sup ayam Marlina tumpah. Dan Markus lebih tertarik untuk me”makan” Marlina daripada sup ayam buatannya. Jadilah, Marlina memenggal kepala Markus saat Markus sedang mencapai “klimaks”.

what a dark joke

Bagian kedua, mengisahkan perjalanan jauh yang harus ditempuh Marlina demi mencari keadilan. Meninggalkan mayat keempat perampok yang membusuk di rumahnya, Marlina membawa kepala Markus dengan tujuan ke kantor polisi yang ada di kota. Di perjalanan, Marlina bertemu dengan Novi, tetangga Marlina yang kini sedang hamil tua. Marlina yang sempat ditolak oleh supir bus karena membawa-bawa kepala orang jadi terpaksa “membajak” bus agar supirnya mau membawanya ke kota. Sementara, penumpang lainnya yang awalnya ada di bus, pada turun semua ketika melihat bawaan Marlina.

Another point, bahwa reaksi masyarakat umum melihat sesuatu yang janggal dan tidak biasa, secara umum adalah menolak – sebagaimana yang dilakukan oleh supir bus – atau menyingkir menjauh agar tidak terlibat – pasif, umumnya dilakukan kawanan, sebagaimana yang dilakukan oleh para penumpang bus itu. [lucu yah.. padahal mereka laki-laki semua.. jumlahnya banyak.. dan punya kepentingan ke kota.. tapi memilih cari aman, regardless that it is a normal reaction though]

Kekocakan terjadi ketika seorang nenek tua beserta penggembala kudanya hendak menaiki bus. Walaupun sudah diperingatkan oleh supir bus akan adanya bahaya karena ada Marlina yang membawa kepala manusia, nenek itu beserta penggembala kuda dan 2 ekor kuda miliknya tetap nekat naik. Alasannya karena dia membawa mas kawin, yaitu 2 ekor kuda, untuk anak gadisnya yang akan menikah. Sang mempelai pria telah memberikan 15 ekor kuda, jadi sang mempelai wanita harus membalas dengan jumlah yang sama. Saat ini anaknya kekurangan 2 ekor kuda, oleh karenanya sang nenek hendak membawakan 2 ekor kuda miliknya untuk anaknya.

Perjalanan terus berlanjut dan di tengah jalan mereka berpapasan dengan 2 orang perampok yang baru kembali dari kota setelah berhasil menjual ternak Marlina. Selama perjalanan, Marlina terus dihantui oleh mayat tanpa kepala yang memainkan alat musik semacam bijol yang dipetik seperti gitar mini.

Babak ketiga, para penumpang bus telah sampai di tujuan masing-masing. Marlina sampai di kantor polisi. Novi, sampai ke tempat Umbu. Dan sang nenek serta penggembalanya melanjutkan perjalanan ke lokasi anaknya.

Sayangnya, setelah sampai di tempat tujuan, hasilnya tidak seindah yang mereka harapkan. Marlina yang melaporkan kejadian perampokan dan perkosaan yang dialaminya, tidak mendapat respon yang positif dari kepolisian. Para polisi di kantor polisi itu digambarkan sangat santai dan hanya mengerjakan pekerjaan yang bersifat administratif. Bahkan si polisi sempat menyalahkan Marlina, “kok kamu membiarkan kakek-kakek 70 tahun memperkosa kamu”. [Laaahh.. menurut nganaa??]

Kejadian di kantor polisi ini mengingatkan Saya akan pengalaman Saya ketika melaporkan kejadian penipuan travel online yang saya alami dulu. [Saat itu agen travel online belum sehandal sekarang.. penipuan online masih banyak dimana-mana.. jadi bersyukurlah wahai pengguna jasa travel online saat ini..] Sama seperti dalam film itu, polisi hanya mencatat dan malah menyalahkan Saya kenapa beli di online. Laahh.. saya sudah beberapa kali beli tiket online baik-baik aja kok. 

Kejadian yang kurang mengenakkan juga dialami oleh Novi. Setelah perjalanan jauh yang ditempuhnya demi Umbu yang dicintainya, ternyata Umbu bukannya menyambutnya dengan sukacita malah menuduhnya selingkuh dan berprasangka bahwa bayi yang dikandung Novi sungsang, makanya belum lahir juga padahal sudah 10 bulan. Umbu bahkan menuntut, jika Novi menyangkal semua tuduhannya, agar bayinya lahir sekarang juga. sungguh tidak masuk akal. Umbu pun akhirnya pergi meninggalkan Novi, yang telah jauh-jauh datang, begitu saja.

Disini Saya juga melihat bagaimana wanita hanya dipandang sebagai alat penerus keturunan. Ketika tidak dapat melahirkan anak yang sesuai dengan harapan sang suami, sang wanita dianggap tak berharga. Tanpa memperhatikan kesulitan yang dialami oleh seorang wanita hamil tua yang menempuh perjalanan berkilo-kilometer hanya untuk menemui sang suami, bahkan sampai harus berhadapan dengan perampok, hanya karena sedikit kesalahpahaman sang suami langsung menuduh sang istri macam-macam, bahkan tega memukul dan meninggalkan sang istri begitu saja. [Saat inilah saya berteriak mengumpat dalam hati.. dafuuuuuuuuq]

Novi yang ditinggalkan sendirian oleh Umbu, ternyata telah ditunggu oleh salah seorang kawanan perampok yang bernama  Franz. Dia menjadikan Novi sebagai tawanan untuk memanggil Marlina kembali dan membawa kepala Markus. Franz, sebagai perampok yang paling muda, tampaknya punya hubungan emosional dengan Markus dan ingin mengembalikan kepala Markus ke jasadnya yang saat ini tanpa kepala.

Babak keempat, setting kembali ke rumah Marlina. Novi yang menjadi tawanan Franz, menemukan buah beracun yang dulu dipakai Marlina untuk meracuni sekawanan perampok. Saat hendak meracuni Franz, Novi yang mendengar Franz menangis tersedu-sedu di hadapan jasad Markus yang tanpa kepala, dan melihat bagaimana Franz tampak sangat menjaga jenasah Markus, menjadi iba dan mengurungkan niatnya.

Sampai ketika Marlina datang dan membawa kepala Markus. Setelah meletakkan kepala Markus kembali ke jenazahnya, Franz tidak melepaskan mereka berdua. Franz menyuruh Novi memasakkan sup ayam dan memerintahkan Marlina untuk menemaninya.

Saat Franz memilih Marlina untuk menemaninya, scene difokuskan ke Novi. Saat itu Saya tidak mengerti kenapa, tapi setelah berusaha berpikir dari sudut pandang Novi, saat itu dia tengah terluka karena tidak diinginkan oleh suaminya. Dan kini si perampok bodoh itu pun lebih memilih orang lain ketimbang dirinya.

Saya sempat heran, kok Novi diam saja waktu Franz membawa masuk Marlina, mengingat bagaimana dirinya dulu melindungi Marlina ketika dulu di perjalanan. Bahkan ketika Marlina berteriak minta tolong pun, sejenak Novi masih membiarkannya. Baru ketika terdengar isak tangis Marlina, Novi pun tak tahan lagi dan bergegas mendobrak kamar tidur mereka dan memenggal Franz. Saat itu baju yang dikenakan Novi adalah baju Marlina yang sama ketika memenggal Markus.

Satire alert. Kalau orang Jawa, pasti sudah menyalahkan bajunya yang keramat. Karena pake baju itu makanya jadi kesurupan. Bajunya “punya” tendensi memenggal kepala orang. #halahhh #LOL

Sesaat kemudian, Novi kontraksi dan Marlina membantu persalinan Novi. Bayinya sehat, tidak sungsang. Marlina, Novi, dan sang bayi pun, dengan mengendarai motor gedhe milik Franz, melanjutkan perjalanan.

Sampai akhir terasa, bagaimana stigma wanita di mata pria yang hanya sebagai pemuas nafsu. Bagaimana wanita walau tampaknya lemah, namun dapat menghadapi semua permasalahan yang pelik dan mampu bertahan, walau ada beberapa yang harus dikorbankan. 

Kisah ini menarik, dengan nuansa feminisnya yang kental dan sindiran-sindiran terhadap situasi sosial yang walaupun di jaman modern seperti sekarang tetapi masih ada. Digambarkan kejadian ini tidak terjadi di masa yang terlalu lampau, terbukti dengan adanya handphone n*kia candybar kesayangan kita semua. Kejadian yang terjadi dalam dua hari, dikisahkan dalam 93 menit dalam empat babak. Menurut Saya, pemilihan durasi satu setengah jam untuk cerita yang berat dan lambat seperti ini sangatlah tepat. Saya tidak merasa bosan, dan karena dipenggal dalam beberapa bagian, Saya jadi dapat mengikuti arahnya kemana, karena masing-masing bagian ada masalah utama dan solusinya sendiri. [As the Dutch always said, for every complex problem, it is always best to chunk it into several small problems]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s